Fantastis! DPR Habiskan Rp500 Miliar untuk Bahas RUU
Posted by KabarNet pada 31/12/2012
Jakarta – KabarNet: DPR mengalokasikan anggaran sebesar Rp 842 miliar untuk penyusunan RUU, pengawasan pelaksanaan UU dan pengawasan kebijakan pemerintah. Untuk penyusunan dan pembahasan RUU serta anggaran, dana yang dihabiskan sebanyak Rp 466 miliar.
“Alokasi anggaran yang paling besar dan fantastis adalah untuk pembahasan RAPBN sebesar Rp 20 miliar. Sedangkan untuk pembahasan anggaran kementerian/lembaga dialokasikan anggaran sebesar Rp 52 miliar.” ucap Kooordinator Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Uchok Sky Khadafi, seperti dikutip detikcom, Minggu (30/12/2012).
Uchok mengungkapkan, DPR selalu berdalih tidak menghabiskan seluruh anggarannya. Namun hal tersebut justru menunjukkan bahwa DPR tidak memiliki perencanaan yang matang serta menyebabkan kemubaziran anggaran. “Seharusnya kemubaziran tersebut ditempatkan pada alokasi anggaran untuk kesejahteraan masyarakat miskin,” tambahnya.
Selain menyebabkan kemubaziran, DPR juga tidak maksimal dalam penyusunan RUU. Dari 69 RUU yang ditargetkan, hanya 30 RUU saja yang mendapat persetujuan pengesahaan dari DPR dan menjadi UU. “Hal ini disebabkan oleh kemalasan anggota DPR dalam mengikuti rapat-rapat pembahasan RUU tersebut sehingga memperlambat proses pembahasan di parlemen,” ucap Uchok.
Anggaran pembahasan RUU juga banyak mengalami kenaikan. Seperti untuk RUU usulan dari DPR, tahun 2011 Komisi I menganggarkan dana Rp 8,1 miliar, lalu tahun 2012 menjadi 9 miliar. Komisi II DPR menganggarkan sebesar Rp 7,8 miliar menjadi Rp 9 miliar pada tahun 2012. “Anggaran RUU usulan Pemerintah juga mengalami kenaikan. Misalnya Komisi VI DPR mempunyai bandrol harga sebesar Rp 4,6 miliar untuk tahun 2011 lalu menjadi Rp 6,5 miliar untuk tahun 2012,” ucap Uchok.
Selain itu, ia menambahkan, RUU ratifikasi untuk tahun 2011 sebesar Rp 964 juta, pada tahun 2012 menjadi sebesar Rp 1 miliar. Dana untuk RUU Pemekaran adalah sebesar Rp 2,5 miliar dan untuk tahun 2012, mencapai Rp 2,8 miliar. “Jadi secara umum, kenaikan harga sebuah RUU di ‘bursa efek’ DPR RI, ada yang minimal sebesar Rp 929 juta dan juga sebesar Rp 1,9 miliar,” pungkasnya. [KbrNet/detikcom]







































tan panama berkata
PARTAI POLITIK DIIBARATKAN KENDARAAN
Partai Politik (parpol) dijadikan kendaraan untuk meraih ambisi, di era reformasi parpol jadi syarat utama untuk meraup Berhala Reformasi 3K (Kaya, Kuasa, Kuat) melalui pesta demokrasi lima tahunan. Berikut parpol pemenang Pemilu 2009, sesuai nomer urut pemilu 2009, jika memang sebagai kendaraan politik :
1. PARTAI HATI NURANI (Hanura) :
Biasa bergerak, beroperasi dengan sistem komando. Remnya terkenal pakem. Bisa menyelonong sendiri, seolah tanpa kendali. Mengandalkan pandangan ke depan, tanpa memperhatikan kaca spion. Full tank, siap kemana saja. Tidak mau repot ke pelosok, membuka jalur perintis, mengandalkan peta lama. Susah bermanuver di medan nyata.
5. RAKYAT PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA (Gerindra) :
Suara mesin nyaris tak terdengar, khusus medan di bawah bayang-bayang atau membutuhkan zona aman yang nyaman. Bukan kendaraan yang multi guna. Bahkan khusus di jalan raya. Tidak bisa untuk angkutan umum, atau hanya melayani jalur khusus.
8. PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (PKS) :
Bulit up atau rakitan dalam negeri tidak jelas. Suku cadangnya terbatas, tetapi di jual bebas di pasaran. Tujuan dan rute tergantung keinginan dan kepentingan penumpang. Sopir berfungsi sekedar mufakat. Calon penumpang bebas memilih kendaraan yang diminati. Menang merk, atau karena kendaraan yang siap pakai. Asal jangan sebagai kendaraan bak terbuka.
9. PARTAI AMANAT NASIONAL (PAN) :
Tergantung desain besarnya, cetak biru dari kemanfaatan atau fungsi kendaraan khusus ini. Setiap saat bisa turun mesin, ganti sopir di tengah jalan. Kapasitas mesin disesuaikan dengan medan yang akan ditempuh. Mesinnya bisa kanibal dari berbagai tipe. Kendaraan spesialis Reformis, setelah itu hanya masalah waktu.
13. PARTAI KEBANGKITAN BANGSA (PKB) :
Mesin diesel, bertenaga badak. Rute yang akan dijalani tergantung yang merawat dan meruwat mesin. Bisa diajak ke alam bebas, bisa diajak pamer kekuatan, bisa diajak lari santai. Sopir/penumpang fanatik betah dengan kendaraan ini. Dalam lalu lintas politik, kendaraan ini sulit diajak kompromi demi aman sampai tujuan.
23. PARTAI GOLONGAN KARYA (Golkar) :
Pengalaman menang perang di era Orde Baru, 6 kali pemilu mengantar Soeharto jadi RI-1. Pabrik menteri, gubernur sampai lurah/kades. Kebanyakan sopir, mulai sopir keluarga sampai sopir tembak, yang merasa bisa jadi RI-1. Pabrik koruptor sampai tingkat kabupaten/kota. Tidak sabar antri, semakin banyak saingan, walhasil kader politisi sipil atau dari mantan petinggi militer mendirikan parpol. Wadah berbagai kepentingan, ada yang jarak pendek atau kutu loncat atau jarak jauh.
24. PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN (PPP) :
Kendaraan jarak jauh sejak zaman Orde baru, tahan banting. Pernah punya sopir handal. Sekarang kekurangan sopir berkarakter, khususnya untuk membawa penumpang dengan tujuan akhirat saja. Penumpang tidak banyak protes. Walau di rute basah, pesaingnya nampak lebih cerdas. Kendaraan ini tidak cocok di medan bebas, yang menghalalkan segala cara. Menghadapai pasal hukum yang dipakai, siapa kuat akan memang, kendaraan ini jangan sekedar coba-coba dilagakan.
28. PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (PDI-P) :
Kendaraan tua yang ganti merk dan logo, sudah balik nama menjadi hak milik keluarga. Sopir betah duduk di kursi pengemudi, sambil menyiapkan sopir pengganti. Ban serep pun harus bermerk atau ada inisal “BK”. Kader atau penumpang terbaik hanya disiapkan untuk mendorong jika kendaraan mogok, ngadat atau kesalip kendaraan lain. Kendaraan khusus mengantar yang punya.
31. PARTAI DEMOKRAT (PD) :
Umur teknis kendaraan ini memang dirancang bangun untuk dua periode. Banyak penumpang gelap yang hanya menggerogoti dari dalam. Antar penumpang rebutan kursi sopir. Sesama penumpang pun tega sikut-sikutan. Petugas yang mengutip pajak penumpang (Bendaharawan Umum) membuat kendaraan rapuh di dalam. Terkadang saat melaju, roda belakang mau menyalip roda depan. Sopir terakhir hanya mempertahankan kendaraan agar sampai finish 2014.
——————