Islam vs Ahmadiyah
Dengan ini kami (ADMIN) menambahkan satu forum dialog “Islam vs Ahmadiyah” mengingat banyak pengunjung di situs KabarNet yang terlibat perdebatan seputar Ahmadiyah.
Pada awalnya, tanpa kami duga banyak pengunjung yang memanfaatkan postingan kami sebagai makalah diskusi/dialog, sehingga situs ini menjadi ajang Perdebatan. Maka kami mempersilahkan mengisi forum ini dengan berdialog yang sehat, cerdas dan bijak serta tidak melupakan etika dan norma kita sebagai bangsa timur. Tentunya, tidak menampilkan tulisan atau gambar yang sifatnya tidak senonoh (kata-kata jorok, hubungan intim). Kiranya forum ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memperluas wawasan & menjadikan kita bangsa yang lebih demokratis. [13/10/2010]
Maaf dan Salam, ADMIN.
Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet
Irfan berkata
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
@Irfan
Anda memposting (sebagian saja) :
……..Saya tidak tertarik untuk mempelajari Tadzkirah, seperti anda. Saya hanya tertarik memperdalam dan mempelajari AlQuran saja, karena AlQuran-lah satu-satunya pedoman hidup saya…..
===> Syukurlah kalau begitu, cuma kenapa @Irfan masih meng-insert (menyisipkan) keberadaan MGA ?
Apakah penjelasan Qur’an dan Hadits belum cukup ?
@irfan menjawab
Justru karena Al-Quran dan hadits-lah saya meyakini kedatangan Nabi Isa as di akhir zaman sesuai dengan nubuatan Rasulullah Saw!
Justru karena saya dan muslim Ahmadi berusaha menaati apapun perintah AlQuran dan Rasulullah Saw, makanya saya bai’at kepada Al-Masih Mau’ud ini!
Apa anda tidak mempercayai hadits Rasulullah Saw tentang kedatangan Nabi isa as? Rasulullah bersabda:
Bagaimana sikap kalian apabila Ibnu Maryam di kalangan kalian turun dan ia sebagai Imam kalian di antara kalian (Al-Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38845)”.
Lalu, apabila kalian mengetahuinya, maka berbai’atlah kalian kepadanya, meskipun kalian merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia itu Khalifah Allah, Al-Mahdi (Ibnu Majah, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38658)
Bagaimanakah saya bisa mengingkari sabda Rasulullah Saw trsebut, @masnunk?
Atau justru Apa anda tidak meyakini sabda Rasulullah Saw tersebut? Apa anda mengingkari sabda beliau saw?
Atau anda memiliki penafsiran yang berbeda terhadap hadits Rasulullah Saw tersebut? Berbeda dengan apa yang oleh “Ahmadiyah” versi ahmadiyah dan NU yakini??
Seperti umat Islam pada umumnya, Muslim ahmadi (anggota dari “ahmadiyah” versi ahmadiyah) begitu mencintai Rasulullah Saw. Muslim ahmadi senantiasa berusaha untuk mengamalkan setiap ajaran, perintah dan contoh teladan dari Hz. Rasulullah Saw. Muslim Ahmadi dimanapun berada akan senantiasa berusaha mengamalkan apapun perintah yang disampaikan Hz. Rasulullah Saw kepada umatnya, termasuk perintah untuk beriman dan bai’at kepada Isa Ibnu Maryam yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw tersebut, sesuai dengan hadits Rasulullah Saw diatas.
Oleh karena itu, sesuai dengan perintah Saw tersebut dan sebagai wujud kecintaan muslim ahmadi kepada Yang Mulia Hz. Rasulullah Saw dengan berusaha menaati setiap perintah beliau Saw, termasuk perintah untuk berbaiat kepada Isa Ibnu Maryam di akhir zaman, maka setiap muslim ahmadi telah berbai’at kepada Hz.Mirza Ghulam Ahmad as yang kami yakini merupakan penggenapan dari nubuatan Rasulullah Saw tentang kedatangan Isa Ibnu Maryam di akhir zaman tersebut.
Sekedar diketahui untuk bai’at kepada Hz. Masih Mau’ud as tidaklah mudah, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan (Beliau Saw mengilustrasikan dengan “..walaupun harus merangkak di atas salju”). Selain karena akan mendapat caci makian, penghinaan dan tuduhan sesat, kafir, dan lain sebagainya dari umat Islam yang selama ini masih miskomunikasi/kekurang-informasi-an tentang “ahmadiyah” versi ahmadiyah (dan tertukar dengan “ahmadiyah” versi MUI dan FPI), seseorang harus benar2 mempelajari dan berusaha mengamalkan semaksimal mungkin selama hidupnya 10 syarat bai’at. Kesepuluh syarat bai’at itu, silahkan lihat di postingan saya sebelumnya.
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
Dalam posting-posting sebelumnya saya selalu menanyakan peran nyata / jasa MGA semasa hidup terhadap bangsa, negara India dan agama, tetapi tidak satupun pengikut Ahmadiyah yang bisa secara kongkrit menjelaskan.
@Irfan menjawab:
HMGA hidup di suatu masa ketika di India, kaum misionaris Kristen sangat gencar sekali melakukan gerakan-gerakan kristenisasinya. Mereka tidak segan-segan menghina, mencela dan juga menuduh Hz. Rasulullah Saw dengan tuduhan-tuduhan dan fitnah-fitnah yang kejam. Penderitaan umat Islam ketika itu ditambah lagi dengan pemerintahan Sikh yang sangat kejam dan merampas hak-hak umat Islam. Mereka dilarang untuk mengumandangkan azan, shalat, ibadah, dll bahkan mereka tidak segan juga membunuh, menganiaya umat Islam.
Para ulama Islam ketika itu diam saja tidak melakukan apun ketika mereka (kaum Kristen dan Sikh) melancarkan serangan-serangan menhina Islam dan junjungan kita Nabi Muhammad Saw.
HMGA muda sangat risau dengan keadaan tersebut. Beliau sangat mencintai kekasih-nya, Hz. Rasulullah Saw melebihi apapun di dunia ini. Kecintaan beliau tersebut dapat tercermin dalam untaian kata dibawah ini yang beliau tulis:
“Setelah Allah, aku ini mabuk dengan kecintaan kepada Muhammad. Jika ini disebut kekafiran, maka demi Allah, aku adalah orang yang amat kafir”
“Para missionary Kristen melontarkan banyak sekali tuduhan palsu untuk menentang Rasul kita Saw dan dengan perantaraan kedustaan ini mereka menyesatkan banyak sekali umat manusia. Tidak pernah sesuatu benda melukai hatiku seperti halnya olok-olokan dan caci makian mereka yang terus dilontarkan untuk (merendahkan-pent) keagungan Rasul suci Saw. Kedzaliman, laknat dan cacian yang mereka lontarkan kepada zat dan sifat-sifat Hadzrat Khairul Bashar (manusia yang terbaik) sangat melukai hatiku. Demi Tuhan! Jika seandainya seluruh anak keturunanku, sahabat-sahabat dan para asisten dan pegawaiku dibunuh di depan mataku, tangan kakiku juga dipotong, bola mataku dicungkil, lalu semua yang menjadi maksud dan tujuanku di mahrumkan dariku, dan semua kebahagiaan dan ketentramanku dilenyapkan, maka semua hal ini tidak akan lebih menyedihkan bagiku dibandingkan dengan luka hati pada saat Rasul Akram saw dihujani dengan kekotoran seperti itu.”
Dengan dilandasi kecintaan tersebut, HMGA muda berhasil mengumpulkan serta menjawab ribuan tuduhan-tuduhan, fitnah-fitnah dan caci makian yang dilontarkan kepada Rasulullah saw. Jawaban-jawaban tersebut beliau tulis dalam buku “Barahin Ahmadiyah”, yang artinya bukti-bukti nyata tentang kebenaran Ahmad (nama lain Rasulullah Saw).
Kata “Ahmadiyah” dalam judul buku tersebut tidak merujuk kepada “Jemaat Ahmadiyah” karena ketika itu “jemaat ahmadiyah” belum berdiri, dan juga tidak merujuk kepada nama beliau (Mirza Ghulam Ahmad), melainkan kata “Ahmadiyah” baik dalam buku “Barahin Ahmadiyah” dan juga nama organisasinya (Jemaat Ahmadiyah) merujuk kepada nama lain dari Rasulullah Saw yang menggambarkan keindahan keluhuran ahklah beliau Saw, yaitu Ahmad, sebagaimana dalam QS. Ash-Shaf.
Kegigihan beliau dalam membela Islam dan Rasulullah Saw diakui oleh ulama-ulama Islam pada masa itu, salah satunya adalah Khawaja Ghulam Farid.
yang notabene bukan merupakan seorang ahmadi.
Msnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
Jujur saja cerita atau riwayat MGA semasa hidup tidak se-heroik sahabat-sahabat Nabi, ketika membela panji-panji Islam padahal semua sahabat itu bukan Nabi.
Dari Imran bin Hushain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sebaik-baik kalian (umat Islam) adalah yang hidup pada masaku (generasi shahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), lalu yang sesudahnya lagi (tabi’ut tabi’in).”
( HR. Bukhari & Muslim )
Haruskah saya mengingkari / menyelisihi Hadits tsb diatas, dengan memposisikan MGA lebih baik dari para sahabat Nabi (Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman dll) ?
Faktanya, MGA bukan Isa dan MGA hidup lebih dari 1.000 tahun setelah Nabi SAW.
Sekali lagi, bagaimana mungkin saya berkhianat dengan sabda Rasul SAW, @Irfan ?
@Irfan menjawab:
Saya dan setiap muslim Ahmadi pun, sama seperti @Masnuk, bagaimana mungkin bisa mengingkari dan mengkhianati sabda Rasulullah Saw trsbt?
Salah satu contohnya yaitu bagaimana beliau menulis sebuah buku untuk menanggapi tuduhan tuduhan dari Syiah yang menghina atau mencela 3 khalifatur rasyidin. Berikut saya sampaikan beberapa kutipan dari buku Hz. Masih Mau’ud as:
“Sesungguhnya Hadhrat Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., Hadhrat Umar Al-Faruq r.a. dan Hadhrat Utsman r.a. mereka itu adalah orang-orang saleh lagi beriman. Dan adalah mereka itu termasuk kepada orang-orang yang diutamakan secara khusus oleh Allah Yang Maha pengasih dengan berbagai karunia-Nya. Banyak arif billah telah menjadi saksi akan keistimewaan-keistimewaan mereka itu.” (Sirrul Khilafah, hal. 9)
“Aku benar-benar telah diberitahu Allah bahwasanya Hadhrat Abu Bakar Ash-Shidiq r.a, Umar Al-Faruq r.a. dan Utsman r.a. benar-benar termasuk orang-orang saleh. Barangsiapa menyakiti mereka maka sungguh ia telah menyakiti Allah dan termasuk kepada orang-orang yang melampaui batas. Barangsiapa mencaci mereka dengan mulut yang lancang dan kemarahan yang memuncak dan tidak berhenti dari kutuk laknat, memfitnah, dan tidak menjauhkan diri dari perbuatan keji, lupa diri, dan bahkan menisbatkan (menyandarkan) macam-macam kezaliman, tuduhan perampasan haq dan permusuhan atas mereka maka bukanlah mereka menzalimi para Shahabat ra akan tetapi mereka telah menzalimi diri mereka sendiri. Tidaklah mereka mememusuni para Shahabat r.a. itu melainkan mereka telah memusuhi Tuhan-mereka.” (Sirrul Khilafah, hal. 20)
Dan aku bersumpah, Aimullah (demi Allah), sesungguhnya Allah telah menjadikan Hadhrat Abu Bakar dan Umar sebagai Asy-Syaikhain (dua pembesar ummat) dan yang ketiganya Hadhrat Utsman sebagai Dzūnūrain (yang menikahi dua puteri Rasulullah Saw.) dimana ketiga tokoh penting itu telah menjadi seperti halnya pintu-pintu gerbang untuk memasuki agama Islam dan menjadi sumber-sumber penyampaian ajaran Islam kepada setiap orang. Maka barangsiapa mengingkari eksistensi mereka dalam penyebaran Islam, meremehkan ilmu-ilmu mereka, dan tidak mengambil suri tauladan dari mereka bahkan menghinakan dan bangkit untuk mencerca mereka dan terus-menerus membicarakan kelemahan-kelemahan mereka maka aku khawatir bahwa orang semacam itu telah mejadi seorang yang su’ul khātimah dan minus iman. (Sirrul Khilafah, hal. 22)
Berkenaan dengan sahabat nabi Saw pada umumnya, Hz.Masih Mau’ud as bersabda:
“Sesungguhnya para Shahabat r.a. adalah orang-orang yang telah banyak berbuat kebajikan, maka janganlah kalian berani menisbatkan keburukan-keburukan atas mereka karena sesungguhnya penisbatan semacam itu akan merupakan bahaya dan kehancuran yang sangat besar. Hendaklah setiap pencaci itu menggunakan hati nurani dan fitrat-fitratnya dan hendaklah mereka takut kepada Allah pada suatu hari dimana Allah akan menangkap mereka, dan takutlah pada pada Allah pada suatu saat dimana para pengejek akan menyesal dan mengakui kesalahan mereka.”
Irfan berkata
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
@Irfan
Anda memposting (sebagian saja) :
……..Saya tidak tertarik untuk mempelajari Tadzkirah, seperti anda. Saya hanya tertarik memperdalam dan mempelajari AlQuran saja, karena AlQuran-lah satu-satunya pedoman hidup saya…..
===> Syukurlah kalau begitu, cuma kenapa @Irfan masih meng-insert (menyisipkan) keberadaan MGA ?
Apakah penjelasan Qur’an dan Hadits belum cukup ?
@irfan menjawab
Justru karena Al-Quran dan hadits-lah saya meyakini kedatangan Nabi Isa as di akhir zaman sesuai dengan nubuatan Rasulullah Saw!
Justru karena saya dan muslim Ahmadi berusaha menaati apapun perintah AlQuran dan Rasulullah Saw, makanya saya bai’at kepada Al-Masih Mau’ud ini!
Apa anda tidak mempercayai hadits Rasulullah Saw tentang kedatangan Nabi isa as? Rasulullah bersabda:
Bagaimana sikap kalian apabila Ibnu Maryam di kalangan kalian turun dan ia sebagai Imam kalian di antara kalian (Al-Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38845)”.
Lalu, apabila kalian mengetahuinya, maka berbai’atlah kalian kepadanya, meskipun kalian merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia itu Khalifah Allah, Al-Mahdi (Ibnu Majah, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38658)
Bagaimanakah saya bisa mengingkari sabda Rasulullah Saw trsebut, @masnunk?
Atau justru Apa anda tidak meyakini sabda Rasulullah Saw tersebut? Apa anda mengingkari sabda beliau saw?
Atau anda memiliki penafsiran yang berbeda terhadap hadits Rasulullah Saw tersebut? Berbeda dengan apa yang oleh “Ahmadiyah” versi ahmadiyah dan NU yakini??
Seperti umat Islam pada umumnya, Muslim ahmadi (anggota dari “ahmadiyah” versi ahmadiyah) begitu mencintai Rasulullah Saw. Muslim ahmadi senantiasa berusaha untuk mengamalkan setiap ajaran, perintah dan contoh teladan dari Hz. Rasulullah Saw. Muslim Ahmadi dimanapun berada akan senantiasa berusaha mengamalkan apapun perintah yang disampaikan Hz. Rasulullah Saw kepada umatnya, termasuk perintah untuk beriman dan bai’at kepada Isa Ibnu Maryam yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw tersebut, sesuai dengan hadits Rasulullah Saw diatas.
Oleh karena itu, sesuai dengan perintah Saw tersebut dan sebagai wujud kecintaan muslim ahmadi kepada Yang Mulia Hz. Rasulullah Saw dengan berusaha menaati setiap perintah beliau Saw, termasuk perintah untuk berbaiat kepada Isa Ibnu Maryam di akhir zaman, maka setiap muslim ahmadi telah berbai’at kepada Hz.Mirza Ghulam Ahmad as yang kami yakini merupakan penggenapan dari nubuatan Rasulullah Saw tentang kedatangan Isa Ibnu Maryam di akhir zaman tersebut.
Sekedar diketahui untuk bai’at kepada Hz. Masih Mau’ud as tidaklah mudah, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan (Beliau Saw mengilustrasikan dengan “..walaupun harus merangkak di atas salju”). Selain karena akan mendapat caci makian, penghinaan dan tuduhan sesat, kafir, dan lain sebagainya dari umat Islam yang selama ini masih miskomunikasi/kekurang-informasi-an tentang “ahmadiyah” versi ahmadiyah (dan tertukar dengan “ahmadiyah” versi MUI dan FPI), seseorang harus benar2 mempelajari dan berusaha mengamalkan semaksimal mungkin selama hidupnya 10 syarat bai’at. Kesepuluh syarat bai’at itu, silahkan lihat di postingan saya sebelumnya.
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
Dalam posting-posting sebelumnya saya selalu menanyakan peran nyata / jasa MGA semasa hidup terhadap bangsa, negara India dan agama, tetapi tidak satupun pengikut Ahmadiyah yang bisa secara kongkrit menjelaskan.
@Irfan menjawab:
HMGA hidup di suatu masa ketika di India, kaum misionaris Kristen sangat gencar sekali melakukan gerakan-gerakan kristenisasinya. Mereka tidak segan-segan menghina, mencela dan juga menuduh Hz. Rasulullah Saw dengan tuduhan-tuduhan dan fitnah-fitnah yang kejam. Penderitaan umat Islam ketika itu ditambah lagi dengan pemerintahan Sikh yang sangat kejam dan merampas hak-hak umat Islam. Mereka dilarang untuk mengumandangkan azan, shalat, ibadah, dll bahkan mereka tidak segan juga membunuh, menganiaya umat Islam.
Para ulama Islam ketika itu diam saja tidak melakukan apun ketika mereka (kaum Kristen dan Sikh) melancarkan serangan-serangan menhina Islam dan junjungan kita Nabi Muhammad Saw.
HMGA muda sangat risau dengan keadaan tersebut. Beliau sangat mencintai kekasih-nya, Hz. Rasulullah Saw melebihi apapun di dunia ini. Kecintaan beliau tersebut dapat tercermin dalam untaian kata dibawah ini yang beliau tulis:
“Setelah Allah, aku ini mabuk dengan kecintaan kepada Muhammad. Jika ini disebut kekafiran, maka demi Allah, aku adalah orang yang amat kafir”
“Para missionary Kristen melontarkan banyak sekali tuduhan palsu untuk menentang Rasul kita Saw dan dengan perantaraan kedustaan ini mereka menyesatkan banyak sekali umat manusia. Tidak pernah sesuatu benda melukai hatiku seperti halnya olok-olokan dan caci makian mereka yang terus dilontarkan untuk (merendahkan-pent) keagungan Rasul suci Saw. Kedzaliman, laknat dan cacian yang mereka lontarkan kepada zat dan sifat-sifat Hadzrat Khairul Bashar (manusia yang terbaik) sangat melukai hatiku. Demi Tuhan! Jika seandainya seluruh anak keturunanku, sahabat-sahabat dan para asisten dan pegawaiku dibunuh di depan mataku, tangan kakiku juga dipotong, bola mataku dicungkil, lalu semua yang menjadi maksud dan tujuanku di mahrumkan dariku, dan semua kebahagiaan dan ketentramanku dilenyapkan, maka semua hal ini tidak akan lebih menyedihkan bagiku dibandingkan dengan luka hati pada saat Rasul Akram saw dihujani dengan kekotoran seperti itu.”
Dengan dilandasi kecintaan tersebut, HMGA muda berhasil mengumpulkan serta menjawab ribuan tuduhan-tuduhan, fitnah-fitnah dan caci makian yang dilontarkan kepada Rasulullah saw. Jawaban-jawaban tersebut beliau tulis dalam buku “Barahin Ahmadiyah”, yang artinya bukti-bukti nyata tentang kebenaran Ahmad (nama lain Rasulullah Saw).
Kata “Ahmadiyah” dalam judul buku tersebut tidak merujuk kepada “Jemaat Ahmadiyah” karena ketika itu “jemaat ahmadiyah” belum berdiri, dan juga tidak merujuk kepada nama beliau (Mirza Ghulam Ahmad), melainkan kata “Ahmadiyah” baik dalam buku “Barahin Ahmadiyah” dan juga nama organisasinya (Jemaat Ahmadiyah) merujuk kepada nama lain dari Rasulullah Saw yang menggambarkan keindahan keluhuran ahklah beliau Saw, yaitu Ahmad, sebagaimana dalam QS. Ash-Shaf.
Kegigihan beliau dalam membela Islam dan Rasulullah Saw diakui oleh ulama-ulama Islam pada masa itu, salah satunya adalah Khawaja Ghulam Farid, yang notabene adalah bukan seorang ahmadi.
Msnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
Jujur saja cerita atau riwayat MGA semasa hidup tidak se-heroik sahabat-sahabat Nabi, ketika membela panji-panji Islam padahal semua sahabat itu bukan Nabi.
Dari Imran bin Hushain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sebaik-baik kalian (umat Islam) adalah yang hidup pada masaku (generasi shahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), lalu yang sesudahnya lagi (tabi’ut tabi’in).”
( HR. Bukhari & Muslim )
Haruskah saya mengingkari / menyelisihi Hadits tsb diatas, dengan memposisikan MGA lebih baik dari para sahabat Nabi (Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman dll) ?
Faktanya, MGA bukan Isa dan MGA hidup lebih dari 1.000 tahun setelah Nabi SAW.
Sekali lagi, bagaimana mungkin saya berkhianat dengan sabda Rasul SAW, @Irfan ?
@Irfan menjawab:
Saya dan setiap muslim Ahmadi pun, sama seperti @Masnuk, bagaimana mungkin bisa mengingkari dan mengkhianati sabda Rasulullah Saw trsbt?
Salah satu contohnya yaitu bagaimana beliau menulis sebuah buku untuk menanggapi tuduhan tuduhan dari Syiah yang menghina atau mencela 3 khalifatur rasyidin. Berikut saya sampaikan beberapa kutipan dari buku Hz. Masih Mau’ud as:
“Sesungguhnya Hadhrat Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., Hadhrat Umar Al-Faruq r.a. dan Hadhrat Utsman r.a. mereka itu adalah orang-orang saleh lagi beriman. Dan adalah mereka itu termasuk kepada orang-orang yang diutamakan secara khusus oleh Allah Yang Maha pengasih dengan berbagai karunia-Nya. Banyak arif billah telah menjadi saksi akan keistimewaan-keistimewaan mereka itu.” (Sirrul Khilafah, hal. 9)
“Aku benar-benar telah diberitahu Allah bahwasanya Hadhrat Abu Bakar Ash-Shidiq r.a, Umar Al-Faruq r.a. dan Utsman r.a. benar-benar termasuk orang-orang saleh. Barangsiapa menyakiti mereka maka sungguh ia telah menyakiti Allah dan termasuk kepada orang-orang yang melampaui batas. Barangsiapa mencaci mereka dengan mulut yang lancang dan kemarahan yang memuncak dan tidak berhenti dari kutuk laknat, memfitnah, dan tidak menjauhkan diri dari perbuatan keji, lupa diri, dan bahkan menisbatkan (menyandarkan) macam-macam kezaliman, tuduhan perampasan haq dan permusuhan atas mereka maka bukanlah mereka menzalimi para Shahabat ra akan tetapi mereka telah menzalimi diri mereka sendiri. Tidaklah mereka mememusuni para Shahabat r.a. itu melainkan mereka telah memusuhi Tuhan-mereka.” (Sirrul Khilafah, hal. 20)
Dan aku bersumpah, Aimullah (demi Allah), sesungguhnya Allah telah menjadikan Hadhrat Abu Bakar dan Umar sebagai Asy-Syaikhain (dua pembesar ummat) dan yang ketiganya Hadhrat Utsman sebagai Dzūnūrain (yang menikahi dua puteri Rasulullah Saw.) dimana ketiga tokoh penting itu telah menjadi seperti halnya pintu-pintu gerbang untuk memasuki agama Islam dan menjadi sumber-sumber penyampaian ajaran Islam kepada setiap orang. Maka barangsiapa mengingkari eksistensi mereka dalam penyebaran Islam, meremehkan ilmu-ilmu mereka, dan tidak mengambil suri tauladan dari mereka bahkan menghinakan dan bangkit untuk mencerca mereka dan terus-menerus membicarakan kelemahan-kelemahan mereka maka aku khawatir bahwa orang semacam itu telah mejadi seorang yang su’ul khātimah dan minus iman. (Sirrul Khilafah, hal. 22)
Berkenaan dengan sahabat nabi Saw pada umumnya, Hz.Masih Mau’ud as bersabda:
“Sesungguhnya para Shahabat r.a. adalah orang-orang yang telah banyak berbuat kebajikan, maka janganlah kalian berani menisbatkan keburukan-keburukan atas mereka karena sesungguhnya penisbatan semacam itu akan merupakan bahaya dan kehancuran yang sangat besar. Hendaklah setiap pencaci itu menggunakan hati nurani dan fitrat-fitratnya dan hendaklah mereka takut kepada Allah pada suatu hari dimana Allah akan menangkap mereka, dan takutlah pada pada Allah pada suatu saat dimana para pengejek akan menyesal dan mengakui kesalahan mereka.”
Irfan berkata
Kepada Admin Yth.
Sya sudah memposting tanggapan saya sebanyak 2 kali, tapi mengapa postingan saya tidak muncul??
Mohon anda fair dan adil dan setia pada komitmen anda untuk menampilkan postingan-postingan yang masuk.
Terima Kasih
dedi berkata
Nabi Muhammad saja menyatakan “Hampir dekat saatnya orang yang hidup di antara kamu akan bertemu dengan Isa Ibnu Maryam, yang menjadi Imam Mahdi dan hakim yang adil.” (HR Musnad Ahmad bin Hambal). Jadi, Masih Mau’ud (bukan Nabi Isa as yang sudah wafat itu) as itu adalah Imam Mahdi yang melaksanakan syari’at agama Islam. JELAS TUAN DEDI?
==> Monggo pelajari dengan betul ajaran MGA itu, dari siapa saja. Termasuk dari para mantan pengikut, mengapa takut? Kenabian MGA adalah tidak sesuai dengan hadist Nabi SAW, baik yang saudara ajukan diatas maupun lainnya. Jauh panggang dari api.
Ahmadiyah Qadyan semakin ditinggalkan, mengapa? Karena kepalsuan ada pada pengakuan MGA sebagai nabi dan rasul, kenyataan kekhalifahan Ahmadiyah adalah membangun kekayaan dari khalifah itu sendiri via iuran wajib dsb. Kenyataan bahwa penyebar /salesman Qadyan adalah mendapat gaji yg lumayan dari khalifahnya….
Semoga ada bisa sadar dan kembali kepada Islam, baik NU, Muhammadiyah dsb, ngga jadi masalah, karena sudah kembali mengakui bahwa Nabi SAW adalah penutup dari sekalian nabi-nabi terdahulu, dan tidak ada nabi baru hingga akhir masa….
Wallahualam,
dedi berkata
Perintah Khalifah Qadyani:
Facebook dilarang…
==> “Isolation” mode on… Model Korea Utara…
Wallahualam,
Irfan R berkata
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
@Irfan
Anda memposting (sebagian saja) :
……..Saya tidak tertarik untuk mempelajari Tadzkirah, seperti anda. Saya hanya tertarik memperdalam dan mempelajari AlQuran saja, karena AlQuran-lah satu-satunya pedoman hidup saya…..
===> Syukurlah kalau begitu, cuma kenapa @Irfan masih meng-insert (menyisipkan) keberadaan MGA ?
Apakah penjelasan Qur’an dan Hadits belum cukup ?
@irfan menjawab
Justru karena Al-Quran dan hadits-lah saya meyakini kedatangan Nabi Isa as di akhir zaman sesuai dengan nubuatan Rasulullah Saw!
Justru karena saya dan muslim Ahmadi berusaha menaati apapun perintah AlQuran dan Rasulullah Saw, makanya saya bai’at kepada Al-Masih Mau’ud ini!
Apa anda tidak mempercayai hadits Rasulullah Saw tentang kedatangan Nabi isa as? Rasulullah bersabda:
Bagaimana sikap kalian apabila Ibnu Maryam di kalangan kalian turun dan ia sebagai Imam kalian di antara kalian (Al-Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38845)”.
Lalu, apabila kalian mengetahuinya, maka berbai’atlah kalian kepadanya, meskipun kalian merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia itu Khalifah Allah, Al-Mahdi (Ibnu Majah, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38658)
Bagaimanakah saya bisa mengingkari sabda Rasulullah Saw trsebut, @masnunk?
Atau justru Apa anda tidak meyakini sabda Rasulullah Saw tersebut? Apa anda mengingkari sabda beliau saw?
Atau anda memiliki penafsiran yang berbeda terhadap hadits Rasulullah Saw tersebut? Berbeda dengan apa yang oleh “Ahmadiyah” versi ahmadiyah dan NU yakini??
Seperti umat Islam pada umumnya, Muslim ahmadi (anggota dari “ahmadiyah” versi ahmadiyah) begitu mencintai Rasulullah Saw. Muslim ahmadi senantiasa berusaha untuk mengamalkan setiap ajaran, perintah dan contoh teladan dari Hz. Rasulullah Saw. Muslim Ahmadi dimanapun berada akan senantiasa berusaha mengamalkan apapun perintah yang disampaikan Hz. Rasulullah Saw kepada umatnya, termasuk perintah untuk beriman dan bai’at kepada Isa Ibnu Maryam yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw tersebut, sesuai dengan hadits Rasulullah Saw diatas.
Oleh karena itu, sesuai dengan perintah Saw tersebut dan sebagai wujud kecintaan muslim ahmadi kepada Yang Mulia Hz. Rasulullah Saw dengan berusaha menaati setiap perintah beliau Saw, termasuk perintah untuk berbaiat kepada Isa Ibnu Maryam di akhir zaman, maka setiap muslim ahmadi telah berbai’at kepada Hz.Mirza Ghulam Ahmad as yang kami yakini merupakan penggenapan dari nubuatan Rasulullah Saw tentang kedatangan Isa Ibnu Maryam di akhir zaman tersebut.
Sekedar diketahui untuk bai’at kepada Hz. Masih Mau’ud as tidaklah mudah, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan (Beliau Saw mengilustrasikan dengan “..walaupun harus merangkak di atas salju”). Selain karena akan mendapat caci makian, penghinaan dan tuduhan sesat, kafir, dan lain sebagainya dari umat Islam yang selama ini masih miskomunikasi/kekurang-informasi-an tentang “ahmadiyah” versi ahmadiyah (dan tertukar dengan “ahmadiyah” versi MUI dan FPI), seseorang harus benar2 mempelajari dan berusaha mengamalkan semaksimal mungkin selama hidupnya 10 syarat bai’at. Kesepuluh syarat bai’at itu, silahkan lihat di postingan saya sebelumnya.
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
Dalam posting-posting sebelumnya saya selalu menanyakan peran nyata / jasa MGA semasa hidup terhadap bangsa, negara India dan agama, tetapi tidak satupun pengikut Ahmadiyah yang bisa secara kongkrit menjelaskan.
@Irfan menjawab:
HMGA hidup di suatu masa ketika di India, kaum misionaris Kristen sangat gencar sekali melakukan gerakan-gerakan kristenisasinya. Mereka tidak segan-segan menghina, mencela dan juga menuduh Hz. Rasulullah Saw dengan tuduhan-tuduhan dan fitnah-fitnah yang kejam. Penderitaan umat Islam ketika itu ditambah lagi dengan pemerintahan Sikh yang sangat kejam dan merampas hak-hak umat Islam. Mereka dilarang untuk mengumandangkan azan, shalat, ibadah, dll bahkan mereka tidak segan juga membunuh, menganiaya umat Islam.
Para ulama Islam ketika itu diam saja tidak melakukan apun ketika mereka (kaum Kristen dan Sikh) melancarkan serangan-serangan menhina Islam dan junjungan kita Nabi Muhammad Saw.
HMGA muda sangat risau dengan keadaan tersebut. Beliau sangat mencintai kekasih-nya, Hz. Rasulullah Saw melebihi apapun di dunia ini. Kecintaan beliau tersebut dapat tercermin dalam untaian kata dibawah ini yang beliau tulis:
“Setelah Allah, aku ini mabuk dengan kecintaan kepada Muhammad. Jika ini disebut kekafiran, maka demi Allah, aku adalah orang yang amat kafir”
“Para missionary Kristen melontarkan banyak sekali tuduhan palsu untuk menentang Rasul kita Saw dan dengan perantaraan kedustaan ini mereka menyesatkan banyak sekali umat manusia. Tidak pernah sesuatu benda melukai hatiku seperti halnya olok-olokan dan caci makian mereka yang terus dilontarkan untuk (merendahkan-pent) keagungan Rasul suci Saw. Kedzaliman, laknat dan cacian yang mereka lontarkan kepada zat dan sifat-sifat Hadzrat Khairul Bashar (manusia yang terbaik) sangat melukai hatiku. Demi Tuhan! Jika seandainya seluruh anak keturunanku, sahabat-sahabat dan para asisten dan pegawaiku dibunuh di depan mataku, tangan kakiku juga dipotong, bola mataku dicungkil, lalu semua yang menjadi maksud dan tujuanku di mahrumkan dariku, dan semua kebahagiaan dan ketentramanku dilenyapkan, maka semua hal ini tidak akan lebih menyedihkan bagiku dibandingkan dengan luka hati pada saat Rasul Akram saw dihujani dengan kekotoran seperti itu.”
Dengan dilandasi kecintaan tersebut, HMGA muda berhasil mengumpulkan serta menjawab ribuan tuduhan-tuduhan, fitnah-fitnah dan caci makian yang dilontarkan kepada Rasulullah saw. Jawaban-jawaban tersebut beliau tulis dalam buku “Barahin Ahmadiyah”, yang artinya bukti-bukti nyata tentang kebenaran Ahmad (nama lain Rasulullah Saw).
Kata “Ahmadiyah” dalam judul buku tersebut tidak merujuk kepada “Jemaat Ahmadiyah” karena ketika itu “jemaat ahmadiyah” belum berdiri, dan juga tidak merujuk kepada nama beliau (Mirza Ghulam Ahmad), melainkan kata “Ahmadiyah” baik dalam buku “Barahin Ahmadiyah” dan juga nama organisasinya (Jemaat Ahmadiyah) merujuk kepada nama lain dari Rasulullah Saw yang menggambarkan keindahan keluhuran ahklah beliau Saw, yaitu Ahmad, sebagaimana dalam QS. Ash-Shaf.
Kegigihan beliau dalam membela Islam dan Rasulullah Saw diakui oleh ulama-ulama Islam pada masa itu. Saya kutipkan pernyataan dari ulama di India ketika itu, Khawaja Ghulam Farid.
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
Jujur saja cerita atau riwayat MGA semasa hidup tidak se-heroik sahabat-sahabat Nabi, ketika membela panji-panji Islam padahal semua sahabat itu bukan Nabi.
Dari Imran bin Hushain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sebaik-baik kalian (umat Islam) adalah yang hidup pada masaku (generasi shahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), lalu yang sesudahnya lagi (tabi’ut tabi’in).”
( HR. Bukhari & Muslim )
Haruskah saya mengingkari / menyelisihi Hadits tsb diatas, dengan memposisikan MGA lebih baik dari para sahabat Nabi (Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman dll) ?
Faktanya, MGA bukan Isa dan MGA hidup lebih dari 1.000 tahun setelah Nabi SAW.
Sekali lagi, bagaimana mungkin saya berkhianat dengan sabda Rasul SAW, @Irfan ?
@Irfan menjawab:
Saya dan setiap muslim Ahmadi pun, sama seperti @Masnuk, bagaimana mungkin bisa mengingkari dan mengkhianati sabda Rasulullah Saw trsbt?
Salah satu contohnya yaitu bagaimana beliau menulis sebuah buku untuk menanggapi tuduhan tuduhan dari Syiah yang menghina atau mencela 3 khalifatur rasyidin. Berikut saya sampaikan beberapa kutipan dari buku Hz. Masih Mau’ud as:
“Sesungguhnya Hadhrat Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., Hadhrat Umar Al-Faruq r.a. dan Hadhrat Utsman r.a. mereka itu adalah orang-orang saleh lagi beriman. Dan adalah mereka itu termasuk kepada orang-orang yang diutamakan secara khusus oleh Allah Yang Maha pengasih dengan berbagai karunia-Nya. Banyak arif billah telah menjadi saksi akan keistimewaan-keistimewaan mereka itu.” (Sirrul Khilafah, hal. 9)
“Aku benar-benar telah diberitahu Allah bahwasanya Hadhrat Abu Bakar Ash-Shidiq r.a, Umar Al-Faruq r.a. dan Utsman r.a. benar-benar termasuk orang-orang saleh. Barangsiapa menyakiti mereka maka sungguh ia telah menyakiti Allah dan termasuk kepada orang-orang yang melampaui batas. Barangsiapa mencaci mereka dengan mulut yang lancang dan kemarahan yang memuncak dan tidak berhenti dari kutuk laknat, memfitnah, dan tidak menjauhkan diri dari perbuatan keji, lupa diri, dan bahkan menisbatkan (menyandarkan) macam-macam kezaliman, tuduhan perampasan haq dan permusuhan atas mereka maka bukanlah mereka menzalimi para Shahabat ra akan tetapi mereka telah menzalimi diri mereka sendiri. Tidaklah mereka mememusuni para Shahabat r.a. itu melainkan mereka telah memusuhi Tuhan-mereka.” (Sirrul Khilafah, hal. 20)
Dan aku bersumpah, Aimullah (demi Allah), sesungguhnya Allah telah menjadikan Hadhrat Abu Bakar dan Umar sebagai Asy-Syaikhain (dua pembesar ummat) dan yang ketiganya Hadhrat Utsman sebagai Dzūnūrain (yang menikahi dua puteri Rasulullah Saw.) dimana ketiga tokoh penting itu telah menjadi seperti halnya pintu-pintu gerbang untuk memasuki agama Islam dan menjadi sumber-sumber penyampaian ajaran Islam kepada setiap orang. Maka barangsiapa mengingkari eksistensi mereka dalam penyebaran Islam, meremehkan ilmu-ilmu mereka, dan tidak mengambil suri tauladan dari mereka bahkan menghinakan dan bangkit untuk mencerca mereka dan terus-menerus membicarakan kelemahan-kelemahan mereka maka aku khawatir bahwa orang semacam itu telah mejadi seorang yang su’ul khātimah dan minus iman. (Sirrul Khilafah, hal. 22)
Berkenaan dengan sahabat nabi Saw pada umumnya, Hz.Masih Mau’ud as bersabda:
“Sesungguhnya para Shahabat r.a. adalah orang-orang yang telah banyak berbuat kebajikan, maka janganlah kalian berani menisbatkan keburukan-keburukan atas mereka karena sesungguhnya penisbatan semacam itu akan merupakan bahaya dan kehancuran yang sangat besar. Hendaklah setiap pencaci itu menggunakan hati nurani dan fitrat-fitratnya dan hendaklah mereka takut kepada Allah pada suatu hari dimana Allah akan menangkap mereka, dan takutlah pada pada Allah pada suatu saat dimana para pengejek akan menyesal dan mengakui kesalahan mereka.”
Irfan berkata
Asw. Sekali lagi untuk admin yg terhormat..
Saya sudah mencoba memposting coment saya sebanyak 3 kali untuk menjawab coment2 dari @masnunk, @dedi, dll, tapi mengapa tetap tidak muncul..
Barusan saya posting yang saya tujukan ke admin, anehnya postingan itu muncul…tapi coment2 saya yang lain tidak muncul?
Mengapa? mhon penjelsan…
Admin KabarNet berkata
PENJELASAN TERKAIT KOMENTAR YANG TIDAK MUNCUL
Pengunjung KabarNet Yang Kami Hormati,
Untuk diketahui, situs KabarNet diperlengkapi dengan sejumlah sistim pengaman, termasuk diantaranya Software Penyaring Spam Comments yang bekerja secara otomatis. Setiap hari ada ribuan komentar Spam yang terjaring oleh sistim pengaman tersebut.
KabarNet adalah media bebas, oleh karenanya Petugas Admin KabarNet ‘TIDAK MENGONTROL’ setiap komentar Pengunjung yang masuk. Bagi kami, semua pengunjung KabarNet adalah Tamu yang wajib kami hormati – tanpa membedakan asal-usul, agama, keyakinan, golongan, maupun pandangan hidupnya.
KabarNet TIDAK menerapkan ‘sensor moderasi’ terhadap setiap komentar yang masuk. Penyaringan komentar bekerja secara otomatis sesuai mekanisme kerja Spam Filter Software yang terpasang di situs KabarNet.
Sebagai contoh, mekanisme penyaringan secara otomatis tersebut bekerja seperti berikut ini:
Contoh 1]
Misalkan, kata ‘seks’ dikategorikan sebagai Komentar Spam yang harus disaring. Manakala ada komentator menulis komentar mengandung kata: “seksual, seksi, seksama, seksofon” – maka komentarnya otomatis akan ikut terjaring oleh software tersebut karena kata-kata itu mengandung unsur 4 huruf berurutan: s-e-k-s.
Contoh 2]
Misalkan, kata ‘Anal’ dikategorikan sebagai Komentar Spam yang harus disaring. Manakala ada komentator menulis komentar yang mengandung kata: “analisa, analogi, kanal, kanalisasi”, maka komentarnya otomatis akan ikut terjaring oleh software tersebut karena kata-kata itu mengandung unsur 4 huruf berurutan: a-n-a-l.
Contoh 3]
Misalkan, kata ‘anjing’ dan ‘babi’ dikategorikan sebagai Komentar Spam yang harus disaring. Manakala ada komentator yang menulis komentar mengandung kata “keranjingan” dan/atau “membabibuta”, maka komentarnya otomatis akan ikut terjaring oleh software tersebut karena kata-kata itu mengandung unsur kata ‘anjing’ dan ‘babi’.
*
Komentar pengunjung yang mengandung Link URL mengarah ke situs lain juga secara otomatis akan disaring (ditangguhkan) oleh software penyaring Spam.
*
Apabila ada komentator yang komentarnya tidak langsung muncul, kemungkinan besar komentar tersebut ikut terjaring oleh sistim pengaman KabarNet (Spam Software) lantaran mekanisme penyaringan seperti yang kami jelaskan di atas. – Kemungkinan lain, komentar tersebut sedang tertahan beberapa saat di server WP lantaran data traffic di internet sedang sangat padat yang berakibat memperlambat kinerja server.
Kalau hal itu tejadi (komentar tidak langsung muncul secara instan), Anda tidak perlu mengirim ulang komentar tersebut berkali-kali. Harap ditunggu selama 1 X 24 jam, karena Petugas Admin KabarNet setiap hari secara berkala selalu memeriksa ribuan komentar Spam yang terjaring oleh sistim pengaman KabarNet ‘dengan tujuan untuk mencari dan meloloskan komentar pengunjung yang ikut terjaring’.
Manakala kami menemukan komentar pengunjung diantara ribuan komentar Spam yang terjaring secara otomatis oleh Spam Software (bukan oleh Admin KabarNet), maka biasanya komentar pengunjung tersebut kami selamatkan dan kami loloskan secara manual agar bisa tampil.
Demikian untuk diketahui.
Maaf dan Salam,
ADMIN KabarNet
Irfan berkata
dedi berkata
25/02/2013 pada 12:48
@irfan menjawab
Anda tidak menanggapi coment saya no. 94? Mengapa?
Apa anda takut dan tidak siap menerima kenyataan bahwa pemahaman Ahmadiyah berkenaan dengan kedatangan Isa Ibnu Maryam di akhir zaman SAMA PERSIS dengan pemahaman NU?
Silahkan lihat, baca, perhatikan baik2 hasil dari Mu’tamar NU yang saya kutipkan…apa tanggapan anda terhadap hasil dari mu’tamar ulama-ulama NU seindonesia itu??
saya kutip dan beri catatan pada coment anda diatas…
Semoga ada bisa sadar dan kembali kepada Islam, baik NU, Muhammadiyah dsb, ngga jadi masalah (NU DAN MUHAMMADIYAH MEMILIKI PEMAHAMAN YANG SAMA DENGAN AHMADIYAH TENTANG KEDATANGAN NABI ISA AS DI AKHIR ZAMAN…LIHAT COMENT SAYA NO 94), karena sudah kembali mengakui bahwa Nabi SAW adalah penutup dari sekalian nabi-nabi terdahulu (APAKAH ITU BERARTI TERMASUK NABI ISA AS, YANG TERMASUK NABI TERDAHULU..YANG JELAS2 KEDATANGANNYA DINUBUATKAN OLEH RASULULLAH SAW?? ATAU ANDA MENGINGKARI HADITS2 TERSEBUT?), dan tidak ada nabi baru hingga akhir masa….(SAYA SETUJU! TIDAK ADA NABI BARU YANG MEMBAWA SYARIAT BARU, AJARAN BARU, NABI BARU, SELAIN ISLAM DAN RASULULLAH SAW….TAPI BAGAIMANA DENGAN HADITS RASULULLAH SAW TENTANG KEDATANAGAN NABI ISA DI AKHIR ZAMAN? DAN BAGAIMANA JUGA PEMAHAMAN ULAMA-ULAMA NU SEBGAIMANA YANG TERTUANG DALAM MU’TAMAR NU TERSEBUT?)
Irfan berkata
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
@Irfan
Anda memposting (sebagian saja) :
……..Saya tidak tertarik untuk mempelajari Tadzkirah, seperti anda. Saya hanya tertarik memperdalam dan mempelajari AlQuran saja, karena AlQuran-lah satu-satunya pedoman hidup saya…..
===> Syukurlah kalau begitu, cuma kenapa @Irfan masih meng-insert (menyisipkan) keberadaan MGA ?
Apakah penjelasan Qur’an dan Hadits belum cukup ?
@irfan menjawab
Justru karena Al-Quran dan hadits-lah saya meyakini kedatangan Nabi Isa as di akhir zaman sesuai dengan nubuatan Rasulullah Saw!
Justru karena saya dan muslim Ahmadi berusaha menaati apapun perintah AlQuran dan Rasulullah Saw, makanya saya bai’at kepada Al-Masih Mau’ud ini!
Apa anda tidak mempercayai hadits Rasulullah Saw tentang kedatangan Nabi isa as? Rasulullah bersabda:
Bagaimana sikap kalian apabila Ibnu Maryam di kalangan kalian turun dan ia sebagai Imam kalian di antara kalian (Al-Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38845)”.
Lalu, apabila kalian mengetahuinya, maka berbai’atlah kalian kepadanya, meskipun kalian merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia itu Khalifah Allah, Al-Mahdi (Ibnu Majah, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38658)
Bagaimanakah saya bisa mengingkari sabda Rasulullah Saw trsebut, @masnunk?
Atau justru Apa anda tidak meyakini sabda Rasulullah Saw tersebut? Apa anda mengingkari sabda beliau saw?
Atau anda memiliki penafsiran yang berbeda terhadap hadits Rasulullah Saw tersebut? Berbeda dengan apa yang oleh “Ahmadiyah” versi ahmadiyah dan NU yakini??
Seperti umat Islam pada umumnya, Muslim ahmadi (anggota dari “ahmadiyah” versi ahmadiyah) begitu mencintai Rasulullah Saw. Muslim ahmadi senantiasa berusaha untuk mengamalkan setiap ajaran, perintah dan contoh teladan dari Hz. Rasulullah Saw. Muslim Ahmadi dimanapun berada akan senantiasa berusaha mengamalkan apapun perintah yang disampaikan Hz. Rasulullah Saw kepada umatnya, termasuk perintah untuk beriman dan bai’at kepada Isa Ibnu Maryam yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw tersebut, sesuai dengan hadits Rasulullah Saw diatas.
Oleh karena itu, sesuai dengan perintah Saw tersebut dan sebagai wujud kecintaan muslim ahmadi kepada Yang Mulia Hz. Rasulullah Saw dengan berusaha menaati setiap perintah beliau Saw, termasuk perintah untuk berbaiat kepada Isa Ibnu Maryam di akhir zaman, maka setiap muslim ahmadi telah berbai’at kepada Hz.Mirza Ghulam Ahmad as yang kami yakini merupakan penggenapan dari nubuatan Rasulullah Saw tentang kedatangan Isa Ibnu Maryam di akhir zaman tersebut.
Sekedar diketahui untuk bai’at kepada Hz. Masih Mau’ud as tidaklah mudah, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan (Beliau Saw mengilustrasikan dengan “..walaupun harus merangkak di atas salju”). Selain karena akan mendapat caci makian, penghinaan dan tuduhan sesat, kafir, dan lain sebagainya dari umat Islam yang selama ini masih miskomunikasi/kekurang-informasi-an tentang “ahmadiyah” versi ahmadiyah (dan tertukar dengan “ahmadiyah” versi MUI dan FPI), seseorang harus benar2 mempelajari dan berusaha mengamalkan semaksimal mungkin selama hidupnya 10 syarat bai’at. Kesepuluh syarat bai’at itu, silahkan lihat di postingan saya sebelumnya
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
Dalam posting-posting sebelumnya saya selalu menanyakan peran nyata / jasa MGA semasa hidup terhadap bangsa, negara India dan agama, tetapi tidak satupun pengikut Ahmadiyah yang bisa secara kongkrit menjelaskan.
@Irfan menjawab:
HMGA hidup di suatu masa ketika di India, kaum misionaris Kristen sangat gencar sekali melakukan gerakan-gerakan kristenisasinya. Mereka tidak segan-segan menghina, mencela dan juga menuduh Hz. Rasulullah Saw dengan tuduhan-tuduhan dan fitnah-fitnah yang kejam. Penderitaan umat Islam ketika itu ditambah lagi dengan pemerintahan Sikh yang sangat kejam dan merampas hak-hak umat Islam. Mereka dilarang untuk mengumandangkan azan, shalat, ibadah, dll bahkan mereka tidak segan juga membunuh, menganiaya umat Islam.
Para ulama Islam ketika itu diam saja tidak melakukan apun ketika mereka (kaum Kristen dan Sikh) melancarkan serangan-serangan menhina Islam dan junjungan kita Nabi Muhammad Saw.
HMGA muda sangat risau dengan keadaan tersebut. Beliau sangat mencintai kekasih-nya, Hz. Rasulullah Saw melebihi apapun di dunia ini. Kecintaan beliau tersebut dapat tercermin dalam untaian kata dibawah ini yang beliau tulis:
“Setelah Allah, aku ini mabuk dengan kecintaan kepada Muhammad. Jika ini disebut kekafiran, maka demi Allah, aku adalah orang yang amat kafir”
“Para missionary Kristen melontarkan banyak sekali tuduhan palsu untuk menentang Rasul kita Saw dan dengan perantaraan kedustaan ini mereka menyesatkan banyak sekali umat manusia. Tidak pernah sesuatu benda melukai hatiku seperti halnya olok-olokan dan caci makian mereka yang terus dilontarkan untuk (merendahkan-pent) keagungan Rasul suci Saw. Kedzaliman, laknat dan cacian yang mereka lontarkan kepada zat dan sifat-sifat Hadzrat Khairul Bashar (manusia yang terbaik) sangat melukai hatiku. Demi Tuhan! Jika seandainya seluruh anak keturunanku, sahabat-sahabat dan para asisten dan pegawaiku dibunuh di depan mataku, tangan kakiku juga dipotong, bola mataku dicungkil, lalu semua yang menjadi maksud dan tujuanku di mahrumkan dariku, dan semua kebahagiaan dan ketentramanku dilenyapkan, maka semua hal ini tidak akan lebih menyedihkan bagiku dibandingkan dengan luka hati pada saat Rasul Akram saw dihujani dengan kekotoran seperti itu.”
Dengan dilandasi kecintaan tersebut, HMGA muda berhasil mengumpulkan serta menjawab ribuan tuduhan-tuduhan, fitnah-fitnah dan caci makian yang dilontarkan kepada Rasulullah saw. Jawaban-jawaban tersebut beliau tulis dalam buku “Barahin Ahmadiyah”, yang artinya bukti-bukti nyata tentang kebenaran Ahmad (nama lain Rasulullah Saw).
Kata “Ahmadiyah” dalam judul buku tersebut tidak merujuk kepada “Jemaat Ahmadiyah” karena ketika itu “jemaat ahmadiyah” belum berdiri, dan juga tidak merujuk kepada nama beliau (Mirza Ghulam Ahmad), melainkan kata “Ahmadiyah” baik dalam buku “Barahin Ahmadiyah” dan juga nama organisasinya (Jemaat Ahmadiyah) merujuk kepada nama lain dari Rasulullah Saw yang menggambarkan keindahan keluhuran ahklah beliau Saw, yaitu Ahmad, sebagaimana dalam QS. Ash-Shaf.
Kegigihan beliau dalam membela Islam dan Rasulullah Saw diakui oleh ulama-ulama Islam pada masa itu. Saya kutipkan pernyataan dari ulama di India ketika itu, Khawaja Ghulam Farid.
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
Jujur saja cerita atau riwayat MGA semasa hidup tidak se-heroik sahabat-sahabat Nabi, ketika membela panji-panji Islam padahal semua sahabat itu bukan Nabi.
Dari Imran bin Hushain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sebaik-baik kalian (umat Islam) adalah yang hidup pada masaku (generasi shahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), lalu yang sesudahnya lagi (tabi’ut tabi’in).”
( HR. Bukhari & Muslim )
Haruskah saya mengingkari / menyelisihi Hadits tsb diatas, dengan memposisikan MGA lebih baik dari para sahabat Nabi (Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman dll) ?
Faktanya, MGA bukan Isa dan MGA hidup lebih dari 1.000 tahun setelah Nabi SAW.
Sekali lagi, bagaimana mungkin saya berkhianat dengan sabda Rasul SAW, @Irfan ?
@Irfan menjawab:
Saya dan setiap muslim Ahmadi pun, sama seperti @Masnuk, bagaimana mungkin bisa mengingkari dan mengkhianati sabda Rasulullah Saw trsbt?
Salah satu contohnya yaitu bagaimana beliau menulis sebuah buku untuk menanggapi tuduhan tuduhan dari Syiah yang menghina atau mencela 3 khalifatur rasyidin. Berikut saya sampaikan beberapa kutipan dari buku Hz. Masih Mau’ud as:
“Sesungguhnya Hadhrat Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., Hadhrat Umar Al-Faruq r.a. dan Hadhrat Utsman r.a. mereka itu adalah orang-orang saleh lagi beriman. Dan adalah mereka itu termasuk kepada orang-orang yang diutamakan secara khusus oleh Allah Yang Maha pengasih dengan berbagai karunia-Nya. Banyak arif billah telah menjadi saksi akan keistimewaan-keistimewaan mereka itu.” (Sirrul Khilafah, hal. 9)
“Aku benar-benar telah diberitahu Allah bahwasanya Hadhrat Abu Bakar Ash-Shidiq r.a, Umar Al-Faruq r.a. dan Utsman r.a. benar-benar termasuk orang-orang saleh. Barangsiapa menyakiti mereka maka sungguh ia telah menyakiti Allah dan termasuk kepada orang-orang yang melampaui batas. Barangsiapa mencaci mereka dengan mulut yang lancang dan kemarahan yang memuncak dan tidak berhenti dari kutuk laknat, memfitnah, dan tidak menjauhkan diri dari perbuatan keji, lupa diri, dan bahkan menisbatkan (menyandarkan) macam-macam kezaliman, tuduhan perampasan haq dan permusuhan atas mereka maka bukanlah mereka menzalimi para Shahabat ra akan tetapi mereka telah menzalimi diri mereka sendiri. Tidaklah mereka mememusuni para Shahabat r.a. itu melainkan mereka telah memusuhi Tuhan-mereka.” (Sirrul Khilafah, hal. 20)
Dan aku bersumpah, Aimullah (demi Allah), sesungguhnya Allah telah menjadikan Hadhrat Abu Bakar dan Umar sebagai Asy-Syaikhain (dua pembesar ummat) dan yang ketiganya Hadhrat Utsman sebagai Dzūnūrain (yang menikahi dua puteri Rasulullah Saw.) dimana ketiga tokoh penting itu telah menjadi seperti halnya pintu-pintu gerbang untuk memasuki agama Islam dan menjadi sumber-sumber penyampaian ajaran Islam kepada setiap orang. Maka barangsiapa mengingkari eksistensi mereka dalam penyebaran Islam, meremehkan ilmu-ilmu mereka, dan tidak mengambil suri tauladan dari mereka bahkan menghinakan dan bangkit untuk mencerca mereka dan terus-menerus membicarakan kelemahan-kelemahan mereka maka aku khawatir bahwa orang semacam itu telah mejadi seorang yang su’ul khātimah dan minus iman. (Sirrul Khilafah, hal. 22)
Berkenaan dengan sahabat nabi Saw pada umumnya, Hz.Masih Mau’ud as bersabda:
“Sesungguhnya para Shahabat r.a. adalah orang-orang yang telah banyak berbuat kebajikan, maka janganlah kalian berani menisbatkan keburukan-keburukan atas mereka karena sesungguhnya penisbatan semacam itu akan merupakan bahaya dan kehancuran yang sangat besar. Hendaklah setiap pencaci itu menggunakan hati nurani dan fitrat-fitratnya dan hendaklah mereka takut kepada Allah pada suatu hari dimana Allah akan menangkap mereka, dan takutlah pada pada Allah pada suatu saat dimana para pengejek akan menyesal dan mengakui kesalahan mereka.”
Irfan berkata
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
@Irfan
Anda memposting (sebagian saja) :
……..Saya tidak tertarik untuk mempelajari Tadzkirah, seperti anda. Saya hanya tertarik memperdalam dan mempelajari AlQuran saja, karena AlQuran-lah satu-satunya pedoman hidup saya…..
===> Syukurlah kalau begitu, cuma kenapa @Irfan masih meng-insert (menyisipkan) keberadaan MGA ?
Apakah penjelasan Qur’an dan Hadits belum cukup ?
@irfan menjawab
Justru karena Al-Quran dan hadits-lah saya meyakini kedatangan Nabi Isa as di akhir zaman sesuai dengan nubuatan Rasulullah Saw!
Justru karena saya dan muslim Ahmadi berusaha menaati apapun perintah AlQuran dan Rasulullah Saw, makanya saya bai’at kepada Al-Masih Mau’ud ini!
Apa anda tidak mempercayai hadits Rasulullah Saw tentang kedatangan Nabi isa as? Rasulullah bersabda:
Bagaimana sikap kalian apabila Ibnu Maryam di kalangan kalian turun dan ia sebagai Imam kalian di antara kalian (Al-Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38845)”.
Lalu, apabila kalian mengetahuinya, maka berbai’atlah kalian kepadanya, meskipun kalian merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia itu Khalifah Allah, Al-Mahdi (Ibnu Majah, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38658)
Bagaimanakah saya bisa mengingkari sabda Rasulullah Saw trsebut, @masnunk?
Atau justru Apa anda tidak meyakini sabda Rasulullah Saw tersebut? Apa anda mengingkari sabda beliau saw?
Atau anda memiliki penafsiran yang berbeda terhadap hadits Rasulullah Saw tersebut? Berbeda dengan apa yang oleh “Ahmadiyah” versi ahmadiyah dan NU yakini??
Seperti umat Islam pada umumnya, Muslim ahmadi (anggota dari “ahmadiyah” versi ahmadiyah) begitu mencintai Rasulullah Saw. Muslim ahmadi senantiasa berusaha untuk mengamalkan setiap ajaran, perintah dan contoh teladan dari Hz. Rasulullah Saw. Muslim Ahmadi dimanapun berada akan senantiasa berusaha mengamalkan apapun perintah yang disampaikan Hz. Rasulullah Saw kepada umatnya, termasuk perintah untuk beriman dan bai’at kepada Isa Ibnu Maryam yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw tersebut, sesuai dengan hadits Rasulullah Saw diatas.
Oleh karena itu, sesuai dengan perintah Saw tersebut dan sebagai wujud kecintaan muslim ahmadi kepada Yang Mulia Hz. Rasulullah Saw dengan berusaha menaati setiap perintah beliau Saw, termasuk perintah untuk berbaiat kepada Isa Ibnu Maryam di akhir zaman, maka setiap muslim ahmadi telah berbai’at kepada Hz.Mirza Ghulam Ahmad as yang kami yakini merupakan penggenapan dari nubuatan Rasulullah Saw tentang kedatangan Isa Ibnu Maryam di akhir zaman tersebut.
Sekedar diketahui untuk bai’at kepada Hz. Masih Mau’ud as tidaklah mudah, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan (Beliau Saw mengilustrasikan dengan “..walaupun harus merangkak di atas salju”). Selain karena akan mendapat caci makian, penghinaan dan tuduhan sesat, kafir, dan lain sebagainya dari umat Islam yang selama ini masih miskomunikasi/kekurang-informasi-an tentang “ahmadiyah” versi ahmadiyah (dan tertukar dengan “ahmadiyah” versi MUI dan FPI), seseorang harus benar2 mempelajari dan berusaha mengamalkan semaksimal mungkin selama hidupnya 10 syarat bai’at. Kesepuluh syarat bai’at itu, silahkan lihat di postingan saya sebelumnya.
taufik berkata
24/02/2013 pada 21:09
seorang berkata :
Kata-kata MGA :”Aku adalah Nabi dan rasul dalam makna hakiki, sedangkan dia berdusta dan meninggalkan AlQuran serta hukum-hukum syariat yang Mulia Saw, berarti dia kafir dan pendusta” (Anjam-e-Atham, hal 27-28)
24/02/2013 pada 16:57
Bung Irfan berkata :
“Dan hakikat yang sebenarnya saya berikan kesaksian sepenuhnya bahwa Nabi kita Muhammad Saw adalah khatamul Anbiyaa dansesudah Beliau Saaw, tidak ada lagi nabi yang datang, yaitu Nabi lama (Nabi Isa israili karena beliau sudah wafat dan tidak mungkin hidup kmbali, pen) dan nabi baru (yang membawa ajaran baru, syariat baru dan aqidah baru dlll, pen). Barang siapa berkata sesudah Rasulullah Saw, bahwa “Aku adalah nabi dan rasul dalam makna hakiki,sedangkan dia berdusta dan meninggalkan AlQuran serta hukum-hukum syariat yang Mulia Saw, berarti dia kagir dan pendusta”(Anjam-e-Atham, hal 27-28)
==Oneng…oneng..klo baca jgn setengah2…ketau an onengnya….!!
Mahmud berkata
Dedi berkata:
Monggo pelajari dengan betul ajaran MGA itu, dari siapa saja. Termasuk dari para mantan pengikut, mengapa takut? Kenabian MGA adalah tidak sesuai dengan hadist Nabi SAW, baik yang saudara ajukan diatas maupun lainnya. Jauh panggang dari api.
===>>> Mempelajari Ahmadiyah harus dari Jemaat Ahmadiyah jangan dari yang lain. Pendakwaan HMGA as sudah sesuai dengan Al Quran, Hadits & kenyataan. Hadits yang saya kemukakan anda tolak, padahal dari HR Ahmad bin Hambal. Laa iqra hafiddiin.
Dedi berkata:
Ahmadiyah Qadyan semakin ditinggalkan, mengapa? Karena kepalsuan ada pada pengakuan MGA sebagai nabi dan rasul, kenyataan kekhalifahan Ahmadiyah adalah membangun kekayaan dari khalifah itu sendiri via iuran wajib dsb. Kenyataan bahwa penyebar /salesman Qadyan adalah mendapat gaji yg lumayan dari khalifahnya….
===>>> Ahmadiyah Qadyan boleh saja semakin ditinggalkan, tetapi Jemaat Ahmadiyah semakin diminati, BUKTI NYATA: Pertolongan Allah dan Kemenangan Islam telah Dia anugerahkan kepada Khilafat Islam Jemaat Ahmadiyah. Ratusan juta orang dari berbagai suku bangsa dari seluruh penjuru dunia, dari lima benua di 202 negara berbondong masuk ke dalam agama Allah (An-Nashr 110:1-2), baiat kepada Allah di tangan Khalifatul Masih bergabung ke dalam Jemaat Ahmadiyah. Masya-Allah, Ashtaghfirullah, Alhamdulillah, Allahuakbar.
Semoga ada bisa sadar dan kembali kepada Islam, baik NU, Muhammadiyah dsb, ngga jadi masalah, karena sudah kembali mengakui bahwa Nabi SAW adalah penutup dari sekalian nabi-nabi terdahulu, dan tidak ada nabi baru hingga akhir masa….
===>>> Muslim Sejati kembali kepada Islam yang telah bercerai-berai menjadi 72 golongan? Sorry yah. Kami juga mengakui bahwa Nabi Muhammad saw adalah penutup para nabi pembawa syari’at, tetapi kami juga mengakui bahwa Nabi Muhammad saw adalah pembuka para nabi yang taat kepada beliau saw sebagaimana tertulis dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abu Thalib ra dalam Kanzul Ummal.
JELAS TUAN DEDI? JANGAN OON AH.
Irfan berkata
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
Dalam posting-posting sebelumnya saya selalu menanyakan peran nyata / jasa MGA semasa hidup terhadap bangsa, negara India dan agama, tetapi tidak satupun pengikut Ahmadiyah yang bisa secara kongkrit menjelaskan.
@Irfan menjawab:
HMGA hidup di suatu masa ketika di India, kaum misionaris Kristen sangat gencar sekali melakukan gerakan-gerakan kristenisasinya. Mereka tidak segan-segan menghina, mencela dan juga menuduh Hz. Rasulullah Saw dengan tuduhan-tuduhan dan fitnah-fitnah yang kejam. Penderitaan umat Islam ketika itu ditambah lagi dengan pemerintahan Sikh yang sangat kejam dan merampas hak-hak umat Islam. Mereka dilarang untuk mengumandangkan azan, shalat, ibadah, dll bahkan mereka tidak segan juga membunuh, menganiaya umat Islam.
Para ulama Islam ketika itu diam saja tidak melakukan apun ketika mereka (kaum Kristen dan Sikh) melancarkan serangan-serangan menhina Islam dan junjungan kita Nabi Muhammad Saw.
HMGA muda sangat risau dengan keadaan tersebut. Beliau sangat mencintai kekasih-nya, Hz. Rasulullah Saw melebihi apapun di dunia ini. Kecintaan beliau tersebut dapat tercermin dalam untaian kata dibawah ini yang beliau tulis:
“Setelah Allah, aku ini mabuk dengan kecintaan kepada Muhammad. Jika ini disebut kekafiran, maka demi Allah, aku adalah orang yang amat kafir”
“Para missionary Kristen melontarkan banyak sekali tuduhan palsu untuk menentang Rasul kita Saw dan dengan perantaraan kedustaan ini mereka menyesatkan banyak sekali umat manusia. Tidak pernah sesuatu benda melukai hatiku seperti halnya olok-olokan dan caci makian mereka yang terus dilontarkan untuk (merendahkan-pent) keagungan Rasul suci Saw. Kedzaliman, laknat dan cacian yang mereka lontarkan kepada zat dan sifat-sifat Hadzrat Khairul Bashar (manusia yang terbaik) sangat melukai hatiku. Demi Tuhan! Jika seandainya seluruh anak keturunanku, sahabat-sahabat dan para asisten dan pegawaiku dibunuh di depan mataku, tangan kakiku juga dipotong, bola mataku dicungkil, lalu semua yang menjadi maksud dan tujuanku di mahrumkan dariku, dan semua kebahagiaan dan ketentramanku dilenyapkan, maka semua hal ini tidak akan lebih menyedihkan bagiku dibandingkan dengan luka hati pada saat Rasul Akram saw dihujani dengan kekotoran seperti itu.”
Dengan dilandasi kecintaan tersebut, HMGA muda berhasil mengumpulkan serta menjawab ribuan tuduhan-tuduhan, fitnah-fitnah dan caci makian yang dilontarkan kepada Rasulullah saw. Jawaban-jawaban tersebut beliau tulis dalam buku “Barahin Ahmadiyah”, yang artinya bukti-bukti nyata tentang kebenaran Ahmad (nama lain Rasulullah Saw).
Kata “Ahmadiyah” dalam judul buku tersebut tidak merujuk kepada “Jemaat Ahmadiyah” karena ketika itu “jemaat ahmadiyah” belum berdiri, dan juga tidak merujuk kepada nama beliau (Mirza Ghulam Ahmad), melainkan kata “Ahmadiyah” baik dalam buku “Barahin Ahmadiyah” dan juga nama organisasinya (Jemaat Ahmadiyah) merujuk kepada nama lain dari Rasulullah Saw yang menggambarkan keindahan keluhuran ahklah beliau Saw, yaitu Ahmad, sebagaimana dalam QS. Ash-Shaf.
Kegigihan beliau dalam membela Islam dan Rasulullah Saw diakui oleh ulama-ulama Islam pada masa itu yang notabene bukan ahmadi
Mahmud berkata
Dedi berkata
Perintah Khalifah Qadyani:
Facebook dilarang…
==> “Isolation” mode on… Model Korea Utara…
====>>>> Menurut Al Quran, orang beriman itu berkata:”Kami dengar, kami taat”. Orang yang tidak beriman berkata:”Kami dengar, kami tolak”.
Irfan berkata
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
Dalam posting-posting sebelumnya saya selalu menanyakan peran nyata / jasa MGA semasa hidup terhadap bangsa, negara India dan agama, tetapi tidak satupun pengikut Ahmadiyah yang bisa secara kongkrit menjelaskan.
@Irfan menjawab:
HMGA hidup di suatu masa ketika di India, kaum misionaris Kristen sangat gencar sekali melakukan gerakan-gerakan kristenisasinya. Mereka tidak segan-segan menghina, mencela dan juga menuduh Hz. Rasulullah Saw dengan tuduhan-tuduhan dan fitnah-fitnah yang kejam. Penderitaan umat Islam ketika itu ditambah lagi dengan pemerintahan Sikh yang sangat kejam dan merampas hak-hak umat Islam. Mereka dilarang untuk mengumandangkan azan, shalat, ibadah, dll bahkan mereka tidak segan juga membunuh, menganiaya umat Islam.
Para ulama Islam ketika itu diam saja tidak melakukan apun ketika mereka (kaum Kristen dan Sikh) melancarkan serangan-serangan menhina Islam dan junjungan kita Nabi Muhammad Saw.
HMGA muda sangat risau dengan keadaan tersebut. Beliau sangat mencintai kekasih-nya, Hz. Rasulullah Saw melebihi apapun di dunia ini. Kecintaan beliau tersebut dapat tercermin dalam untaian kata dibawah ini yang beliau tulis:
“Setelah Allah, aku ini mabuk dengan kecintaan kepada Muhammad. Jika ini disebut kekafiran, maka demi Allah, aku adalah orang yang amat kafir”
“Para missionary Kristen melontarkan banyak sekali tuduhan palsu untuk menentang Rasul kita Saw dan dengan perantaraan kedustaan ini mereka menyesatkan banyak sekali umat manusia. Tidak pernah sesuatu benda melukai hatiku seperti halnya olok-olokan dan caci makian mereka yang terus dilontarkan untuk (merendahkan-pent) keagungan Rasul suci Saw. Kedzaliman, laknat dan cacian yang mereka lontarkan kepada zat dan sifat-sifat Hadzrat Khairul Bashar (manusia yang terbaik) sangat melukai hatiku. Demi Tuhan! Jika seandainya seluruh anak keturunanku, sahabat-sahabat dan para asisten dan pegawaiku dibunuh di depan mataku, tangan kakiku juga dipotong, bola mataku dicungkil, lalu semua yang menjadi maksud dan tujuanku di mahrumkan dariku, dan semua kebahagiaan dan ketentramanku dilenyapkan, maka semua hal ini tidak akan lebih menyedihkan bagiku dibandingkan dengan luka hati pada saat Rasul Akram saw dihujani dengan kekotoran seperti itu.”
Dengan dilandasi kecintaan tersebut, HMGA muda berhasil mengumpulkan serta menjawab ribuan tuduhan-tuduhan, fitnah-fitnah dan caci makian yang dilontarkan kepada Rasulullah saw. Jawaban-jawaban tersebut beliau tulis dalam buku “Barahin Ahmadiyah”, yang artinya bukti-bukti nyata tentang kebenaran Ahmad (nama lain Rasulullah Saw).
Kata “Ahmadiyah” dalam judul buku tersebut tidak merujuk kepada “Jemaat Ahmadiyah” karena ketika itu “jemaat ahmadiyah” belum berdiri, dan juga tidak merujuk kepada nama beliau (Mirza Ghulam Ahmad), melainkan kata “Ahmadiyah” baik dalam buku “Barahin Ahmadiyah” dan juga nama organisasinya (Jemaat Ahmadiyah) merujuk kepada nama lain dari Rasulullah Saw yang menggambarkan keindahan keluhuran ahklah beliau Saw, yaitu Ahmad, sebagaimana dalam QS. Ash-Shaf.
Kegigihan beliau dalam membela Islam dan Rasulullah Saw diakui oleh ulama-ulama Islam pada masa itu. Yang notabene bukanlah ahmadi.
Irfan berkata
dedi berkata
24/02/2013 pada 21:09
Kata-kata MGA:
“Aku adalah nabi dan rasul dalam makna hakiki, sedangkan dia berdusta dan meninggalkan AlQuran serta hukum-hukum syariat yang Mulia Saw, berarti dia kafir dan pendusta.” (Anjam-e-Atham, hal. 27-28)
@Irfan menjawab
Lihat terjemahn asli yang saya kutip, mohon jangan asal kutip tanpa sesuai dengan kutipan aslinya…
Kutipan aslinya yang saya kutip adalah:
….Barangsiapa berkata sesudah Rasulullah Saw, bahwa “Aku adalah nabi dan rasul dalam makna hakiki, sedangkan dia berdusta dan meninggalkan AlQuran serta hukum-hukum syariat yang Mulia Saw, berarti dia kafir dan pendusta.” (Anjam-e-Atham, hal. 27-28)
Bukti anda memelintirkan makna…bukti anda sepotong-potong dalam mengutip….bukti anda memfitnah…jelas sekali terlihat!!
Apabila anda salah mengutip dan tidak memahminya dengan penuh…celakalah anda!!
Irfan berkata
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
Jujur saja cerita atau riwayat MGA semasa hidup tidak se-heroik sahabat-sahabat Nabi, ketika membela panji-panji Islam padahal semua sahabat itu bukan Nabi.
Dari Imran bin Hushain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sebaik-baik kalian (umat Islam) adalah yang hidup pada masaku (generasi shahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), lalu yang sesudahnya lagi (tabi’ut tabi’in).”
( HR. Bukhari & Muslim )
Haruskah saya mengingkari / menyelisihi Hadits tsb diatas, dengan memposisikan MGA lebih baik dari para sahabat Nabi (Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman dll) ?
Faktanya, MGA bukan Isa dan MGA hidup lebih dari 1.000 tahun setelah Nabi SAW.
Sekali lagi, bagaimana mungkin saya berkhianat dengan sabda Rasul SAW, @Irfan ?
@Irfan menjawab:
Saya dan setiap muslim Ahmadi pun, sama seperti @Masnuk, bagaimana mungkin bisa mengingkari dan mengkhianati sabda Rasulullah Saw trsbt?
Salah satu contohnya yaitu bagaimana beliau menulis sebuah buku untuk menanggapi tuduhan tuduhan dari Syiah yang menghina atau mencela 3 khalifatur rasyidin. Berikut saya sampaikan beberapa kutipan dari buku Hz. Masih Mau’ud as:
“Sesungguhnya Hadhrat Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., Hadhrat Umar Al-Faruq r.a. dan Hadhrat Utsman r.a. mereka itu adalah orang-orang saleh lagi beriman. Dan adalah mereka itu termasuk kepada orang-orang yang diutamakan secara khusus oleh Allah Yang Maha pengasih dengan berbagai karunia-Nya. Banyak arif billah telah menjadi saksi akan keistimewaan-keistimewaan mereka itu.” (Sirrul Khilafah, hal. 9)
“Aku benar-benar telah diberitahu Allah bahwasanya Hadhrat Abu Bakar Ash-Shidiq r.a, Umar Al-Faruq r.a. dan Utsman r.a. benar-benar termasuk orang-orang saleh. Barangsiapa menyakiti mereka maka sungguh ia telah menyakiti Allah dan termasuk kepada orang-orang yang melampaui batas. Barangsiapa mencaci mereka dengan mulut yang lancang dan kemarahan yang memuncak dan tidak berhenti dari kutuk laknat, memfitnah, dan tidak menjauhkan diri dari perbuatan keji, lupa diri, dan bahkan menisbatkan (menyandarkan) macam-macam kezaliman, tuduhan perampasan haq dan permusuhan atas mereka maka bukanlah mereka menzalimi para Shahabat ra akan tetapi mereka telah menzalimi diri mereka sendiri. Tidaklah mereka mememusuni para Shahabat r.a. itu melainkan mereka telah memusuhi Tuhan-mereka.” (Sirrul Khilafah, hal. 20)
Dan aku bersumpah, Aimullah (demi Allah), sesungguhnya Allah telah menjadikan Hadhrat Abu Bakar dan Umar sebagai Asy-Syaikhain (dua pembesar ummat) dan yang ketiganya Hadhrat Utsman sebagai Dzūnūrain (yang menikahi dua puteri Rasulullah Saw.) dimana ketiga tokoh penting itu telah menjadi seperti halnya pintu-pintu gerbang untuk memasuki agama Islam dan menjadi sumber-sumber penyampaian ajaran Islam kepada setiap orang. Maka barangsiapa mengingkari eksistensi mereka dalam penyebaran Islam, meremehkan ilmu-ilmu mereka, dan tidak mengambil suri tauladan dari mereka bahkan menghinakan dan bangkit untuk mencerca mereka dan terus-menerus membicarakan kelemahan-kelemahan mereka maka aku khawatir bahwa orang semacam itu telah mejadi seorang yang su’ul khātimah dan minus iman. (Sirrul Khilafah, hal. 22)
Berkenaan dengan sahabat nabi Saw pada umumnya, Hz.Masih Mau’ud as bersabda:
“Sesungguhnya para Shahabat r.a. adalah orang-orang yang telah banyak berbuat kebajikan, maka janganlah kalian berani menisbatkan keburukan-keburukan atas mereka karena sesungguhnya penisbatan semacam itu akan merupakan bahaya dan kehancuran yang sangat besar. Hendaklah setiap pencaci itu menggunakan hati nurani dan fitrat-fitratnya dan hendaklah mereka takut kepada Allah pada suatu hari dimana Allah akan menangkap mereka, dan takutlah pada pada Allah pada suatu saat dimana para pengejek akan menyesal dan mengakui kesalahan mereka.”
Irfan berkata
Masnunk berkata
21/02/2013 pada 20:35
Dalam posting-posting sebelumnya saya selalu menanyakan peran nyata / jasa MGA semasa hidup terhadap bangsa, negara India dan agama, tetapi tidak satupun pengikut Ahmadiyah yang bisa secara kongkrit menjelaskan.
@Irfan menjawab:
HMGA hidup di suatu masa ketika di India, kaum misionaris Kristen sangat gencar sekali melakukan gerakan-gerakan kristenisasinya. Mereka tidak segan-segan menghina, mencela dan juga menuduh Hz. Rasulullah Saw dengan tuduhan-tuduhan dan fitnah-fitnah yang kejam. Penderitaan umat Islam ketika itu ditambah lagi dengan pemerintahan Sikh yang sangat kejam dan merampas hak-hak umat Islam. Mereka dilarang untuk mengumandangkan azan, shalat, ibadah, dll bahkan mereka tidak segan juga membunuh, menganiaya umat Islam.
Para ulama Islam ketika itu diam saja tidak melakukan apun ketika mereka (kaum Kristen dan Sikh) melancarkan serangan-serangan menhina Islam dan junjungan kita Nabi Muhammad Saw.
HMGA muda sangat risau dengan keadaan tersebut. Beliau sangat mencintai kekasih-nya, Hz. Rasulullah Saw melebihi apapun di dunia ini. Kecintaan beliau tersebut dapat tercermin dalam untaian kata dibawah ini yang beliau tulis:
“Setelah Allah, aku ini mabuk dengan kecintaan kepada Muhammad. Jika ini disebut kekafiran, maka demi Allah, aku adalah orang yang amat kafir”
“Para missionary Kristen melontarkan banyak sekali tuduhan palsu untuk menentang Rasul kita Saw dan dengan perantaraan kedustaan ini mereka menyesatkan banyak sekali umat manusia. Tidak pernah sesuatu benda melukai hatiku seperti halnya olok-olokan dan caci makian mereka yang terus dilontarkan untuk (merendahkan-pent) keagungan Rasul suci Saw. Kedzaliman, laknat dan cacian yang mereka lontarkan kepada zat dan sifat-sifat Hadzrat Khairul Bashar (manusia yang terbaik) sangat melukai hatiku. Demi Tuhan! Jika seandainya seluruh anak keturunanku, sahabat-sahabat dan para asisten dan pegawaiku dibunuh di depan mataku, tangan kakiku juga dipotong, bola mataku dicungkil, lalu semua yang menjadi maksud dan tujuanku di mahrumkan dariku, dan semua kebahagiaan dan ketentramanku dilenyapkan, maka semua hal ini tidak akan lebih menyedihkan bagiku dibandingkan dengan luka hati pada saat Rasul Akram saw dihujani dengan kekotoran seperti itu.”
Dengan dilandasi kecintaan tersebut, HMGA muda berhasil mengumpulkan serta menjawab ribuan tuduhan-tuduhan, fitnah-fitnah dan caci makian yang dilontarkan kepada Rasulullah saw. Jawaban-jawaban tersebut beliau tulis dalam buku “Barahin Ahmadiyah”, yang artinya bukti-bukti nyata tentang kebenaran Ahmad (nama lain Rasulullah Saw).
Kata “Ahmadiyah” dalam judul buku tersebut tidak merujuk kepada “Jemaat Ahmadiyah” karena ketika itu “jemaat ahmadiyah” belum berdiri, dan juga tidak merujuk kepada nama beliau (Mirza Ghulam Ahmad), melainkan kata “Ahmadiyah” baik dalam buku “Barahin Ahmadiyah” dan juga nama organisasinya (Jemaat Ahmadiyah) merujuk kepada nama lain dari Rasulullah Saw yang menggambarkan keindahan keluhuran ahklah beliau Saw, yaitu Ahmad, sebagaimana dalam QS. Ash-Shaf.
Kegigihan beliau dalam membela Islam dan Rasulullah Saw diakui oleh ulama-ulama Islam pada masa itu yang nota bene bukanlah ahmadi.
dedi berkata
Mahmud berkata
25/02/2013 pada 09:24
Masa, yang begitu aja kagak ngarti?
Kok ngaku umat Islam tapi maksa jadikan agama baru? Bukankah di dalam agama Islam itu tidak ada paksaan (laa iqra hafiddiin)?
==> Itu kalau pengertian Orang Qadyani, Nabi Isa AS adalah Nabi Isa AS yang lalu (sudah wafat dan takkan kembali), yang kemudian (logisnya orang Qadyani) adalah MGA…
Kalau Nabi SAW sendiri (juga pemahaman umum Ummat Islam) mengartikan bahwa Nabi Isa AS itu akan datang kembali. Jadi ngga ada nabi baru antara Beliau dan Nabi Isa AS yang akan kembali.
Kura-kura dalam perahu….
Sebagaimana tugas Nabi Isa AS, kalau MGA memang menurut kalian adalah “Nabi Isa”, dakwah kalian hanya buat orang kristiani, bukan buat orang Islam lagi…
Lain halnya firqah2 Islam lainnya mereka satu suara dalam kenabian Nabi SAW sebagai nabi penutup, tiada kenabian baru.
Kehidupan kematian adalah salah satu Ilmu Allah, sebagaimana Firman Allah:
“Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” QS Al Baqarah 225
Lakum diiniukum waliayadiin…
Wallahualam,
dedi berkata
site:http://thecult.info/blog/2011/05/30/mahdi-and-eisa-are-not-same/
Mahdi and ‘Eisa are not same
In a certain program[1] of MTA channel one Ahmadi ‘scholar’ presented few arguments in a bid to uphold his religious belief that Mahdi and ‘Eisa Ibn Maryam are two references to the same personality.
Argument 1
The first argument that the Ahmadi ‘scholar’ presents goes as;
A certain narration says that Holy Prophet, may Allah bless him, said:
كيف تهلك أمة أنا في أولها وعيسى في آخرها
‘How can that Ummah be destroyed in whose beginning is me, in whose end is ‘Eisa.”
Ahmadi ‘scholar’ contends that in this narration there is no mention of ‘Imam Mahdi’ hence it proves, in his good belief, that there is no separate person as Imam Mahdi.
While this is true that the report is given as such in Tarikh Damishq of Ibn Asakir but elsewhere the full report not only kills his argument but also exposes the gimmicks of the Ahmadiyya intellectual elite. The complete narration says;
لن تهلك أمة أنا في أولها وعيسى ابن مريم في آخرها ، والمهدي في أوسطها
“That Ummah cannot be destroyed in whose beginning is me, in whose end is ‘Eisa and in whose middle is al-Mahdi.”
(Kanzul Ummal 14/266 Hadīth 38671 cf. Kitabul Mahdi of Abu Na’im, Classified as Hasan by Al-Azizi in Siraj Al-Munir Sharah Jami’ Saghir 3/196)
Al-Manawi in his exegesis to this Hadith writes;
أراد بالوسط ما قبل الآخر لأن نزول عيسى لقتل الدجال يكون في زمن المهدي ويصلي عيسى خلفه
“By أوسط ‘before the end’ is meant for the descent of ‘Eisa (AS) to kill Dajjal will take place during the time of al-Mahdi and he (‘Eisa) will pray behind him.” (Faidh Al-Qadir 5/383 Hadith 7384)
This simply kills the twisting of Murabbis.
Argument 2
Next he uses the following narration to meet his end.
عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : يوشك من عاش منكم ان يلقى عيسى بن مريم إماما مهديا وحكما عدلا فيكسر الصليب ويقتل الخنزير ويضع الجزية وتضع الحرب أوزارها
Narrated Abu Huraira (RA) that Prophet, may Allah bless him, said: “It is near that one who lives from amongst you shall meet ‘Eisa bin Maryam. He will be a rightly guided (imaman mahdiyyan] leader and a just ruler …”
Ahmadis argue that as ‘Eisa, may Allah bless him, has been called ‘imaman mahdiyyan’ in this Hadith it means he will be Imam Mahdi spoken about in other Hadith narrations.
Let’s take this absurd argument to task.
What is “Mahdi”?
What? The heading says, ‘What is Mahdi?’ not, ‘Who is Mahdi?’ Yes, indeed that is what needs to be understood in the very first place.
Mahdi is an attribute/characteristic which means ‘rightly guided.’ And it is used for so many people in various Hadith narrations. With a quick look I could find that following people have been called so;
Abdullah bin Jarir (RA):
In Sahih Bukhari we read that Messenger of Allah, may Allah bless him, prayed for Sayyidina Jarir bin ‘Abdullah, may Allah be pleased with him;
اللَّهُمَّ ثَبِّتْهُ وَاجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا
“O Allah! Make him firm and make him a guiding and a rightly-guided man [mahdiyyan].”(Sahih Bukhari, Hadith 2809)
Mu’awiya (RA):
According to Jami’ Tirmidhi, the Messenger of Allah, may Allah bless him, prayed exactly the same way for Sayyidina Mu’awiya, may Allah be pleased with him;
اللهم اجعله هاديا مهديا
“O Allah! Make him a guiding and a rightly-guided man [mahdiyyan].” (Jami’ Tirmidhi, Hadith 3842. Classified as Hasan by Tirmidhi and Sahih by Albani)
‘Ali (RA):
In one Hadith the Messenger of Allah, may Allah bless him, addressing the people said about Sayyidina ‘Ali, may Allah be pleased with him;
تجدوه هاديا مهديا يأخذ بكم الطريق المستقيم
“You will find him a guiding and a right-guided person [mahdiyyan] who will take you on the right path.” (al-Isaba fi Ma’rifatil Sahaba 2/271. Hafiz Ibn Hajr said, its chain is good [jayyad])
All the Pious Caliphs:
A famous Hadith uses the word for all the pious Caliphs. It read;
فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين
“You must then follow my sunnah and that of the rightly-guided [mahdiyyeen] caliphs.” (Sunan Abu Dawud, Hadith 4607. Classified as Sahih by Albani)
The word ‘mahdiyyeen’ is plural of ‘mahdi.’
Thus we find that all of these great men and many others were ‘Mahdi’ i.e. rightly-guided ones. And by following the Ahmadiyya line of argument we end up with so many Mahdis instead of reaching the conclusion that ‘Eisa, may Allah bless him, alone is ‘mahdi’.
The fact however, is simply that Ahmadiyya try to play with the innocent minds that do not know the Arabic language and have been basically made to think of ‘mahdi ‘as a noun and not an adjective.
A person from the lineage of the Prophet due to appear near the End of Times:
Just like all these people and many others, near the End of Times will appear a person from the lineage of the Holy Prophet, may Allah bless him, whose being ‘mahdi’ i.e. rightly-guided is testified in original sources of Islam.
The Messenger of Allah, may Allah bless him, said;
المهدي من عترتي من ولد فاطمة
“The Mahdi (lit. rightly-guided) will be of my family, of the descendants of Fatimah.” (Sunan Abu Dawud, Hadith 4284. Classified as Sahih by Albani and others)
But even he is referred to as ‘Mahdi’ not because it is his name but because he will be a rightly-guided person.
About his name, another Hadith says;
رجلا مني أو من أهل بيتي يواطئ اسمه اسمي واسم أبيه اسم أبي
“A man who belongs to me or to my family whose name is same as my name and whose father’s name is the same as my father’s name.” (Sunan Abu Dawud, Hadith 4282. Classified as Sahih by Ibn Qayyim, Albani and others)
Why generally only a particular person is referred to as ‘Mahdi’?
Now naturally the question arises, if so many people were given the title of ‘Mahdi’ why only one person is referred to as such? The answer is simple. ‘Eisa, may Allah bless him, is basically a Prophet, Pious caliphs and other companions themselves are praised much by the Qur’an so they have much greater references to be known with. However, the personality known and revered as ‘Imam Mahdi’ is so referred to as it will be his greatest position and as such makes him stand out among all other humans after the Prophets and their companions. And that is the reason we always, retain the word Mahdi when translating the narrations about him. And looking at the subtleties let me say that this contention of ours springs from the very wording of the Hadith and a comparison of various narrations.
Please note, in the narrations using the word ‘mahdi’ (as singular adjective) for ‘Eisa, may Allah bless him, and various companions it is simply ‘mahdi’ i.e. without the article ‘al’ i.e. ‘the’ while the narration about the person to appear near the End of the Times is ‘al-Mahdi’ which makes him stand out among all those for whom this word is used. This is, let me reiterate, because his being rightly-guided is an honor for him greater than any other status of him.
Argument 3
His third argument is about the famous narration that Ahmadis often quote.
لا مهدي إلا عيسى
“There is no Mahdi except ‘Eisa.”
He says that one of its narrators Muhammad bin Khalid al-Jundi is a trustworthy narrator and that ‘Yahya bin Mu’in’ [sic.] graded him as trustworthy.
Firstly Hafiz Ibn Hajr, who has been recognized as Mujaddid by Ahmadis, after careful scrutiny of the various opinions, graded him as ‘Majhul’ i.e. unknown. See al-Taqrib 2/71.
Imam Hakim also classified him as ‘Majhul’ see Tahzib al-Tahzib 9/126
Let’s not forget Imam Hakim is also recognized as Mujaddid by Ahmadiyya.
As to what is attributed to Imam Yahya bin Ma’in (its Ma’in not Mu’in as Ahmadi ‘scholar’ speaks) al-Mizi quotes Abu al-Hassan al-Abri to have said, “If they mention what is said to come from Yahya bin Ma’in, it is not known to the experts among the people of knowledge and reporting.” (Tahzib al-Kamal 25/149)
Infact the narration has multiple issues. Shaykh Albani (in Silsala Da’ifa, Number 77) has mentioned three problems in this.
1. Tadlis of Hassan al-Basri
2. Muhammad bin Khalid al-Jundi being Majhul.
3. Difference in the chain. At another place Muhammad bin Khalid narrates from Aban bin Abi Ayyash instead of Aban bin Salih and he is ‘Matrook’ i.e. rejected. See Tahzib al-Tahzib 9/126
It is for this reason; Imam Ibn Taymiya, al-Saghani, al-Shaukani, Ibn Qayyim, al-Dhahbi, al-Qurtubi, Azimabadi etc. and recently Albani and Shu’aib Arnaut all have graded this narration as dubious.
And it is precisely for this reason Mullah Ali Qari in his commentary to Mishkat al-Masabih writes;
ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ حَدِيثَ: لَا مَهْدِيَّ إِلَّا عِيسَى بْنُ مَرْيَمَ ضَعِيفٌ بِاتِّفَاقِ الْمُحَدِّثِينَ
“Then I learnt the Hadith: There is no Mahdi except ‘Eisa, is weak by the consensus of the scholars of Hadith.” (Mirqat al-Mafatih 8/3448)
Infact Mirza Ghulam Ahmad himself accepted that this report is not authentic. He wrote;
“And as to Ahadith about the arrival of Mahdi you know they are all Da’if and problematic contradicting one another so much so that in one narration in Ibn Majah and other books says, ‘There is no Mahdi except ‘Eisa, so how can one rest is his case on such kind of narrations with so much difference and contradictions, weakness and criticism on their narrators, as is not hidden from the scholars of Hadith?”
(Humamtul Bushra pp.148-149 included in Rohani Khazain vol.7 pp.314-315)
Please remember in Sirat al-Mahdi vol.1 p.91 Mirza Bashir Ahmad on the authority of Maulvi Sher Ali quotes Mirza to have said that all his Arabic writings are only a kind of revelation.
So Mirza Ghulam Ahmad himself accepted this narration as weak and unreliable. Whatever he said certainly applies to this narration. However his contention about the other narrations is faulty.
Mullah Ali Qari discussing the ‘No Mahdi except ‘Eisa’ narration, writes;
قَالَ الطِّيبِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ: الْأَحَادِيثُ عَنْهُ – صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي التَّنْصِيصِ عَلَى خُرُوجِ الْمَهْدِيِّ مِنْ عِتْرَتِهِ مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ، ثَابِتَةٌ أَصَحُّ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ، فَالْحُكْمُ لَهَا دُونَهُ
“Taybi, may Allah have mercy on him, said; And the narrations from the Prophet, may Allah bless him, about Mahdi emerging from his progeny and from the children of Fatima, are proved and authentic than this narration, and their status is different than it.” (Mirqat al-Mafatih 8/3448)
Also note scholars like Ibn Taymiyya, Ibn Qayyim, Albani and Shu’aib Arnaut who have graded the ‘No mahdi except ‘Eisa’ narration as weak authenticated the other narrations about al-Mahdi.
So we find all the claims of Murabbis are not only erroneous but also show how common Ahmadis are fooled into misleading beliefs risking their life in the Hereafter.
May Allah bring all Ahmadis back to the fold of religion of His Last and Final Messenger, on whom be the peace and blessings of Almighty Allah.
Indeed Allah knows the best!
dedi berkata
site:http://thecult.info/blog/2010/12/15/was-mahdi-to-appear-after-the-year-1200-a-h/
Was Mahdi to appear after the year 1200 A.H.?
Failing to come up with any positive argument in favor of countless claims of Mirza Ghulam Ahmad Qadiani, Ahmadis resort to raise issues that prove nothing. In fact a deep look invariably proves their being a cult.
They use a narration from Sunan Ibn Majah to contend that Mahdi was to appear after the year 1200 A.H. and the point they try to make is that MGAQ was Mahdi as he was born after the year 1200 A.H.
Let’s have a look at the narration and its merits.
The Narration:
عن أبي قتادة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الآيات بعد المائتين
Abu Qatada narrates that the Holy Prophet (PBUH) said: “Signs will appear after two hundred years.” (Sunan Ibn Majah, Hadith 4057)
Authenticity of this narration:
Ahmadis will be in a haste to tell us that Hakim in his Mustadrak (H. 8437) quoted this narration and said, ‘This narration is Sahih on the standards of Bukhari and Muslim.’
But the fact is, to anyone who knows the science of classification of Ahadith and their narrators it is clear that Al-Hakim was too lax in his approach and many times authenticated weak narrations.
Al-Sakhawi, recognized as Mujaddid by Ahmadis, has said the same about Al-Hakim. See Al-‘ilan bi l-Taubih li man zamm al-Tarikh p. 168. Also see Abdul Hayy Lakhnawi’s Al-Rafa wal Takmil 1/291
Dr. G.F. Haddad has briefly given the opinions of scholars about his leniency HERE.
Al-Dhahbi:
The most prominent scholar to comment about the narrations of Hakim’s Mustadrak is Imam al-Dhahbi. He writes in his comment to this narration:
أحسبه موضوعا
“I deem it to be Mawdhu” i.e. fabricated. (See Mustadrak Al-Hakim ma’ Taliqat al-Dhahbi fil Takhlis, Hadith 8319)
Al-Bukhari:
Imam Bukhari also criticized this narration. He said;
هذا حديث منكر
“This is a rejected narration.” (Faidh Al-Qadir 3/206 Hadith 3029)
Ibn Jawzi:
Ibn Jawzi writes in his al-Mawdhu’at 3/198
هذا حديث موضوع على رسول الله صلى الله عليه وسلم
“This Hadith is fabricated [and ascribed] to the Messenger of Allah, peace and blessings be upon him.”
Ibn Jawzi has been recognized as Mujaddid by Ahmadis.
Ibn Kathir:
Hafiz Suyuti writes in his commentary to Sunan Ibn Majah;
قَالَ بن كثير هَذَا الحَدِيث لَا يَصح
“Ibn Kathir said this Hadith is not Sahih.” (Sharah Sunan Ibn Majah 1/294)
Al-‘Ajluni:
Al-‘Ajluni in his Kashaf al-Khafa writes:
باب ظهور الآيات بعد المائتين لم يثبت فيه شئ
“Chapter on the appearance of signs after two hundred years: There is nothing proved in it.” (Kashaf al-Khafa 2/423)
Others early scholars:
Al-Manawi in his Taysir bi-Sharah al-Jami’ al-Saghir writes;
صَححهُ الْحَاكِم فأنكروا عَلَيْهِ وَقَالُوا واه جدا بل قيل بِوَضْعِهِ
“Hakim authenticated it, while many have rejected it and called it extremely absurd. Nay! They spoke of its being fabricated.” (Taysir bi-Sharah al-Jami’ al-Saghir 1/420)
Albani:
Among recent scholars Shaykh Nasiruddin Albani has classified it as Mawdhu’ (fabricated) in his Sahih wa Da’if Sunan Ibn Majah (H. 4057) and Silsala Ahadith Da’ifa wa Mawdhu’a (H. 1966)
What does the Hadith mean?
Having clarified the actual value of this narration, let’s analyze its text;
1- Is Mahdi mentioned in this narration?
Can you, the reader, please find any reference to Mahdi in this narration? You can find it only if you are a die-hard, closed-eyed and brain-locked Ahmadi.
2- Mulla Ali Qari’s commentary:
Actually Ahmadis base their whole case on the commentary, rather a part of Mulla Ali Qari’s commentary to this, otherwise, false narration. He writes;
” بَعْدَ الْمِائَتَيْنِ ” أَيْ: مِنَ الْهِجْرَةِ، أَوْ مِنْ دَوْلَةِ الْإِسْلَامِ، أَوْ مِنْ وَفَاتِهِ – عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ – وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ اللَّامُ فِي الْمِائَتَيْنِ لِلْعَهْدِ، أَيْ: بَعْدَ الْمِائَتَيْنِ بَعْدَ الْأَلْفِ، وَهُوَ وَقْتُ ظُهُورِ الْمَهْدِيِّ، وَخُرُوجِ الدَّجَّالِ، وَنُزُولِ عِيسَى – عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
‘After two hundred years’ i.e. :
1) From Hijrah.
2) Or from [establishment of] the Islamic state.
3) Or from the death of the Prophet –on whom be peace and blessings.
4) And it is possible that the article ‘al’ (equivalent to ‘the’) in ‘al-mi’atayn’ makes it a reference to a period of time. That is to say: [it means] two hundred years after the millennium and that is the time of appearance of Mahdi, and that of Dajjal and descent of ‘Eisa –on whom be the peace and blessings.’ (Mirqaat Al-Mafatih Sharah Mishkat Al-Masabih 8/3446 Hadith 5460 Broken down for understanding by the author of this post)
Firstly this commentary shows that Mulla Ali Qari believed Mahdi and Eisa (RA) to be two different fellows. This goes directly in contrast to Ahmadiyya religion’s dogma. If this has to be made the basis of a whole theory, why not accept it in full?
Concerning the issue at hand, he gives four possibilities in his opinion and one of them is picked up by Ahmadiyya and their faith hinges on it. Mulla Ali Qari, though a great scholar, is no evidence when it comes to his conjecture. Ahmadiyya are only aboard the ship of his conjecture sailing in the wild ocean. But this cannot lead them to any destination for the anchor to port this ship, i.e. the narration commented to, is a hoax. So Ahmadiyya please wake up and do not be eager to get drowned!
3- Imam Bukhari’s comments:
هذا حديث منكر. لقد مضى مائتان ولم يكن من الآيات شئ
“This is a rejected narration. Verily two hundred years have passed and nothing of the signs has appeared.” (Faidh Al-Qadir 3/206 Hadith 3029)
4- Hafiz Ibn Kathir’s saying:
Hafiz Suyuti writes:
وَقَالَ بن كثير هَذَا الحَدِيث لَا يَصح وَلَو صَحَّ فَمَحْمُول على مَا وَقع فِي الْفِتْنَة بِسَبَب القَوْل بِخلق الْقُرْآن للامام أَحْمد بن حَنْبَل وَأَصْحَابه من أَئِمَّة الحَدِيث
“Ibn Kathir said this Hadith is not Sahih and [even] if it Sahih it would be taken as a reference to the tribulation caused by the word about Qur’an being a creation at the time of Imam Ahmad bin Hanbal and his companions from amongst the scholars of Hadith.” (Sharah Sunan Ibn Majah 1/294)
This seems quite reasonable if at all the narration is to be accepted.
Conclusion:
Ahmadiyya have absolutely no evidence for their claim. The Hadith does not even mention Mahdi, nor does it ask to count two hundred years after the millennium. To run to races with one of the four possibilities according to one single scholar suits only a cult. Ahmadiyya do it while their own ‘prophet’ had said that such statements are no evidence. Not to forget that the same statement of Mulla Ali Qari rejects Ahmadi belief of Mahdi and ‘Eisa (AS) being the same.
And before Ahmadis built their whole case on just a single possibility mentioned by a single scholar they ought to read the following statement of their ‘prophet’;
“Having been put to shame, our opponents resort to the excuse that their elders have said like that only. They do not realize that those elders were not innocent. Infact just as the Jewish elders fell into error concerning prophecies so did they.” (Zamimam Braheen Ahmadiyya part 5 p. 124 included in Rohani Khazain vol. 21 p. 290)
In wake of all of the above mentioned facts, I wonder if it suits Ahmadiyya to use the narration and statement of Mulla Ali Qari for any reason.
Is there not among you a single man of reason?
INDEED ALLAH KNOWS THE BEST!
Mahmud berkata
Dedi berkata:
Itu kalau pengertian Orang Qadyani, Nabi Isa AS adalah Nabi Isa AS yang lalu (sudah wafat dan takkan kembali), yang kemudian (logisnya orang Qadyani) adalah MGA…
Kalau Nabi SAW sendiri (juga pemahaman umum Ummat Islam) mengartikan bahwa Nabi Isa AS itu akan datang kembali. Jadi ngga ada nabi baru antara Beliau dan Nabi Isa AS yang akan kembali.
Kura-kura dalam perahu….
=====>>>>> Pemahaman umat Islam yang sudah bercerai-berai menjadi 72 golongan mengartikan bahwa Nabi Isa as akan datang kembali. Padahal, Allah Yang Maha Mengetahui dan Nabi Muhammad saw memberitahu kita bahwa Nabi Isa as sudah wafat, antara Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw tidak ada nabi, tetapi ia (Khalifah Allah, Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as pasti datang dari langit (dari Allah). Siapa yang menampilkan Hadits itu? Ya, anda sendiri. JELAS TUAN DEDI? JANGAN PURA-PURA OON AH.
Dedi berkata:
Sebagaimana tugas Nabi Isa AS, kalau MGA memang menurut kalian adalah “Nabi Isa”, dakwah kalian hanya buat orang kristiani, bukan buat orang Islam lagi…
=====>>>>> Menurut Al Quran, Nabi Musa as dan Nabi Isa as diutus Allah kepada Bani Israil saja. Sedangkan Rasulullah saw dibangkitkan dari antara kaum Umiyyin dan Imam Mahdi/Masih Mau’ud dibangkitkan dari antara kaum Aakhorin yang diutus Allah kepada sekalian manusia (Al Jumu’ah 62:2-3).
JELAS TUAN DEDI? JANGAN PURA-PURA OON AH.
Dedi berkata:
Lain halnya firqah2 Islam lainnya mereka satu suara dalam kenabian Nabi SAW sebagai nabi penutup, tiada kenabian baru.
=====>>>>> Jemaat Ahmadiyah juga setuju bahwa Nabi Muhammad saw adalah sebagai Nabi Penutup dan Tiada Kenabian Baru (yang membawa syari’at selain Islam). JELAS TUAN DEDI? JANGAN PURA-PURA OON AH.
Dedi berkata:
Kehidupan kematian adalah salah satu Ilmu Allah, sebagaimana Firman Allah:
“Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” QS Al Baqarah 225
====>>> Betul, kehidupan dan kematian adalah Ilmu Allah, maka Allah Yang Maha Mengetahui memberitahu kita (dalam Al Quran) bahwa di bumi ini juga Nabi Isa as hidup dan di bumi ini juga Nabi Isa as wafat dan kuburan Nabi Isa as serta ibunya, Siti Maryam, ada di Hindustan, Kashmir. JELAS TUAN DEDI?
JANGAN PURA-PURA OON AH.
Mahmud berkata
Karena udah kewalahan, maka Dedi kembali kepada habitatnya, yakni copy paste tulisan murtadin:
“Mahdi and ‘Eisa are not same”, padahal untuk menjawabnya sangat simpel, yakni sabda Rasulullah saw dalam HR Musnad Ahmad bin Hambal yang menyatakan bahwa ISA IBNU MARYAM YANG AKAN MENJADI IMAM MAHDI.
JELAS TUAN DEDI? JANGAN PURA-PURA OON AH. HMMH & Masnunk aja udah ngerti kok.
dedi berkata
Irfan berkata
25/02/2013 pada 14:25
Lihat terjemahn asli yang saya kutip, mohon jangan asal kutip tanpa sesuai dengan kutipan aslinya…
Kutipan aslinya yang saya kutip adalah:
….Barangsiapa berkata sesudah Rasulullah Saw, bahwa “Aku adalah nabi dan rasul dalam makna hakiki, sedangkan dia berdusta dan meninggalkan AlQuran serta hukum-hukum syariat yang Mulia Saw, berarti dia kafir dan pendusta.” (Anjam-e-Atham, hal. 27-28)
Bukti anda memelintirkan makna…bukti anda sepotong-potong dalam mengutip….bukti anda memfitnah…jelas sekali terlihat!!
==> Apa bedanya Mas, segitu aja dilihat/dianggap fitnah, intinya sama aja ‘kan, kalo MGA mengistilahkan ada nabi hakiki dan non hakiki, dari mana itu berasal? Ya, dari mulut MGA…
Tidak dari Nabi SAW, para sahabat, para ulama yang mukhlisin dahulu hingga akhir masa.
Yang ditinggalkan oleh MGA dan pengikutnya adalah keyakinan akan kenabian Nabi Muhammad SAW sebagai nabi penutup/tidak ada kenabian baru sesudah Beliau.
Wallahualam,
dedi berkata
Mahmud berkata
25/02/2013 pada 16:07
…………………
==> Terima kasih olok-olokan itu timbul lagi ya, Terus terang aja deh… berapa gaji dari khalifah buat saudara sebagai penyebar ajaran Qadyani, apakah setara dengan balasan akhirat yang bakal kalian masuki nanti…. Nauzubillah… Istighfar Pak..
Wallahualam,
dedi berkata
Mahmud berkata
25/02/2013 pada 16:14
…. copy paste tulisan murtadin…
==> Murtadin buat Qadyani, tapi Mujahidin bagi Islam….
Wallahualam,
Mahmud berkata
Dedi berkata
Terima kasih olok-olokan itu timbul lagi ya, Terus terang aja deh… berapa gaji dari khalifah buat saudara sebagai penyebar ajaran Qadyani, apakah setara dengan balasan akhirat yang bakal kalian masuki nanti…. Nauzubillah… Istighfar Pak..
===>>> Menurut Al Quran, yang sering diperolok-olokkan itu adalah para nabi/rasul yang benar-benar diutus Allah (Yaasiin 36:30, Az-Zukhruf 43:6), bukan para penentang Allah dan Rasul-rasul-Nya seperti anda, Dedi. Coba aja lihat, berapa kali anda menulis Qadyani, agama Ahmadiyah dlsb yang merupakan cemoohan anda kepada Allah dan Rasul-Nya. JANGAN PURA-PURA OON AH.
Mahmud berkata
Dedi berkata
Murtadin buat Qadyani, tapi Mujahidin bagi Islam…
===>>> He he he Mujahidin bagi Islam yang sudah bercerai-berai menjadi 72 golongan? Mereka berperang melawan Khilafat Islam, artinya mereka menentang Rasulullah saw dan menentang Allah. Menurut Al Quran, mereka akan termasuk orang-orang yang hina (Al Mujadilah 20), seperti para TERORIS.
dedi berkata
Mahmud berkata
25/02/2013 pada 19:00
….berapa kali anda menulis Qadyani, agama Ahmadiyah…
He he he Mujahidin bagi Islam yang sudah bercerai-berai menjadi 72 golongan?
==>Sewajarnya, toh Imam dan saudara sendiri menyebut Ahmadiyah. Qadyani hanya pembeda dari yang Lahori. Maunya disebut Islam, tapi beda nabi, beda wahyu, beda imam shalat, beda masjid.
72 golongan pun shalat masih dalam satu mesjid, Insya Allah persatuan Ummat Islam akan kembali. Insya Allah
MGA menentang Allah dan Nabi SAW dengan menyatakan diri nabi dan rasul baru, bayangkan kalau itu terjadi pada masa Sahabat Nabi SAW, nasibnya tak beda dengan nabi-nabi baru terdahulu….
Hanya mendapatkan dunia, dengan gaji dari khalifah, balasannya yang jauh lebih mengerikan jika kalian tidak bertobat….
Wallahualam,
HMMH berkata
Mahmud berkata
22/02/2013 pada 01:03
HMMH
Sekali lagi, jika memang Ahmadiyah ini SAMA-SAMA ISLAM maka akan dengan mudah menjawab pertanyaan LOGIS 3S alias SANGAT SEDERHANA SEKALI berikut ini :
1. YANG NAMANYA AL-MASIH ITU DIUTUS UNTUK SIAPA, UMAT ISLAM ATAU BUKAN ?
2. YANG NAMANYA AL-MAHDI ITU DIUTUS UNTUK MENEGAKKAN APA, KEBENARAN ATAU BUKAN ?
3. YANG NAMANYA RASUL ITU ALLAH SWT ITU DIUTUS KEPADA SUATU KAUM ATAU BUKAN ?
4. YANG NAMANYA NABI ITU DITUGASKAN UNTUK MEMBELA SIAPA, YANG TERTINDAS ATAU SEBALIKNYA ?
5. OLEH DAN KEPADA SIAPA MGA SEBAGAI AL-MASIH DARI INDIA DIUTUS DI ABAD 21, UMAT ISLAM ATAU BUKAN ?.
==>> Anda belum merespon komentar saya nomor 21, datang lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat sederhana tetapi bukan tolok ukur untuk menentukan Islam tidaknya seseorang. Tetapi saya jawab:
1. Nabi Isa Al Masih ibnu Maryam as diutus Allah kepada Bani Israil (Ash-Shaf 61:6) yang cerai-berai.
2. Al Mahdi diutus Allah kepada sekalian umat manusia untuk menegakkan kebenaran syari’at Islam.
3. Rasul-rasul (sebelum Rasulullah saw) diutus Allah swt kepada kaumnya masing-masing.
4. Nabi itu ditugaskan Allah untuk membela dan memberi petunjuk kepada mereka yang tertindas.
5. HMGA (Khalifah Allah, Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as diutus Allah kepada sekalian manusia (termasuk umat-umat Islam dan non-Islam).
Kemudian ->
Masnunk berkata
23/02/2013 pada 20:36
…………………
@HMMH
Saya mau tanya,
“Dari 5 item pertanyaan yang @Mahmud jawab diatas, kira-kira @Mahmud lulus babak prakualifikasi ?”
_______________________
Maaf, berhubung kesibukan yang tak bisa ditunda, maka saya sampai terpaksa harus meninggalkan sejenak Forum diskusi ini dan sekarang siap melanjutkan lagi.
Masnung, jika kita melihat inti jawaban bung Mahmud untuk pertanyaan nomor 1 YANG SAYA KAPITALKAN sebagai berikut :
……………….
QURAN & HADIST MENGISYARATKAN BAHWA PERUMPAMAAN NABI ISA AL-MASIH IBNU MARYAM AS (AKAN DIUTUS ALLAH SEBAGAI IMAM MAHDI DAN KHALIFAH ALLAH YANG DIA PILIH DARI ANTAR ORANG-2 ISLAM YANG BERIMAN DAN BERAMAL SALEH. Dengan demikian, maka DI DALAM AJARAN ISLAM DIKENAL UTUSAN ALLAH YANG DISEBUT ALMASIH YANG DIJANJIKAN atau MASIH MAS’UD atau THE PROMISED MESIAH.
……………….
Kemudian Bung Mahmud juga mencantumkan referensi ayat suci Al-Quran surat : Az-Zukhruf 43:57 dan An-Nur 24:55 ?????????
LUUAAAR BIASAAAA akal-akalan Salesman Ahmadiah ini dalam berkelit dari lubang jarum yang saya berikan. Tapi sayang, berlaku peribahasa SEPANDAI-PANDAI LINTAH MENGHISAP, BEGITU KETEMU ROKOK KRETEK JATUH KE JELAGA JUGA, he, he, heee ……..
PERTAMA :
Sekali lagi TOLONG TUNJUKKAN DAN JABARKAN !!!
FIRMAN (AYAT SUCI) ALLAH SWT MANA DI DALAM AL-QURAN, BAHKAN TAURAT DAN INJIL SEKALIPUN YANG SECARA TEGAS (TIDAK KAMUFLASE, TIDAK METAMORFOSIS, TIDAK PERUMPAMAAN) YANG MENUNJUKKAN BAHWA ALLAH SWT TELAH MENGKARUNIAKAN NAMA AL-MASIH KEPADA -> MIRZA GHULAM AHMAD BIN MURTAZA DARI INDIA -> SEPERTI YANG DITUNJUKKAN ALLAH SWT KEPADA ISA AL-MASIH IBNU MARYAM 20 ABAD YANG LALU YANG TERTUANG BAIK DALAM KITAB SUCI INJIL MAUPUN AL-QURAN ???
Ingat Bung Mahmud, pertanyaan mematikan ini lahir dari jawaban anda atas pertanyaan nomor satu di atas.
Jika anda tidak mampu menjawabnya, maka KEALMASIHAN MGA-lah TARUHANNYA, akan terus dipertanyakan DARIMANA (WHERE IS IT) ?
KEDUA :
Tunjukkan AJARAN ISLAM MANA yang mengajarkan ADANYA AL-MASIH UNTUK UMAT NABI MUHAMMAD SAW ???
Tanyakan kepada 2 milyar umat Islam dunia yang masih hidup dan yang sudah al-marhum bila anda sanggup, ADAKAH AL-MASIH BAGI MEREKA SELAIN ISA AL-MASIH IBNU MARYAM YANG MEREKA KENAL SEBAGAI AL-MASIH BAGI KAUM BANI ISRAIL ???
Baik dalam kitab suci Al-Quran maupun hadist nabi, AL-MASIH ADALAH SATU-SATUNYA NAMA YANG DIBERIKAN ALLAH SWT KEPADA SATU-SATUNYA RASUL UTUSANNYA, YAKNI NABI ISA AS ALIAS ISA AL-MASIH IBNU MARYAM YANG DITUGASKAN UNTUK MENYAMPAIKAN ISI KITAB SUCI INJIL KEPADA KAUM KETURUNAN BANI ISRAIL !
Jadi jika ada mahluk hidup ciptaan Allah SWT lainnya yang MENGAKU SEBAGAI AL-MASIH berarti BERTENTANGAN DENGAN SURAT AL-IMRAN AYAT 45, sehingga layak ditanya WHERE IS IT ?
KETIGA :
Istilah THE PROMISED MESIAH (ALMASIH YANG DIJANJIKAN) SAMA SEKALI TIDAK ADA DALAM AJARAN ISLAM. Keyakinan ini adanya di ajaran kaum bani Israil.
Menurut mereka, Mesias berarti orang “Yang Diurapi”, yang akan menggenapi janji Perjanjian Lama di masa mendatang untuk mewujudkan kerajaan dunia yang damai dan adil berpusat di bangsa terpilih, Israel.
Oleh karena ISTILAH MESIAH (apalagi pakek) YANG DIJANJIKAN SEGALA bagi umat Nabi Muhammad SAW di akhir jaman tidak dikenal selain NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI KHATAMAN NABIYYIN 14 ABAD YANG LALU, maka jika benar AL-MASIH, MGA SEHARUSNYA BUKAN MENGURUSI UMAT ISLAM MELAINKAN KETURUNAN BANI ISRAIL. Adapun Al-Masih dalam ajaran Islam hanya dikenal satu, yakni Isa A-Masih Ibnu Maryam yang akan diturunkan keak di akhir jaman untuk memberikan kesaksian pada pengikutnya sebagaimana tercantum dalam surat An-Nisa ayat 159.
KEEMPAT :
Dalam Islam tidak dikenal ISTILAH PERWUJUDAN DARI TOKOH SUCI A, B, C DAN LAINNYA. Islam hanya menj\gajarkan adanya TOKOH AGAMA X dan setelah wafat, maka TAK AKAN PERNAH BERINKARNASI (MEWUJUDKAN) DIRINYA LAGI DALAM TOKOH DI MASA MENDATANG SEBAGAI PERWUJUDAN TOKOH X YANG SUDAH PERNAH WAFAT. Oleh karena tidak mengenai adanya istilah INKARNASI MAHLUK HIDUP ini, maka KEWAFATAN NABI ISA AS PUN TIDAK BISA DIYAKINI 100% JIKA SANG NABI TERSEBUT DIISYARATKAN PULA AKAN DIMUNCULKAN LAGI KEDUNIA DI AKHIR JAMAN TANPA BUKTI KEBERADAAN JASADNYA, yang diakui oleh Islam dan Kristen yang mengimaninya sebagai tokoh keagamaan mereka.
Oh ya, ngomong-2 soal jasad ini, anda sama sekali TIDAK PERNAH MENJAWAB SECARA PASTI, MENGAPA UMAT KRISTEN TIDAK ADA YANG ANTUSIAS DENGAN JASAD DAN MAKAM MGA DARI INDIA WALAUPUN YBS MENGAKU HABIS-HABISAN SEBAGAI MESIAH/ AL-MASIH/ REINKARNASI/ KEBANGKITAN/PERWUJUDAN TOKOH YANG PERNAH TERTANGKAP DAN TERSALIB DI JAMAN ROMAWI DULU ? MEBGAPA ???
Mahmud berkata
Dedi berkata
Sewajarnya, toh Imam dan saudara sendiri menyebut Ahmadiyah. Qadyani hanya pembeda dari yang Lahori. Maunya disebut Islam, tapi beda nabi, beda wahyu, beda imam shalat, beda masjid.
72 golongan pun shalat masih dalam satu mesjid, Insya Allah persatuan Ummat Islam akan kembali. Insya Allah.
====>>>> He he he udah kehabisan argumentasi, jadinya lari ke sana ke mari mencari dalil di luar Al Quran, Hadits dan akal sehat. Qadyani & Lahori itu kan istilah anda dan anti-Jemaat Ahmadiyah lainnya. Nabi kami adalah Nabi Muhammad saw, sedangkan HMGA as adalah Khalifah Allah, Imam Mahdi, Masih Mau’ud as yang diutus Allah karena ketaatan sempurna kepada Nabi Muhammad saw sehingga Dia menganugerahkan Nikmat-Nya sebagai Nabi Ummati (An-Nisa 4:69). Tetapi, penyakit OON anda yang suka membaca tulisan-tulisan murtadin, anda terus-terusan MENUDUH & MENCEMOOH seperti itu. Sorry yah.
Dedi berkata:
MGA menentang Allah dan Nabi SAW dengan menyatakan diri nabi dan rasul baru, bayangkan kalau itu terjadi pada masa Sahabat Nabi SAW, nasibnya tak beda dengan nabi-nabi baru terdahulu….
=====>>>> Pengakuan HMGA sebagai Khalifah Allah, Imam Mahdi, Masih Mau’ud dan Nabi Ummati yang diutus Allah sudah sesuai dengan Al Quran, Hadits & tanda-tanda samawi yang tidak bisa anda bantah. Itu adalah Anugerah/Nikmat Allah (An-Nisa 4:69 & Al Maidah 5:20) yang Dia berikan tepat pada waktunya yang harus disyukuri oleh umat Islam. Oleh karena itu, Pertolongan Allah dan Kemenangan Islam sudah Dia anugerahkan kepada Jemaat Muslimin Ahmadiyah sehingga ratusan juta manusia dari berbagai macam suku bangsa di seluruh penjuru dunia, di lima benua dan 202 negara berbondong masuk agama Allah (An-Nashr 102:1-2). Itulah BUKTI NYATA. JANGAN PURA-PURA OON AH.
Dedi berkata:
Hanya mendapatkan dunia, dengan gaji dari khalifah, balasannya yang jauh lebih mengerikan jika kalian tidak bertobat….
=====>>>>> Ha ha ha aku gak pernah nerima gaji dari Khalifah, malahan aku berkorban harta, waktu, kehormatan, tenaga, pikiran di jalan Allah untuk kepentingan Khilafat Jemaat Muslimin Ahmadiyah.
JANGAN PURA-PURA OON AH.
dedi berkata
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,
sebagai karunia dan ni’mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” QS Al Hujurat 6-8
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,
supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,
dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat.
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka. Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” QS Al Fath 1-4
Wallahualam,
dedi berkata
Kemenangan Islam atas ajaran Qadyani:
“Sebanyak 70 orang jemaah Ahmadiyah melakukan tobat massal di lapangan Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat, Senin, dan mereka menyatakan kembali mengikuti ajaran Islam. Jemaah Ahmadiyah yang melakukan massal dihadapan ribuan umat Islam dari berbagai kelompok, di antaranya Front Pembela Islam (FMI), Forum Umat Islam dan Gerakan Reformis Islam (Garis) itu merupakan warga Desa Tenjowaringin, Kecamatan Selawu, Tasikmalaya Jawa Barat.
Proses tobat massal itu dipimpin Sekretaris Jendral FPI Ahmad Sobri Lubis dan disaksikan sejumlah ulama maupun ustadz yang datang dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Seluruh mantan anggota jemaah Ahmadiyah itu dibimbing mengucapkan dua kalimat sahadat sebagai syarat untuk kembali keajaran agama Islam dengan diiringi takbir ribuan umat Islam yang hadir.
“Mereka kembali ke ajaran Islam tanpa ada paksaan. Jadi kami semua akan membimbing mereka untuk kembali keajaran yang benar,” kata Sekjen FPI di sela acara itu.Menurut dia, selain membantu mantan jemaah Ahmadiyah kembali ke jalan yang benar, pihaknya juga membantu pembangunan masjid Al-Aqsha di desa Tenjowaringin, Tasikmalaya.
“Mereka yang kembali ini sebelumnya tidak paham akan apa yang dilakukan. Mereka hanya ikut-ikutan dan tidak tahu akan ajaran yang dianut. Untuk itu saudara kita ini harus dibimbing,” katanya dengan lantang. Mantan Jemaah Ahmadiyah Etik mengatakan, selama ini 80 persen warga Desa Tenjowaringin merupakan penganut Ahmadiyah. Namun jumlah tersebut terus berkurang karena banyak yang kembali ke ajaran Islam.
“Kami kembali ke ajaran Islam atas dasar keinginan pribadi, bukan paksaan,” katanya. Selain melakukan tobat massal, ribuan umat Islam dari beberapa kelompok itu juga mendesak pemerintah segera membubarkan Ahmadiyah yang selama ini dianggap menyebarkan ajaran sesat./ant
Sumber : Media Indonesia
Wallahualam,
Mahmud berkata
@ HMMH
Tulisan anda yang panjang itu memperlihatkan ketidak-tahuan anda tentang agama Islam. Oleh karena itu, saya hanya akan mengomentari dua hal saja:
HMMH berkata:
Oleh karena ISTILAH MESIAH (apalagi pakek) YANG DIJANJIKAN SEGALA bagi umat Nabi Muhammad SAW di akhir jaman tidak dikenal selain NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI KHATAMAN NABIYYIN 14 ABAD YANG LALU, maka jika benar AL-MASIH, MGA SEHARUSNYA BUKAN MENGURUSI UMAT ISLAM MELAINKAN KETURUNAN BANI ISRAIL. Adapun Al-Masih dalam ajaran Islam hanya dikenal satu, yakni Isa A-Masih Ibnu Maryam yang akan diturunkan keak di akhir jaman untuk memberikan kesaksian pada pengikutnya sebagaimana tercantum dalam surat An-Nisa ayat 159.
=====>>>>> Nabi Muhammad saw – sebagai Nabi Pembawa Syari’at Terakhir yang telah Allah sempurnakan, Dia beri nama dan Dia ridhoi sebagai agama Islam – telah diutus Allah kepada sekalian manusia (termasuk keturunan Bani Adam, Bani Israil dlsb.). Dari antara sekalian manusia itu ada yang beriman, yang kemudian disebut Umat Islam dan ada juga yang belum beriman, yang disebut Non-Islam (Yahudi, Kristen, Budha, Hindu dan para pengikut nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw).
Nabi Isa Ibnu Maryam as adalah Al Masihnya Nabi Musa as yang diutus Allah kepada Bani Israil. Di dalam Al Quran & Hadits telah dinubuatkan tentang kedatangan perumpamaan Isa Ibnu Maryam (Az-Zukhruf 43:57 & HR Musnad Ahmad bin Hambal) yang menjadi Imam Mahdi. Jika Isa Ibnu Maryam seorang Al Masih, maka perumpamaan Isa Ibnu Maryam pun seorang Al Masih. Siapa yang harus menegaskan (mengkonfirmasi) bahwa perumpamaan Isa Ibnu Maryam pun seorang Al Masih? Tentu saja hanya Allah Yang Maha Mengetahui memberitahukan kepada kita lewat wahyu yang diterima oleh perumpamaan Isa Ibnu Maryam tersebut. Jadi, jika ada kata-kata Isa Ibnu Maryam di dalam Al Quran, selain berlaku bagi Nabi Isa as (Bani Israil) berlaku juga bagi Imam Mahdi as. SULIT UNTUK DIMENGERTI BUKAN?
HMMH berkata:
Oh ya, ngomong-2 soal jasad ini, anda sama sekali TIDAK PERNAH MENJAWAB SECARA PASTI, MENGAPA UMAT KRISTEN TIDAK ADA YANG ANTUSIAS DENGAN JASAD DAN MAKAM MGA DARI INDIA WALAUPUN YBS MENGAKU HABIS-HABISAN SEBAGAI MESIAH/ AL-MASIH/ REINKARNASI/ KEBANGKITAN/PERWUJUDAN TOKOH YANG PERNAH TERTANGKAP DAN TERSALIB DI JAMAN ROMAWI DULU ? MEBGAPA ???
=====>>>>> Pertanyaan anda sudah terbelenggu dengan keyakinan keliru bahwa semua Ahli Kitab (Yahudi & Nasrani) akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kewafatannya (An-Nisa 4:159). Padahal, orang-orang Yahudi kebanyakan tidak beriman kepada Nabi Isa as sebagai Al Masih yang dijanjikan dalam Taurat kepada Bani Israil. Begitu pula Al Quran menubuatkan bahwa orang-orang Islam kebanyakan bersorak-sorai menentang perumpamaan Isa Ibnu Maryam (Az-Zukhruf 43:57). Apakah umat Kristen akan secara resmi menerima dan antusias terhadap makam Nabi Isa as di Kashmir? Jawabannya adalah TIDAK MUNGKIN, karena AKAN MENGHANCUR-LULUHKAN AKIDAH KRISTEN bahwa dengan beriman kepada kematian Yesus Kristus di atas salib akan menghapuskan dosa-dosa mereka. Namun, di antara umat Kristen banyak juga yang sudah meyakini bahwa kuburan di Kashmir itu adalah Kuburan Nabi Isa as. Oleh karena itu, mereka telah masuk Islam dan bergabung ke dalam Jemaat Muslimin Ahmadiyah.
APAKAH ANDA PAHAM TUAN HMMH?
Mahmud berkata
Dedi berkata
26/02/2013 pada 06:41
Kemenangan Islam atas ajaran Qadyani:
“Sebanyak 70 orang jemaah Ahmadiyah melakukan tobat massal di lapangan Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat, Senin, dan mereka menyatakan kembali mengikuti ajaran Islam. Jemaah Ahmadiyah yang melakukan massal dihadapan ribuan umat Islam dari berbagai kelompok, di antaranya Front Pembela Islam (FMI), Forum Umat Islam dan Gerakan Reformis Islam (Garis) itu merupakan warga Desa Tenjowaringin, Kecamatan Selawu, Tasikmalaya Jawa Barat.
=====>>>> TAHUKAH ANDA BAHWA SEMUA ITU HANYA REKAYASA DARI ORANG-ORANG ANTI-JEMAAT AHMADIYAH YANG TIDAK AKAN BERPENGARUH KEPADA PERTOLONGAN ALLAH DAN KEMENANGAN ISLAM YANG DIA ANUGERAHKAN KEPADA JEMAAT MUSLIMIN AHMADIYAH.
JELAS TUAN DEDI, JANGAN PURA-PURA OON AH
dedi berkata
Why did I Renounce Ahmadiyyah
“In my Childhood, I was brought up to revere the Indo-Pakistani Ahmadiyyah missionaries who guided and controlled our religious activities. When the mission came to our elders and, through the elders to us, we believed all that they told us in toto, because of the implicit confidence we had in them.
Their preaching appeared plausible to us and we accepted their arguments in good faith. They made references to Islamic books in order to substantiate their claims and we accepted the references without cross-checking them because of our confidence in them.
Their method was to alienate us against the orthodox Muslims in whom they found faults in the way they practiced Islam. The missionaries claimed to present “the true Islam” to us in the name of Ahmadiyyah.
They often impressed on us that the stiff opposition, which Ahmadis suffered in India before the partition and subsequently in Pakistan, was a conclusive proof of the truth of Ahmadiyyah. After all, no prophet is readily accepted in his own town or country. This also appeared plausible to us, hence we followed them with unalloyed confidence.” (Sunday Sketch, Nigeria, Sept. 29, 1974; Islam versus Ahmadiyyah in Nigeria, p. 85-86)
“Even though Ahmadiyya has been in this country for close to sixty years, I make the bold to say that, up till now, the vast majority of the adherents of the organization, within both the Movement and the Mission, are still in the dark about the details of its teaching, as well as its purpose. For example, it was only very recently, when stiff opposition to Ahmadiyyah started to rear its head in this country, that certain high-ranking Ahmadis knew for the first time that Mirza Ghulam Ahmad claimed to be a Prophet.” (Sunday Times, Nigeria, Jan. 20, 1974; ibid., p. 3)
“[The fact that Ahmadis hid their true doctrine from the membership at large is] evident in the fact that when one of the young educated Nigerian Muslims, who originally invited the Movement here, went to Britain for further studies and thereby came in contact with Indian Ahmadis, who resided then in Britain, he studied them at first hand and returned home only to withdraw his membership of the Movement. This was the late al-Haj L. B. Agusto of blessed memory.” (Sunday Times, Nigeria, Jan. 20, 1974; Ibid., p. 2)
“My aim [in cross-checking the references offered by Ahmadi missionaries] was actually to strengthen myself against the gathering opposition to Ahmadiyyah. As a University scholar, I was conscious that my pronouncement in support of Ahmadiyyah must necessarily be backed with authentic references to Islamic sources.
In my cross-checking of the Ahmadiyyah missionaries’ references, however, my findings were rather disappointing.
Consequent upon my first article on the Ahmadiyyah problem in Nigeria (Sunday Times, 20 January 1974), the Ahmadiyyah Mission members wrote extensive rejoinders which gave me a further opportunity to examine, independently, more Ahmadiyyah claims and views than hitherto.
I must say, before God and man, that the more I scrutinized the claims and purported references for them, the more I discovered that the Ahmadiyyah Mission is deceiving the world and playing on the ignorance of many of their followers.
In many cases, they quote authors [scholars] who are explicitly opposed to Ahmadiyyah ideas; but so cleverly do they quote that they often give the impression that the authors support Ahmadiyyah views.
Examples of such distortions abound in the quotations made by Dr. Bhutta in his rejoinder (Sunday Sketch, 8 September 1974) to my article. It may interest the readers to know that Dr. Bhutta is himself a Pakistani Ahmadiyyah medical missionary.
It is only by going to the source references and reading what the Ahmadis had quoted within the context in which they are set that the reader, and the seeker after truth, will realize how much the Pakistani Ahmadiyyah missionaries try to deceive the world.” (Sunday Sketch, Nigeria, Sept. 29, 1974; ibid., p. 86-87)
Wallahualam,
“In order to buttress their claim about Khatam-un-Nabiyyin, the Ahmadis often quote the mystic Shaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi as saying, ‘The Prophethood that was terminated with the person of the Prophet of Allah(SAW) was no other than the Law-bearing Prophethood, and not Prophethood itself.’ (Futuhat al-Makkiyyah, Vol. II, p. 3)
This quoted statement appears on page 3 of the book, which contains over 700 pages. The book does not stop at the statement concerning the matter of Prophethood. On the contrary, it explains further at length, covering eleven pages, pages 252 to 262 inclusive, in the same volume, the different aspects of the Prophethood.
He says, among other things, that Prophethood exists among both animate and inanimate objects. With regard to human beings, he classified the Prophets into two: law-bearing prophets and follower prophets. He explains the functions of each category and concludes in both cases that, with the coming of the Prophet Muhammad, both categories have ceased to appear.
He says that what would remain for Muslims after Muhammad are speculators (Mujtahids) who would strive in their own different ways to explain the Shariah to the people according to their understanding of it. Such Mujtahids, he says, will NOT be called Prophets (Ibn Arabi, al-Futuhat al-Makkiyyah, Vol. II, pp. 254 and 255). This is certainly known to the Pakistani Ahmadi missionaries, but they hide it from their followers deliberately in order to entrench their own false idea on Prophethood…
Another example of the distortions by the Ahmadis for their selfish ends is contained in their official rejoinder to my article already mentioned.
On page 5, column 2, of Monday 11 February 1974 issues of The Truth, the Ahmadiyyah Mission quoted the following in support of the Prophethood of the Promised Messiah: ‘There is no discrepancy between the two, that he (the Messiah) will be a Prophet and a follower of the Holy Prophet(SAW) for the purpose of explaining the commandments of his Shariah, and to strengthen its way, even though he does so through his revelations.’ (Mirqat Sharh Miskat, Vol. 5, pg. 564)
This quotation has been extracted from the explanation of the Hadith in which the Prophet Muhammad had declared that there would be no other Prophet after him.
Indication. The Hadith, which is contained in Mishkat al Masabih, reports that the Messenger of God said to ‘Ali, ‘You are in the same position to me as Harun (Aaron) was to Musa (Moses): except that there is no prophet after me’. The Mishkat reports also that authentic books of Hadith are agreed on t
“In the commentary of Muslim, some scholars say concerning his [the Prophet's] statement ‘Except that there is no Prophet after me,’ that it is an indication that whenever ‘Isa b. Maryam [Jesus Christ] descends, he will descend as one of the arbitrators of this Community inviting people with the Law of Muhammad(SAW), and will not descend as a Prophet.
I say that there is no inconsistency in his being a Prophet and being a follower to our Prophet(SAW) concerning the explanation of the rules of the Shariah and the improvement of his way even with revelation to him, as indicated by the saying of the Prophet: ‘If Moses were alive he would have no choice but to follow me.’
That is even though he is described as a Prophet and a Messenger; and in the absence of both of them (Prophethood and Messengership), there will not be any additional attainment.
Interpretation. So, the meaning is that there will not be any new Prophet after him because he is the Seal of all the Prophets that had gone before.
In it (the statement) is an allusion that, if there were to be a Prophet after him, it would have been ‘Ali; and it is not incompatible with what has clearly been related concerning the right of ‘Umar because the decision is hypothetical and suppositional.
It is as if he (the Prophet) says: ‘If there were to be a Prophet after me, a group of my Companions would have been Prophets; but there is no Prophet after me.’
This is the meaning of the Prophet’s(SAW) saying: ‘If Ibrahim had lived, he would have been a Prophet.’
As for the Hadith, which says, ‘The scholars of my Community are like the Israelites Prophets’, memorizers like Zurkashi, Asqalani, Damiri, and Suyuti have clearly said that is has no basis.”
This quotation is from the same book and on the same page referred to by the Ahmadiyyah Mission. That is: ‘Ali al-Qari, Mirqat al-Mafatih Sharh Mishkat al-Masabih, vol. 5, pg. 564.
It is clear from the quotation that the Mission has extracted what they thought would support their erroneous view from a commentary which, taken together, is explicitly opposed to the view. This is in order to give the impression that the author supports their idea.
In educated circles, such act is an errant distortion of an author’s view and thought. It contradicts the international law of copyright. It is, indeed, unacceptable as well as unbecoming of a mission that wants itself to be taken seriously.
From the Islamic point of view also, it is an abominable act. Consider, for example, Quran 2:59 [also 7:162], which says, “The transgressors changed the statement from that which was made to them; so We sent a pestilence from heaven upon the transgressors, for their having gone astray.’ A food for thought indeed for the Ahmadis!” (Sunday Sketch, Nigeria, Sept. 29, 1974; ibid., p. 91-95)
“I could have raised all the points in this article with them (e.g. the Indo-Pakistani Ahmadi leadership) internally without any publicity; but experience has shown that such criticisms will automatically earn the critic either a long-term boycott or an outright excommunication. With any of these, no other member will be prepared to listen to him… I have stated my point of view, God is my witness, purely because of my awareness of the responsibility incumbent on me towards my fellow Nigerian Muslims in particular, and the world Muslims at large. My intention is not to oppose Ahmadiyyah; I have lived in it long enough to have a soft spot for it in my heart. But that notwithstanding, whenever a clash of opinion arises between Islam and Ahmadiyyah, it behooves me to declare for Islam without mincing words.” (Sunday Times, Nigeria, Jan. 20, 1974; ibid., p.17)
“Furthermore, instead of being crossed with me, calling me names and making all sorts of conjectures about me because of my renunciation of Ahmadiyyah, let the Nigerian Ahmadis take my exposition to their Pakistani missionaries for verification or denial.
Assertions. If they deny my assertions, then demand from them the Arabic books (not Urdu translations) from which they took their quotations. Then, let independent Arabic scholars translate the relevant sections within their context.
If I am proved wrong, let my father reject and disown me, and let the Ahmadis collectively curse and “crucify” me. But if I am proved right, then it becomes incumbent on all Nigerian Ahmadis, including my relations, both by blood and affinity, to reconsider their association with Ahmadiyyah, pray fervently to God Almighty as I have done to show them the way of Islam and help them to follow it.” (Sunday Sketch, Sept. 29, 1974; ibid., p. 96)
“For some months now, I have been quiet. My quietness has come as a result of a very serious study I embarked upon in connection with a burning question.
The question began with an article published by Dr. Ismail Balogun of the University of Ibadan a few months ago. It concerned the belief of the Ahmadiyya Jamat that the founder of the organization was a kind of a prophet.
Dr. Ismail Balogun, who was born into the Ahmadiyya Community, advanced cogent arguments and reasons to support his rebuttal of the claim of Mirza Ghulam Ahmad to Prophethood and the need to abandon the name Ahmadiyya to denote a class of Muslims.
A series of rejoinders came from many well-known Ahmadis. The most significant thing about the rejoinders is that they are unconvincing! They have been based on shifty premises.
Dr. Ismail Balogun came out again with a final reply to all the rejoinders. His final reply contained incontrovertible facts from various books of Islam and lexicons to support his stand that after the holy Prophet Muhammad there had not been and there would never be another prophet of any kind, at least in so far as Islam is concerned.
I want to make my personal stand clear now. I support Dr. Ismail Balogun. I agree entirely with his findings. And with him I declare that Muhammad is the last Prophet of God.
I also declare that I am not an Ahmadi. It is true that I have been closely connected with the Ahmadiyya Mission for many years. During my period of association with them, the question of another prophet after Muhammad was never a point of interest in our discussions.
I am sure with this, nobody will be in doubt any more about my stand. I want to remind all Muslims of an incident toward the close of the glorious life of the Holy Prophet Muhammad. It was the parting sermon he delivered on the Arafat in his last pilgrimage.
He said: “I am leaving unto you two noble things. So long as you will cling to them, you will never go astray. One of them is the Book of Allah and the other is the Tradition of His Apostle. Let him that is present tell unto him that is absent. Haply he that shall be told may remember better than he who has heard it.”
With me, the Book of Allah and the Sunnah of His Prophet are sufficient. I am a Muslim and anything that will tarnish my Islam is rejected with all my heart.
If there is any person or any group of persons who have been showing me any favor because they thought that I was an Ahmadi, I pray, they should now withhold or withdraw their favors. I shall be satisfied with whatever favors it will please Allah to bestow on me as a Muslim, pure and simple. May Allah open our hearts to His Truth. Amen.” (Daily Sketch, Friday, Nov. 8, 1974; ibid. p. 118-119)
Mahmud berkata
Dedi berkata
Why did I Renounce Ahmadiyyah
=====>>>> Apa pun upaya anda, buttom linenya anda nolak. Ya sudah, tidak paksaan. Tetapi, upaya anda tidak akan mampu menghentikan Pertolongan Allah & Kemenangan Islam yang sedang Dia anugerahkan kepada Jemaat Muslimin Ahmadiyah, karena orang-orang dari berbagai suku bangsa sedang berbondong-bondong masuk agama Allah lewat Jemaat Muslimin Ahmadiyah.
JELAS TUAN DEDI? JANGAN PURA-PURA OON AH.
Masnunk berkata
Menurut hemat saya, ada banyak hal yang bisa dicermati :
1. Bila disimak dalam perdebatan mulai awal hingga disini, telah banyak hal-hal yang sudah dikupas / dijabarkan mulai perdebatan dari ayat ke ayat, dari surat ke surat, dari hadits ke hadits, dari logika ini ke itu, hasilnya ? seperti mencari ujung dan pangkal dari selembar kain sarung.
2. (Pasti) Islam yang diyakini umat Muslim pada umumnya berbeda dengan Ahmadiyah, perbedaan mulai timbul seiring dengan paham dan pemikiran yang digagas oleh MGA (“setelah menerima wahyu” versi Ahmadiyah) atau +/- di abad 20 atau setelah lebih dari 1.200 tahun Islam berkembang.
3. Dalam perdebatan-perdebatan sering tidak runtut, tidak nyambung dan tidak tuntas, artinya dari pokok bahasan yang ditanyakan dengan alasan atas jawaban yang diberikan sering tidak nyambung, bahkan keluar dari konteks yang semula (terlepas dari unsur sengaja atau tidak), shg terkesan tidak ilmiah.
4. Tidak jelas antara mencintai atau mengkhianati, bentuk kecintaan umat Muslim terhadap Rasulullah SAW berbanding terbalik dengan keyakinan Ahmadiyah. Walaupun tidak secara vulgar, Ahmadiyah berpendapat bahwa orang yang menolak kedatangan MGA dianggab mengkhianati / ingkar Allah SWT dan Rasul-Nya.
5. Tidak jelas antara fakta dan rekayasa, tergantung dari sudut pandang siapa, hasilnya adalah pernyataan balik yang muncul diluar dugaan, contohnya (maaf copy posting @Dedi & @Mahmud) :
Dedi berkata :
26/02/2013 pada 06:41
Kemenangan Islam atas ajaran Qadyani:
“Sebanyak 70 orang jemaah Ahmadiyah melakukan tobat massal di lapangan Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat, Senin, dan mereka menyatakan kembali mengikuti ajaran Islam. Jemaah Ahmadiyah yang melakukan massal dihadapan ribuan umat Islam dari berbagai kelompok, di antaranya Front Pembela Islam (FMI), Forum Umat Islam dan Gerakan Reformis Islam (Garis) itu merupakan warga Desa Tenjowaringin, Kecamatan Selawu, Tasikmalaya Jawa Barat.
@Mahmud jawab :
TAHUKAH ANDA BAHWA SEMUA ITU HANYA REKAYASA DARI ORANG-ORANG ANTI-JEMAAT AHMADIYAH YANG TIDAK AKAN BERPENGARUH KEPADA PERTOLONGAN ALLAH DAN KEMENANGAN ISLAM YANG DIA ANUGERAHKAN KEPADA JEMAAT MUSLIMIN AHMADIYAH.
JELAS TUAN DEDI, JANGAN PURA-PURA OON AH
—————–
@Dedi
Mas-mas……..
Apakah Ahmadiyah termasuk umat Islam ? kalau bukan / tidak, maka.
Apakah masih tertarik membahas Ahamdiyah, mas ? he he he
Subhanallah…
HMMH berkata
Mahmud berkata :
26/02/2013 pada 06:52
@ HMMH
Tulisan anda yang panjang itu memperlihatkan ketidak-tahuan anda tentang agama Islam……………………
______________________________________________________________________________________________________________________
Baik bung Mahmud,
Kita lihat SIAPA YANG MEMPERLIHATKAN KETIDAKTAHUAN TENTANG AGAMA ISLAM lewat ayat suci Al-Quran yangkali ini anda jadikan referensi untuk menunjukkan kealmasihan MGA.
SURAT AZ-ZUKRUF :
Ayat 56 :
فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِلْآخِرِينَ (
Yang artinya :
dan Kami jadikan mereka SEBAGAI PELAJARAN DAN CONTOH bagi orang-orang yang kemudian.(QS. 43:56)
Ayat 57 :
وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلًا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ (
Yang artinya :
Dan tatkala putera Maryam (Isa) DIJADIKAN PERUMPAMAAN tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya.(QS. 43:57)
Surah Az Zukhruf 58 :
وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ
Yang artinya :
Dan mereka berkata: `Manakah yang lebih baik ilah-ilah kami atau dia (Isa)` Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu MELAINKAN DENGAN MAKSUD MEMBANTAH SAJA, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.(QS. 43:58)
Nah, coba lihat baik-baik makna ayat-2 suci dalam surat AZ-ZUKFUF di atas,
ADAKAH YANG MENUNJANG MAKNA YANG SIFATNYA MENDUKUNG ADANYA KEALMASIHAN LAIN YANG DIBERIKAN ALLAH SWT SECARA LANGSUNG DAN DIRIDHOI OLEH-NYA SELAIN YANG DIKARUNIAKAN KEPADA NABI ISA AS IBNU MARYAM 20 ABAD YANG LALU ?
ADAKAH ???
BAGIAN AYAT YANG MANA ???
Tentu saja ketiga ayat suci di atas TIDAK MENDUKUNG ADANYA AL-MASIH LAIN SELAIN YANG DIKARUNIAKAN OLEH ALLAH SWT KEPADA NABI ISA AS 20 ABAD YANG LALU.
Mengapa ?
Karena ayat diatas bermakna sbb :
Ayat 56 :
Firaun dan kaumnya yang ditenggelamkan itu dijadikan Allah sebagai contoh dan perbandingan bagi orang-orang yang mengerjakan perbuatan sesat seperti orang-orang musyrik Mekah, dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang datang kemudian.
Ayat 57 :
Ayat ini menerangkan SIKAP ORANG-2 MUSYRIK MEKAH DALAM MENCARI-CARI ALASAN UNTUK MENGINGKARI NABI MUHAMMAD SAW YANG MENGAJAK MEREKA (ORANG-2 MUSYRIK MEKAH ITU ) AGAR HANYA MENYEMBAH HANYA KEPADA ALLAH SWT SAJA, TIDAK MENYEMBAH YANG LAIN SELAIN DIA. Yang mencari-cari alasan dan menetapkan Isa sebagai perumpamaan itu ialah Ibnu Zaba’ra.
Latar belakang peristiwa lahirnya surat AZ-ZUKRUF ayat 57 :
Tatkala Ibnu Zaba’ra At Tamimi menjadikan suatu perumpamaan yang dianggapnya menakjubkan dengan menjadikan Isa sebagai perumpamaan untuk membantah Rasulullah, ia menyatakan: “Bukankah orang-orang Nasrani mengakui Isa sebagai putera Allah, karena itu mereka menyembahnya, sedangkan engkau hai Muhammad menyatakan bahwa Isa itu hanyalah seorang Nabi dan Rasul saja, serta seorang hamba Allah yang saleh? Jadi demikian halnya, tentulah Isa as, walaupun ia seorang Nabi, Rasul, dan orang yang saleh bersama orang Nasrani akan masuk ke dalam neraka nantinya. Karena kamu hai Muhammad menyatakan bahwa penyembah-penyembah berhala beserta yang disembahnya akan dibakar api neraka nanti, itu sebabnya kami rela dimasukkan ke dalam neraka bersama Isa as”. Mendengar perumpamaan Ibnu Zaba’ra itu orang-orang Quraisy yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak karena mereka bergembira dan menganggap perumpamaan itu akan mematahkan hujah Rasulullah saw yang dikemukakan kepada mereka.
Mengenai ayat ini diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishak di dalam kitabnya yang bernama “Sirah” bahwasanya Rasulullah saw pada suatu hari duduk di mesjid bersama Walid bin Mugirah, maka datanglah Nadar bin Haris dan duduk bersama mereka beberapa orang dan pemuka-pemuka orang Quraisy. maka Rasulullah saw membaca ayat yang artina: “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah makanan neraka jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya”. Kemudian Rasulullah saw berdiri. Dan datanglah Ibnu Zaba’ra dan duduk. Maka berkatalah kepada Walid bin Mugirah, “Demi Allah, sesungguhnya Muhammad mengatakan bahwa kita dan sembahan-sembahan yang kita sembah sebagai tuhan adalah makanan neraka jahanam”. Maka berkata Ibnu Zaba’ra: “Demi Allah aku memperoleh bantahannya, tanyakanlah olehmu kepada Muhammad, “Apakah semua yang disembah selain Allah beserta penyembah masuk neraka? maka kita menyembah malaikat, orang Yahudi menyembah Uzair, dan orang Nasrani menyembah Al Masih Ibnu Maryam”. maka tercenganglah Walid dan orang-orang yang bersamanya di tempat itu karena perkataan Abdullah bin Zaba’ra, dan mereka menganggap bahwa Ibnu Zaba’ra, telah berhasil membantah dan mematahkan dalil Rasulullah. Maka disampaikanlah yang demikian kepada Rasulullah, beliau menjawab: “Barang siapa yang suka disembah selain Allah, maka dia beserta orang yang menyembahnya, hanya menyembah setan dan orang yang menyuruh mereka menyembahnya. Maka Allah menurunkan ayat yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang telah ada ketetapan yang baik dari Kami untuk mereka maka mereka itu dijauhkan dari neraka”. Hal ini berarti bahwa Isa dan ‘Uzair termasuk yang dimaksud oleh ayat ini; sedang mengenai Isa as turunlah ayat ini.
Ayat 58 :
Selanjutnya orang-orang musyrik itu mengatakan kepada Nabi saw: “Hai Muhammad, manakah yang lebih baik menurut pendapatmu, dewa-dewa yang kami sembah ataukah Isa yang kamu anggap Nabi dan Rasul, sedangkan orang-orang Nasrani menyembahnya? Jika Isa yang lebih baik menurut pendapatmu tentulah ia akan dimasukkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang memujanya. Jika demikian, biarlah kami masuk ke dalam neraka, bersama-sama sembahan kami dan Isa yang disembah orang Nasrani itu”.
Karena janji Allah SWT menyatakan bahwa ROANG-ORANG MUSYIRIK MEKAH TELAH KEHABISAN DALIL UNTUK MEMBANTAH KEBENARAN yang dikemukakan Muhammad saw karena itu mereka MENCOBA-COBA ASAL MEMBANTAH SAJA. Mereka tidak lagi mengemukakan dalil untuk mempertahankan kebenaran menurut keyakinan mereka, tetapi MEREKA HANYA MENCOBA-COBA BERDEBAT UNTUK MEMPERTAHANKAN KEBATILAH YANG MEREKA LAKUKAN . Karena itu, firman Allah SWT menyatakan bahwa mereka dan sembahan yang mereka sembah selain Allah akan menjadi makanan neraka Jahanam. Perkataan ini ditujukan kepada berhala dan patung-patung yang mereka sembah, tidak termasuk di dalamnya ‘Uzair, Isa dan malaikat.
Bagaimana, bung Mahmud, jelas bukan ???
Sama sekali tidak ada makna YANG MEMBERI PELUANG ADANYA PETUNJUK ALLAH SWT MEMBERIKAN NAMA “AL-MASIH” KEPADA ORANG LAIN SELAIN HANYA KEPADA NABI ISA AS IBNU MARYAM DI 20 ABAD YANG LALU.
Malah jika anda perhatikan baik-2 yang ada adalah isyarat bahwa pemakaian istilah PERUMPAMAAN TOKOH SUCI DI MASA LALU (dalam hal ini Nabi Isa AS baik sudah wafat atau belum karena hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui : QS Anisa 157-159) ITU ADALAH CUMA SEKEDAR GAYA ATAU AKAL-AKALAN YANG DIGUNAKAN ORANG-2 MUSYIRIK KOTA MEKAH WAKTU ITU UNTUK MEMBANTAH SERUAN NABI MUHAMMAD SAW YANG MENGAJAK MEREKA UNTUK MENYEMBAH KEPADA ALLAH SWT. Jadi sama sekjali TIDAK ADA makna YANG MEMBOLEHKAN ORANG UNTUK MEMPERUMPAMAKAN (MEMPERWUJUDKAN) NABI ISA AS KEPADA SIAPAPUN !
Makna logisnya :
JIKA ANDA MENJADIKAN ISTILAH “PERUMPAMAAN” NABI ISA AS UNTUK MEYAKINI KEALMASIHAN MGA, berarti saam juga dengan anda INGIN MENCONTOH PERBUATAN ORANG-2 MUSYRIK KOTA MEKAH YANG SEKEDAR MENCARI-CARI ALASAN UNTUK MENENTANG SERUAN NABI MUHAMMAD SAW UNTUK HANYA MENYEMBAH KEPADA ALLAH SWT ???
Astagfirullah, istigfar bung Mahmud, istigfar !
Kembali ke LAP TOP !
SEKALI LAGI :
TUNJUKKAN AYAT SUCI AL-QURAN ATAU DI KITAB SEBELUMNYALAH JIKA ANDA TIDAK SANGGUP YANG MENUNJUKKAN ALLAH SWT SECARA LANGSUNG (TEGAS) MENGKARUNIAKAN NAMA “ALMASIH” KEPADA ORANG LAIN SELAIN ISA AL-MASIH IBNU MARYAM ???
Irfan berkata
Asw. sebelumnya saya ucapkan terima kasih buat admin yang akhirnya menampilkan postingan saya…
Kenapa @dedi tidak mengomentari postingan saya tentang kesamaan pendapat Ahmadiyah versi ahmadiyah dengan NU tentang kedatangn Nabi Isa as?
Saya ingin sekali mgetahui pandangan anda atau kesimpulan anda terhdap hasil mu’tamar ulama2 NU seindonesia itu…
Kalo anda malas untuk mencari coment saya yang dimaksud…berikut ini saya kutipkan kembali hasil mu’tamar NU. Saya kutipkan secara penuh, tanpa dipotong2, tidak setengah2….(seprti yang seseorang lakukan)…agar pmbaca pun dapat memahaminya secra utuh, tidak setengah2 dan tidak salah makna….
احكام الفقهاء
فى مقرّرات مؤتمرات نهضد العلماء
Kumpulan Masalah-Masalah Diniyah
Dalam Mu’tamar ke-1 s/d ke-15
1345-1351 H/1926-1932 M
Soal:
“Bagaimana pendapat Mu’tamar tentang Nabi Isaa.s. setelah turun kembali ke dunia? Apakah tetap sebagai nabi dan rasul? Padahal Nabi Muhammad Shalallohu ‘alaihi wasallam adalah nabi terakhir dan apakah Madzhab yang empat itu akan tetap ada pada waktu itu?”
Jawab:
“Kita wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isaa.s. itu akan diturunkan kembali pada Akhir Zaman nanti sebagai nabi dan rasul yang melaksanakan syari’at Nabi Muhammad Shalallohu ‘alaihi wasallam dan hal itu tidak berarti menghalangi Nabi Muhammad Shalallohu ‘alaihi wasallam sebagai nabi yang terakhir. Sebab, Nabi ‘Isaa.s. hanya akan melaksanakan syari’at Nabi Muhammad Shalallohu ‘alaihi wasallam, sedang madzhab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku).
AllahSwt. berfirman (QS. Al-Ahzab: 40), “… akan tetapi Rasulullah dan penutup nabi-nabi”. Firman Allah tersebut tidak bertentangan dengan hadits yang menjelaskan tentang turunnya Isaa.s di Akhir Zaman, karena ia tidak akan datang dengan ajaran yang menghapuskan ajaran Nabi Muhammad Shalallohu ‘alaihi wasallam, namun justru akan menetapkannya dan mengamalkannya.
Beliau ditanya mudah-mudahan Allah memberi manfaat terhadap ilmu beliau, dengan pernyataan, “Para ulama sepakat bahwa Isa akan melaksanakan hukum berdasarkan syariat kita (Islam), maka bagaimanakah cara pelaksanaan hukumnya? Apakah berdasarkan salah satu madzhab dari madzhab-madzhab yang ada ataukah berdasarkan ijtihad? Jawabnya adalah bahwa Isaa.s itu tersucikan dari ikut menjadi muqallid terhadap imam-imam mujtahid, bahkan ia lebih utama untuk berijtihad sendiri.
Maka lihatlah wahai saudaraku! Apa yang ada di bawah pohon dan cabangnya, rantingnya serta buahnya, maka Anda akan mendapatkan semuanya bercabang dari inti syariat,…sampai keluarnya Imam Mahdi yang akan membatalkan amalan yang berdasarkan taklid pada madzhab-madzhab yang ada pada masanya seperti telah dijelaskan oleh para ahli kasysyaf,….sampai kemudian Isa a.s turun, maka bergantilah hukum ke yang lainnya dan bahwasanya ia mendapatkan wahyu untuk melaksana kan syariat MuhammadSaw melalui lisan Jibril a.s..
Sumber: Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Mu’tamar, Munas dan Konbes Nahdltul Ulama (1926-1999), Cet ke-1, thn. 2004, Pnrbit: Lajnah Ta’lif Wan Nasyr (LTN) NU dan Diantama Surbya, hal. 50-51
Silhkan anda komentari dan anda simpulkan….
HMMH berkata
Oh ya Bung Mahmud :
Coba anda perhatikan baik-2 potongan terakhir uraian saya sebelumnya sbb :
……………
Maka disampaikanlah yang demikian kepada Rasulullah, beliau menjawab: “BARANG SIAPA YANG SUKA DISEMBAH SELAIN ALLAH, MAKA DIA BESERTA ORANG YANG MENYEMBAHNYA , HANYA MENYEMBAH SETAN DAN ORANG YANG MENYURUH MEREKA MENYEMBAHNYA. Maka Allah menurunkan ayat yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang telah ada ketetapan yang baik dari Kami untuk mereka maka mereka itu DIJAUHI DARI NERAKA”. Hal ini berarti bahwa Isa dan ‘Uzair termasuk yang dimaksud oleh ayat ini; sedang mengenai Isa as turunlah ayat ini.
Mengenai ayat ini diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishak di dalam kitabnya yang bernama “Sirah” bahwasanya Rasulullah saw pada suatu hari duduk di mesjid bersama Walid bin Mugirah, maka datanglah Nadar bin Haris dan duduk bersama mereka beberapa orang dan pemuka-pemuka orang Quraisy. maka Rasulullah saw membaca ayat yang artinya:
————————————————————————————————————————————————————————————————
“SESUNGGUHNYA KAMU DAN APA YANG KAMU SEMBAH SELAIN ALLAH ADALAH MAKANAN NERAKA JAHANAM, KAMU PASTI KEKAL DI DALAMNYA”.
————————————————————————————————————————————————————————————————
Kemudian Rasulullah saw berdiri.
Jadi ORANG YANG MENGIKUTI GAYA ORANG-2 MUSYIRIK MEKAH DALAM BERDEBAT yang MENGGUNAKAN “PERUMPAMAAN NABI ISA AS untuk membenarkan pendiriannya pada apapun apalagi SEBAGAI SESEMBAHANNYA, maka TARUHANNYA ADALAH NERAKA JAHANAM !!!
Astagfirullah ……………
Jika anda tahu, apa latar belakang orang-2 musyirik Mekah YANG MENJADIKAN NABI ISA AS SEBAGAI PERUMPAMAAN UNTUK MEMBENARKAN SESEMBAHAN MEREKA SELAIN ALLAH SWT ?
Jelas karena, mereka mencoba membalikkan kata-2 Rasulullah bahwa “SESUNGGUHNYA KAMU DAN APA YANG KAMU SEMBAH SELAIN ALLAH ADALAH MAKANAN NERAKA JAHANAM, KAMU PASTI KEKAL DI DALAMNYA”.
Artinya :
Kalau Nabi MUhammad SAW mengatakan bahwa jika orang-2 musyirik Mekah menyembah Nabi Isa As, maka berarti Nabi Muhammad SAW juga seolah=2 secara tidak langsung MENAGASKAN BAHWA NABI ISA AS BESERTA ORANG-2 MUSYIRIK YANG MENYEMBAH MEREKA AKAN MASUK NERAKA. APAKAH MUNGKIN NABI ISA AS AKAN DIMASUKAN KEDALAM NERAKA JAHANAM JUGA JIKA DISEMBAH OLEH MEREKA (ORANG-2 MUSYIRIK MEKAH) SAAT ITU ? Begitulah perumpamaan yang dijadikan senjata andalan oleh orang-2 musyirik Mekah untuk mematahkan seruan Nabi Muhammad SAW saat itu. Jelas bukan, menjadikan Nabi Isa AS sebagai perumpamaan untuk membenarkan sesembahan atau apapun yang TIDAK DITUNJUKKAN OLEH ALLAH SWT DALAM KITAB SUCI AL-QURAN, maka taruhannya NERAKA JAHANAM DAN KEKAL SELAMANYA.
NAUDZUBILLAH !!!
HIkmah lainya apa ?
Hikmah lainnya dariu surat Az-Zukruf ayat 57
وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلًا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ
Yang artinya :
Dan tatkala putera Maryam (Isa) DIJADIKAN PERUMPAMAAN tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya.(QS. 43:57)
ADALAH SEKALIGUS MENEGASKAN -> MENGAPA NABI ISA AS AKAN BERSAKSI PADA KAUMNYA DI AKHIR JAMAN sebagaimana Allah SWT isyaratkan dalam SURAT AN-NISA AYAT 159. Semata karena BELIAU TIDAK MENGHENDAKI DIRINYA DISEMBAH OLEH KAUMNYA YANG BISA BERAKIBAT TURUT DICEBURKAN KE DALAM NERAKA JAHANAM DAN JUGA TIDAK MENGHENDAKI KAUMNYA MASUK NERAKA JAHANAM KARENA MENYEMBAHNYA !
Bukan main betrapa mulianya makna persaksian Nabi Isa As di akhir jaman sebagaimana ditunjukkan dalam surat An-Nisa ayat 159, walaupun semua itu hanya Allah SWT Yang Maha Mengetahui, apakah benar jika Nabi Isa AS disembah oleh kaumnya itu secara otomatis juga akan diceburkan ke dalam neraka jahanam walaupun ia berstatus sebagai Rasul dan SANGAT TIDAK MENGHENDAKI (SANGAT MENENTANG) UNTUK DISEMBAH OLEH KAUMNYA ?
Walahualam
Saya sebagai umat Islam SANGAT MEYAKINI kalau semua Nabi dan Rasul Utusan aAllah SWT sebagai orang yang dilebihkan derajatnya oleh Allah SWT adalah AHLI SURGA. Jadi jika kelak di hari kiamat nabi Isa AS sudah bersaksi kepada kaumnya, tapi kaumnya masih juga pendiriannya seperti semula, maka yang akan menjadi AHLI NERAKA adalah kaumnya saja.
Betapa makna surat Az-Zukruf ayat 57 yang anda ajukan justru malah sangat mendukung (relevan) dengan makna kealmasihan Nabi Isa AS dalam surat An-Nisa ayat 159.
Irfan berkata
Tadinya saya tidak mau mengomentari diskusi antara @HMMH dan @Mahmud, tapi akhirnya saya pun ikut tergelitik untuk ikut nimbrung.
Kalo ada istilah “uji Konsistensi” yang diajukan oleh @HMMH kepada @Mahmud, kalo boleh saya juga ingin mengajukan “Uji Konsistensi” kepada @HMMH. Untuk uji tersebut, @HMMH tinggal menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini:
1. Apakah anda yakin setiap sabda Rasulullah SAW adalah benar?
2. Apakah anda meyakini bahwa Tidak ada lagi nabi apapun yang datang setelah Rasulullah SAw?
3. Apakah anda yakin bahwa pintu wahyu sudah berakhir? TIdak ada lagi wahyu yang turun setelah kedatangan Rasulullah SAW?
4. Apakah anda meyakini Nabi ISa as akan datang di akhir zaman?
5. Apakah anda yakin bahwa Nabi pasti akan mendapatkan wahyu?
6. Apakah anda meyakini nubuatan Rasulullah Saw tentang kedatangan Nabi Isa di akhir zaman?
7. Apakah anda yakin bahwa sifat Asmaul Husna Allah SWT abadi?
Apabila anda sudah menjawab pertanyaan2 diatas, maka akan kita uji sejauh mana konsistensi anda yang akan terlihat dari jawaban2 anda pada:
1. Pertanyaan 1 dengan Pertanyaan 4
2. Pertanyaan 3 dengan Pertanyaan 5
3. Pertanyaan 2 dengan Pertanyaan 4
4. Pertanyaan 1 dengan Pertanyaan 6
5. Pertanyaan 3 dengan Pertanyaan 7
Kepada @masnunk, @dedi, @HMMH atau siapapun boleh ikut uji konsistensi ini….
Masnunk berkata
@Irfan
Terima kasih menawari ujian “Konsistensi”, tapi maaf saya sudah tidak tertarik.
Coba tawarkan yang lain saja, siapa tahu cocok dengan keyakinan Ahmadiyah.
Masnunk berkata
@Irfan
Maaf ada yang terlupa, anda mempostingkan Muktamar NU dan @Dedi memang (mungkin) malas menjawab.
Jangan-jangan @Dedi bukan seorang Nahdliyin (kira-kira), jadi apa relevansinya dengan pertanyaan itu ?
He he he……. nge-Test ya……
HMMH berkata
Irfan berkata
26/02/2013 pada 10:39
Tadinya saya tidak mau mengomentari diskusi antara @HMMH dan @Mahmud, tapi akhirnya saya pun ikut tergelitik untuk ikut nimbrung.
Kalo ada istilah “uji Konsistensi” yang diajukan oleh @HMMH kepada @Mahmud, kalo boleh saya juga ingin mengajukan “Uji Konsistensi” kepada @HMMH. Untuk uji tersebut, @HMMH tinggal menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini:
1. Apakah anda yakin setiap sabda Rasulullah SAW adalah benar?
2. Apakah anda meyakini bahwa Tidak ada lagi nabi apapun yang datang setelah Rasulullah SAw?
3. Apakah anda yakin bahwa pintu wahyu sudah berakhir? TIdak ada lagi wahyu yang turun setelah kedatangan Rasulullah SAW?
4. Apakah anda meyakini Nabi ISa as akan datang di akhir zaman?
5. Apakah anda yakin bahwa Nabi pasti akan mendapatkan wahyu?
6. Apakah anda meyakini nubuatan Rasulullah Saw tentang kedatangan Nabi Isa di akhir zaman?
7. Apakah anda yakin bahwa sifat Asmaul Husna Allah SWT abadi?
Apabila anda sudah menjawab pertanyaan2 diatas, maka akan kita uji sejauh mana konsistensi anda yang akan terlihat dari jawaban2 anda pada:
1. Pertanyaan 1 dengan Pertanyaan 4
2. Pertanyaan 3 dengan Pertanyaan 5
3. Pertanyaan 2 dengan Pertanyaan 4
4. Pertanyaan 1 dengan Pertanyaan 6
5. Pertanyaan 3 dengan Pertanyaan 7
Kepada @masnunk, @dedi, @HMMH atau siapapun boleh ikut uji konsistensi ini….
________________________
Bung Irvan sebagai orang yang mengaku dari AHMADIYAH VERSINYA AHMADIYAH ………….. ( WOW !? )
Saya memahami jika anda ingin menguji konsistensi saya sebagai umat Islam yang turut serta bertanya dan menjawab dalam diskusi di forum ini, setelah terlebih dahulu dialami oleh rekan anda Bung Mahmud dari Ahmadiyah VERSI YANG LAIN ………… (WAH, ADA BERAPA VERSI YA ?!?)
Anda mengajukan UJI KONSISTENSI tentu karena anda sebelumnya MERASA SEOLAH-2 TELAH MEMEGANG KARTU TRUF INKONSISTENSI SAYA dari uraian-2 saya pada bung Mahmud, bukan ?
Maka sebelum saya menerima UJI KONSISTENSI ANDA, maka saya akan BEBERKAN KARTU TRUF SAYA YANG ANDA PEGANG yang berisikan prasangka atau dugaan.
SOAL SABDA RASULULLAH
Ketika berdiskusi dengan Bung Mahmud saya pernah berkata bahwa TIDAK SEMUA HADIST NABI SAAT INI BISA DIPEGANG KEBENARANNYA karena DIANTARANYA TIDAK SEDIKIT YANG SUDAH DIMODIFIKASI 9DIPELINTIR ATAU DIPALSUKAN) SEDEMIKIAN RUPA OLEH TANGAN-2 JAHIL SESUAI DENGAN KEPENTINGANNYA. Jadi ketika saya menjawab pertanyaan nomor 1 dengan jawaban YAKIN BAHWA SETIAP SABDA RASULULLAH SAW ADALAH BENAR, maka implikasinya HARUS DIBARENGI DENGAN SYARAT KETAT sbb :
PERTAMA :
Setiap sabda Rasulullah SAW benar -> JIKA DAN HANYA JIKA -> sabda tersebut ASLI, BELUM TERMODIFIKASI, JELAS SANADNYA DAN TIDAK BERTANTANGAN BAIK ANTAR SESAMA HADIT MAUPUN DENGAN FIRMASN ALLAH SWT DALAM KITAB SUCI AL-QURAN.
KEDUA :
Setiap sabda Rasulullah SAW salah -> JIKA DAN HANYA JIKA -> sabda tersebut PALSU, TERMODIFIKASI, TIDAK JELAS SANADNYA DAN BERTENTANGAN BAIK ANTAR HADIST MAUPUN DENGAN FIRMAN ALLAH SWT DALAM KITAB SUCI AL-QURAN.
Salah satu ciri KEASLIAN REFERENSI ISLAM DAN SEKALIGUS YANG MENJADI IMUNITAS ATAU KEKEBALAN AL-QURAN) DARI PENYESATAN PEMULISAN ATAU PENAFSIRANNYA ADALAH KE-TIADA-AN PERTENTANGAN DI DALAMNYA BAIK :
1. ANTAR SESAMA HADIST NABI.
2. ANTARA HADIST NABI DENGAN PETUNJUK ALLAH SWT DALAM AL-QURAN
3. ANTAR AYAT SUCI DALAM AL-QURAN
4. ANTAR KITAB SUCI ILLAHI.
Jadi oleh karena SABDA RASULULLAH SAW YANG BENAR ADALAH YANG ASLI, BELUM TERMODIFIKASI (oleh tangan jahil) DAN JELAS SANADNYA (asal-usul perowayatannya hingga Rasulullah SAW) DAN TIDAK SALING BERTENTANGAN DENGAN SUMBER LAINNYA ( 1 – 4 di atas) DAN SABDA NABI YANG TIDAK BENAR ADALAH YANG PALSU, SUDAH TERMODIFIKASI DAN TIDAK JELAS SANADNYA, MAKA SETIAP SABDA RASULULLAH SAW ADALAH NAMUN SELAMA MASIH ASLI, BELUM TERMODIFIKASI OLEH TANGAN JAHIL DAN JELAS SANADNYA SERTA TIDAK BERTENTANGAN DENGAN SESAMA HADIST LAINNYA DAN FIRMAN ALLAH SWT DALAM AYAT SUCI AL-QURAN
SOAL KENABIAN SETELAH RASULULLAH SAW
Berdasarkan surat Al-Ahzab ayat 40, maka dengan tegas saya menjawab BAHWA TIDAK AKAN ADA NABI LAIN YANG DIUTUS OLEH ALLAH SWT KE DUNIA HINGGA AKHIR JAMAN -> JIKA DAN HANYA JIKA -> YANG DIMAKSUD NABI DI SINI ADALAH NABI BARU, BAIK PEMBAWA SYARIAT SEBELUMNYA ATAU BARU MAUPUN BUKAN PEMBAWA SYARIAT SEBE;LUMNYA ATAU BARU. Mengikuti SYARAT KETAT INI, maka jika saya menjawab pertanyaan nomor 2 dan 4, maka saya semua jawaban saya mengarah kepada 1 JAWABAN YANG BISA DITULIS DALAM 2 MODEL KALIMAT LOGIS sbb :
A. BAHWA TIDAK AKAN ADA NABI BARU YANG DIUTUS OLEH ALLAH SWT SEJAUH MENGAKU MEMBAWA SYARIAT BARU ATAU LAMA.
B. BAHWA CUMA NABI YANG PERNAH DIUTUS SEBELUM NABI MUHAMMAD SAW (NABI LAMA) YANG AKAN DIUTUS KEMBALI OLEH ALLAH SWT.
NABI ISA AS ADALAH NABI YANG PERNAH DIUTUS OLEH ALLAH SWT UNTUK MENYAMPAIKAN KITAB SUCI INJIL KEPADA KAUM BANI ISRAIL SEKITAR 6 ABAD (+/- 600 TAHUN) SEBELUM NABI MUHAMMAD SAW DILAHIRKAN DAN KEMUDIAN DIUSIA 40 TAHUN MENERIMA WAHYU PERTAMANYA SEBAGAI PERTANDA PENGANGKATANNYA SEBAGAI NABI DAN RASUL ALLAH SWT PENYAMPAI ISI KITAB SUCI AL-QURAN. Oleh karena Nabi Isa AS yang saya yakini ADALAH BUKAN NABI BARU (NABI YANG BARU DILAHIRKAN DAN DIUTUS OLEH ALLAH SWT SETELAH NABI MUHAMMAD SAW, MELAINKAN CUMA BERSTATUS SEBAGAI NABI LAMA YANG KELAK DITURUNKAN KEMBALI KE DUNIA OLEH ALLAH SWT UNTUK BERSAKSI PADA KAUM PENGIKUTNYA DI AKHIR JAMAN MAKA :
Pertama :
NABI ISA SEJATINYA BELUM DIWAFATKAN KARENA :
1. Sejak diselamatkan Allah SWT dengan cara digantikan dan diangkat kehadiratnya itu TIDAK ADA RIMBANYA LAGI DI DUNIA (QS. An-Nisa 157-159)
2. Allah SWT mengisyaratkan bahwa kewafatannya akan ditibakan setelah melaksanakan persaksiannya pada kaumnya dahulu (QS. An-Nisa 159)
3. Keberadaan sisa-2 jasadnya yang terbukti secara ilmiah dan diakui oleh Islam dan kaum pengikutnya BELUM DITEMUKAN hingga kini.
4. Logika persaksian hanyalah akan berlangsung selama saksi masih hidup (belum pernah diwafatkan).
5. Keimana JIKA ALLAH SWT MENGHENDAKI, maka APAPUN JADILAH termasuk jika harus memanjangkan usia Nabi Isa AS ribuan tahun lamanya.
Kedua :
SEBAGAI NABI YANG PERNAH DIUTUS SEBELUM NABI MUHAMMAD SAW (cuma NABI LAMA yang diturunkan lagi kedunia kedua kalinya alias BUKAN nabi yang BARU diturunkan setelah Nabi Muhammad SAW) NABI ISA AS saat diturunkan di akhir jaman kelak TIDAK AKAN MEMBAWA SYARIAT LAMANYA saat diutus pertama kali ATAU syariat YANG BARU. Mengapa ? Karena Nabi Isa AS HANYA AKAN MELAKSANAKAN SYARIAT YANG PERNAH DISAMPAIKAN OLEH NABI MUHAMMAD SAW dan mengajak segenap pengikutnya untuk melakukan hal yang sama dengan maksud AGAR TERHINDAR DARI GOLONGAN YANG AKAN MERASAKAN GANASNYA API NERAKA JAHANAM DAN KEKAL DIDALAMNYA. naudzubilahiminzalik !
Sementara demikian.
Mahmud berkata
HMMH berkata
SEKALI LAGI :
TUNJUKKAN AYAT SUCI AL-QURAN ATAU DI KITAB SEBELUMNYALAH JIKA ANDA TIDAK SANGGUP YANG MENUNJUKKAN ALLAH SWT SECARA LANGSUNG (TEGAS) MENGKARUNIAKAN NAMA “ALMASIH” KEPADA ORANG LAIN SELAIN ISA AL-MASIH IBNU MARYAM ???
=====>>> Boleh saja anda menafsirkan Az-Zukhruf dari perspektif Asbabun-Nuzul. Tetapi, yang sedang kita bahas adalah dari perspektif nubuatan, sehingga kita bisa memahami bahwa Allah memberikan perumpamaan Ibnu Maryam yang akan diprotes oleh umat Islam (Az-Zukhruf 43:57). Namun, karena anda memahami secara keliru bahwa Nabi Isa as masih hidup, maka pemahaman anda tentang ayat-ayat suci Al Quran pun semakin keliru, khususnya An-Nisa 4:159.
Sepanjang apa pun komentar anda tidak akan membuat Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as HIDUP LAGI. Al Quran, Hadits dan Fakta telah membuktikan bahwa Nabi Isa as dan ibunya, Siti Maryam, SUDAH WAFAT dan makam keduanya telah ditemukan di Hindustan, atau Kashmir.
Karena pemahaman anda yang keliru tentang kewafatan Nabi Isa as yang dikaitkan dengan makna An-Nisa 4:159, maka semakin menampakkan ketidak-tahuan anda tentang agama Islam. Mari kita buktikan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
1. Apakah Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as lebih mulia daripada Nabi Muhammad Rasulullah saw?
2. Menurut Al Quran, Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as diutus Allah kepada siapa? Kepada Bani Israil atau umat Kristen?
3. Menurut Al Quran, Nabi Muhammad Rasulullah saw diutus Allah kepada siapa? Kepada sekalian manusia atau umat Islam?
4. Adakah ayat suci Al Quran yang menyatakan bahwa pada hari kiamat Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as akan datang lagi ke bumi?
5. Sejauh mana pemahaman anda tentang arti kata Al Masih?
6. Sejauh mana pemahaman anda tentang arti kata Hari Kiamat.
dedi berkata
Orang Qadyani masih berkutat dengan:
Dia menganugerahkan Nikmat-Nya sebagai Nabi Ummati (An-Nisa 4:69)
==> Ini penting karena meyakini MGA itu nabi kaarena menafsirkan ayat ini dan lainnya.
Apa asbabun nuzul dari ayat ini, kita lihat:
Bunyi ayat:
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin , orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Sedangkan asbabun nuzulnya ayat ini adalah (Tafsir Ibnu Katsir) bahwa ayat ini turun ketika para sahabat berkumpul berdiskusi masalah pertemuan mereka nanti di akhirat, karena surga itu bertingkat-tingkat, tentang bagaimana kesempatan berkumpul kembalinya mereka dengan para syuhada, bahkan para nabi.
Adakah penjelasan lain dari para ahli tafsir yang menyatakan bahwa ada kenikmatan di DUNIA ini untuk menjadi nabi? Sedangkan ayat itu turun kepada Nabi SAW untuk menjelaskan bahwa balasan AKHIRAT bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh adalah bersama-sama dengan para sholihin, syuhada dan bahkan dengan para nabi. Tentang kualifikasi apa kita sekarang di dunia, hanya Allah SWT sendiri lah yang menentukannya bagi tiap-tiap orang…
Mari kembali kepada Islam, yang kepada siapa lagi selain dari yang Nabi SAW telah ajarkan. Sebagaimana Allah firmankan:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,
sebagai karunia dan ni’mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” QS Al Hujurat 6-8
Wallahualam,
Mahmud berkata
Dedi berkata
27/02/2013 pada 05:41
Orang Qadyani masih berkutat dengan:
Dia menganugerahkan Nikmat-Nya sebagai Nabi Ummati (An-Nisa 4:69)
==> Ini penting karena meyakini MGA itu nabi kaarena menafsirkan ayat ini dan lainnya.
Apa asbabun nuzul dari ayat ini, kita lihat:
Bunyi ayat:
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin , orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Sedangkan asbabun nuzulnya ayat ini adalah (Tafsir Ibnu Katsir) bahwa ayat ini turun ketika para sahabat berkumpul berdiskusi masalah pertemuan mereka nanti di akhirat, karena surga itu bertingkat-tingkat, tentang bagaimana kesempatan berkumpul kembalinya mereka dengan para syuhada, bahkan para nabi.
Adakah penjelasan lain dari para ahli tafsir yang menyatakan bahwa ada kenikmatan di DUNIA ini untuk menjadi nabi? Sedangkan ayat itu turun kepada Nabi SAW untuk menjelaskan bahwa balasan AKHIRAT bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh adalah bersama-sama dengan para sholihin, syuhada dan bahkan dengan para nabi. Tentang kualifikasi apa kita sekarang di dunia, hanya Allah SWT sendiri lah yang menentukannya bagi tiap-tiap orang…
====>>>> Ayat itu sudah jelas mengisyaratkan bahwa:
1. Bagi sekalian manusia (umat Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Yahudi dlsb) yang ingin dianugerahi Nikmat Allah, maka mereka harus masuk agama Islam Sejati yang ta’at kepada Allah dan Nabi Muhammad saw.
2. Nikmat Allah itu adalah Nabi, Shiddiq, Syahid & Shaleh.
3. Allah tidak memberikan pengecualian dalam menganugerahkan Nikmat-Nya, karena Dia Maha Adil.
4. Ketaatan sempurna kepada Allah dan Nabi Muhammad saw akan Dia anugerahi Nabi Ummati, sedangkan derajat di bawahnya adalah Shiddiq, Syahid & Shaleh.
5. Mereka adalah para Sahabat Sejati (Aulia Allah) yang akan Allah anugerahi kabar suka (surga) di dunia ini dan di akhirat (Yunus 10:62-64).
6. Bagi mereka yang telah memeluk agama Islam, Allah telah mengajarkan doa agar kita Dia anugerahi Nikmat-Nya itu, yakni dalam Al Fatihah 1:6-7. Dalam doa itu, Allah mengisyaratkan bahwa hanya umat Islam yang berpeluang menjadi orang Shaleh, Syahid, Shiddiq & Nabi.
Apakah Dedi ingin tetap berkutat MENOLAK Nikmat Allah tersebut? JANGAN PURA-PURA OON AH.
dedi berkata
Istilah baru lagi…
agama “Islam Sejati”
==> Islam sejati = Ahmadiyah ???
Islamnya Nabi SAW, serta Ummat Islam sedunia dari para sahabat Nabi hingga akhir masa. “Islam sejati”-nya MGA dan pengikut Qadyani…
==> Penjelasan 1..5, melebar kemana-mana. Intinya kata “ma’a” diterjemahkan lain oleh MGA dan pendakwahnya,apakah cocok dengan asbabun nuzulnya ayat itu?
Kalau tidak cocok, menurut orang Qadyani diminta untuk dicocokkan dengan wahyu MGA, sehingga cocok….
Mari kembali kepada Islam, yang kepada siapa lagi selain dari yang Nabi SAW telah ajarkan. Sebagaimana Allah firmankan:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,
sebagai karunia dan ni’mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” QS Al Hujurat 6-8
Wallahualam,
HMMH berkata
Mahmud berkata
27/02/2013 pada 01:58
HMMH berkata
SEKALI LAGI :
TUNJUKKAN AYAT SUCI AL-QURAN ATAU DI KITAB SEBELUMNYALAH JIKA ANDA TIDAK SANGGUP YANG MENUNJUKKAN ALLAH SWT SECARA LANGSUNG (TEGAS) MENGKARUNIAKAN NAMA “ALMASIH” KEPADA ORANG LAIN SELAIN ISA AL-MASIH IBNU MARYAM ???
=====>>> Boleh saja anda menafsirkan Az-Zukhruf dari perspektif Asbabun-Nuzul. Tetapi, yang sedang kita bahas adalah dari perspektif nubuatan, sehingga kita bisa memahami bahwa Allah memberikan perumpamaan Ibnu Maryam yang akan diprotes oleh umat Islam (Az-Zukhruf 43:57). Namun, karena anda memahami secara keliru bahwa Nabi Isa as masih hidup, maka pemahaman anda tentang ayat-ayat suci Al Quran pun semakin keliru, khususnya An-Nisa 4:159.
Sepanjang apa pun komentar anda tidak akan membuat Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as HIDUP LAGI. Al Quran, Hadits dan Fakta telah membuktikan bahwa Nabi Isa as dan ibunya, Siti Maryam, SUDAH WAFAT dan makam keduanya telah ditemukan di Hindustan, atau Kashmir
______________
Inilah ciri khas Ahmadi, ketika kehabisan hujah hanya bisa melarikan kebuntuannya ke kata-kata :
1. Karena berbeda penafsiran.
2. Pemahaman yang keliru
3. Membenarkan keyakinannya tanpa dasar.
Soal Nabi Isa sudah wafat atau tidak memang saya berbeda keyakinan dengan anda, tapi SOAL DASAR KEALMASIHAN itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan SUDAH WAFAT ATAU TIDAKNYA NABI ISA AS, karena mau belum atau sudah diwafatkan oleh Allah SWT, Nabi Isa AS TETAP MERUPAKAN SATU-SATUNYA ORANG BAJKAN UTUSAN ALLAH SWT YANG MENERIKA KARUNIA NAMA ALMASIH LANGSUNG DARI ALLAH SWT yang sama-2 bisa kita buktikan dalam SURAT AL-IMRAN AYAT 45.
Yang artinya :
(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) DENGAN KALIMAH (YANG DATANG) DARIPADA-NYA, NAMANYA AL-MASIH ISA PUTERA MARYAM, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).
Nah sangat jelas bukan, Allah SWT menunjukkan SECARA TEGAS, GAMBLANG, TO THE POINT, TANPA BASA-BASI, TANPA KIASAN, TANPA PERUMPAMAAN-2 APAPUN adanya pemberian nama ALMASIH oleh Allah SWT kepada NABI ISA AS IBNU MARYAM 20 abad (2000 tahun) yang lalu atau 6 abad (600 tahun) sebelum kelahiran dan pengangkatan Nabi MUhammad SAW sebagai Rasul penerima dan penyampai isi kitab suci Al-Quran. ISI SURAT AL-IMRAN AYAT 45 INILAH DIA YANG MENJADI DASAR YANG KUAT BAGI KEALMASIHAN YANG DISANDANG OLEH NABI ISA AS PADA NAMANYA : ISA AL-MASIH IBNU MARYAM.
Jadi sangat logis bukan jika saya dan mungkin juga ribuan pembaca situs Kobarnet ini jika menanyakan :
KALAU NABI ISA AS SAJA PUNYA DASAR KUAT DALAM KITAB SUCI AL-QURAN BAGI KEALMASIHANNYA, MAKA YA SEPANTASNYA MGA JUGA JIKA MENGAKU ALMASIH HARUS PUNYA DASAR YANG KUAT JUGA DALAM KITAB SUCI AL-QURANM BAHKAN BILA PERLU DALAM KITAB-2 SUCI SEBELUMNYA, YAKNI INJIL DAN TAURAT JIKA ANDA TIDAK MENEMUKANNYA DALAM AL-QURAN. Wajar dan logis bukan ??? Lha, wong sama-sama ngaku AL-MASIH seperti Nabi Isa AS, ya harus sama-2 punya dasar dong.
Logika :
Jika dari 6.666 ayat suci Al-Quran cuma ada 1 ayat suci yang memberitakan tentang pemberian nama kealmasihan, maka tidak ada ayat suci lain dalam Al-Quran yang memberitakan hal yang sama.
Jika dalam 1 ayat suci Al-Quran cuma memberitakan 1 orang penerima nama Al-Masih dari Allah SWT, maka tidak ada orang lain yang menerima nama Al-Masih dari Alah SWT.
JIka yang menerima nama Al-Masih dari Allah SWT adalah Nabi Isa AS Ibnu Maryam, maka yang mengaku menerima nama Al-Masih lain pantas dipertanyakan, WHERE IS IT COME FROM ?
Sayangnya lagi, dalam perdebatan mengenai hal ini, anda justru malah memunculkan QS. AZ-ZUKRUF AYAT 57 untuk memperkat keyakinan anda soal kealmasihan MGA. Tentu saja, ketika surat tersebut dibuka bersama, alhasil terlihat langsung -> SAMA SEKALI TIDAK ADA PETUNJUK YANG SETARA DENGAN SURAT AL-IMRAN AYAT 45, bahkan tidak nyambung ! Walaupun konteksnya masih sekitar KEALMASIHAN DARI ALLAH SWT sbb :
Ayat 56 :
فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِلْآخِرِينَ (
Yang artinya :
dan Kami jadikan mereka SEBAGAI PELAJARAN DAN CONTOH bagi orang-orang yang kemudian.(QS. 43:56)
Ayat 57 :
وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلًا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ (
Yang artinya :
Dan tatkala putera Maryam (Isa) DIJADIKAN PERUMPAMAAN tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya.(QS. 43:57)
Surah Az Zukhruf 58 :
وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ
Yang artinya :
Dan mereka berkata: `Manakah yang lebih baik ilah-ilah kami atau dia (Isa)` Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu MELAINKAN DENGAN MAKSUD MEMBANTAH SAJA, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.(QS. 43:58)
Jelas bukan ? Sama sekali tidak memberitakan adanya pemberian nama Al-Masih lain kepada orang lain oleh Allah SWT selain yang pernah Allah SWT karuniakan kepada Isa Ibnu Maryam di surat Al-Imran ayat 45. Makanya wajar bukan, jika berulangkali saya bertanya, mana dasar kealmasihan MGA ? Sampai-2 saya mempersilahkan kepada anda, jika anda mau dibantu oleh 6.666 orang Ahmadi sekalipun atau mencari pada kitab suci Injil dan Taurat, semata untuk meyakini kealmasihan MGA punya dasar atau tidak dalam kitab-2 suci Ilahi. Bicara apapun soal kealmasihan PERCUMA kalau tidak punya dasar dalam agama.
Kemudian anda juga berkata :
…………………….
Sepanjang apa pun komentar anda tidak akan membuat Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as HIDUP LAGI. Al Quran, Hadits dan Fakta telah membuktikan bahwa Nabi Isa as dan ibunya, Siti Maryam, SUDAH WAFAT dan makam keduanya telah ditemukan di Hindustan, atau Kashmir
BAIKLAH TUAN MAHMUD,
Jika memang anda meyakini bahwa Nabi Isa AS sudah wafat dan dimakamkan di Kashmir India, maka orang yang normal akan berfikir :
MENGAPA PARA PENGIKUTNYA TIDAK BERBONDONG-BONDONG MENEMUI JASAD NABI ISA AS DI KASHMIR INDIA YA JIKA BELIAU SUDAH WAFAT PADAHAL MEREKA SUDAH LEBIH DARI 2000 TAHUN MENGIMANINYA, BAHKAN LEBIH DARI SEKEDAR RASUL ?!?
Apanya yang salah dalam hal ini ya ???
Faktanya atau informasinya, ya ???
.
Mahmud berkata
Dedi berkata
Istilah baru lagi…
agama “Islam Sejati”
==> Islam sejati = Ahmadiyah ???
Islamnya Nabi SAW, serta Ummat Islam sedunia dari para sahabat Nabi hingga akhir masa. “Islam sejati”-nya MGA dan pengikut Qadyani…
==> Penjelasan 1..5, melebar kemana-mana. Intinya kata “ma’a” diterjemahkan lain oleh MGA dan pendakwahnya,apakah cocok dengan asbabun nuzulnya ayat itu?
Kalau tidak cocok, menurut orang Qadyani diminta untuk dicocokkan dengan wahyu MGA, sehingga cocok….
=====>>>>> Islam Sejati itu adalah Jemaat Muslimin yang senantiasa dipimpin oleh seorang Khalifah yang dipilih Allah (An-Nur 24:55) sebagaimana sunnah Rasulullah saw dan sunnah Khulafa-il-Mahdiyiin-ar-Rasyidiin (HR Sunan Abu Daud). Banyak yang menginginkan berdirinya kembali Khilafat Islam agar Syari’at Islam ditegakkan seperti yang sedang diupayakan oleh Hizbut Tahrir dan Rabithah Alam Islam. Tetapi mereka gagal, karena mereka bergerak lewat partai politik. Selanjutnya argumentasi Dedi tak berdasar.
JELAS TUAN DEDI? JANGAN PURA-PURA OON AH.
Mahmud berkata
HMMH
Inilah ciri khas Ahmadi, ketika kehabisan hujah hanya bisa melarikan kebuntuannya ke kata-kata :
1. Karena berbeda penafsiran.
2. Pemahaman yang keliru
3. Membenarkan keyakinannya tanpa dasar.
===>>> Wah wah wah, kehabisan hujjah? Sorry yah, hujjah anda justru yang akan berbalik, begini:
HMMH berkata
Sayangnya lagi, dalam perdebatan mengenai hal ini, anda justru malah memunculkan QS. AZ-ZUKRUF AYAT 57 untuk memperkat keyakinan anda soal kealmasihan MGA. Tentu saja, ketika surat tersebut dibuka bersama, alhasil terlihat langsung -> SAMA SEKALI TIDAK ADA PETUNJUK YANG SETARA DENGAN SURAT AL-IMRAN AYAT 45, bahkan tidak nyambung ! Walaupun konteksnya masih sekitar KEALMASIHAN DARI ALLAH SWT sbb :
Ayat 56 :
فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِلْآخِرِينَ
Yang artinya :
dan Kami jadikan mereka SEBAGAI PELAJARAN DAN CONTOH bagi orang-orang yang kemudian.(QS. 43:56)
=====>>> Kata مَثَلًا anda terjemahkan dengan kata CONTOH, padahal artinya PERUMPAMAAN. Jadi, tepatnya terjemahan ayat tersebut adalah:
“Dan Kami menjadikan mereka kisah yang lalu dan perumpamaan bagi yang akan datang.” (Az-Zukhruf 43:56).
Siapa yang Dia jadikan perumpamaan bagi orang-orang (umat Islam) yang akan datang itu? Jawabannya:
وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلًا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ
“Dan, apabila dijelaskan Ibnu Maryam sebagai perumpamaan, tiba-tiba kaum engkau (Umat Islam) bersorak memprotesnya.” (Az-Zukhruf 43:57).
Yang mendapat julukan Ibnu Maryam di dalam Al Quran, hanyalah Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as yang diutus kepada Bani Israil yang menurut Al Quran & Hadits beliau as SUDAH WAFAT. Tetapi, mengapa Rasulullah saw menyatakan bahwa Isa Ibnu Maryam akan datang menjadi Imam Mahdi (HR Musnad Ahmad bin Hambal) dan Khalifatullah (HR Sunan Ibnu Majah)? Jawabannya adalah Az-Zukhruf 43:57.
Jadi, jika Ibnu Maryam dijadikan perumpamaan bagi orang-orang (umat Islam) yang akan datang, maka segala atributnya pun akan melekat kepada kepada perumpamaannya itu, yakni Imam Mahdi, Khalifah Allah & Al Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud). JELAS TUAN HMMH?
Jika anda menanyakan:
Adakah Al Masih lain di dalam Al Quran, selain Nabi Isa Ibnu Maryam as?
Maka saya menanyakan:
Adakah ayat Al Quran yang mengisyaratkan bahwa Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as akan datang lagi ke bumi?
dedi berkata
@HMMH
Mereka “malu” atau gengsi (dengan berbagai cara dan dalih) untuk mengakui bahwa:
1. Karena berbeda penafsiran.
2. Pemahaman yang keliru
3. Membenarkan keyakinannya tanpa dasar.
Mari ajak mereka untuk kembali kepada Islam, yang kepada siapa lagi selain dari yang Nabi SAW (Nabi Penutup dari sekalian nabi) telah ajarkan. Sebagaimana Allah firmankan:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,
sebagai karunia dan ni’mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” QS Al Hujurat 6-8
Wallahualam,
dedi berkata
Mahmud berkata
27/02/2013 pada 17:43
Islam Sejati itu adalah Jemaat Muslimin yang senantiasa dipimpin oleh seorang Khalifah yang dipilih…
==>
Wahyu-wahyu MGA:
“ayahmu di dunia ini akan wafat sekarang, dan mulai hari ini Aku dari Langit akan menjadi ayah bagimu”
“Seorang nabi telah datang ke dunia, namun dunia tidak menerimanya”
Maka jelaslah kalau dasar kepercayaan Qadyani adalah wahyu-wahyu MGA, Al Quran hanya dijadikan pelengkap dan tafsir Al Quran di’sesuai’kan dengan wahyu MGA itu….
Kemana pun dalam ajaran Qadyani ini adalah kutipan-kutipan dari Islam, tapi inti dari kepercayaan ini adalah pengakuan akan kenabian MGA…
Maka orang yang pura-pura tidak tahu akan wahyu MGA sebagai landasan ajaran Qadyani ini, kita ajak untuk kembali kepada Islam, yang kepada siapa lagi selain dari yang Nabi SAW (Nabi Penutup dari sekalian nabi) telah ajarkan. Sebagaimana Allah firmankan:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,
sebagai karunia dan ni’mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” QS Al Hujurat 6-8
Wallahualam,
Mahmud berkata
Dedi berkata
27/02/2013 pada 20:46
@HMMH
Mereka “malu” atau gengsi (dengan berbagai cara dan dalih) untuk mengakui bahwa:
1. Karena berbeda penafsiran.
2. Pemahaman yang keliru
3. Membenarkan keyakinannya tanpa dasar.
Mari ajak mereka untuk kembali kepada Islam, yang kepada siapa lagi selain dari yang Nabi SAW (Nabi Penutup dari sekalian nabi) telah ajarkan.
===>> Dedi mengajak kembali kepada umat Islam yang terus menerus pecah-belah seperti , mereka yang melakukan TINDAKAN ANARKIS, BOM BUNUH DIRI, TEROR, KORUP, NARKOBA & PELECEHAN SEKSUAL karena ketidak-taatan mereka kepada Allah, Nabi Muhammad Rasulullah saw, Khulafa-ur-Rasyidiin ra, Khalifah Allah, Imam Mahdi & Masih Mau’ud as & Khulafa-ul-Masih-al-Mahdiyyin.
MAAF YAH, SAYA TIDAK MAU IKUT-IKUTAN OON AH.
Mahmud berkata
Dedi berkata
28/02/2013 pada 03:20
Mahmud berkata
27/02/2013 pada 17:43
Islam Sejati itu adalah Jemaat Muslimin yang senantiasa dipimpin oleh seorang Khalifah yang dipilih…
==>
Wahyu-wahyu MGA:
“ayahmu di dunia ini akan wafat sekarang, dan mulai hari ini Aku dari Langit akan menjadi ayah bagimu”
“Seorang nabi telah datang ke dunia, namun dunia tidak menerimanya”
Maka jelaslah kalau dasar kepercayaan Qadyani adalah wahyu-wahyu MGA, Al Quran hanya dijadikan pelengkap dan tafsir Al Quran di’sesuai’kan dengan wahyu MGA itu….
Kemana pun dalam ajaran Qadyani ini adalah kutipan-kutipan dari Islam, tapi inti dari kepercayaan ini adalah pengakuan akan kenabian MGA…
=====>>>>> WAH, WAH, WAH Komentar yang TIDAK NYAMBUNG & EMOSIONAL tanpa dasar.
JANGAN PURA-PURA OON AH.
Mahmud berkata
SAYA ULANG UNTUK ANDA TUAN HMMH yang berkata:
Inilah ciri khas Ahmadi, ketika kehabisan hujah hanya bisa melarikan kebuntuannya ke kata-kata :
1. Karena berbeda penafsiran.
2. Pemahaman yang keliru
3. Membenarkan keyakinannya tanpa dasar.
===>>> Wah wah wah, kehabisan hujjah? Sorry yah, hujjah anda justru yang akan berbalik kepada anda:
HMMH berkata:
Sayangnya lagi, dalam perdebatan mengenai hal ini, anda justru malah memunculkan QS. AZ-ZUKRUF AYAT 57 untuk memperkuat keyakinan anda soal kealmasihan MGA. Tentu saja, ketika surat tersebut dibuka bersama, alhasil terlihat langsung -> SAMA SEKALI TIDAK ADA PETUNJUK YANG SETARA DENGAN SURAT AL-IMRAN AYAT 45, bahkan tidak nyambung ! Walaupun konteksnya masih sekitar KEALMASIHAN DARI ALLAH SWT sbb :
Ayat 56 :
فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِلْآخِرِينَ
Yang artinya :
dan Kami jadikan mereka SEBAGAI PELAJARAN DAN CONTOH bagi orang-orang yang kemudian.(QS. 43:56)
=====>>> Ha ha ha, kata مَثَلًا anda terjemahkan menjadi CONTOH, padahal di dalam Az-Zukhruf 43:57 diterjemahkan menjadi PERUMPAMAAN. Jadi siapa yang INKONSISTEN?
Sejatinya terjemahan ayat tersebut adalah:
“Dan Kami menjadikan mereka kisah yang lalu dan perumpamaan bagi yang akan datang.” (Az-Zukhruf 43:56).
Siapa yang Dia jadikan perumpamaan bagi (orang-orang Islam) yang akan datang itu? Jawabannya:
وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلًا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ
“Dan, apabila dijelaskan Ibnu Maryam sebagai PERUMPAMAAN, tiba-tiba kaum engkau (orang-orang Islam) bersorak memprotesnya.” (Az-Zukhruf 43:57).
Yang mendapat julukan Ibnu Maryam di dalam Al Quran, hanyalah Nabi Isa Al Masih as yang diutus kepada Bani Israil yang menurut Al Quran & Hadits beliau as SUDAH WAFAT. Tetapi, mengapa Rasulullah saw menyatakan bahwa Isa Ibnu Maryam akan datang menjadi Imam Mahdi (HR Musnad Ahmad bin Hambal) dan Khalifatullah (HR Sunan Ibnu Majah)? Jawabannya adalah Az-Zukhruf 43:57.
Jadi, jika Ibnu Maryam dijadikan PERUMPAMAAN oleh Allah bagi orang-orang (umat Islam) yang akan datang, maka segala atributnya pun akan melekat kepada PERUMPAMAAN-nya itu, yakni Imam Mahdi, Khalifah Allah & Al Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud).
Jika anda KEUKEUH menanyakan:
Adakah Al Masih lain di dalam ayat Al Quran, selain Nabi Isa Ibnu Maryam as?
Maka saya akan KEUKEUH menanyakan:
Adakah ayat Al Quran yang mengisyaratkan bahwa Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as akan datang lagi ke bumi?
Jika anda KEUKEUH menanyakan:
Mengapa Ahli Kitab tidak berbondong-bondong mengunjungai makam Nabi Isa as di Hindustan/Kashmir?
Maka saya akan KEUKEUH menanyakan:
Adakah ayat Al Quran yang mengisyaratkan bahwa semua Ahli Kitab akan berbondong-bondong mengunjungi makam Nabi Isa as di Hindustan/Kashmir termasuk dalam An-Nisa 4:159?
APAKAH TUAN HMMH SUDAH PAHAM?
dedi berkata
Mahmud berkata
28/02/2013 pada 06:45
WAH, WAH, WAH Komentar yang TIDAK NYAMBUNG & EMOSIONAL tanpa dasar.
==> Sudah disambungkan, dikatakan tidak nyambung. Disuruh belok kanan, malah belok kiri. Diajak kembali ke Islam, malah lari darinya.
Islam-nya Nabi SAW adalah penuh keikhlasan dalam beramal, dengan menyamakannya dengan teroris itu adalah kerjaan orang yang tidak suka dengan Islam yang damai…
Ingat Firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,
sebagai karunia dan ni’mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” QS Al Hujurat 6-8
Wallahualam
dedi berkata
Wahyu-wahyu MGA:
“ayahmu di dunia ini akan wafat sekarang, dan mulai hari ini Aku dari Langit akan menjadi ayah bagimu”
“Seorang nabi telah datang ke dunia, namun dunia tidak menerimanya”
Daripada mencemoohkan orang lain, monggo ajukan wahyu-wahyu MGA lainnya supaya bisa belajar dan mata kita terbuka lebar-lebar…
Malu??? Semestinya…
Wallahualam,
Mahmud berkata
Dedi berkata
Sudah disambungkan, dikatakan tidak nyambung. Disuruh belok kanan, malah belok kiri. Diajak kembali ke Islam, malah lari darinya.
Islam-nya Nabi SAW adalah penuh keikhlasan dalam beramal, dengan menyamakannya dengan teroris itu adalah kerjaan orang yang tidak suka dengan Islam yang damai…
===>>> Memang komentar ente tidak nyambung. Saya katakan bahwa Islam Sejati itu adalah Jemaat Muslimin yang damai dan senantiasa dipimpin oleh seorang Khalifah yang dipilih Allah (An-Nur 24:55) sebagaimana Sunnah Nabi Muhammad saw dan Sunnah Khulafa-il-Mahdiyyin-ar-Rasyidin (HR Sunan Abu Daud).
Islam Dedi adalah yang telah bercerai-berai menjadi 72 golongan, tidak mau bersatu.
JELAS TUAN DEDI? JANGAN PURA-PURA OON AH.
Mahmud berkata
Dedi berkata
Daripada mencemoohkan orang lain, monggo ajukan wahyu-wahyu MGA lainnya supaya bisa belajar dan mata kita terbuka lebar-lebar…
Malu??? Semestinya…
====>>>> Dedi hanya ingin mencemoohkan wahyu yang diterjemahkan oleh Anti-Jemaat Ahmadiyah. Coba bahas yang berikut ini: http://www.alislam.org/urdu/rk/
dedi berkata
Dedi hanya ingin mencemoohkan wahyu yang diterjemahkan oleh Anti-Jemaat Ahmadiyah.
==> Maaf, saudara salah. Saya ambil yang dua itu dari situs resmi Qadyani, monggo dilihat di:
http://www.alislam.org/indonesia/pustaka/riwayat/ahmad-1.htm
Kalau ada yang lain pasti ngga jauh dari situ, mengenai isi wahyunya, apa saudara sendiri meragukannya?
Pantas saja, bawaannya juga selalu curiga…
Makanya kami ajak saudara untuk kembali kepada Islam, yang kepada siapa lagi selain dari yang Nabi SAW (Nabi Penutup dari sekalian nabi) telah ajarkan. Sebagaimana Allah firmankan:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,
sebagai karunia dan ni’mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” QS Al Hujurat 6-8
Wallahualam,
Mahmud berkata
Dedi berkata
Maaf, saudara salah. Saya ambil yang dua itu dari situs resmi Qadyani, monggo dilihat di:
===>>>Ooooh ente mau membahas yang dua ini:
“ayahmu di dunia ini akan wafat sekarang, dan mulai hari ini Aku dari Langit akan menjadi ayah bagimu”
“Seorang nabi telah datang ke dunia, namun dunia tidak menerimanya”
Tapi, komentar ente diajukan setelah aku menulis:
“Islam Sejati itu adalah Jemaat Muslimin yang senantiasa dipimpin oleh seorang Khalifah yang dipilih Allah (An-Nur 24:55). Jadi komentar ente KAGAK NYAMBUNG atau ERROR.
Tentang kedua wahyu Ilahi itu ente SAKIT HATI karena ada kata NABI? Bukankah yang dimaksud NABI dalam wahyu itu adalah NABI UMMATI. Jadi, gak usah SAKIT HATI, malah harus bangga, karena dari antara pengikut Nabi Muhammad Rasulullah saw berpeluang untuk menjadi NABI UMMATI. Menurut Al Quran, Nabi itu adalah Nikmat Allah yang tertinggi yang Dia anugerahkan kepada manusia (An-Nisa 4:69 & Al Maidah 5:20) yang harus kita syukuri (Ibrahim 14:7) karena kita diajarkan Allah untuk senantiasa memohon kepada-Nya (Al Fatihah 1:6-7). Jadi, jika ente SAKIT HATI, artinya ERROR.
Dedi berkata:
Makanya kami ajak saudara untuk kembali kepada Islam, yang kepada siapa lagi selain dari yang Nabi SAW (Nabi Penutup dari sekalian nabi) telah ajarkan.
=====>>>>> ERROR LAGI. Mengajak kepada umat Islam yang sudah cerai-berai yang tidak taat kepada Allah dan Nabi Muhammad saw? Sorry yah, aku gak mau ikut-ikutan pura-pura OON. Jika ente mengajak kembali kepada Islam seperti ente, ente harus menjadi MUSLIM SEJATI dulu, yaitu harus masuk Jemaat Islam yang senantiasa dipimpin oleh pemimpin ruhani yang mendapat petunjuk Ilahi (Imam Mahdi) atau Khalifah Allah (An-Nur 24:55), karena itulah Sunnah Rasulullah saw dan Sunnah Khulafa-il-Mahdiyyin-ar-Rasyidiin (HR Sunan Abu Daud).
PAHAM TUAN DEDI? JANGAN PURA-PURA OON DONG.
dedi berkata
“Tidak ada seorang nabi pun antara aku dan Isa dan sesungguhnya ia benar-benar akan turun (dari langit), apabila kamu telah melihatnya, maka ketahuilah; bahwa ia adalah seorang laki-laki berperawakan tubuh sedang, berkulit putih kemerah-merahan. Ia akan turun dengan memakai dua lapis pakaian yang dicelup dengan warna merah, kepalanya seakan-akan meneteskan air waulupun ia tidak basah.”
“Sekelompok dari ummatku akan tetap berperang dalam dalam kebenaran secara terang-terangan sampai hari kiamat,sehingga turunlah Isa bin Maryam ,maka berkatalah pemimpin mereka (Al Mahdi): “Kemarilah dan imamilah salat kami”. Ia menjawab;”Tidak, sesungguhnya sebagian kamu adalah sebagai pemimpin terhadap sebagian yang lain, sebagai suatu kemuliaan yang diberikan Allah kepada ummat ini (ummat Islam).”
“Tiba-tiba Isa sudah berada di antara mereka dan dikumandangkanlah salat,maka dikatakan kepadanya, majulah kamu (menjadi imam salat) wahai ruh Allah.” Ia menjawab:”Hendaklah yang maju itu pemimpin kamu dan hendaklah ia yang mengimami salat kamu”.
Lihatlah dengan mata hati saudara, kesemua hadist tersebut tidak ada yang mengkualifikasikan nabi ummati atau nabi non ummati. Nabi dan rasul adalah sesuai dengan penegertian umum Islam.
Qadyani hanya mencari-cari alasan pembenaran bahwa MGA itu nabi dan rasul yang benar,
Islam selamanya tidak akan mengenal nabi baru, apalagi yang dikualifikasikan nabi syariat dan non syariat.
Juga dari gambaran tersebut tidak ada yang cocok dengan MGA, bahkan terlihat pada usaha MGA dengan membangun minarat / menara putih, di kota Qadyan sebagai pembenaran yang dibuat-buat.
Wallahualam,
Mahmud berkata
Dedi berkata
01/03/2013 pada 06:54
“Tidak ada seorang nabi pun antara aku dan Isa dan sesungguhnya ia benar-benar akan turun (dari langit), apabila kamu telah melihatnya, maka ketahuilah; bahwa ia adalah seorang laki-laki berperawakan tubuh sedang, berkulit putih kemerah-merahan. Ia akan turun dengan memakai dua lapis pakaian yang dicelup dengan warna merah, kepalanya seakan-akan meneteskan air waulupun ia tidak basah.”
===>>> Wah, wah, wah. Siapa yang nambahin kata “(dari langit)”. SUPERMAN kaleeeee. Aku udah punya tafsir hadits itu. Tapi, aku ingin tahu dari ente dulu.
Dedi berkata:
“Sekelompok dari ummatku akan tetap berperang dalam dalam kebenaran secara terang-terangan sampai hari kiamat,sehingga turunlah Isa bin Maryam ,maka berkatalah pemimpin mereka (Al Mahdi): “Kemarilah dan imamilah salat kami”. Ia menjawab;”Tidak, sesungguhnya sebagian kamu adalah sebagai pemimpin terhadap sebagian yang lain, sebagai suatu kemuliaan yang diberikan Allah kepada ummat ini (ummat Islam).”
“Tiba-tiba Isa sudah berada di antara mereka dan dikumandangkanlah salat,maka dikatakan kepadanya, majulah kamu (menjadi imam salat) wahai ruh Allah.” Ia menjawab:”Hendaklah yang maju itu pemimpin kamu dan hendaklah ia yang mengimami salat kamu”.
====>>>> Ada yang nambahin lagi dengan kata “(Al Mahdi)”, sehingga tafsirnya ERROR. Padahal, maksudnya adalah HMGA (Khalifah Allah, Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as – karena kesibukannya dalam menulis buku – tidak bisa ikut shalat berjamaah sehingga mempersilahkan yang paling senior dari pengikut beliau untuk menjadi imam shalat. Jika, jika Al Mahdi berbeda orangnya dengan Isa bin Maryam, maka hadits itu akan bertentangan dengan HR Musnad Ahmad bin Hambal yang menyatakan bahwa “Isa Ibnu Maryam akan menjadi Imam Mahdi”.
Dedi berkata:
Lihatlah dengan mata hati saudara, kesemua hadist tersebut tidak ada yang mengkualifikasikan nabi ummati atau nabi non ummati. Nabi dan rasul adalah sesuai dengan penegertian umum Islam.
Qadyani hanya mencari-cari alasan pembenaran bahwa MGA itu nabi dan rasul yang benar,
Islam selamanya tidak akan mengenal nabi baru, apalagi yang dikualifikasikan nabi syariat dan non syariat.
Juga dari gambaran tersebut tidak ada yang cocok dengan MGA, bahkan terlihat pada usaha MGA dengan membangun minarat / menara putih, di kota Qadyan sebagai pembenaran yang dibuat-buat.
===>>> Jangan pura-pura OON. Mata hati ente udah kena penyakit, hanya mengada-ada ingin menentang Allah dan Rasulullah saw, meskipun BUKTI NYATA sudah NAMPAK JELAS SEKALI.
Kapan ente punya ikatan baiat kalau penyakit ente dipelihara terus menutupi MATA HATI ente.
dedi berkata
Who are they really targeting?
When I was an undergraduate student, our MSA would setup tables at public venues to invite Jews, Christians, Hindus, agnostics and people of all faith to Islam. We were fairly successful and always welcomed dozens into the Deen (religion) every year.
Now compare this to the Ahmadis. If one analyzes their propagation efforts, it will be clear that they are less interested in members of other faiths. Rather, they more interested in calling Muslims from Islam to Ahmadiyya. Lets look at the writings, TV channel, organizational events and the behavior of average Ahmadis.
Writings
The books, articles and essays of Muslims are usually around issues of Beliefs, Islamic Law and Spirituality (ie, MuslimMatters). However, Ahmadi writings are almost exclusively geared towards calling Muslims from Islam to Ahmadiyya. For example, the books Invitation to Ahmadiyyat and With Love to the Muslims of the World do nothing but this. Other writings argue in favor of their Ahmadi-specific interpretations of the Qur’an. In fact, most of their books contain terminology or citations that non-Muslims might not even understand.
TV Channel
MTA comes in three languages: Urdu, Arabic and English. If their goal is to spread to the entire world, why have they chosen only those three specific languages? Why not, say, Mandarin Chinese which is spoken by roughly 1.1 billion people or Spanish, spoken by 500 million? The answer is obvious: because these three languages are largely spoken by the world’s Muslims.
Urdu – Primarily spoken in Pakistan and India amongst a nearly exclusive Muslim population
Arabic – Roughly 20% of the world’s Muslims, with some 85-90% of the native speakers adhering to Islam
English – While not exclusive to Muslims, it is the linga franca of today and understood by millions of Muslims worldwide
Organizational Events
When I first started making Da’wah to Ahmadis, I noticed that nearly all of them have the exact same arguments. This is because the organization holds events and programs to spread those arguments. For example, “National Tabligh Day”. This day consists almost exclusively of learning why Orthodox Islam is incorrect and teaching the standard Ahmadi arguments.
Actions of ordinary Ahmadis
Having maintained an informal relationship with many Ahmadis, I have come to know their habits. Their missionary students occasionally take trips to Muslim masjids and attempt to spread Ahmadi-specific ideas and beliefs in them. This behavior is replicated over websites such as YouTube, where nearly all Ahmadi accounts spread Ahmadi-specific beliefs rather than even general Islamic beliefs that we can all agree on. In some cases, their content is directed exclusively at portraying certain personalities in a negative light (ie, Look at those cave Mullahs!).
On a side note, many of these videos are used by anti-Islamic sources to spread hatred against Muslims.
But, what about their interfaith events?
Ahmadis do routinely sponsor interfaith events. That’s good. But, even in those events, there is less of an emphasis on Islam and more of an emphasis on Ahmadi-specific teachings. For example, rather than discussing Tawheed (Islamic monotheism) vs the Trinity, which is at the heart of Islam and Christianity and which dozens of ayaat of the Qur’an specifically address, they will argue over whether ‘Esa bin Maryam عليه اسلام survived the cross or not.
It appears that their main intention is to gain a sense of legitimacy as the representatives of Islam by portraying Muslims as terrorists and the like.
Conclusion
You might be wondering why Ahmadis focus more on Muslims than every other religion. The objective of the enemies of Islam is to take people away from Islam by any means possible. As such, they have less of an incentive to focus on Christians, Jews, Hindus. Those are people who already reject Islam. Instead, they are more interested in calling Muslims from Islam to Ahmadiyya. Ahmadiyya is yet another path of misguidance setup for this purpose. Conversely, we Muslims call people of all faiths, including Ahmadis, away from the deviant path of Mirza Ghulam Ahmad and to the path of the Prophet Muhammad صلى الله عليه و سلم.
May Allah guide our Ahmadi friends away from Ahmadiyya and to Islam.
Aameen…
dedi berkata
“Even though Ahmadiyya has been in this country for close to sixty years, I make the bold to say that, up till now, the vast majority of the adherents of the organization, within both the Movement and the Mission, are still in the dark about the details of its teaching, as well as its purpose. For example, it was only very recently, when stiff opposition to Ahmadiyyah started to rear its head in this country, that certain high-ranking Ahmadis knew for the first time that Mirza Ghulam Ahmad claimed to be a Prophet.” (Sunday Times, Nigeria, Jan. 20, 1974; ibid., p. 3)
“[The fact that Ahmadis hid their true doctrine from the membership at large is] evident in the fact that when one of the young educated Nigerian Muslims, who originally invited the Movement here, went to Britain for further studies and thereby came in contact with Indian Ahmadis, who resided then in Britain, he studied them at first hand and returned home only to withdraw his membership of the Movement. This was the late al-Haj L. B. Agusto of blessed memory.” (Sunday Times, Nigeria, Jan. 20, 1974; Ibid., p. 2)
Mahmud berkata
Dedi kembali kepada habitatnya, yakni mempercayai murtadin, padahal mereka adalah para penentang Allah dan Rasulullah saw.
dedi berkata
The Mind Is Like A Parachute Works Best When Open
Wallahualam,
dedi berkata
Mahmud berkata
02/03/2013 pada 00:53
Dedi kembali kepada habitatnya, yakni mempercayai murtadin, padahal mereka adalah para penentang Allah dan Rasulullah saw.
==> Saya tanya kepada saudara, apakah saudara yakin 100% dengan ajaran MGA ini???
Mari kita ambil pelajaran dari orang-orang yang benar dan orang yang kembali kepada jalan yang benar….
Istighfar, istighfar dan istighfar….
Wallahualam,
Masnunk berkata
Kalau boleh saya berpendapat maka :
1. Bilamana ada perselisihan (agama) diantara kaum muslim, hendaklah selalu kembali kepada Allah dan Rasul-Nya (tidak kepada yang lain) seperti apa yang pernah Allah SWT firmankan :
“……Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(An-Nisa’ : 59)
2. Bilamana ada perselisihan antara kaum Muslim dengan Ahmadiyah, maka hampir bisa dipastikan salah satu diantaranya adalah sesat, ingkar atau kafir karena (hakekatnya) kepahaman tentang Islam antara Muslim dengan Ahmadiyah sangat berbeda ibarat bumi dengan langit, artinya :
===> Bagi penganut Ahmadiyah, orang yg menentang ke-nabi-an MGA tentu dianggab sesat, ingkar.
“Kamu (MGA) adalah pemimpin yang diberkahi, LAKNAT ALLOH ATAS ORANG YANG KAFIR (mengingkarimu) (-) Kamu (MGA) adalah pemimpin yang diberkahi, LAKNAT ALLOH ATAS ORANG YANG KAFIR (mengingkarimu) (-) Kamu (MGA) adalah pemimpin yang diberkahi, LAKNAT ALLOH ATAS ORANG YANG KAFIR (mengingkarimu).”
(Tadzkirah, hal : 749)
===> Bagi kaum Muslim, orang yg mengakui ke-nabi-an MGA tentu dianggab sesat, ingkar.
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
(Al-Maaidah : 3)
Apakah ke-sempurna-an Al Qur’an seperti yang telah difirmankan Allah SWT masih juga perlu ditafsirkan dari sudut pandang / perspektif yang berbeda ?
3. Bilamana ada kabar baru yang belum diketahui kebenarannya, maka perlu meng-konfirmasi-kan informasi kebenaran itu :
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(Al Hujuraat : 6)
4. Sesungguhnya hidayah itu milik Allah :
“Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”
(QS. Al-Baqarah: 213)
“Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemberi petunjuk.”
(QS. Az-zumar:23).
“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Allah akan fahamkan dia dalam (masalah) agama.
Aku adalah Al-Qasim (yang membagi) sedang Allah Azza wa Jalla adalah Yang Maha Memberi.
Umat ini akan senantiasa tegak di atas perintah Allah, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang putusan Allah.”
(HR. Al-Bukhari).
Rasulullah bersabda : “Agama ini adalah nasehat”.
Kami (para sahabat) bertanya: “Untuk siapa (nasehat itu) wahai Rasulullah?”.
Rasullullah menjawab: “Untuk (mengajak ke jalan) Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan untuk Umat Islam, baik Pemimpin maupun Rakyatnya.”
(HR. Bukhari – Muslim)
La haula wa la quwwata illa billah, wallahu ‘alam bishawab….
Mahmud berkata
Dedi berkata
Saya tanya kepada saudara, apakah saudara yakin 100% dengan ajaran MGA ini???
Mari kita ambil pelajaran dari orang-orang yang benar dan orang yang kembali kepada jalan yang benar….
Istighfar, istighfar dan istighfar….
=====>>> Kebenaran hanya milik Allah Yang Maha Benar, Maha Mengetahui, bukan milik orang-orang yang anda anggap benar.
Untuk menegaskan kebenaran tentang sesuatu, Dia menyampaikannya lewat wahyu kepada Rasulullah saw yang Dia utus kepada sekalian manusia di bumi. Semua yang Dia wahyukan kepada Rasulullah saw tertuang dalam Al Quran dan Hadits yang di dalamnya terdapat nubuatan-nubuatan tentang akan diutus-Nya Khalifah Allah, Imam Mahdi & Masih Mau’ud as di akhir zaman, tepatnya pada tahun 1305 H.
TERNYATA, nubuatan-nubuatan dalam Al Quran dan Hadits tersebut telah tergenapi ketika pada tahun 1305 H, hanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, Hindustan yang mendakwakan diri sebagai Khalifah Allah, Imam Mahdi & Masih Mau’ud as dari antara kaum aakhorin. Dengan dukungan Allah, beliau as mendirikan Jemaat Ahmadiyah dan Dia memelihara Khilafat Rasyidah dalam Jemaat Ahmadiyah hingga sekarang. Pertolongan Allah telah datang dan Kemenangan Islam (An-Nashr 110:1-2) – untuk yang kedua kali – telah Dia anugerahkan kepada Rasulullah saw dan Imam Mahdi as, ketika ratusan juta manusia dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah lewat kinerja orang-orang Islam yang beriman dan beramal shaleh dalam Khilafat Jemaat Muslimin Ahmadiyah. Inilah BUKTI NYATA.
JANGAN PURA-PURA OON AH.
Mahmud berkata
Masnunk berkata
02/03/2013 pada 22:45
Kalau boleh saya berpendapat maka :
=====>>>> Pendapat ente memperlihatkan bahwa ente kagak tahu agama Islam, karena Jemaat Ahmadiyah adalah satu-satunya Jemaat Islam yang didirikan oleh Imam Mahdi atas perintah Allah.
Saat ini, kebanyakan umat Islam sedang menunggu-nunggu kedatangan Imam Mahdi, tetapi mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya menurut Al Quran & Hadits, Imam mahdi itu harus sudah datang.
Apakah ente sudah tidak lagi menunggu Imam Mahdi? JANGAN PURA-PURA ERROR.
Masnunk berkata
=====>>>> Pendapat ente memperlihatkan bahwa ente kagak tahu agama Islam, karena Jemaat Ahmadiyah adalah satu-satunya Jemaat Islam yang didirikan oleh Imam Mahdi atas perintah Allah.
Saat ini, kebanyakan umat Islam sedang menunggu-nunggu kedatangan Imam Mahdi, tetapi mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya menurut Al Quran & Hadits, Imam mahdi itu harus sudah datang.
Apakah ente sudah tidak lagi menunggu Imam Mahdi? JANGAN PURA-PURA ERROR.
Komentar saya :
Alhamdulillah, saya sudah menganggap cukup apa yang telah Nabi SAW tuntunkan.
Kalau anda membaca statement saya dengan tidak perlu pemahaman yang canggih tentu anda tidak perlu berkomentar “Apakah ente sudah tidak lagi menunggu Imam Mahdi? JANGAN PURA-PURA ERROR.”
Saat ini saya tidak sedang menunggu-nunggu (tdk ada kemanfaatannya) kedatangan Imam Mahdi seperti yang anda sangka, toh faktanya :
1. MGA sudah mati, hanya Ahmadiyah saja yang saya anggap “Galau”.
2. masyarakat Muslim banyak yang menentang
3. Negara-negara Islam tdk mengakui sebagai komunitas Muslim
4. MUI menganggap sesat.
Anda ini aneh bin ajaib (mungkin masih anak-anak ya), saya menjawab dan membuat pernyataan yang tentunya akan dipertanggung jawabkan di akhirat dan terlepas ada perbedaan akidah dengan anda, lho kok bisa-bisanya menuduh :
“Apakah ente sudah tidak lagi menunggu Imam Mahdi? JANGAN PURA-PURA ERROR.”
Kalau tolok ukurnya cuma Copy Paste sana-sini bagaimana mungkin bisa ilmiah, maka berpikir dulu sebelum berucap ya.
Astaghfirullah…………..
Masnunk berkata
@Dedi
Mas, anda dapat peringatan oleh si @Mahmud : “JANGAN PURA-PURA OON AH.”
Sedangkan saya : ” JANGAN PURA-PURA ERROR.”
Kita bersabar saja tidak usah ditanggapi, eeee…….. barangkali @Mahmud masih anak-anak yang secara psikologis merasa lebih pintar.
Innallaha ma’ashabirin (Sesungguhnya Allah itu amat dekat dengan orang yang sabar)
Mahmud berkata
Masnunk berkata
Saat ini saya tidak sedang menunggu-nunggu (tdk ada kemanfaatannya) kedatangan Imam Mahdi seperti yang anda sangka, toh faktanya :
1. MGA sudah mati, hanya Ahmadiyah saja yang saya anggap “Galau”.
2. masyarakat Muslim banyak yang menentang
3. Negara-negara Islam tdk mengakui sebagai komunitas Muslim
4. MUI menganggap sesat.
=====>>>>> Oooh, kalau begitu ente bukan pengikut Nabi Muhammad saw, karena ente tidak percaya kepada ayat suci Al Quran dan Hadits yang menubuatkan tentang kedatangan Imam Mahdi & Masih Mau’ud.
1. Ente kagak paham bahwa setelah Rasulullah saw wafat pun ada Khilafat Rasyidah (Khulafa-ur-Rasyidiin) ra yang menurut Rasulullah saw, sunnah mereka harus dipegang teguh oleh umat Islam (HR Sunan Abu Daud). Begitupula setelah Imam Mahdi / Masih Mau’ud as wafat, ada Khilafat Rasyidah yang melanjutkan Dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
2. Masyarakat Muslim banyak yang menentang, tetapi Jemaat Ahmadiyah tetap berdiri kokoh dan semakin berkembang dan menyebar ke seluruh pelosok dunia. Artinya kedatangan HMGA adalah benar-benar sesuai dengan ayat-ayat suci Al Quran (Yaasiin 36:30 & Az-Zukhruf 43:6&57).
3. Yang paling penting, pengakuan dari Allah Yang Maha Kuasa, Maha Bijaksana & Maha Mengetahui. Pengakuan dari negara-negara Islam tidak lebih penting daripada orang-orang yang berada dalam negara-negara Islam itu sudah banyak yang mengakui menerima dan bergabung ke dalam Jemaat Ahmadiyah.
4. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya (Al Qalam 68:7). MUI tidak lebih mengetahui daripada Allah Yang Maha Mengetahui.
JANGAN PURA-PURA ERROR AH.
Mahmud berkata
Masnunk berkata:
Anda ini aneh bin ajaib (mungkin masih anak-anak ya), saya menjawab dan membuat pernyataan yang tentunya akan dipertanggung jawabkan di akhirat dan terlepas ada perbedaan akidah dengan anda, lho kok bisa-bisanya menuduh :
“Apakah ente sudah tidak lagi menunggu Imam Mahdi? JANGAN PURA-PURA ERROR.”
====>>>> Yang ANEH itu adalah mereka yang menuduh Ahmadiyah bukan Islam, padahal segala sesuatunya Islam. Yang membedakan, Ahmadiyah sudah menerima Imam Mahdi, umat Islam yang lain masih menunggu-nunggu, karena itu masih bercerai-berai seperti ayam kehilangan induknya.
JANGAN PURA-PURA ERROR DONG.
Masnunk berkata
@Mahmud
Terserah anda, walapun anda mengatakan : “Oooh, kalau begitu ente bukan pengikut Nabi Muhammad saw, karena ente tidak percaya kepada ayat suci Al Quran dan Hadits yang menubuatkan tentang kedatangan Imam Mahdi & Masih Mau’ud.”
+ dengan tafsir-tafsir Qur’an versi anda + pernyataan anda “JANGAN PURA-PURA ERROR AH.”
Sekali lagi saya jelaskan dan tegaskan dalam memahami ke-Islam-an melalui Qur’an dan Hadits, saya :
1. tidak butuh “keimam-mahdian” MGA
2. tidak butuh pemahaman ala Ahmadiyah baik Qadiyan ataupun Lahore, apalagi dakwah anda.
APAKAH BISA DIPAHAMI ?
Apabila anda tidak paham syukur alhamdulillah, saya “tidak mau” men-justifikasi anda dengan mengatakan : “JANGAN PURA-PURA ERROR AH”
La haula wa la quwwata illa billah, wallahu ‘alam bishawab….
HMMH berkata
Setelah lelah berdiskusi, tak ada salahnya kita merenung sejenak dan berfikir :
MENGAPA AL-QURAN SULIT DISESATKAN, DIPALSUKAN BAHKAN DILENYAPKAN OLEH KAUM KAFIR SEHINGGA TETAP TEGAK DAN BERSINAR HINGGA AKHIR JAMAN ?
Jawabannya tak lain adalah karena ALLAH SWT SENDIRI TELAH MENJAMINNYA DALAM AL-QURAN melalui Kalimah-Nya dalam Surat Al-Hijr ayat 9 sbb :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami BENAR-BENAR MEMELIHARANYA (Al-Hijr : 9)
Bahkan saking pastinya jaminan dari Allah SWT akan KEOTENTIKAN AL-QURAN hingga akhir jaman, Allah SWT sampai MEMBERIKAN TANTANGAN kepada kaum kafir sbb :
PERTAMA
Yang paling berat adalah tantangan Allah SWT kepada kaum kafir untuk membuat KITAB SUCI YANG SETARA DENGAN AL-QURAN, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Ath-Thur ayat 34 :
فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ
Yang artinya :
Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat YANG SEMISAL AL-QURAN itu jika mereka orang-orang yang benar.(QS. 52:34)
KEDUA
Yang lebih ringan dari tantangan yang pertama adalah tantangan Allah SWT kepada kaum kafir untuk membuat
BEBERAPA SURAT SAJA sebagaimana Allah SWT berfirman dalam SURAT HUD AYAT 13 :
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Yang artinya :
Bahkan mereka mengatakan: `Muhammad telah membuat-buat Al quran itu`. Katakanlah: ` (Kalau demikian), maka DATANGKANLAH SEPULUH SURAT-SURAT YANG DIBUAT-BUAT YANG MENYAMAINYA, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar`.(QS. 11:13)
KETIGA
Yang lebih ringan dari tangan kedua adalah tantangan Allah SWT kepada kaum kafir untuk membuat SATU SURAT SAJA, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam SURAT YUNUS AYAT 38 :
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Yang artinya :
Atau (patutkah) mereka mengatakan:` Muhammad membuat-buatnya. `Katakanlah:` (Kalau benar yang kamu katakan itu), maka COBALAH DATANGKAN SEBUAH SURAT SEUMPAMANYA dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. `(QS. 10:38)
KEEMPAT
Yang lebih ringan dari tantangan yang ketiga dalm yang paling ringan dari seluruh tantangan di atas adalah tantangan Allah SWT kepada kaum kafir untuk membuat AYAT-AYAT SUCI AL-QURAN sebagaimana Allah SWT berfirman dalam SURAT AL-BAQARAH AYAT 23 :
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Yang artinya :
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), BUATLAH SATU SURAT (SAJA) YANG SEMISAL AL-QURAN itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar.(QS. 2:23)
Oleh karena tak ada seorang kafir pun yang sanggup memenuhi tantangan Allah SWT di atas, maka kaum kafir umumnya CUMA MAMPU MENJIPLAK, MEMODIFIKASI ATAU MENYESATKAN MAKNANYA untuk kepentingannya belaka, yakni berusaha untuk menjerumuskan orang-orang mukmin dari jalan yang lurus, yaitu jalan yang diridhoi Allah SWT. Mengenai pekerjaan kotor kaum kafir yang suka menjiplak ayat-2 suci Al-Quran untuk kemudian memodifikasi tulisan atau menyesatkan maknanya telah Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 79 :
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـٰذَا مِنْ عِندِ اللَّـهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ
Yang artinya :
Maka KECELAKAAN YANG BESARLAH bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: `Ini dari Allah`, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka KECELAKAAN BESARLAH bagi mereka, KARENA APA YANG DITULIS OLEH TANGAN MEREKA SENDIRI, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang mereka kerjakan.(QS. 2:79)
APAKAH YANG DIMAKSUD KECELAKAAN BESAR BAGI ORANG-2 KAFIR DI SINI ?
Allah SWT berfirman dalam surat ATH-THUR AYAT 11-13 yang artinya :
Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan,(QS. 52:11)
(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan,(QS. 52:12)
pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat-kuatnya.(QS. 52:13)
Naudsubilahiminzalik !!!
BETAPA TAK SEIMBANGNYA UPAH YANG DIDAPAT DENGAN RESIKO YANG BAKAL DITANGGUNG OLEH ORANG-ORANG KAFIR YANG BERMAIN-MAIN DENGAN KITAB SUCI AL-QURAN.
Masnunk berkata
@HMMH
Ha ha ha ha ha …….
dedi berkata
Mahmud berkata
03/03/2013 pada 08:04
Kebenaran hanya milik Allah Yang Maha Benar, Maha Mengetahui, bukan milik orang-orang yang anda anggap benar.
==> Kebenaran hanyalah milik Allah SWT, juga orang-orang yang saya anggap benar, yaitu Nabi Muhammad SAW, para sahabat Beliau, para ulama yang mukhlisin yang selalu berpedoman pada Al Quran dan Hadist Nabi SAW.
Maka sebagaimana Beliau, Nabi SAW, sudah sampaikan bahwa tidak ada nabi antara Beliau dan Nabi Isa AS, maka itulah kebenaran yang disampaikan Beliau. Al Quran pun menyampaikan demikian, bahwa Beliau adalah Nabi Penutup. Cukup sudah ajaran Islam ini disampaikan oleh Nabi SAW, sebagaimana Beliau sampaikan pada waktu Haji Perpisahan….
Kita tunggu saja waktu kembalinya para pengikut Qadyani lainnya untuk mendapatkan Hidayah Allah kepada Islam… Insya Allah…
Wallahualam,
dedi berkata
@Masnunk
Innallaha ma’ashabirin (Sesungguhnya Allah itu amat dekat dengan orang yang sabar)
==> Benar ya ikhwan, semoga Allah menganugerahkan kita kesabaran hingga mendapat balasan di akhirat seperti yang disebut pada Al Quran:
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.’ QS 4:69
Insya Allah…
Mahmud berkata
JANGAN PURA-PURA OON AH
JANGAN PURA-PURA ERROR AH
Dua kalimat penutup yang membuat Dedi & Masnunk memelas SAKIT HATI.
Bagaimana yah rasanya kalau dikatakan SESAT, MENYESATKAN, KAFIR, DI LUAR ISLAM?
Baru aja segitu, he ha he ha he ha…………………………………………………………………………..
Mahmud berkata
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.’ QS 4:69
=====>>>> Kalau terjemahannya seperti, maka orang yang menta’ati Allah dan Rasul, untuk menjadi orang shaleh pun tidak ada kemungkinan sama sekali.
Mahmud berkata
APAKAH TUAN HMMH SUDAH PAHAM?
Itu adalah kalimat terakhir dalam komentar saya nomor 57. Karena HMMH tidak lagi mengomentarinya, maka saya anggap HMMH sudah paham atau setuju. Begitu bukan?
Masnunk berkata
Kamu itu :
“JANGAN PURA-PURA OON AH”
“JANGAN PURA-PURA ERROR AH”
Oh………. sakiiiiit hatiku (sambil memelas ihik-ihik)
Ha ha ha ha, masya Allaaah……………
La haula wa la quwwata illa billah, wallahu ‘alam bishawab….
Mahmud berkata
Kebenaran hanyalah milik Allah SWT, juga orang-orang yang saya anggap benar, yaitu Nabi Muhammad SAW, para sahabat Beliau, para ulama yang mukhlisin yang selalu berpedoman pada Al Quran dan Hadist Nabi SAW.
Maka sebagaimana Beliau, Nabi SAW, sudah sampaikan bahwa tidak ada nabi antara Beliau dan Nabi Isa AS, maka itulah kebenaran yang disampaikan Beliau. Al Quran pun menyampaikan demikian, bahwa Beliau adalah Nabi Penutup. Cukup sudah ajaran Islam ini disampaikan oleh Nabi SAW, sebagaimana Beliau sampaikan pada waktu Haji Perpisahan….
===>>> Diriwayatkan oleh Ali bin Abu Thalib ra bahwa Rasulullah saw: “Aku dibangkitkan sebagai Pembuka dan Penutup (para nabi)” (Kazul Ummal).
Kenabian apa yang ditutup oleh Nabi Muhammad saw?
Kenabian apa yang dibuka oleh Nabi Muhammad saw?
Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as -> (tidak ada nabi) -> Rasulullah saw -> Imam Mahdi/Masih Mau’ud as.
dedi berkata
“Aku adalah Muhammad, dan aku adalah Ahmad, aku adalah Al-Mahi (yang menghapus) yang kekafiran dihapuskan melalui (perantaraan) aku, aku adalah Al-Hasyir yang mana manusia dikumpulkan (setelah tegaknya hari kiamat) setelah diutusnya aku, dan aku adalah al-‘aqib (penutup) yang tidak ada nabi setelahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 3339 dan Muslim no. 2354)
Jika ada hadist yang bertentangan dengan Al Quran maka wajib bagi kita untuk tidak mengikuti hadist tersebut. Hadist di atas adalah shahih, karena berkesesuaian dengan Al Quran.
Maka dalil-dalil Qadyani adalah lemah, apalagi dengan menyalahi tafsir umum Ummat Islam…
Wallahualam,
dedi berkata
Mahmud berkata
03/03/2013 pada 21:07
=====>>>> Kalau terjemahannya seperti, maka orang yang menta’ati Allah dan Rasul, untuk menjadi orang shaleh pun tidak ada kemungkinan sama sekali.
==> Jaminannya adalah seperti yang dijelaskan pada asbabun nuzulnya ayat tersebut, bahwa Ummat Islam yang beramal shaleh nanti di AKHIRAT akan ditempatkan bersama-sama orang yang mati syahid, dsb. juga dengan para nabi.
Masalah apakah kita adalah termasuk/menjadi orang yang shaleh/syahid dsb. adalah hanya Allah SWT sendiri yang menentukannya…
Wallahualam,
Mahmud berkata
Dedi berkata
04/03/2013 pada 06:43
“Aku adalah Muhammad, dan aku adalah Ahmad, aku adalah Al-Mahi (yang menghapus) yang kekafiran dihapuskan melalui (perantaraan) aku, aku adalah Al-Hasyir yang mana manusia dikumpulkan (setelah tegaknya hari kiamat) setelah diutusnya aku, dan aku adalah al-‘aqib (penutup) yang tidak ada nabi setelahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 3339 dan Muslim no. 2354)
Jika ada hadist yang bertentangan dengan Al Quran maka wajib bagi kita untuk tidak mengikuti hadist tersebut. Hadist di atas adalah shahih, karena berkesesuaian dengan Al Quran.
====>>>Diriwayatkan oleh Ali bin Abu Thalib ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Aku dibangkitkan sebagai Pembuka dan Penutup (para nabi)” (Kanzul Ummal). Hadits ini tidak bertentangan dengan Al Quran, karena Nabi Muhammad saw tetap sebagai Khataman-Nabiyyin atau Penutup Para Nabi yang membawa syari’at dan sebagai Pembuka Para Nabi yang taat sempurna kepada Nabi Muhammad saw (An-Nisa 4:69).
Dedi berkata:
Maka dalil-dalil Qadyani adalah lemah, apalagi dengan menyalahi tafsir umum Ummat Islam…
====>>> Ummat Islam yang bercerai-berai sudah sangat lemah, dan akan menjadi kuat jika bersatu dalam Jemaat Islam yang didirikan oleh Imam Mahdi atas perintah Allah.
Mahmud berkata
Dedi berkata
Jaminannya adalah seperti yang dijelaskan pada asbabun nuzulnya ayat tersebut, bahwa Ummat Islam yang beramal shaleh nanti di AKHIRAT akan ditempatkan bersama-sama orang yang mati syahid, dsb. juga dengan para nabi.
Masalah apakah kita adalah termasuk/menjadi orang yang shaleh/syahid dsb. adalah hanya Allah SWT sendiri yang menentukannya…
===>>>> Masalah apakah kita akan termasuk/menjadi orang yang shaleh, syahid, shiddiq atau nabi hanya Allah Yang Maha Kuasa, Maha Bijaksana yang menentukannya. PINTER, PINTER, PINTER. Berarti Allah telah memberikan peluang kepada umat Islam untuk menjadi Nabi Ummati (An-Nisa 4:69).
dedi berkata
ما كان محمّدٌ آبآ احدٍ من رّجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبيين وكان الله بكلّ شيئٍ عليماً (الأحزاب:40)
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab 33:40)
1. Ibnu Katsir
فهذه الآية نص في أنه لانبي بعده وإذا كان لا نبي بعده فلا رسول بالطريق الأولى والأحرى لأن مقام الرسالة أخص من مقام النبوة فإن كلّ رسول نبى ولا ينعكس وبذلك وردت الأحاديث المتواترة عن رسول الله صلى لله عليه وسلّم من حديث جماعة من الصحابة رضي الله عنهم. (تفسير إبن كثير ص 493 ج 3)
Ayat ini merupakan nash yang menjelaskan bahwa tidak ada nabi lagi sesudahnya. apabila tidak ada nabi lagi sesudahnya maka tidak ada rasul lagi yang lebih utama dan lebih pantas. Karena jabatan kerosulan lebih khusus daripada jabatan kenabian, maka setiap rasul adalah nabi dan bukan sebaliknya. Karena itu banyak banyak hadits-hadits yang mutawatir dari Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh sekumpulan para sahabat r.a. (Tafsir Ibnu Katsir hal.193 jilid 3)
2. Imam Qurtubi
قال إبن عطية هذه الألفاظ عند جماعة علماء الأمة خلفا وسلفا متلقاة على العموم التام مقتضية نصا أنه لا نبي بعده صلى الله عليه وسلّم. (تفسير قرطبي 196 ج 14)
Imam Qurtubi menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
Ibnu ‘Athiyah berkata,” lafazh-lafazh ayat ini menurut para ulama ummat ini sekarang maupun yang terdahulu menunjukkan kepada umum, ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad saw. (Tafsir Qurtubi hal.196 jilid 14)
3. Hujjatul Islam, Imam Ghazali
إنّ الأمة فهمت بالإجماع من هذا اللفظ ومن قرائن أحواله أنه أفهم عدم نبي بعده أبدا وعدم رسول الله أبدا وأنه ليس فيه تأويل ولا تخصيص فمنكر هذا لا يكون إلا منكر الإجماع. (الإقتصاد في الإعتقاد ص 123)
Sesungguhnya ummat ini telah memahami berdasarkan ijma’ (kesepakatan) dari lafazh ayat ini dan dari qarinah (keterangan pendukung)nya, telah dipahami dari ayat ini, Bahwa tidak ada nabi lagi setelahnya (Muhammad saw) dan tidak ada rasulullah selama-lamanya. Dan bahwa tentang masalah ini tidak ada penakwilan dan pentakhsisan (pengecualian), maka orang yang mengingkari hal ini termasuk orang yang meningkari ijma’ (kesepakatan).(Al-Iqtishad fil ‘Itiqad hal.123)
4. Ibnu Hazm
وقد صح عن رسول لله عليه وسلّم بنقل الكواف التي نقلت نبوته وأعلامه وكتابه أنه أخبر أنه لا نبي بعده. (كتاب الفصل ص 77 ج 1)
Ibnu Hazm berkata, “Sungguh terdapat khabar yang shahih dari Rasulullah saw yang didasarkan pada penukilan yang banyak yang berisi tentang kenabian, kemukjizatannya dan kitabnya (al-Qur’an), yang menginformasikan tidak ada lagi nabi setelahnya.” (Kitabul Fashl hal.77 jilid1)
5. Al-Allamah Syed Mahmud Al-Alusi
وكونه صلى الله عليه وسلّم خاتم النبيين مما نطق به الكتاب وصدعت به السنة وأجمعت عليه الأمة فيكفر مدعى خلافه ويقتل إن أصر. (روح المعانى ص 41 ج 22)
Al-Allamah Syed Mahmud Al-Alusi menulis dalam Tafsir Ruhul Ma’ani di bawah hadits Khatamunnabiyyin: Rasulullah saw adalah penutup para nabi berdasarkan keterangan al-Qur’an yang diperkuat oleh sunnah (hadits) dan sudah menjadi ijma’ ummat, maka kafirlah orang yang menyelisihinya dan orang itu harus dibunuh jika terus melakukannya.(Ruhul Ma’ani hal.41 jilid 22)
Hadist-hadist Nabi SAW:
1. Dari Tsauban r.a ia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya akan muncul pada ummatku ini 30 pendusta, semuanya mengaku sebagai nabi sedangkan aku sebagai penutup para nabi yang tidak ada lagi nabi sesudahku.(Abu Dawud hal.228 jilid 2 dan lafazh itu darinya, Attirmidzi hal.45 jilid 2)
2. Dari Anas bin Malik RA berkata, telah bersabda Rasulullah SAW sesungguhnya risalah dan kenabian telah terputus maka tidak ada lagi nabi dan rasul sesudahku.(HR. At-Tirmidzi hal.51 jilid 2, Musnad Ahmad hal.267 jilid 3)
3. Dari Abu Hurairah RA sesunggunya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Kita adalah ummat yang terakhir datang tetapi paling awal pada hari kiamat, padahal mereka diberi kitab sebelum kita.”(Shahih Bukhari hal.120 jilid 1 dan lafazh itu miliknya, Shahih Muslim hal.282 jilid 1)
4. Dari Aisyah r.a dari Nabi saw beliau bersabda,”Aku penutup para nabi dan masjidku adalah masjid penutup para nabi.”(Kanzul Ummal hal.280 jilid 12 hadits no.34999)
5. Dari Abu Hurairah r.a ia berkata, telah bersabda Rasulullah saw,”Aku adalah nabi pertama yang diciptakan dan yang terakhir diantara yang mereka yang diutus.”(Kanzul Ummal hal.402 jilid 11 hadits no.32126)
6. Dari Arbadh bin Sariyah r.a berkata, telah bersabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya aku disisi Allah adalah penutup para nabi di Lauh mahfuzh, sedangkan Adam a.s masih dalam proses penciptaan.”(Majmauz Zawaid hal.223 jilid 8, Musnad Ahmad hal.128 jilid 4, Mustadrak al-Hakim hal.600 jilid 2 dan lafazh ini miliknya, Kanzul Ummal jilid 11 hadits no. 31960-32114)
7. Dari Jabir r.a bahwa Rasulullah saw bersabda, “Aku adalah pemimpin para rasul tetapi aku tidak bangga, dan aku adalah penutup para nabi tetapi aku tidak bangga, dan aku adalah orang yang pertama memberi syafaat dan syafaatku itu yang paling pertama tetapi aku tidak bangga.”(Sunan Ad-Darimi hal.31 jilid 1, Kanzul Ummal hal.404 jilid 11 hadits no.31883)
8. Dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a ia berkata,”Pada suatu hari Rasulullah keluar kepada kami seperti orang yang akan berpisah selamanya lalu beliau bersabda,”Aku Muhammad seorang nabi yang ummi tiga kali dan tidak ada nabi lagi sesudahku.”( Musnad Ahmad hal.172, 212 jilid 2)
9. Dari Abu Hurairah r.a tentang hadits Isra: Bahwa Muhammad saw memuji kepada Tuhan-Nya lalu ia berkata,”semua dari kalian memuji kepada Tuhannya sedangkan aku memuji kepada Tuhanku Segala puji bagi Allah yang telah mengutusku sebagai rahmat atas seluruh alam dan semua manusia, sebagai pemberi kabar gembira dan ancaman dan al-Qur’an diturunkan kepadaku sebagai penjelas atas segala sesuatu dan Dia menjadikan ummatku yang pertengahan; mereka telah menghilangkan bebanmu dan Dia telah meninggikan sebutanku dan Dia telah menjadikan aku sebagai pembuka dan penutup – lalu berkata Ibrahim saw berdasarkan ini maka Muhammad telah mengutamakan kalian.”(Majmauz Zawaid hal.69 jilid 1)
10. Lalu Tuhannya Tabaaraka wa Ta’ala berkata,”Aku sungguh telah menjadikanmu sebagai kekasih dan itu tertulis dalam Taurat Muhammad saw kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan Aku telah mengutusmu kepada seluruh manusia dan Aku telah menjadikan ummatku sebagai ummat yang pertama dan yang terakhir…. Dan Aku telah menjadikanmu sebagai pembuka dan penutup (para nabi).(Majmauz Zawaid hal. 71 jilid 1)
11. Dari Abi Said tentang hadits Isra: “Kemudian ia berjalan hingga sampai ke Baitul Maqdis, lalu beliau turun dan mengikat kudanya ke batu. Kemudian beliau masuk lalu shalat bersama para malaikat, ketika shalat sudah dilaksanakan mereka (Malaikat) bertanya,”Wahai Jibril siapa orang yang bersamamu ini?” Dia menjawab,”Ini Muhammad penutup para nabi.”(Al-Mawahib Al-Laduniyah hal.17 jilid 2)
12. ”Aku adalah nabi terakhir sedangkan kalian adalah ummat terakhir. (Ibnu Majah hal.297)
13. Nabi saw bersabda ketika Haji Wada,”Tidak ada nabi lagi setelahku dan tidak ada ummat lagi setelah kalian.”(Majmauz Zawaid hal.273 jilid 3, Kanzul Ummal hal.947 jilid 15 hadits no.43638)
Wallahualam,
dedi berkata
Mahmud berkata
04/03/2013 pada 12:15
Berarti Allah telah memberikan peluang kepada umat Islam untuk menjadi Nabi Ummati
==> Kata-kata tambahan/rekayasa dari orang Qadyani yang ngga ada dalam kajian ulama-ulama Islam terdahulu juga menyelisihi Al Quran dan hadist-hadist Nabi SAW….
Monggo ajukan wahyu-wahyu MGA yang menyatakan dia adalah nabi dan rasul… Takut dan malu????
Makanya kita ajak untuk beristighfar dan mengingatkan dengan Firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat: 6).
Wallahualam,
dedi berkata
Pengertian yang sebenarnya:
Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as -> Rasulullah saw -> (tidak ada nabi) -> Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as
Wallahualam,
Mahmud berkata
Dedi berkata
04/03/2013 pada 16:33
Pengertian yang sebenarnya:
Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as -> Rasulullah saw -> (tidak ada nabi) -> Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as
====>>>>Binggooooooooooooooo, ternyata Dedi PINTER JUGA (TIDAK PURA-PURA OON LAGI YAH).
Memang, dalam waktu dekat setelah Rasulullah saw tidak ada nabi. Tetapi, setelah itu ada Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as.
Pertanyaannya, siapakah Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as itu?
1. Apakah Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as yang sudah wafat itu? atau
2. Apakah perumpamaan Ibnu Maryam (Az-Zukhruf 43:57), Khalifatullah, Al Mahdi (HR Ibnu Majah)?
SILAHKAN JAWAB ANAK PINTER.
Mahmud berkata
@ Dedi
Dari ke-13 Hadits yang anda tampilkan, memang harus dan telah diakui oleh Jemaat Ahmadiyah bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi Terakhir atau Nabi Penutup. Jadi, umat Islam tidak usah gelisah jika ada orang yang mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad saw, karena jika dia berbohong, maka Allah sendiri yang akan menghukumnya. Tetapi, yang jelas anda setuju bahwa setelah Nabi Muhammad saw, Allah akan mengutus Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as dan Imam Mahdi sebagai Khalifatullah. Begitu bukan?
dedi berkata
Monggo ajukan wahyu-wahyu MGA yang menyatakan dia adalah nabi dan rasul… Takut dan malu????
Wallahualam,
Mahmud berkata
Dedi berkata
04/03/2013 pada 18:32
Monggo ajukan wahyu-wahyu MGA yang menyatakan dia adalah nabi dan rasul… Takut dan malu????
====>>>> Ha ha ha, jangan terburu-buru ingin mencemoohkan. Jawab dulu pertanyaan saya, yang jelas anda setuju bahwa setelah Nabi Muhammad saw, Allah akan mengutus Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as dan Imam Mahdi sebagai Khalifatullah. Begitu bukan?
Mahmud berkata
@ Dedi
Yang ini juga belum dijawab:
Pertanyaannya, siapakah Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as itu?
1. Apakah Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam as yang sudah wafat itu? atau
2. Apakah perumpamaan Ibnu Maryam (Az-Zukhruf 43:57), Khalifatullah, Al Mahdi (HR Ibnu Majah)?
SILAHKAN JAWAB ANAK PINTER.