KabarNet

Aktual Tajam

Tokoh Liberal: Surga Bukan Hanya Milik Agama Islam!

Posted by KabarNet pada 31/08/2012

Jakarta – KabarNet: Pernyataan nyeleneh dan liberal kembali dilontarkan oleh Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Masdar Farid Mas’udi. Setelah lama tak mengeluarkan pernyataan kontroversial, pria yang masuk dalam daftar tokoh liberal versi buku “50 Tokoh Islam Liberal di Indonesia” yang ditulis oleh aktivis INSIST Budi Handriyanto, itu kembali mengeluarkan statemen yang menyengat keyakinan umat Islam.

Dalam wawancara khusus dengan Majalah Detik Edisi 27 Agustus-2 September 2012, lelaki yang juga pendiri Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), ini menyatakan, “Surga itu tidak milik agama tertentu, surga diperuntukkan bagi orang yang beriman dan beramal baik. Jadi jangan melecehkan orang lain karena perbedaan agama.”

Masdar juga mengatakan bahwa manusia itu satu di mata Tuhan. Padahal, dalam Islam jelas, Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa orang yang paling mulai di sisi Allah adalah orang yang bertakwa kepada-Nya.

Takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangang-larangan-Nya. Sementara orang-orang kafir sebaliknya, menentang perintah Allah dan menjalankan larangan-larangan-Nya. Jadi, mana mungkin bisa dikatakan bahwa manusia itu satu di mata Tuhan?

Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini juga mengatakan, “Ajaran apapun termasuk ajaran Islam, orang yang terbaik adalah orang yang berbuat baik terhadap sesama.” Dengan logika liberalnya, Masdar menyatakan, “Jangan dikira kalau kita beramal shaleh, lalu beriman menurut keyakinan kita masuk surga sementara yang tidak seiman dengan kita masuk neraka. Sekali lagi jangan begitu.”

Pemahaman Masdar Farid Mas’udi, alumnus IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini, seiring sejalan dengan para gerombolan liberal lainnya yang menyatakan, bahwa agama manapun, selama menebarkan kebaikan, membela kemanusiaan, maka pada hakikatnya sama di hadapan Tuhan.

Pemahaman ini sejalan dengan keyakinan kelompok kebatinan Yahudi, Theosofi, yang menyatakan bahwa tidak ada agama yang lebih tinggi, melainkan kebaikan. Theosofi berkeyakinan, semua agama sama, selama mengabdi pada kemanusiaan. Ujung dari paham sesat ini adalah, tak perlu beragama, yang penting berjuang untuk kemanusiaan.

Karena itu, penulis buku “Lubang Hitam Agama” Sumanto Al-Qurtubi yang juga aktivis liberal menulis, bahwa kita umat Islam nantinya jangan kaget jika di surga bertemu dengan Mother Theresia, Mahatma Gandhi, Martin Luther King, dan lain-lain yang merupakan pejuang-pejuang kemanusiaan.

Inilah keyakinan sesat yang sangat bertentangan dengan Al-Qur’an, yang dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang kafir akan ditempatkan di neraka jahannam dan amal mereka di dunia, semua sia-sia.

Masdar dengan lantang juga meyatakan bahwa Tuhan kita dengan tuhan agama lain itu satu. “Apapun konsep Tuhan, hanya berbeda sebutan di komunias, hakikatnya Satu, yang Maha Satu itu,” katanya. Pemahaman seperti ini akan menimbulkan keyakinan sesat, bahwa agama-agama hanyalah jalan yang berbeda menuju pada tuhan yang sama.

Terkait dengan ayat terakhir dalam surah Al-Kafirun yang berbunyi “Lakum diinukum waliyadiin” Masdar kembali menegaskan, “Dalam Al-Qur’an dijelaskan, orang yang beriman, menganut agama Yahudi atau Nasrani, asal mereka punya iman yang kokoh dan beramal shaleh, bagi mereka pahala yang besar. Surga itu tidak milik satu agama tertentu…,” pungkasnya.

Tak hanya itu, Masdar F. Mas’udi alumni IAIN Jogjakarta, pernah menyuarakan kalau lelaki nekat berzina maka hendaknya pakai kondom, pajak sama dengan zakat dan menyerukan musim Haji wuqufnya bukan hanya di bulan Dzulhijjah tapi bisa di Bulan Syawwal dan Dzulqo’dah.

Menurutnya, bahwa pelaksanaan ibadah haji hendaknya bukan hanya sekitar tanggal 8, 9, 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah, tetapi kapan saja asal selama 3 bulan (Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah). Oleh karena itu, saran Masdar, agar pelaksanaan ibadah haji itu ya kapan saja, asal 3 bulan tersebut. Faham sesat dan melecehkan Islam ini dimuat di Kompas, Republika dan media lainnya.

Sebagai Rais Syuriah PBNU, pernyataan Masdar bisa merancukan akidah kaum Nahdliyin. Keyakinan seperti ini bisa menjadi racun yang memurtadkan, sehingga menihilkan keyakinan bahwa Islam-lah Addin yang paling benar.

Penulis buku “Indonesia Tanpa Liberal”, Artawijaya, menyebut keyakinan seperti Masdar ini bisa berujung pada kemurtadan. Karena, buat apa menganut Islam, jika meyakini semua agama sama. Ujungnya, tak beragama pun tak masalah. Na’udzubillah!.. [KbrNet/Salam-Online]

39 Tanggapan ke “Tokoh Liberal: Surga Bukan Hanya Milik Agama Islam!”

  1. NU Prihatin said

    Ini PR (pekerjaan rumah) lagi buat para Kiyai sepuh NU utk turun gunung ikut membersihkan tubuh “PBNU” dari anasir2 Liberal Sepilis yg memang sengaja menyusup ke dalam “organisasi PBNU”.

    Sebab kenyataanya, tdk semua pengurus “organisasi PBNU” itu mempunyai ideologi NU seperti yg diajarkan oleh Hadharotus Syeikh Hasyim Asy’ari Sang Pendiri NU. Bahkan para penyusup seperti Si Masdar di atas itu mengkhianati ideologi NU. Mereka memanfaatkan “keramahan” ideologi NU dgn memasukkan racun pemikiran2 liberal yg sudah menyimpang dari ajaran Islam.

    Astaghfirullah.
    Hasbunallah wa ni’mal Wakil
    Ni’mal Maula wa ni’man nasir.

  2. Μuslim РΛLSU said

    Mohon Jangan dicela! Sebab:

    . Masdar F. Mas’udi
    . Gusdur
    . Yenny Wahid
    . Ulil Abshar Abdalla
    . Lutfie Assyaukani
    . Guntur Romli
    . Zuhairi Misrawi
    . Said Aqil Siroj
    . dan para SEPILIS yg lain2

    itu mereka adalah kawan saya.

    Please…

  3. Μuslim РΛLSU said

    maap ada yg lupa

    Nusron Wahid, Ketua GP Ansor dan Banser NU (yg dulu mengawal dan ikut mengamankan acara propaganda nikah sejenis oleh ulama Lesbi Irshad Manji), itu juga kawan saya.

    jadi jangan dicela ya.

    Please…

  4. inalilahi said

    kiamat sudah dekat
    maka bertobat lah

  5. Raja Singa said

    Mereka cuma berani berteori saja! Tp tidak berani mempraktekkan. Klu memang semua agama bisa masuk surga knapa dia msh menganut islam? Logikanya klu dg mjd non muslim, bisa dijamin msk surgan gw mendingan jd non muslim aja. Gak perlu hrs sholat, puasa, haji, dll….berani gak tuh Modar F*ck Mahgaksudi, dkk menyatakan diri keluar dr islam? Klu berani, itu baru namanya konsisten!!!

  6. Wanda said

    wkwkwkwkwk…
    setuju sama @NU Prihatin dan @Raja Singa

  7. Wanda said

    @Μuslim РΛLSU

    Kalo yg kamu sebutin nama2nya itu tanpa kamu perkenalkan pun orang udah tau bhw mrk memang Muslim Palsu.

    Muslim enggaknya seseorang mudah dikenalin dari UCAPAN, SIKAP dan TULISANNYA tentang Islam dan terhadap Islam,serta terhadap muslim..

    Ya kayak si Masdar dan si Ulil dan nama2 yg kamu sebutin itu.

  8. Anonim said

    kl memang islam liberal itu merasa benar,, mengapa mengatskan islam liberal ganti aj agama liberal supaya adil tdk mengacak agama islam & tdk mengacak agama lain, atau kemanusiaan liberal, ini saya lihat gol.liberal ini msh aja mengataskan nama islam keluar donk dari islam, biarkan islam sendiri, mudah2an kelompok ini cepat bertobat.

  9. Anonim said

    Faham liberal memang rabun akut masalah aqidah…bahkan mendekati buta.

  10. Sang Timur said

    Omongannya seperti pernah ke sorga saja

  11. Adi P said

    sebenarnya surga memang bukan cuma milik umat “islam” semata , Umat umat terdahulu sebelum nabi Muhammad saw akan masuk surga selama dia beriman pada Allah SWT dan nabinya masing masing … setuju ?
    Untuk umat diluar islam saat ini sesudah nabi Muhammad saw , ngga janjiii………..

  12. tohir said

    Organisai NU, sudah diobok-obok, JIL surganya NU di sanah, tetapi alhamdulillah masih ada kyai NU yang benar-benar Kyai seperti KH. Hasyim Muzadi, tidak seperti gusdur (alm) dan kroni-kroninya.

  13. Bisnisman China said

    Kenapa para cucu & buyut pak Hasyim Asy’ari, Sang Pendiri NU, malah menjadi orang-orang yg menghancurkan NU itu sendiri ya?

    Apakah falsafah dunia usaha China juga berlaku bagi NU, yakni:
    – sang kakek membangun bisnis
    – sang ayah mengembangkan bisnis
    – sang cucu menghancurkan bisnis
    – sang buyut membangkrutkan bisnis

  14. Anonim said

    semua manusia di muka bumi ini akan masuk neraka gan….
    menurut ajaran Kristen, yang tidak beragama Kristen akan masuk neraka
    menurut ajaran Islam, yang tidak beragama Islam akan masuk neraka
    menurut ajaran Budha, yang tidak beragama Budha akan masuk neraka.
    KESIMPULAN
    sorga itu tidak ada wkwkwkwkwkw

  15. juniarso said

    jika kita yakin bahwa agama yang kita anut akan mebawa kita surga maka taatilah semua peraturan yang ada dalam agama yang dianut dan tidak perlu mengajak umat lain masuk agama kita apalagi dengan cara2 licik dengan pemberian sembako yang nilainya tidak seberapa dan dengan dengan intimidasi, penculikan, pemerkosaan dan cara2 kotor.

  16. Maria Sitompoel said

    Na’udzubillahi min dzalik, memang tiap hari ada orang SESAT, SETAN itu LEBIH Pintar dari MANUSIA untuk menggoda MANUSIA, Manusia gelar Profesor, Doktor haya sampai S3, tapi kalo SETAN sampai S7 = Setan, Santai, Sabar, setia, slalu, sa’at, senggang,

  17. Astagfirullah….
    Tolong ya panafsiran al-qur’an jangan menggunakan logika,tapi dengan ke imanan,segeralah bertaubat mumpung masih ada kesempatan,jangan memberikan pamahaman yg membawa kesesatan,buat para pemimpin NU mohon dibenahi orang yg memiliki pemahaman seperti ini,klo bisa NU pengeluarkan fatwa yg menyatakan murtadin buat orang2 yang mengeluarkan pernyataan seperti ini

  18. koprol x3 said

    wani piro,…
    it’s all about money.

  19. ah masalah lama…
    not gubris….
    Mules rasanya gue denger masalah SARA’ MULU…
    saran gue AGAMA ditiadakan aja.. BIAR Gak ADA KONFLIK

  20. Hey murtadin yg masih ngaku2 islam,ente semua dibayar berapa sm org2 barat buat ngehancurin agama islam? Emang ente udah ga makan sampe mau ngorbanin keimanan,tobat lu pada mumpung masih ada waktu buat bertaubat

  21. @ Muslim PALSU
    Jangan2 lu jg sefaham ya sama si masmodar F. Mas’udi, si dazal ulil dll? Tobat lu…

  22. Al Anwari said

    Sekecil2nya iman Allah akan balas dengan surga yg luasnya 10 x dunia….Iman disini berarti meyakini bahwa Allah SWT adalah Tuhan yg wajib di sembah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah,.. Jadi klo orang tidak meyakini kalimat syahadat tsb berarti orang tsb tidak beriman…dan orang yg tidak beriman tidak akan masuk surganya Allah SWT justru akan menjadi penghuni neraka jahanam yg kekal..Ini janji Allah,… siapa yg meragukan akan kebenaran janji Allah???
    Pa Masdar sangat disesalkan klo smp anda meragukan kebenaran janji Allah, berarti anda sudah tidak punya iman….
    Naudzubillah….

  23. aku cm kasihan sama setan & iblis, mereka skarang sudah kurang kerjaan bahkan sebagian sudah jadi pengangguran. Ini krn peran setan & iblis sudah banyak digantikan manusia, Skarang sangat sulit membedakan antara setan/iblis dg manusia.

    Aku himbau kpd smua manusia trutama kpd kaum spilis liberalis agar mengembalikan peran itu kpd setan & iblis lagi. Sebab urusan menyesatkan manusia adlh hak mreka. Kasihinilah mreka, sebab ini bagian dari fitrah mreka. Percayakan pd mreka, krn mreka adalah AHLINYA

  24. @ Paulus Raja Hoax

    hehehe…kesimpulanya berarti kaum sepilis adalah iblis berbulu manusia wakakaka….

    mantabs x fren.

  25. @ Paulus Nabi Palsu

    kakakakak ternyata ente paham benar terhadap fenomena wajar dlm pemikiran mereka yg kurang ajar itu . . . . !

    kaum liberalis sdh mrasa pintar melebihi tuhan, mreka seenaknya mengeluarkan pernyataan

    Padahal ulama2 salaf yg soleh & kepintarannya jauh diatas kaum liberalis, sangat hati2 dlm berpendapat.

  26. hmmmmm…

    nitip tulisan mas
    http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/09/03/jagalah-amanahmu-meski-keadaanmu-sulit/

    terima kasih

  27. ada tidak ayat yang mengatakan sorga milik agama non Islam.

  28. Na’udzubillah,,summa na’udzubillah,Sungguh manusia itu dlm kerugian yg nyata,kecuali orang2 yg beriman & beramal sholeh.klo dia sdh berani nyatakan demikian,berarti sm halnya dia injak2 kesucian Al-Qur’an.ini sdh harga mati bung ! SURGA hanya milik ISLAM,pandanglah kelangit apa tuhan kamu bisa mencitakan langit ?lihatlah kebawah,apa bisa tuhanmu menguatkan kakimu berpijak diBuminya Allah SWT Sang Pencipta,kaji pelajari surat Arrahman “Nikmat mana lagi yg kau dustakan “

  29. ISLAM adalah agama yg penuh rahmat & jg pelindung kafir Jimmi yg tdk memusuhi penganut agama ISLAM itu sendiri,akan tetapi jgn coba2 mengusik ISLAM yg berpegang teguh pada “Al-Qur’an & Al-Hadits serta Ulama Islam” Ukurannya kami minum darahnya karena halal buat kami,kami tdk bermaksud pula melecehkan agama non muslim,klo mau di perbandingkan, Islam dgn yg lain,ya..tdk nyambung .Jika yg berkata “SURGA BUKAN MILIK AGAMA ISLAM’ & yg ngomong itu orang Islam yg tdh muslim,BERTAUBATLAH sebelum azal tiba,serta jgn jdkan tameng pakaian orang Islam & jg duduk diparlemen Islam,tapi berhati”HASYAT” Klo tdk AMANAH lebih baik anda TELANJANG SAJA,anda lebih pastas disebut “ORANG HUTAN” Turun & jgn berkomentar tentang AQIDAH ISLAM klo tdg BECUS.

  30. Anonim said

    Biar saja mereka sesat semakin menggumpat mereka mereka akan melecehkan agam allah, ada mereka Allah tdak akan kurang dan rugi sedikitpun.mari kita tingakatkan iman dan keyakinan kita ..itu cara melawan yang tidak yakin,kl mereka tdk yakin buata apa di ingatkan malah jadi rame biar saja, Al’quran hanya digunakan untuk mereka orang” yang yakin . yang gak yakin biarin sajagak usah dipaksa, karena keyakinan /keimanan terhadap isi alquran adalah hidayah dari Allah gak ada orang yang memaksakannya.

  31. Anonim said

    Belum ada yang pernah Mati…mana ada yg tau surga itu punya siapa???

  32. Anonim said

    ass.wr.wb,marilah bersama sama kita baca Alfatihah dg sungguh2,krn Alfatihah itu intinya adalah memohon petunjuk jalan yg lurus,yg diridhoi Allah,yg menjadikan alam semesta ini.Semoga Allah segera membuka mata hati kita,sehingga jelas mana yg haq dan mana yg bathil.

  33. soleh said

    smoga smuanya masuk sorga,…
    terima kasih pa masdar…

  34. UMAR BIN AHMADYAH. said

    KIAMAT MASIH JAUH
    MAKA BERFIKIR RASIONAL DAN PAKE LOGIKA
    MIKIR KEMAJUAN
    MIKIR TAKNOLOGI
    MIKIR KESEJAHTERAAN
    MIKIR KEDAMAIAN

    JANGAN MIKIR SURGA MULU
    JANGAN MIKIR NERAKA MULU
    NANTI BEGOK SENDIRI.
    LIAT TUH ISRAEL MAJU PESAT, KORSEL, USA,EROPA AUSTRALI
    JANGAN NIRU SOMALIA,UGANDA,SUDAN,IRAN IRAK,LIBYA AFGAN SURIAH

    TIAP HARI BOM MELEDAK !!!!!

  35. Firman ALLAH SWT: Qs. Al-Baqarah 62
    “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.
    Qs. Al-Baqarah 62

    MEMAKSAKAN AGAMA PADA ORANG LAIN DAN MERENDAHKAN AGAM ORANG LAIN.
    Agama atau dalam bahasa disebut aturan atau hukum, dari segi bahasa ini bisa kita melihat bahwa agama itu adalah sebuah aturan yang berbentuk hukum atau sebuah pemahan dalam menjalankan kehidupan yang diyakini menuju sebuah negeri yang kekal atau abadi. Jadi orang yang tidak punya agama tentu saja tidak memiliki hukum atau aturan hidup yang diyakini. Lalu bagaiman dengan Ataisme? Jawabannya: selagi mereka memiliki aturan atau hukum yang mengatur baik hukum negaranya maupun hukum adat dan lingkungannya mereka tetap pada prinsipnya sama dengan orang yang beragama.
    Sebagai penjelasannya saya akan berikan beberapa contoh:
    sebuah negara A memiliki hukum yang berbeda dengan negara B meski dengan ideologi yang sama. Tentu saja setiap negara memiliki hukum dan undang-undang yang berbeda, sekarang kita melihat contoh yang lebih kecil yaitu pada tatanan keluarga, keluarga A meski tinggal pada lingkungan yang sama dan bertetangga dengan keluarga B , namun keluarga A tidak menerapkan aturan keluarga B pada anggota keluarganya, dan suatu sekolah tentu memiliki aturan masing-masing semisal dalam segi pakaian atau aturan yang lainnya meski kurikulum yang sama dan pendidikan yang sama.
    Terkadang kala kita merasa paling benar dalam segala sesuatu hal, dan menganggap orang lain tidak dalam kebenaran, melainkan orang lain kita pojokan dalam kesesatan. Menurut hemat saya, itu sudah biasa pada setiat manusia dan itulah yang disebut sebuah keyakinan. Kenapa? Karena tentu saja mereka tidak ingin melepaskan keyakinan mereka dengan membenarkan orang lain. Seandainya ada orang yang membenarkan orang lain dan tidak menerimanya, malah tetap menjalankan pada prinsip keyakinannya maka itulah sang munafik orang yang bermuka dua.
    Saya lahir didunia Islam dan dibesarkan didunia Islam, tentu saja saya menerima dan memperaktekan ajaran Islam. Tapi seandainya saya lahir di lingkungan Kristen tentu saja saya akan memperaktekan ajaran kristen karena itulah yang diajarkan pada saya dan itulah yang saya terapkan dalam kehidupan saya dan itulah keyakinan saya.
    Nah disinilah timbulnya sebuah permusuhan, perselisihan dan saling menyalahkan. Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapinya supaya tidak terjadi permusuhan dan perselisihan dan menjadikannya sebuah kedamaian. Kuncinya cuman saling menghargai seperti kisah pendeta kristen diatas yang menghargai kebesaran nabi Muhammad dan seperti Muhammad menghargai umat lain diluar Islam.

    Firman ALLAH SWT: Qs. Al-Baqarah 62
    “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.
    Qs. Al-Baqarah 62
    Kata ALLAH (tuhan) dalam islam
    Allāh (Arab: الله, Allaah) adalah kata dalam bahasa Arab yang merujuk pada nama Tuhan. Perkataan tuhan dalam bahasa Arab adalah Ilah sebagaiman dalam dua kalimah sahadah Islam. Kata Allah ini lebih banyak dikenal sebagai sebutan tuhan oleh penganut agama Islam. Kata ini sendiri di kalangan para penutur bahasa Arab, adalah kata yang umum untuk menyebut tuhan[“Tuhan” dalam bahasa Arab adalah Ilah], terlepas dari agama mereka, termasuk penganut Yahudi dan Kristen Arab. Konsekuensinya, kata ini digunakan dalam terjemahan kitab suci agama Kristen dan Yahudi yang berbahasa Arab, sebagaimana pula terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia dan Turki.
    Kata “Allah” disebutkan lebih dari 2679 kali dalam Al-Qur’an.[1] Sedangkan kata “Tuhan” dalam bahasa Arab adalah Ilah (إله) disebut ulang sebanyak 111 kali dalam bentuk mufrad, ilahaini dalam bentuk tatsniyah 2 kali dan aalihah dalam bentuk jama’ disebut ulang sebanyak 34 kali.
    Beberapa teori mencoba menganalisa etimologi dari kata “Allah”. Salah satunya mengatakan bahwa kata Allāh (الله) berasal dari gabungan dari kata al- (sang) dan ʾilāh (tuhan) sehingga berarti “Sang Tuhan”. Namun teori ini menyalahi bahasa dan kaidah bahasa Arab. Bentuk ma’rifat (definitif) dari ilah adalah al-ilah, bukan Allah. Dengan demikian kata al-ilah dikenal dalam bahasa Arab. Penggunaan kata tersebut misalnya oleh Abul A’la al-Maududi dalam Mushthalahatul Arba’ah fil Qur’an (h. 13) dan Syaikh Abdul Qadir Syaibah Hamad dalam al-Adyan wal Furuq wal Dzahibul Mu’ashirah (h. 54).
    Kedua penulis tersebut bukannya menggunakan kata Allah, melainkan al-ilah sebagai bentuk ma’rifat dari ilah. Dalam bahasa Arab pun dikenal kaidah, setiap isim (kata benda atau kata sifat) nakiroh (umum) yang mempunyai bentuk mutsanna (dua) dan jamak, maka isim ma’rifat kata itupun mempunyai bentuk mutsanna dan jamak. Hal ini tidak berlaku untuk kata Allah, kata ini tidak mempunyai bentuk ma’rifat mutsanna dan jamak. Sedangkan kata ilah mempunyai bentuk ma’rifat baik mutsanna (yaitu al-ilahani atau al-ilahaini) maupun jamak (yaitu al-alihah). Dengan demikian kata al-ilah dan Allah adalah dua kata yang berlainan.[2]
    Teori lain mengatakan kata ini berasal dari kata bahasa Aram Alāhā.[3] Cendekiawan muslim kadang-kadang menerjemahkan Allah menjadi “God” dalam bahasa Inggris. Namun demikian, sebagian yang lain mengatakan bahwa Allah tidak untuk diterjemahkan, dengan berargumen bahwa kata tersebut khusus dan agung sehingga mesti dijaga, tidak memiliki bentuk jamak dan gender (berbeda dengan God yang memiliki bentuk jamak Gods dan bentuk feminin Goddess dalam bahasa inggris). Isu ini menjadi penting dalam upaya penerjemahan Al-Qur’an.
    Dalam Islam, Allah adalah satu-satunya Tuhan (tanpa sekutu)[4], Sang Pencipta, Hakim dari seluruh makhluk, Maha Kuasa, Maha Penyayang, Maha Pemurah dan Tuhan dari Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub, Musa, Dawud, Sulaiman, Isa dan Muhammad. Menurut F.E. Peters, ” Al-Qur’an menyatakan 29:46, Muslim mempercayai dan sejarawan menyetujui, bahwa Muhammad dan pengikutnya menyembah Tuhan yang sama dengan yang disembah Yahudi. Allah-nya Al-Qur’an adalah Tuhan Sang Pencipta yang ada dalam kisah Ibrahim. Peters mengatakan bahwa Al-Qur’an menggambarkan Allah lebih berkuasa dan jauh dibandingkan dengan Yahweh, dan juga merupakan Tuhan universal, tidak seperti Yahweh yang lebih dekat dengan bangsa Israel.[5]

    Kata ALLAH (tuhan) dalam bahasa Ibrani
    Dalam bahasa Ibrani, kata Allah disebut dengan berbagai kata:
    • Adonai, Tuan atau Tuanku atau Allah yang Perkasa
    • El, Allah yang Kuat
    • Elohim, Sang Pencipta yang Maha Kuasa
    • Elyon, Allah yang Maha Tinggi
    • Elohe Yisrael, Allah Israel
    • El Olam, Allah yang Kekal
    • El Roi, Allah yang Melihat
    • El Shaddai, Allah yang Maha Perkasa
    • Immanuel, Allah bersama kita
    Nama pribadi Allah dalam Bahasa Ibrani terdiri dari 4 huruf: YHWH, seperti yang diberikan kepada Musa sewaktu Musa menanyakan siapa nama-Nya di dalam Kitab Keluaran. Nama ini yang sangat takut diucapkan oleh orang Ibrani (Israel) sehingga mereka hanya menggunakan kata Adonai (=tuan, tuanku) saat membaca tulisan YHWH (Yahweh) di kitab suci. Dalam Alkitab bahasa Indonesia, kata YHWH ditulis TUHAN (semua huruf besar atau small cap), sedangkan kata “Allah” dipakai untuk kata Ibrani “El” atau “Elohim”. Untuk kata sebutan “Allah” banyak istilah dalam bahasa Ibrani. Kata Adonai atau El dan sebagainya untuk diucapkan tidaklah ditakuti oleh orang Ibrani.

    Nama Pribadi Allah dalam Alkitab
    • YHWH ditulis lebih dari 6800 kali diulang dalam kitab-kitab Perjanjian Lama dan diterjemahkan dengan tulisan TUHAN.
    • Ayeh Asher Ayeh, AKU adalah AKU
    • Yahweh Jireh, TUHAN akan mencukupi
    • Yahweh Mekaddishkem, TUHAN yang menyucikan
    • Yahweh Nissi, TUHAN adalah Panjiku
    • Yahweh Rapha, TUHAN yang menyembuhkan
    • Yahweh Sebaoth, TUHAN Bala Tentara
    • Yahweh Shalom, TUHAN sumber damai
    • Yahweh Shammah, TUHAN hadir
    • Yahweh Tsidkenu, TUHAN keselamatan kita
    • Yah/YHWH, AKU, TUHAN yang tidak pernah berubah, TUHAN yang swa-ada

    Anda-anda semua sudah sangat tidak asing lagi mendengar kata TUHAN, baik anda yang atheis sekalipun. Bahkan, tidak sedikit juga dari orang-orang yang telah memberikan gelar kepada TUHAN dengan menyisipkan label “Maha”. Namun, sejauh apakah pemahaman tentang TUHAN menurut anda ? Dan seluas apakah pengertian tentang TUHAN bagi anda ?Nah, dalam tulisan kali ini saya akan memberikan sedikit definisi tentang TUHAN yang saya percaya, TUHAN yang saya yakini, TUHAN yang ada dalam kehidupan saya.
    Dalam bahasa Indonesia kita menyebutnya dengan TUHAN, yang berasal dari bahasa Sansekerta yaitu TUH HYANG, yang memiliki arti roh atau dewa yang memiliki posisi tertinggi dalam khayangan atau surga. Tiap-tiap agama penganut paham monotheisme memiliki nama untuk Tuhan. Contoh : Islam : ALLAH, Nasrani : ALLAH (Bapa), YESUS (Putra), Roh Kudus, (Konsep Trinitas), Yahudi : Iehovah (atau sering disebut Yehuwa, Yahweh, Jehovah). Hindu dengan konsep ketuhanan Parabrahman yaitu Syiwa, Wisnu, dan Brahma; Buddha yang menyebut Tuhan sebagai, “Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam” (Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak) dan konsep Buddha ini hampir sama dengan konsep Tuhan berdasarkan Henok (sekarang agama ini hanya ada di Afrika, tepatnya pusatnya di Ethiopia, konsep Yahudi kuno berdasar Enoch). Dan banyak lagi nama-nama dan konsep-konsep dari agama-agama yang lainnya.
    Konsep Keesaan Tuhan Dalam Kristen, Hindu, Dan Islam
    Pembahasan tentang konsep ketuhanan merupakan pembahasan pokok dan inti dalam setiap agama, sedangkan persoalan-persoalan lain dibicarakan kemudian. Karena pengakuan seseorang terhadap agama tertentu selalu didasari oleh keyakinan dan penerimaan atas kebenaran Tuhan agama yang dianutnya itu. Seseorang akan sangat sulit dapat menerima suatu agama apapun apabila ia tidak atau belum bisa menerima konsep ketuhanannya.
    Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan nama Allah, sudah dikenal oleh bangsa Arab kuno. Nama “Allah” telah dikenal dan dipakai sebelum Al-Qur’an diwahyukan, kata itu tidak khusus hanya bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang oleh umat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja timur, digunakan untuk memanggil Tuhan[1].
    Dalam pemahaman orang Indonesia yang beragama Islam dan Kristen (Katholik maupun Protestan), Tuhan biasa dipanggil dengan sebutan “Allah”. Kata ini berasal dari rumpun bahasa Arab, yaitu dari kata “al” (yang sama artinya dengan “the” dalam bahasa Inggris) dan kata “ilah” (Tuhan). Secara Harfiyah Allah berarti Tuhan Yang Satu. Kata Tuhan kemudian dimaknai sebagai Tuhan Yang Maha Esa, yang dengan baik menunjukkan kepercayaan monoteisme, yang percaya pada satu Tuhan. Umat Islam memegang teguh ungkapan itu. Bagi orang Kristen (Katholik maupun Protestan) istilah tersebut dapat diterima dengan baik, karena sesungguhnya orang Kristen mengakui adanya satu Tuhan. Hal yang sama terjadi juga dalam agama Hindu, walau ada banyak nama yang diberikan, namun nama-nama yang banyak itu lebih berkaitan dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh Yang Mutlak itu sendiri, yang kesemuanya tidak lain adalah Yang Maha Esa[2].
    Demikianlah, agama-agama umumnya sepakat dengan keesaan Tuhan, oleh karena itu, penetapan sila ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sila pertama dalam dasar negara, yaitu Pancasila, dapat diterima oleh semua agama yang ada di Indonesia.
    Akan tetapi, bila ditelusuri lebih jauh, terdapat perbedaan pemahaman yang sangat mendasar pada setiap agama tentang Tuhan Yang Maha Esa itu, esa dalam konsep agama Kristen atau Hindu belum tentu dikatakan esa dalam konsep agama Islam, begitu juga sebaliknya. Adanya perbedaan dasar mengenai konsep keesaan Tuhan dalam tiga agama ini dirasa penting untuk diketahui agar seseorang tidak terjerumus dalam kebimbangan sehingga menganggap semua agama adalah sama, dan berpindah agama bukanlah sesuatu yang luar biasa. Suatu keharusan bagi setiap orang yang beragama untuk mengetahui perbedaan-perbedaan itu supaya ia dapat menentukan sikap tentang konsep keesaan Tuhan manakah yang paling dapat diterima dari agama-agama tersebut.
    Dari beberapa agama yang ada di Indonesia, makalah ini mencoba menjelaskan konsep keesaan Tuhan dalam tiga agama, yaitu: Kristen, Hindu dan Islam, serta mengungkap beberapa perbedaannya yang mendasar agar tidak muncul anggapan bahwa ketiga agama itu pada hakikatnya adalah sama.

    PERNYATAAN AGAMA KRISTEN, HINDU, DAN ISLAMTENTANG KEESAAN TUHAN
    Bahwa Tuhan itu esa adalah pengakuan dari agama Kristen, Hindu, dan Islam. Dalam Perjanjian Baru disebutkan perkataan Yesus kepada pengikutnya.
    “Jawab Yesus:”Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang
    Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihi Tuhan, Allahmu
    dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
    segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu”. (Markus
    12:29-30).
    Dalam Injil Markus juga disebutkan.
    “Dia [Allah] itu esa dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia”. (Markus 12:32)
    Pernyataan yang sama terdapat dalam kitab suci agama Hindu. Keesaan Tuhan yang disebut Brahman itu dibuktikan dalam berbagai mantra-mantra (ayat-ayat), dalam Veda seperti pada Rigveda I.64.46 disebutkan.
    “Mereka menyebutNya dengan Indra, Mitra, Varuna, dan Agni. Beliau yang bersayap keemasan Garutman. Beliau Esa, orang bijaksana menyebutNya banyak Nama: Indra, Yama, Marisvan”.
    Disebutkan juga bahwa Tuhan Yang Maha Esa bersabda.
    “Orang-orang yang menyembah Dewa-Dewa dengan penuh keyakinannya
    sesungguhnya hanya menyembah-Ku, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang keliru, wahai putera Kunti (Arjuna)”. (Bhagawadgita, IX:23)
    Kitab Upanishad : Chandogya Upanishad Ch. 6 Sec. 2 V. 1 menyatakan bahwa Tuhan hanya ada satu.
    Begitu juga pada Rigveda Bk. 1 Hymn 64. V. 46 dinyatakan : “Tuhan itu Maha Esa, panggillah Dia dengan berbagai nama”.
    Sedangkan di dalam Islam Tuhan Yang Satu itu dijelaskan secara jelas dan tegas dalam surah Al-Ikhlas. Allah SWT berfirman:
    “Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa”.
    “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”.
    “Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan”.
    “Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.(Al-Ikhlas:1-4)
    Al-Qur’an sangat konsisten dengan keesaan Tuhan; dan itu tercermin dalam semboyan yang seringkali dikutip orang yaitu:
    “Tiada Tuhan selain Allah”
    Semboyan ini telah berulangkali disebut dalam Al-Qur’an; Tercatat kurang lebih sekitar enam puluh kali dengan kata-kata yang sedikit berbeda. Bahkan dalam kalimat pendeknya telah diulang sekitar dua kali[3]:
    “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(Ali Imran:18)
    Berikut ini adalah ayat-ayat yang memuat kandungan semboyan tersebut di atas, dengan kata-kata yang sedikit berbeda:
    “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri”.(As-Shaaffat:35)
    “Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.(Al-Baqarah:163)
    “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau..”(Al-Anbiya:87)
    “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku”.(An-Nahl:2)
    “Sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa”.(Al-Maidah: 73)
    “Sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya”. (Al-A’raf:65)
    “Dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya”.(Al-Mu’minun:91)
    “Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa”.(An-Nisa:171)
    “Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. (Al-Kahfi:110)
    “Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia”.(Thaha: 98)
    ” Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa “.(Al-An’am:19)
    “Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.(Al-Baqarah:163)
    “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa”.(As-Shaaffat:4)

    PENJELASAN KONSEP KEESAAN TUHAN DALAM AGAMA KRISTEN
    Tritunggal
    Inti iman kepercayaan umat Kristen adalah misteri Tritunggal yang tidak mudah dimengerti – kepercayaan bahwa Allah itu tiga pribadi yang adalah satu – Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus.
    Sebellius (meninggal pada tahun 215) mengajarkan bahwa Tuhan Allah adalah Esa, Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah modalitas atau cara menampakkan diri Tuhan Allah Yang Esa itu. Semula, yaitu di dalam P.L Tuhan Allah menampakkan diri-Nya di dalam wajah atau modus Bapa, yaitu sebagai pencipta dan pemberi hukum. Sesudah itu Tuhan Allah menampakkan dirinya di dalam wajah Anak, yaitu sebagai juru Selamat yang melepaskan umatNya, yang dimulai dari kelahiran Kristus. Hingga kenaikanNya ke Sorga. Akhirnya Tuhan Allah sejak hari pentekusta menampakkan diriNya di dalam wajah Roh Kudus, yaitu sebagai Yang Menghidupkan. Jadi ketiga sebutan tadi adalah suatu urut-urutan penampakan Tuhan di dalam sejarah[4].
    Sedangkan menurut Oregenes (meninggal pada tahun 254), Tuhan Allah adalah satu atau Esa, sebagai lawan dari segala yang banyak. Tuhan ini menjadi sebab segala sesuatu yang berada. Dengan perantaraan Logos atau Firman, Tuhan Allah , yang Roh adanya itu, berhubungan dengan dunia benda. Logos ini berdiri sendiri sebagai suatu zat, yang memiliki kesadaran ilahi dan asas-asas duniawi. Ia adalah gambaran Allah yang sempurna. Sejak kekal ia dilahirkan dari Allah. Karena kekuasaan kehendak ilahi, ia terus-menerus dilahirkan dari zat ilahi. Ia memiliki tabiat yang sama dengan Allah, oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Ia satu dengan Allah, akan tetapi sebagai yang keluar dari Allah Bapa, Ia lebih rendah daripada Allah Bapa. Ia adalah pangkat pertama dari perpindahan dari “Yang Esa” kepada “Yang Banyak”, atau pangkat kedua di dalam zat Allah.
    Aktivitas Logos atau Anak ini juga lebih rendah dibanding dengan aktivitas Bapa. Ia adalah pelaksana kehendak Allah Bapa, yang melaksanakan instruksi Allah Bapa, sebagai umpamanya: penjadian.
    Roh Kudus dianggapnya juga sebagai zat yang ada pada Allah, yaitu pangkat ketiga di dalam zat Allah itu. Roh Kudus ini adanya karena Anak hubungannya dengan Anak sama dengan hubungan Anak dengan Bapa. Bidang kerjanya juga lebih sempit dibanding dengan bidan kerja Anak. Bapa adalah asas beradanya segala sesuatu, sedang Roh Kudus adalah asas penyucian segala sesuatu.
    Jadi ketritunggalan Allah dipandang sebagai berpangkat-pangkat. Oleh karena itu ajaran ini disebut Subordinasianisme. Di sini, perbedaan diantara Bapa, Anak, dan Roh Kudus dipertahankan, akan tetapi kesatuannya ditiadakan[5].
    Karena muncul masalah dalam pembicaraan tiga pribadi dalam konteks monoteistik maka beberapa umat Kristen modern telah berbicara tentang tiga pikiran, jiwa atau kekuatan yang semuanya adalah bagian dari Allah yang sama dan berada dalam keadaan harmonis: Allah Bapa mengasihi Allah putra dengan Roh Kudus sebagai kekuatan yang mempersatukan mereka. Umat Kristen lain berpendapat bahwa akan lebih mudah dengan mengatakan bahwa Allah mempunyai tiga peran: Allah dalam diri-Nya sendiri adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus[6].
    Dengan demikian, konsep keesaan Tuhan dalam agama Kristen belum jelas dan masih diperdebatkan di antara umat Kristiani sendiri.

    PENJELASAN KONSEP KEESAAN TUHAN DALAM AGAMA HINDU
    Brahman
    Tidaklah mudah untuk memberikan penjelasan tentang Tuhan karena keterbatasan akal manusia, hal itu menunjukkan begitu kecilnya manusia dihadapanNya. Meski begitu manusia tetaplah membaktikan dirinya dihadapanNya sebagamana tertuang dalam sabda suci Rg veda X.129.6 yaitu:
    “Sesungguhnya siapakah yang mengenalNya. Siapa pula yang dapat mengatakan kapan penciptaan itu. Dan kapan pula diciptakan alam semesta ini, diciptakan dewa-dewa. Siapakah yang mengetahui kapan kejadian itu?”
    Sabda suci yang serupa juga terungkap dalam Bhagavadgita X.2 yang artinya:
    “Baik para dewa maupun resi agung tidak mengenal asal mulaKu. Sebab dalam segala hal, Aku adalah sumber para dewa dan resi agung” [7].
    Teologi dalam terminologi agama Hindu disebut Brahma Vidya yaitu pengetahuan tentang Brahma (Tuhan). Kesadaran para resi dan tokoh agama Hindu akan keterbatasan bahasa definisi Tuhan, menimbulkan adagium atau term yang menyatakan bahwa Tuhan itu Neti, Neti, Neti (bukan ini, bukan ini, bukan ini). Karena dalam Brahmasutra dinyatakan bahwa Tuhan itu, “Tad avyaktam, aha hi” (sesungguhnya Tuhan tidak terkatakan)[8].
    Dalam keyakinan agama Hindu, Brahman atau Tuhan hanyalah satu, esa, tidak ada duanya, namun karena kebesaran dan kemuliaanNya, para resi dan orang-orang yang bijak menyebutnya dengan beragam nama.
    Kitab Veda juga membicarakan wujud Brahman. Di dalamnya menjelaskan bahwa Brahman sebenarnya adalah energi, cahaya, sinar yang sangat cemerlang dan sulit sekali diketahui wujudnya. Dengan kata lain Abstrak, Kekal, Abadi, atau dalam terminologi Hindu disebut Nirguna atau Nirkara Brahman (Impersonal God) artinya Tuhan tidak berpribadi dan Transenden.
    Meski Brahman tidak terjangkau pemikiran manusia atau tidak berwujud, namun jikalau Brahman menghendaki dirinya terlihat dan terwujud, hal itu sangat mudah dilakukan. Brahman yang berwujud disebut Saguna atau Sakara Brahman (personal God), Tuhan yang berpribadi atau immanent.
    Kedua konsep Tuhan yang impersonal dan personal tersebut di atas dapatlah ditemukan dalam mantra Bhagavadgita IV.6,7,8 dan Bhagavadgita XII,1 dan 3 dengan sebutan sebagai berikut[9].
    1. Paranaamam; Tuhan Maha Tinggi dan Abstrak, Kekal Abadi tidak berpribadi impersonal, nirkara (tak berwujud), nirguna (tanpa sifat guna) dan Brahman.
    Tuhan atau Brahman dalam bentuk yang abstrak tersebut di Bali disebut Sang Hyang Suung, Sang Hyang Embang, Sang Hyang Sunya. Karena tidak berbentuk, sulit dibayangkan dan dipikirkan (acintya, Bali).
    2. Vyuhanaama; Tuhan berbaring pada ular di lautan susu. Gambaran Tuhan seperti ini hanya bisa dilihat oleh para dewa. Di Bali penjelasan seperti itu disebut Hana Tan Hana (Ada tidak Ada), artinya Tuhan itu diyakini ada, namun tidak bisa dilihat.
    3. Vibhawanaama; Tuhan dalam bentuk ini disebut Avatara (turun menyebrang). Tuhan. Ia juga biasa disebut Saguna atau Sakara Brahman (personal god). Visualisasinyapun dapat:
    a. Tumbuhan/binatang (Unanthropomorphes): tumbuhan Soma, Ikan, Kura-kura, Babi Hutan, Garuda.
    b. Setengah Manusia-binatang (semi-antropomorphes): Hayagrva yaitu manusia berkepala kuda, Natrasimha yaitu manusia berkepala singa.
    c. Bentuk manusia dengan segala kelebihannya (anthro-pomorphes) seperti Vamana, Sri Raama, Kresna, Bhagawan Sri Sathya Narayana.
    4. Antaraatmanama; Tuhan meresapi segalanya dalam bentuk atma atau zat ketuhanan. Segalanya adalah Brahman (monisme).
    5. Archananaama; Tuhan yang terwujudkan dalam bentuk archa atau pertima (replika mini) seperti patung dalam berbagai bahan dan wujud.
    Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa ketuhanan dalam agama Hindu adalah perpaduan dari monoteisme transenden, monoteisme imanen, dan monisme. Sekali lagi, ditegaskan dalam agama Hindu apapun wujud dan rupanya Tuhan diyakini hanya satu (esa).
    Brahman menurut Veda juga tidak berjenis kelamin dan berusia. Dengan kata lain jenis kelamin dan usia segalanya ada pada diri Tuhan (Artharvaveda.X.8.27: Rgveda VIII.58.2). Hal tersebut logis menurut Vedanta, karena Tuhan adalah segalanya dalam kaitannya konsep monisme. Dengan begitu Tuhan menurut Veda adalah seorang Anak, seorang Ibu, Bapa, Nenek, Datuk, Kekasih dan sekaligus adalah gabungan itu semua, atau bukan semua hal seperti itu[10].

    Kedudukan Tuhan dan Sifat Tuhan
    Dalam Veda diungkapkan bahwa Tuhan ada di mana-mana, Maha Ada. Tuhan ada dalam dekat hati, dalam diri kita, sehingga muncul istilah mahavakya: Aham Brama Asmi: Aku adalah Tuhan. Tuhan juga ada pada diri anda, atau dalam mahavakya: Tat Tvam Asi (itu kamu adalah Tuhan). Dalam Rgveda, X.82-3: Yajur dan Atharvaved, II,1.3 disebutkan[11].
    “Bapak kami, pencipta kami, penguasa kami, Yang mengetahui semua tempat, segala yang ada. Dialah satu-satunya, memakai nama dewa yang berbeda-beda, Dialah yang dicari oleh semua mahkluk dengan renungan”.
    Di dalam Rgveda, X.186.2, dinyatakan selain sebagai Bapak, Penguasa, dan Pencipta, juga sebagai Kawan dan Saudara.
    “Ya Tuhan, Engkau Bapa Kami, Saudara kami, dan Kawan kami”.
    Adapun sifat Tuhan dalam Veda dan sastra-sastra Hinduistis sangatlah banyak sekali, namun disini disebutkan diantaranya adalah:
    Anima (maha halus), Lghina (maha ringan), Mahima (maha ajaib dan besar), Prapti (maha cepat mencapai tujuan), Nirguna (tanpa sifat guna), Nirkara (tak berwujud), Nirvisesa (tanpa ciri), Akarta (tak terwakili), Achintya (tak terpikirkan), Nirupadhi (tak terbatas), Niskalo (tak terbagi), Nirjano (tak terlahirkan).

    Dewa
    Telah maklum bahwa dalam agama Hindu terdapat banyak dewa. Namun dewa-dewa itu sebenarnya adalah manifestasi sinarnya Tuhan dalam fungsi tertentu. Matahari bersinar karena dijiwai, diberi spirit oleh Tuhan.
    Dewa-dewa itu adalah nama Tuhan dalam berbagai multi fungsi dan dimensi kebesaran dan kemuliaannya[12].
    Kekuasaan dan fungsi Tuhan yang sedemikian tinggi dan luas dan dalam, maka Tuhan memanifestasikan diri (bersinar) dalam wujud dewa-dewa. Bisa dikatakan dewa-dewa itu adalah ciptaan Tuhan meski seakan-akan terpisah dari Tuhan, padahal sesungguhnya dewa-dewa itu bagian integral dari kebesaran dan kecemerlangan sinar Tuhan sebagaimana terungkap dalam Rigveda[13].
    “Tuhan Yang Maha Esa, Engkau adalah guru agung, penuh kebijaksanaan, menganugerahkan karunia kepada mereka yang bersinar cemerlang, semoga para pencari pengetahuan spiritual, mengetahui rahasia 33 dewa.”
    Selanjutnya ke 33 dewa tersebut dibedakan menurut tempat dan tugasnya masing-masing seperti tertuang dalam Rigveda.I. 139.11 yang berbunyi:
    “Wahai para dewa (33 dewa): 11 di sorga, 11 di bumi, 11 berada di langit, semoga engkau bersuka cita dengan persembahan suci ini.”
    Dalam Satapatha Brahmana, XIV.5 disebutkan:
    “Sesungguhnya Ia mengatakan: adalah kekuatan yang agung dan dasyat sebanyak 33 dewa. Siapakah dewata itu? Mereka adalah delapan wasu, 11 Rudra, 12 aditya. Jumlah seluruhnya 31, (kemudian ditambah) Indra dan Prajaapati, seluruhnya menjadi 33 dewata.”
    Delapan Vasu tersebut adalah:
    1. Anala: (agni; dewa api)
    2. Dhavaa (dewa bumi)
    3. Anila atau Vayu (dewa angin)
    4. Prabhasa atau dyaus (dewa langit)
    5. Pratyusa atau surya (dewa matahari)
    6. Aha atau savitr (dewa antariksa)
    7. Candraa atau somma (dewa bulan)
    8. Druva atau Druha (dewa konstelasi planet)
    Adapun kesebelas dewa lainnya, Rudra (ekadasarudra) diyakini sebagai dewa Siwa dalam bentuk murti atau marah (kodra) yang menguasai 11 penjuru di alam raya. Meski jumlah dewa itu banyak namun tugas utama tetap dipegang oleh trimurti yang sebelumnya mengalami perubahan istilah yaitu:
    1. Dewa Agni diganti dan disamakan dengan dewa Brahma yang berfungsi sebagai pencipta.
    2. Dewa Indra dan Bayu diganti dan disamakan dengan Dewa Wisnu. Di dalam Veda, Wisnu adalah nama lain dari dewa Surya. Wisnu sebagai dewa pemelihara.
    3. Dewa surya diganti dan disamakan dengan dewa siwa, berfungsi sebagai dewa pelebur, melebur kembali segala sesuatu yang sudah tidak berfungsi lagi.

    PENJELASAN KONSEP KEESAAN TUHAN DALAM AGAMA ISLAM
    Konsep keesaan Tuhan dalam Islam disebut dengan istilah tauhid. Hakekat Tauhid adalah menafikan sekutu bagi Allah SWT pada zat, sifat, ibadah, dan perbuatan[14].
    Dalam Al-Qur’an, dalam berbagai ayatnya ketauhidan digambarkan dalam kesatuan perintah dan kesatuan arah (ketauhidan dalam ajaran dan ketauhidan dalam tujuan hidup) selain juga kesatuan penyembahan dan kesatuan ketaatan (ketauhidan dalam hal ibadah dan ketauhidan dalam kesalehan). Dan semua kesatuan ini diarahkan hanya kepada satu tujuan yaitu Tuhan yang satu[15].
    Mengenai Tuhan Yang Satu itu, Al-Qur’an menjelaskan secara jelas dan tegas dalam surah Al-Ikhlas. Allah SWT berfirman:
    “Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa”.
    “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”.
    “Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan”.
    “Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.(Al-Ikhlas:1-4)
    Tuhan itu satu Zat-Nya, tak ada sekutu bagi-Nya, Dia Maha Tunggal, tak ada yang menyamai-Nya. Maha Tinggi, tak ada lawan-Nya. Maha sendiri, tak ada yang sepadan dengan-Nya. Dia Satu. Qadim, tak ada awal-Nya. Azali, tak ada permulaan-Nya. Dia terus ada, tak berakhir. Abadi, tak berkesudahan. Dia mengatur makhluk-Nya, tak berhenti. Kekal, tak berlalu. Selalu dan selamanya bersifat agung, tak akan habis, dan tak terpisahkan dengan berlalunya masa dan habisnya waktu.
    “Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”.(Al-Hadid:3)
    Tuhan itu bukan jisim yang berbentuk, bukan materi yang memiliki batas dan ukuran. Dia tak sama dengan jisim-jisim, tak dapat diukur, tak bisa dibagi. Dia bukan jauhar (substansi) dan tak bisa ditempati jauhar, bukan pula ‘aradh (sifat) dan tak bisa ditempati ‘aradh. Dia tak sama dengan maujud (being) dan tak bisa disamai maujud.
    “… tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”.(As-Syuura:11)
    Pun Dia tak menyerupai sesuatu. Dia tak dibatasi ukuran, tak dilingkupi daerah, dan tak dikelilingi arah, tak juga diliputi langit dan bumi. Dia bertahta di Arsy sebagaimana yang Dia katakan dan arti yang dikehendaki-Nya. Tahta yang suci dari menyentuh, menetapi, menempati, mendiami, dan berpindah. Dia tak disokong Arsy, sebaliknya Arsy dan yang memikulnya dipandu kelembutan qudrah-Nya, dan dikuasai dalam genggaman-Nya.
    Dia di atas Arsy, langit, dan segala sesuatu hingga bawah tanah. Keadaan-Nya di atas tak menjadikan-Nya lebih dekat kepada Arsy dan langit, tak juga menjadikan-Nya lebih jauh dari bumi dan tanah. Akan tetapi Dia Maha Tinggi daripada Arsy dan langit, Maha Tinggi daripada bumi dan tanah. Walau begitu, Dia dekat dengan segala maujud, dekat dengan hamba-hamba-Nya, lebih dekat daripada urat nadi.
    “dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”.(Saba:47)
    Kedekatan-Nya tak sama dengan dekatnya jisim, begitu pula Zat-Nya. Dia tak menempati sesuatu, dan tak sesuatupun menempati-Nya. Maha Tinggi Dia dari ruang lingkup tempat. Maha suci dia dari batas masa. Dia ada sebelum menciptakan masa dan tempat. Dan Dia saat ini tetap seperti ada-Nya[16].

    Pembagian Tauhid
    Lebih spesifik tentang konsep Tauhid, Beberapa kalangan dari ulama muslim kemudian membuat pembagian Tauhid.
    Ada tiga pokok pembagian Tauhid: 1. Tauhid Rububiyyah. 2. Tauhid Uluhiyyah. 3. Tauhid Al-Asma wash Shifat.
    1. Tauhid Rububiyyah
    Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dilakukan Allah SWT, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, dan Dia adalah Raja, Penguasa, dan Yang Mengatur segala sesuatu[17].
    2. Tauhid Uluhiyyah
    Tauhid Uluhiyyah disebut juga Tauhiidul ‘Ibaadah yang berarti mentauhidkan Allah SWT melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah, apabila hal itu disyariatkan oleh-Nya, seperti berdoa, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’anah (meminta pertolongan), istighatsah (meminta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan), dan segala apa yang disyariatkan dan diperintahkan Allah SWT dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya karena Allah semata dan ikhlas karena-Nya, dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.
    Sungguh, Allah tidak akan ridha jika dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Apabila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada Syirkun Akbar (Syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya[18].
    3. Tauhid Al- Asma wash Shifat
    Ahlussunnah menetapkan apa-apa yang Allah SWT dan Rasu-Nya telah tetapkan atas Diri-Nya, baik itu dengan nama-nama maupun sifat-sifat Allah SWT, dan mensucikan-Nya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya SAW[19].

    PERBEDAAN DASAR KONSEP KEESAAN TUHAN ANTARA AGAMA ISLAM, KRISTEN, DAN HINDU
    Islam dengan tegas menolak kepercayaan Kristen bahwa Tuhan itu tiga pribadi dalam satu hakekat (Tritunggal), apapun penjelasannya. Islam juga sangat menentang keyakinan Hindu bahwa Tuhan memanifestasikan dirinya dalam berbagai bentuk dan rupa makhluk ciptaannya. Dalam konsepsi Islam tentang Tuhan, tidak ada kesetaraan antara Tuhan dan ciptaan. Tuhan tidak menjelma sebagai siapapun atau apapun. Al-Qur’an dengan tegas dan lugas mengatakan bahwa: tiada Tuhan selain Allah. Konsep tauhid dalam Al-Qur’an tidak pernah menyatakan bahwa Tuhan Pencipta itu adalah Tuhan dari segala tuhan.
    Pada Rigveda Bk. 2 Hymn 1 V. 3 disebutkan nama Tuhan Brahama, artinya: pencipta, bahasa arabnya khaliq. Umat muslim tidak keberatan kalau Allah dipanggil dengan Khalik atau Brahama. Tapi kalau orang menyebutkan Brahama itu adalah Tuhan yang berkepala 4 dengan mahkota, umat muslim sangat tidak setuju.
    Begitu juga pada Rigveda Bk. 2 Hymn 1 V. 3 disebutkan nama Tuhan Vishnu, artinya: pemelihara alam, yang memberi rizki. Bahasa arabnya adalah “Rabb”. Orang muslim tidak keberatan Allah disebut Rabb atau Vishnu. Yang jadi masalah adalah Vishnu adalah Tuhan yang punya 4 tangan, tiap tangan memegang cakra, tangan kirinya memegang rumah kerang, menaiki seekor burung garuda sambil bersandar pada gulungan ular. Umat muslim tidak bisa menerima itu[20].
    PENUTUP
    Pada dasarnya semua agama mengakui keesaan Tuhan, namun dalam kenyataannya, pemahaman tentang keesaan Tuhan itu berbeda, masing-masing agama memiliki konsepnya sendiri tentang ketuhanan, dari konsep-konsep ketuhanan itu dapat dinilai apakah suatu agama tetap konsisten dengan keesaan Tuhannya atau tidak.
    Jikalau semua agama sama, tidak akan ada orang yg berdakwah untuk agamanya. Bahkan semua orang tidak akan keberatan untuk berpindah agama kapanpun ia mau. Tapi kenyataannya tidak mudah bagi seseorang untuk berpindah agama, termasuk mereka yang sering berteriak menyatakan bahwa semua agama adalah sama. Hanya mereka yang benar-benar telah menemukan alasan yang kuat secara pribadilah yang mampu melakukannya.
    Mengatakan semua agama sama adalah seperti menanyakan 2+2 = berapa? apakah 2, 3, atau 4? lalu ada orang yg menjawab bahwa semuanya benar. Hal ini tentu saja tidak benar. Perbedaan itu pasti ada, bahkan tentang keesaan Tuhan yang sama-sama diakui oleh agama-agama.
    Tidak ada paksaan dalam agama, setiap orang bebas untuk mengimani atau mengingkari konsep ketuhanan yang ditawarkan agama-agama, atau mengingkari Tuhan secara mutlak, dan kelak dialah yang akan mempertanggung jawabkan pilihannya di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

  36. Pendekar Sejati said

    pelihara dirimu@ kyknya saya harus cari surah yg anda maksud bahwa umat kristen, yahudi dpt pahala dari Tuhannya kl beramal saleh. Agama anda kristen, yahudi, Budha, Hindu atau mengaku Islam tp gk punya akidah?

  37. sep said

    astagfirullah, semakin banyak saja orang2 yang mengaku islam tapi hatinya sudah teracuni oleh sifat2 setan……na’udzubillah……. waktu yang akan menentukan, ketika Al mahdi dan nabi Isa akan datang untuk meluruskan keyakinan2 yang sekarang ini telah menyeleweng dari Alquran dan Sunnah Rasulallah SAW. semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua…… amiiiin

  38. febridika said

    Agama? Apakah agama yang anda yakini berasal dari keturunan atau keyakinan? Apakah agama hampir sama seperti partai politik? Yang memiliki pemimpin, yang memiliki banyak pengikut, memiliki banyak perbedaan & mempunyai tujuan yang sama?
    Apakah agama mengajarkan untuk menghina atau melecehkan agama lain? Apakah kita sudah benar” mengerti tentang keyakinan? Adakah agama yang kita yakini mengajarkan kita untuk saling menghargai & mengajarkan bagaimana cara menyikapi perbedaan? JANGAN PERNAH MENYALAHKAN AGAMA APAPUN, salahkan diri kita yang tidak bisa menyikapi perbedaan tersebut!

    Kafir adalah lawan dari iman, kafir adalah mereka yang memerangi agama. Diantara orang yang mengaku beriman sendiripun ada orang-orang yang ingin menipu Allah dan ingin menipu orang-orang beriman lainnya, yaitu mereka pura-pura iman padahal mereka ingkar … mereka disebut kaum “munafik”. Mereka yang sudah faham mana yang benar dan mana yang salah tapi tetap saja melakukan kerusakan. Apa gunanya kita sebagai manusia mengagung-agungkan agama yang kita yakini, sedangkan kita masih akrab dengan larangan” Nya & dengan bangga kita mengumbar”nya? Seberapa besar keyakinan anda dengan apa yang anda anut saat ini? Seberapa kuat keimanan kita? Lihat disekeliling, kita semua sama kan? Yang membedakan hanyalah keyakinan! Dan keyakinan itulah yang membuat hidup kita berwarna.

    Ada banyak agama, ada banyak perbedaan tapi tujuan kita cuma satu dan yang menciptakan semua ini juga hanyalah satu yaitu ALLAH (Setiap agama ada panggilan-Nya masing”), saya yakin ALLAH itu ada & saya yakin SURGA itu pun ada 🙂 . Disetiap agama mengatakan surga bagi mereka yang beriman. Tapi siapa yang bisa menjamin hanya kaum tertentulah yang bisa masuk surga? Itu semua dapur ALLAH, terlalu besar untuk kita pahami hanya dengan akal yang kecil ini.
    Sesungguhnya, setiap orang beriman berhak atas surga. Tak peduli apa statusnya. Orang yang mulia atau mereka yang hina-dina. Karena surga adalah milik Allah, maka terserah kepada Allah, siapa yang diridhoi-Nya untuk masuk ke dalam surga-Nya itu. Dan Rasulullah SAW telah mengindikasikan bahwa seorang ahli ibadah tidak serta-merta mendapat jaminan akan masuk surga, karena surga lebih diutamakan bagi mereka yang mencintai Allah dengan sesungguh-sungguhnya kecintaan. Seperti juga kita, maka pastilah kita lebih suka kepada orang yang kita sukai untuk datang ke rumah kita, daripada mereka yang selalu memuja-muji kita – dengan niat bergelimang pamrih. Demikianlah juga Allah memilih mereka yang lebih dicintai-Nya. Dan Dia Maha Mengetahui akan segala yang tertampak pada lahir dan terbersit dalam batin….

    Maka, hendaknya kita tidak jadi merasa heran saat mengetahui bahwa Allah telah memasukkan siapa diluar dugaan kita ke dalam surga-Nya yang mulia. Karena Dia sungguh mengetahui apa-apa yang selayaknya dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya.

    “Subhanallah… Semua yang ada & semua yang kita miliki hanya milik ALLAH !” Semoga dengan harapan baru tumbuh dalam hati kita akan kasih sayang Allah.
    Dan kita… apa yang telah kita lakukan sehingga kita punya harapan untuk layak memperoleh anugerah sehebat itu dari Allah?

    Pantaskah bersikeras merasa paling benar & mempermasalahkan Sang Pencipta? 😉
    Yakinlah dengan apa yang kalian yakini. DIA milik kita semua didunia ini, DIA Maha Besar, kenalilah dan pahamilah dirimu, orang” disekitarmu, dan alam semesta ini sehingga dari situlah kita dapat mengenal dan memahami ALLAH .
    “Apa yang kita cari didunia ini?”
    KEIMANAN 🙂

    Sekedar komentar, maaf kalau ada kata” yang tidak berkenan 🙂 #salamdamai

  39. jasa aqiqah jakarta

    Tokoh Liberal: Surga Bukan Hanya Milik Agama Islam! « KabarNet.in

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: