Banjir Jakarta dan Maksiat Tahun Baru
Posted by KabarNet pada 22/01/2013
Jakarta direndam banjir. Itulah fakta yang terjadi pada Kamis, 17 Januari 2013 lalu. Kawasan Bunderan HI, Jalan MH Thamrin, yang selama ini belum pernah terkena banjir parah, lumpuh total.
Peristiwa ini terjadi persis 17 hari setelah di tempat yang sama, pada malam tahun baru lalu digelar Jakarta Free Night, yang merupakan ide dari Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, dengan mendirikan 16 panggung di 16 titik sepanjang Thamrin-Sudirman dengan berbagai macam hiburan mulai dari gambus, gambang kromong, keroncong, campursari, dangdut hingga band pop. Masyarakat Jakarta yang larut dalam hura-hura perayan tahun baru ‘tumplek bleg’ di sana semua.
Sangat tepat jika Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Syihab saat banjir melanda mengatakan, “Setelah Sudirman – Thamrin diisi FESTIVAL MAKSIAT oleh JOKOWI pada malam Tahun Baru, kini saatnya ALLAH SWT menyapu kotoran maksiatnya dengan BANJIR se-Jakarta. Ayo, JOKOWI mau beli musibah dengan maksiat apa lagi ??!!”
Hingga tulisan ini dimuat banjir Jakarta belum selesai. Korban meninggal sudah mencapai 20an orang. Kerugian belum terhitung. Ribuan masyarakat terpaksa diungsikan. Dan pemandangan yang unik adalah taktala orang-orang kaya dari etnis tertentu yang tinggal di kawasan elit Pluit, Jakarta Utara. Mereka juga terpaksa harus diungsikan dengan berbagai peralatan yang ada, meninggalkan rumah-rumah mewah dan mobil-mobil mewah mereka yang terendam banjir.
Secara teknis, banjir yang melanda Jakarta pada Januari 2013 ini berbeda dengan banjir pada Januari-Februari 2007 lalu. Curah hujan yang turun ternyata lebih kecil jika dibandingkan dengan data curah hujan harian saat terjadi banjir besar pada 2007. Namun dampaknya hampir setara. Luapan Sungai Ciliwung merendam kawasan di Jatinegara dan daerah lain yang dilintasinya. Ini persis sama seperti ketika banjir besar melanda Jakarta lima tahun lalu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan curah hujan harian tertinggi di Jakarta pada Selasa dan Rabu pagi (15-16) hanya sekitar 100 milimeter. Angka itu jauh lebih rendah dibanding rekor curah hujan tertinggi dalam satu hari yang terjadi pada Januari 2007 yang mencapai 340 milimeter. Curah hujan sepanjang Januari ini yang diprediksi 300-400 mm juga dianggap masih normal.
Curah hujan di kawasan Puncak juga lebih rendah dibandingkan lima tahun lalu. Pada 2007 lalu, curah hujan selama sebulan di kawasan Puncak bahkan bisa mencapai 640 mm, dengan curah hujan maksimum harian adalah 136 mm.
Sementara sekarang, hujan sepanjang tiga hari lalu jauh lebih sedikit. “Senin sebesar 22,6 mm, Selasa 74,2 mm, dan Rabu 61,4 mm,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas 1 Darmaga Bogor, Nuryadi, Rabu 16 Januari 2013.
Ini membuktikan bahwa banjir di Jakarta adalah akibat debit Ciliwung meningkat drastis. Kenaikan debit Ciliwung ini terkait dengan rusaknya kawasan hulu sungai itu di Puncak.
Kepala Pusat Studi Bencana Institut Pertanian Bogor, Euis Sunarti, membenarkan. Menurutnya, meski curah hujan di kawasan hulu Ciliwung-Cisadane lebih kecil, dampak ke Jakarta lebih hebat karena daya serap air di kawasan Puncak, Bogor, sudah semakin lemah. Berdasarkan kajian dengan citra satelit, keseimbangan ekologis kawasan Puncak pada awal tahun ini merosot hingga 50 persen dibanding pada 15 tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, sungai-sungai di Jakarta semakin kehilangan kemampuan mengalirkan air hingga 70 persen karena penyempitan dan pendangkalan. Kondisi ini dan yang terjadi di Puncak bermuara pada banjir di Jakarta yang semakin parah.
Pertanyaannya, apakah musibah banjir itu hanya akibat faktor-faktor alam di atas?. Ataukah ada hal non teknis lain yang turut andil bagian?. Padahal, berkaca pada musibah gempa yang pernah terjadi pada masyarakat Islam Madinah saat dipimpin Khalifah Umar bin Khatab, beliau langsung menginstruksikan masyarakat aar menjauhi maksiat dan bertaubat kepada Allah SWT. Saat itu Khalifah Umar mengatakan, “Wahai bumi adakah aku berbuat tidak adil?” lalu berkata lantang, “Wahai penduduk Madinah, adakah kalian berbuat maksiat? Tinggalkan perbuatan itu, atau aku akan meninggalkan kalian!”.
Nah, sekarang, apakah Presiden SBY atau Gubernur Jakarta Jokowi melakukan apa yang telah dilakukan Umar?. Nyatanya tidak.
MAKSIAT SEBAB BENCANA
Untuk mengetahui adakah hubungan antara bencana, apakah gempa bumi, banjir, tsunami, kelaparan, krisis pangan, kemarau berkepanjangan, tenggelamnya kapal, jatuhnya pesawat, dan sebagainya, saya ingin mengetengahkan kepada pembaca dua ayat dallam Al-Qur’an yang difirmankan Allah SWT dalam dua surat yang berbeda. Surat Ar-Ruum ayat 41 dan surat As-Syuura ayat 30.
Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Ruum: 41, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Untuk memahami ayat itu, Ustadz Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya, Shafwatut Tafasir, menjelaskan sebagai berikut:
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, tampaklah musibah dan petaka di darat dan lautan karena perbuatan maksiat dan dosa umat manusia. Al-Baidhawi berkata: Yang dimaksudkan kerusakan adalah paceklik, banyak kebakaran, tenggelam, sirnanya berkah dan banyaknya kerugian karena maksiat manusia. Ibnu Katsir berkata, jelaslah bahwa kerusakan pada tanaman dan buah-buahan adalah akibat kemaksiatan manusia, sebab baiknya bumi dan langit adalah berkat ketaatan.
Supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, hal itu agar Allah membuat mereka merasakan sebagian akibat dari perbuatan mereka di dunia sebelum menghukum mereka semuanya dengan hal itu di akhirat. agar mereka kembali (ke jalan yang benar), agar mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat serta dosa yang ada pada mereka.
Sedangkan dalam QS Asy-Syuura ayat 30, Allah SWT berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
Terhadap ayat ini, Ash-Shabuni menjelaskan: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, apa yang menimpa kalian wahai umat manusia berupa musibah jiwa atau harta adalah karena maksiat yang kalian lakukan. Imam Jalalain berkata, Allah menyebutkan ‘tangan’ sebab kebanyakan perbuatan dilakukan oleh tangan.
dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Maksudanya adalah Allah memaafkan sebagian besar dosa, sehingga tidak menyiksa mereka karena dosa-dosa itu. Seandainya Allah menyiksa kalian karena apa yang kalian lakukan, tentu kalian binasa. Dalam hadits disebutkan, “Anak Adam tidak tertimpa cakaran kayu atau terpelesetnya telapak kaki maupun bergetarnya otot, kecuali karena dosa. Dan apa yang dimaafkan Allah Adalah lebih banyak.” (Ibn Katsir menyatakan hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Hasan sebagai hadits mursal).
Dari dua ayat ini secara jelas dan gamblang dapat dipahami bahwa terjadinya musibah adalah karena kemaksiatan yang dilakukan oleh umat manusia.
PEMAHAMAN SAHABAT NABI TERHADAP MUSIBAH
Lantas, bagaimana pemahaman sahabat terhadap bencana?. Apakah mereka juga memahami bencana sebagai buah dari kemaksiatan atau seperti yang banyak dipahami kebanyakan orang pada zaman sekarang bahwa bencana hanyalah fenomena alam?.
Umar bin Khattab sebagaimana yang disebutkan di awal, jelas menyatakan bahwa bencana (gempa) adalah akibat kemaksiatan yang dilakukan penduduk Madinah. Sahabat Ka’ab bin Malik mempunyai pendapat yang mirip dengan Umar bin Khattab. “Tidaklah bumi bergoncang kecuali karena ada maksiat-maksiat yang dilakukan di atasnya. Bumi gemetar karena takut Rab-nya azza wajalla melihatnya”, kata Kaab.
Ka’ab menyebut bahwa goncangan bumi adalah bentuk gemetarannya bumi karena takut kepada Allah yang Maha Melihat kemaksiatan dilakukan di atas bumi-Nya.
Bagaimana dengan pendapat Ummul Mukminin Aisyah ra?.
Suatu saat Anas bin Malik bersama seseorang lainnya mendatangi Aisyah. Orang yangbersama Anas itu bertanya kepada Aisyah: Wahai Ummul Mukminin jelaskan kepadaku tentang gempa. Aisyah menjelaskan, “Jika mereka telah menghalalkan zina, meminum khamar dan memainkan musik. Allah azza wajalla murka di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: “goncanglah mereka. Jika mereka taubat dan meninggalkan (dosa), atau jika tidak, Dia akan menghancurkan mereka.
Orang itu bertanya kembali: Wahai Ummul Mukminin, apakah itu adzab bagi mereka?. Aisyah menjawab, “Nasehat dan rahmat bagi mukminin. Adzab dan kemurkaan bagi kafirin.” Anas berkata: Tidak ada perkataan setelah perkataan Rasul yang paling mendatangkan kegembiraan bagiku melainkan perkataan ini.
Sangat jelas penjelasan Ummul Mukminin Aisyah tentang penyebab terjadinya gempa. Tiga kemaksiatan yang semuanya marak pada saat ini. Khusus untuk dosa yang pertama, Aisyah menggunakan kata istabahu yang artinya masyarakat telah menganggap zina itu mubah [lazim]. Zina tidak hanya dilakukan, tetapi telah dianggap mubah. Dari ucapan, tindakan, kebijakan sebuah masyarakat boleh dibaca bahwa mereka yang telah meremehkan dosa zina, memang layak dihukum dengan gempa.
Soal khamar (minuman keras), di negeri ini minuman haram, najis dan perbuatan syetan itu malah dilegalisasi dengan Keppres No. 3/1997. Akibatnya, minuman keras dengan kadar alkohol dibawah 5% kini bebas beredar di swalayan-swalayan kecil di pinggir jalan seperti di Alfamaret dan Indomaret. Anehnya, beberapa daerah yang memberlakukan Perda Anti Miras yang melarang peredaran Miras secara keseluruhan malah dianggap bertentangan dengan Keppres tersebut dan diminta oleh Kemendagri agar dicabut.
Soal musik. Industri musik di tanah air terus menggurita. Bukan hanya dari dalam negeri, musik-musik luar negeri juga membanjiri masyarakat. Konser-konser diselenggarakan. Pada malam tahun baru lalu, sepanjang Sudirman-Thamrin jua dijejali dengan pertunjukan-pertunjukan musik. Aroma kemaksiatan menyebar di sepanjang jalan itu.
Ya, inilah semua kemaksiatan yang terjadi di negeri ini sebagaimana dikatakan ummul mukminin Aisyah ra. Belum lagi kemaksiatan yang lebih besar dari itu. Riba yang dilakukan oleh negara karena membayar cicilan bunga utang dalam jumlah ratusan triliyun, korupsi para penyelenggara negara hingga rencana menaikkan harga BBM dan Tarif Dasar Listrik.
Semua itu adalah bentuk kemaksiatan dan kezhaliman yang dilakukan oleh pemerintah yang mampu mengundang bencana. Pantaslah kalau Allah SWT terus menerus memberikan musibah kepada bangsa ini.
Karena ternyata satu musibah saja tidak cukup membuat bangsa ini sadar dan bertaubat kepada-Nya. Selama kemaksiatan terus merajalela di permukaan bumi Indonesia, selama itu pula negeri ini akan terus dirundung musibah. Maka segeralah bertaubat.
APA YANG HARUS DILAKUKAN?
Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan, “Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian’.”
Khalifah Umar bin Abdul Aziz tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri. Inilah isi surat Khalifah Umar bin Abdul Azis setelah terjadi bencana: Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya.”
“Allah berfirman, ‘Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang.” (QS Al-A’laa [87]: 14-15). Lalu katakanlah apa yang diucapkan Adam AS (saat terusir dari surga), ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami menzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi.”
“Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh AS, ‘Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi’. Dan katakanlah doa Yunus AS, ‘La ilaha illa anta, Subhanaka, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim’.”
Jika saja kedua Umar (Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Azis) saat ini bersama kita, mereka tentu akan marah dan menegur dengan keras, karena rentetan “peringatan” Allah itu tidak kita hiraukan bahkan cenderung diabaikan. Maka, sebelum Allah menegur kita lebih keras lagi, inilah saatnya kita menjawab peringatannya-Nya. Labbaika Ya Allah, kami kembali kepada-Mu.
Maka, sangatlah tepat, jika dalam suasana banjir seperti sekarang, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, misalnya berpidato, “Wahai warga DKI Jakarta, bencana banjir ini adalah musibah dari Allah SWT, kita wajib bersabar. Mari-bersama-sama kita bertaubat kepada Allah atas kemaksiatan yang telah kita lakukan dan secara bersama-sama saya akan memerangi semua bentuk kemaksiatan. Kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, selain dari anggaran dana pemerintah mari kita bahu membahu membantunya. Hal-hal teknis, seperti pembangunan waduk, pengerukan sungai, penambahan lahan serapan, dan upaya pencegahan banjir lainnya akan segera dilakukan pemerintah.” Wallahu a’lam.
Shodiq Ramadhan
Redaktur Suara Islam Online
Entri ini dituliskan pada 22/01/2013 pada 07:19 dan disimpan dalam Analisa, Kabar Umat, Musibah, Peristiwa. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.








































dani putra karawang berkata
Trus Waktu Tsunami menyapu aceh sampài 200rb korban jiwa,Maksiat apa ya yg di lakukan Warga Aceh sampai begitu Dasyat ny Musibah yg melanda….
Trus wanktu di Arab banjir,maksiat apa ya yg dilakukan warga Arab….ko bisa sampai kebanjiran,padahal wilayah ny gurun…
warga biasa berkata
innalillahi…..dan tak kalah penting ketika adalah..ketika sekumpulan ulama yg mewadahi orang muslim mengharamkan dzkir atau tablig akbar dijalanan…ok lah,saya sendiri memang kurang setuju klo dilaksanakan dijalan utama umum untuk lalu lalangnya masyarakat kebanyakan,tapi apakah tdk ada cara yg lebih beretika ketika umat dan agama terbesar pemeluknya dipermalukan oleh pemukanya sendiri dihadapan orang banyak.
dan apakah hubungan antara ulama tdk harmonis? atau jangan jangan para ulama atau kiyai,habib dan ustadz mementingkan golonganya sendiri?
tdk usah keluar ketika melihat sesuatu…jika didalam saja berantakan.
salmanalfarizi3466 berkata
Seharusnya seperti ini pemikiran seorang yg beriman terhadap Allah Hazawajalla….Semoga Allah membuka mata hati para pemimpin yang BAHLIL..alias Fasik ini..aminn
bleketek berkata
ilmu tafsir apapula ini …parah. Bagaimana orang-orang kecil yang kebanyakan menjadi korban membaca ini. Adakah mereka melakukan maksiat yang di maksud?….sungguh menyakitkan ulasan ini…
Salim berkata
@Dani Putra Karawang
Musibah banjir bisa jadi peringatan dari Allah Ta’ala, bisa juga merupakan azab.. Atau banjir itu hal yang lumrah jika banjirnya biasa2 saja. Banjir bisa terjadi dimana saja, mau di Indonesia, Eropa, America atau di Makkah sekalipun. Mau arab, cina, jawa, batak dll, kalau banyak berbuat maksiat dan diturunkan bala’ seluruhnya bisa disapu bersih!..
Kalau tsunami di aceh itu jelas peringatan keras dari Allah, bahkan bisa disebut azab. bukan berarti yang negeri berpenduduk mayoritas muslim tidak kena azab Allah.. Justru kalau mayoritas muslim dan membiarkan kemaksiatan di negerinya, malah lebih cepat diturunkan azab..
Jadi kalau terjadi musibah banjir yang tidak wajar, hal itu merupakan peringatan dari Allah, agar manusia yang berakal menggunakan otaknya dan mau insyaf atas dosa2nya. Apalagi tsunami atau terjangan banjir yang menghancurkan negeri, jelas itu azab (persekot) bagi org KAFIR dan peringatan keras bagi org Islam.
Itulah fakta yang terjadi pada Kamis, 17 Januari 2013 lalu. Kawasan Bunderan HI, Jalan MH Thamrin, yang selama ini belum pernah terkena banjir parah, lumpuh total. Bayangakan saja, peristiwa ini terjadi persis 17 hari setelah di tempat yang sama, pada malam tahun baru lalu digelar Jakarta Free Night.
Tuan @Dani Putra Karawang, banjir itu merupakan sunnatullah, namun jika banjirnya tdk wajar dan mengindikasikan adanya peringatan dari Allah, ya manusia harus sadar bahwa banjir itu bukan sekedar bencana alam..
Jadi pertanyaan anda, “…maksiat apa ya yg dilakukan warga Arab….ko bisa sampai kebanjiran,padahal wilayah ny gurun”… ini pertanyaan orang BODOH, sbb ternyata anda tidak memahami TUHAN yang maha adil dan bijaksana. Lha kamu kira kalau orang islam berbuat dosa, Allah manjakan? tapi kalau org non islam ama Allah dihajar??.. begitu?.. Pikiran kamu itu sebenarnya tumpul dan perlu digosok lagi biar cerdas!.. Lain kali kalau mau nulis komentar pikir2 dulu… Oke!..
Anonymous berkata
Mental yang selalu menyalahkan pihak lain dan tidak pernah melihat diri sendiri.
Maling teriak maling.
Setuju dengan Dani Putra
bleketek berkata
Hati2 memberi sembarang tafsir. Ketika banjir jakarta kemarin, orang2 kaya banyak yg tidur nyenyak di Hotel bebas banjir, bahkan sampai ada yang ke Spore, HK. Pejabat2 yg korup, bisa tidur nyenyak di perumahan kawasan elite , komplek pejabat dan vila2 di luar jakarta, sementara rumah mereka yg tergenang dijaga aparat. Di sisi lain, orang2 kecil di kampung pulo, jatinegara, dll harus mengungsi dengan perabotan rusah, termasuk kasur, piring, gelas sebagai perkakas dasar. Jika banjir sebagai akibat maksiat…, apa yg telah di lakukan mereka2?. Mudah2an, jika anak atau istri si penafsir diatas, mendapat musibah bisa berkata, itu juga karena ada maksiat…
ahmad berkata
kalau negeri lagi terpuruk dengan tingkat kemiskinan yang besar dan dengan koruptor yang merajalela, tetapi bukan hal yang poisitif yang sifatnya mengajak kepada kebaikan tetapi malah melakukan berbagai kemaksiatan. dan ingat di saat tahajjut itulah saat dimana Alah SWt turun kelangit dunia. Dan apa yang terjadi disaat tahajut disaat itu pula kemaksiatan yang dikoordinir oleh gubernur merajalela dan melenakan kita akan murka Alah SWT.
Hikmah berkata
Menyoal hikmah banjir besar Jakarta sebagai peringatan Yang Maha Kuasa kepada warga Jakarta, jika dihitung-2 mungkin saja uang yang dibakar untuk sekedar menyalakan kembang api beberapa menit di awal tahun baru 2013 itu mencapai :
1 kembang api (KA) luncur rata-2 seharga = Rp 15.000
Jumlah KA yang dibeli per KK anggap saja = minimal 3 buah.
Jumlah penduduk Jakarta katakanlah = 20 juta jiwa
Jumlah anggota keluarga dalam 1 KK mis. = 4 jiwa
Maka :
=> Jumlah Keluarga (KK) = 20 juta : 4 = 5.000.000 Keluarga
=> Jumlah kembang api yang dibeli = 3 x 5.000.000 = 15.000.000 buah.
=> Jumlah uang yang dibelanjakan = 15.000.000 x Rp 15.000,-
= Rp 22,5 milyar !
Atau mungkin lebih dari itu !?
Woow …… betapa bahagianya ribuan anak yatim, jika sejumlah Rp 22,5 milyar yang dibakar habis dalam hitungan menit di awal tahun baru 2013 itu bisa sampai kepada mereka dalam bentuk bantuan makanan, minuman, biaya sekolah, kesehatan dan sebagainya.
bleketek berkata
Mungkin lebih baik memandang hura2nya malam tahun barunya, dengan salah satu pikiran sdr Himah diatas.
Bagaimana dengan ini?. Gempa 6,0 SR di Aceh, Satu Orang Tewas http://www.pesatnews.com/read/2013/01/22/20440/gempa-60-sr-di-aceh-satu-orang-tewas
Padahal, diartikel di atas tertulis: “Umar bin Khattab sebagaimana yang disebutkan di awal, jelas menyatakan bahwa bencana (gempa) adalah akibat kemaksiatan yang dilakukan penduduk Madinah. Sahabat Ka’ab bin Malik mempunyai pendapat yang mirip dengan Umar bin Khattab. “Tidaklah bumi bergoncang kecuali karena ada maksiat-maksiat yang dilakukan di atasnya. Bumi gemetar karena takut Rab-nya azza wajalla melihatnya”, kata Kaab.
Ka’ab menyebut bahwa goncangan bumi adalah bentuk gemetarannya bumi karena takut kepada Allah yang Maha Melihat kemaksiatan dilakukan di atas bumi-Nya”
Kalo artikel di atas di upload di detik.com….bisa banyak yg marah tuh
Hikmah berkata
Menyoal hikmah banjir sebagai peringatan Yang Maha Kuasa lagi kepada warga Jakarta, ketika lebih dari 70% tanah Jakarta suda tertutup oleh beton-2 bangunan dan sisanya dibagi antara jalan, taman dan tanah kosong, maka keuntungan ekonomi yang diraih penduduk Jakarta dibandingkan taksirankerugian ekonomi akibat banjir yang mencapai lebih dari 20 trilyun (info surat kabar), apakah kerugian manusia cuma berhenti sampai di situ saja ?
Sayangnya tidak !
Kerugian utama justru pada waktu yang dihabiskan oleh manusia selama bertahun-2 untuk membangun dan menjalankan roda ekonominya menjadi terbuang karena banjir yang merusakan dan menghentikan aktivitas ekonominya. Kerugian waktu seperti apa ?
Jika misalnya bangunan rumah dan kelancaran usaha sebuah keluarga yang lurus susah payah dibangun selama 5 tahun dan kemudian dihentikan oleh bencana alam akibat perbuatan dosa manusia yang cuma dilakukan beberapa saat, maka :
JIka dimisalkan waktu yang kita pakai dalam sehari (24 jam) untuk :
- Bekerja atau berusaha = 8 jam.
- Terpakai di perjalanan = 4 jam.
- Tidur dan istirahat = 6 jam.
- Berdoa = 2 jam.
- Lainnya = 4 jam.
Jumlah seluruhnya = 24 jam.
Maka porsi berdo’a (sholat) = (2 jam : 24 jam) x 100% = 8 %
Berarti sisanya yang 100% – 17 % = 83 % tidak berhubungan dengan ibadah langsung kepada Allah SWT sebagai bekal utama kelak di akhirat.
Di sisi lain waktu yang dipergunakan untuk bekerja = (8 jam : 24 jam) x 100% = 33,3 % dari seluruh waktu sehari.
Jadi waktu yang dipergunakan oleh manusia untuk bekerja rata-rata berjumlah 5 kali lipat dari waktu untuk berdoa (sholat) sebagai tabungan bekal di akhirat,
Jika kemudian waktu bekerja yang 5 kali lipat waktu berdoa ini kemudian hasilnya tersapu oleh bencana alam seperti banjir, gempa dan sebagainya akibat pperbuatan dosa manusia yang mungkin cuma dilakukan beberapa saat saja, maka sejatinya waktu yang terbuang sia-2 karena tidak menabung bekal dikaherat dan tidak bermanfaat lagi bagi duniawi mencapai 8 jam x 360 hari x 5 tahun = 14.400 jam atau +/1 terbuang sebanyak 1,5 tahun !
noname berkata
maaf ini bukan soal maksiat tapi secara ilmiah memang landscap kota Jakarta lebih rendah dari permukaan laut, memang titik rendahnya tidak se-extrim Amsterdam, ditambah warga yg tidak disiplin membuang sampah, dan bangunan liar maupun resmi yg menyalahi aturan lingkungan,yg berdiri di bantaran sungai, jadi memang banyak aspek yg mempengaruhi banjir dan bukan semata-mata maksiat, kalo pendekatannya maksiat, banyak kota-kota besar di dunia yg lebih maksiat dari jakarta toh aman tuh, contohnya Macau, Las Vegas, Genting (Malaysia) Dubai…
divisionbyzero0 berkata
@dani putra tsunami aceh kabarnya rekayasa amerika, ada bom bawah laut dipasang AS
fakhry berkata
saya jg kurang setuju
Mas Hudi berkata
MAKSIAT MENJADI-JADI, INGAT JAKARTA AKAN LEBIH PARAH LAGI DIMASA AKAN DATANG, JIKA MAKSIAT ALA KOWBOY INI TIDAK DIBERANTAS,
Kampung Inggris berkata
Sudah saatnya Jakarta menikmati banjir kali ini, bukan rakyat kecil di bantarran Bengaran Solo saja
Ikhsan berkata
Noname,
Dari sisi yang terlihat (duniawi) memang betul kalau Jakarta itu lebih landai dibandingkan dengan daerah-2 disekitarnya termasuk permukaan laut.
Tapi dari sisi yang tidak terlihat (bathiniah), itulah rahasia Allah Yang Maha Segalanya, yang telah menjadikan bencana atau azab yang ditimpakan kepada manusia sebagai peringatan atas kekeliruannya terlihat sangat alamiah (tidak bisa diterka oleh manusia sebelumnya). Namun ADANYA HUBUNGAN SEBAB AKIBAT antara bencana alam yang terjadi di suatu tempat dimana terdapat manusia SEBAGAI PERINGATAN ALLAH SWT AKIBAT KEKELIRUAN yang dilakukan oleh manusia sendiri terlihat dalam PETUNJUK-2 ALLAH DALAM KITAB SUCI AL-QURAN sbb :
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيْرٍ. [الشورى، 42: 30]
Artinya:
“Dan APA SAJA MUSIBAH YANG MENIMPA KAMU adalah DISEBABKAN OLEH PERBUATAN TANGANMU SENDIRI, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS. asy-Syura (42): 30]
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. [التغابن، 64: 11]
Artinya:
“TIDAK ADA SUATU MUSIBAH PUN yang menimpa seseorang KECUALI ATAS IZIN ALLAH, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. at-Taghabun (64): 11]
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ. لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ. [الحديد، 57: 22-23]
Artinya:
“Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kamu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya YANG DEMIKIAN ITU ADALAH MUDAH BAGI ALLAH. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kamu. Dan ALLAH TIDAK MENYUKAI SETIAP ORANG YANG SOMBONG LAGI MEMBANGGAKAN DIRI.” [QS. al-Hadid (57): 22-23]
Jadi jelas bukan :
Pertama :
Setiap bencana adalah akibat perbuatan manusia sendiri, seperti : membuang sampah di got/kali/sungai, menghabisi tanah resapan dengan bangunan beton, menggunduli hutan tanpa reboisasi dan sebagainya termasuk PENYALAHGUNAAN REZEKI dari Allah SWT, seperti hal-2 membelanjakan penghasilan atau keuntungan untuk membeli barang yang habis dibakar begitu saja sebagai kembang api, minuman keras yang memabukkan, membiayai hubungan di luar pernikahan dan lain-lain.
Kedua :
Setiap bencana alam adalah seizin Allah, artinya walaupun manusia banyak melakukan perusakan terhadap alam ciptaan Allah, seperti perbuatan-2 di atas tapi jika Allah SWT tidak mengijinkan terjadinya bencana, maka bencana banjir yang menimpa DKI Jakarta beberapa waktu lalu pasti tidak terjadi.
Ketiga :
Manusia dengan kemampuan akal berfikir yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT pada dasarnya boleh-2 saja untuk berargumentasi apapun soal sebab bencana alam, namun Allah SWT mengingatkan manusia untuk tidak terlalu yakin (sombong atauy takabaur) dengan menganggap bencana alam sebagai kejadian alam yang disebabkan oleh semata faktor alam (keduniawian belaka) tanpa menganggap adanya hubungan sebab akibat dengan kekeliruan-2 yang diperbuat sebelumnya oleh manusia.
Demikian.