Inilah Kisah Korban Pungli KUA
Posted by KabarNet pada 29/12/2012
Jakarta – KabarNet: Seorang warga Kebon Jeruk bernama Ida yang mengaku pernah menjadi korban pungli di KUA. Ia bercerita melalui surat pembaca di harian online detikcom pada Jumat 28 Desember 2012. Berikut isi suratnya:
Saya menikah tanggal 29 Juni 2008 di Griya Ardhya Garini (Halim – Jakarta Timur). Karena domisili saya dan suami di Kebon Jeruk-Jakarta Barat maka saya harus mengurus surat di KUA terlebih dahulu. Total biaya yang dikeluarkan di KUA adalah Rp 170.000 dengan rincian Rp 120.000 untuk surat-surat dan Rp 50.000 untuk infaq dan administrasi. Seluruh biaya tersebut tidak ada ketentuan/dasar hukumnya dan tidak diberikan tanda terima (kuitansi).
Selanjutnya ibu dan adik laki-laki saya (yang nantinya sebagai wali nikah) mengurus ke KUA (menuliskan KUA di Jakarta Timur, red). Di sini dikenakan biaya Rp150.000 untuk biaya administrasi (tanpa tanda terima) dan disuruh datang kembali untuk “negosiasi” honor dengan penghulunya langsung. Selain itu, kita juga diminta membawa tanaman untuk penghijauan.
Pada tanggal 5 Mei 2008, ibu dan adik saya kembali datang ke KUA (menuliskan KUA kecamatan di Jakarta Timur, red) untuk menemui Bp S (yang saat itu baru diangkat sebagai Kepala KUA). Saat itu Bp S menyatakan bahwa beliau sendiri yang akan jadi penghulunya. Saat ibu saya bertanya berapa biaya penghulunya, malah dijawab begini, “Ibu kan seharusnya sudah tau kalo mau menemui penghulu tuh harus siap bawa uang. Nich, saya kasi liat ya, ini amplop yang dikasi oleh ibu yang masuk sebelumnya. Ini hanya untuk acara di rumah, lho, bukan di gedung! Ini amplopnya belum saya buka lho, Bu. Kita hitung ya…”
Nominal Rp 100.000 sebanyak 20 lembar, jadi jumlahnya Rp2.000.000. Akhirnya terjadilah tawar-menawar dan dicapai kesepakatan, DP sebesar Rp 500.000 (tanpa tanda terima). Sebagai gantinya, ibu saya meminta Bp S untuk menulis DP Rp 500.000 tersebut di catatan/berkas-berkas saya. Tapi itu pun dia tolak, dia bilang, “Udah, saya tulis di buku saya aja!” Dan sekaligus menegaskan, bahwa uang Rp 500.000 tersebut baru sekedar DP, lho. Jadi ya hitungannya belum lunas.
Pada tanggal 16 Juni 2008, ibu saya kembali menemui Bp S di KUA untuk melunasi biaya penghulu. Di sana ternyata sudah menunggu ajudan salah seorang pejabat yang meminta Bp S untuk menjadi penghulu pernikahan anak salah satu pejabat di Masjid At-Tin pada hari dan jam yang sama dengan akad nikah saya. Jadilah berkas-berkas saya dilimpahkan ke asistennya, Bp SA, bersama dengan amplop kedua dari ibu saya yang “hanya” berisi Rp 300.000. Nasib amplop pertama yang Rp 500.000 nggak jelas deh gimana. Jadi total biaya di KUA (menuliskan kecamatan di Jakarta Timur, red) adalah Rp 950.000.
Kejadian ini sudah saya adukan ke Kementerian Agama RI melalui website resminya dan ditanggapi “akan kami tindak lanjuti”. Entah apa maksudnya “ditindaklanjuti”…
[KbrNet/Slm]
Entri ini dituliskan pada 29/12/2012 pada 13:21 dan disimpan dalam Kabar Umat, Penderitaan Rakyat, Surat Pembaca. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.







































Anonymous berkata
Wah lapor ke kemenag gak bakalan ditindaklanjuti. Uangnya aja ngalir ke atas. KUA kan ATM nya bos. Jelas akan dilindungi.dan gak bakalan ada tanda terima uang. Kepala KUA kalau gak bisa setor ke atasan akan dimutasi,
Lovely Maria Eva berkata
KUA BEGO !!!! PANTESAN banyak keluarga kumpul kebo !!!!!!! MAU IBADAH AJA DI DUIT KAN !!!!!!!!! Masyaallah, !!!!
muslim berkata
saya punya pengalaman dgn kua waktu itu mau nikahkan ponakan saya nikahnya dijakarta selatan singkat cerita saya minta surat pengantar untuk nikah di selatan karena ktp ponakan saya ditimur tempat nikahnya di
masjid pln duren tiga,waktu itu seorang staf kua pisangan meminta 500 ribu bahasa pertamanya sopan dia bilang silahkan sekikhlasnya tapi umumnya 500 ribu saya bertanya memang peraturan atau yg tertera berapa dia bilang tdk ada ketentuannya akhirnya saya kasi 100 ribu aja itu hanya surat pengantar untuk permisi izin nikah,sampai di selatan saya dipinta bayar administrasi untuk buku kurang lebih 130 ribusampai ketemu pak penghulu singkat cerita pak penghulu bertanya pada saya mau nikah dimana dirumah apa dimasjid apa digedung dan hari apa,hari libur atau jam kerja semua tarif berbeda beda umumnya kalau dirumah 1jt dimasjid 1,5 jt digedung bisa sampai 2jt an,akhirnya saya tanya kalau di kantor kua sendiri gimana ya 500 ribu saja tdk papak,akhirnya saya putuskan di kantor kua saja,jadi saya daftarkan untuk bikin janji dgn pak penghulu dan nikah terlebih dahulu dpn para tamu di masjid tanpa ada orang kua setelah kurang lebih 2minggu saya datang ke kantor kua untuk dinikahkan dgn pak penghulu dan untuk mendapatkan catatan /buku nikah itu cerita dan pengalaman saya di selatan,blm lagi kisah di kua jakarta timur waktu ponakan yg ke 2 lebih lucu lagi buku tdk diserahkan sampai dia suruh pasangan ponakan saya keluar setelah dinikahkan dan dinasehati tentang agama arti dalam pernikahan dan rumah tangga menurut islam,setelah ponakan saya keluar dia buka amplopnya dpn saya pas dia liat duitnya isi 200 di bersuara agak keras kok segini akhirnya saya keluar minta duit ama ponakan saya 100ribu lagi baru tu buku dikasih hahahaha.
Maktabah Zein berkata
من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا ، نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة ، ومن يسّر على معسر ، يسّر الله عليه في الدنيا الآخرة ، ومن ستر مؤمنا ستره الله في الدين والآخرة ، والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه (الحديث رواه مسلم)
Anonymous berkata
Penghulu nya pasti Yahudi, zionist dan kafir ?
Anonymous berkata
@Anonymous No.5
Sudahlah Fir… ga usah nyindir2. Memang kenyataannya diantara umat Islam banyak kesusupan MUSLIM2 PALSU. Contohnya.. pelacur (diulang pake huruf kapital: PELACUR) spt si Ratna Sarumpaet itu juga muslim. Penjahat2 agama yg membentuk “islam liberal / islam SEPILIS) itu juga ngakunya muslim. .Ada juga muslim2 beneran tapi imannya lemah… masih sering tergoda iming2 harta krn perut mrk lapar.
Soal kamu, mending kamu belajar Alkitab sama @Wiro aja… biar wawasan keagamaanmu bertambah.
barifbrave berkata
Sik-sik, apakah semua KAU seperti itu? Kynya cuma oknum d, & kynya cuma di JKT aja… Ya mari kita usut brg2. Sy sepakat dg @Lovely Maria Eva. Kalau u/ ibadah saja dipersusah, bagaimana kita akan menjalankan syariat dg benar. Insya Allah Bp. Preseden yg sdg tdk terhormat dan mentri agama akan mendapat balasan baik di dunia dan diakhirat karena menyusahkan org yg akan menjalankan syariat. Amin…