Awas! Bakso Berlabel Halal MUI Mengandung Babi
Posted by KabarNet pada 15/12/2012
Jakarta – KabarNet: Suku Dinas (Sudin) Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat kembali melakukan sidak terhadap pedagang bakso satuan di Pasar Puri dan Pasar Kopro di Tomang Barat. Dari kedua tempat tersebut, bakso dari tiga pedagang dinyatakan positif mengandung daging babi. “Kegiatan tadi menindaklanjuti hasil laboraturium kemarin. Kita meyakinkan apakah benar positif. Lalu Kita ambil dua sampel di Pasar Puri ternyata positif,” kata Kepala Seksi (Kasie) Pengawasan dan Pengendalian Sudin Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat, Moris, Jumat (14/12/2012).
Menurut Moris, bakso yang mengandung babi itu ditemukan dalam sebuah kemasan yang sama. “Bakso yang mengandung babi itu bermerek Planeteria 56 yang diproduksi oleh PT Usaha Food, Tangerang, Banten. Dan terdapat tulisan Halal dari MUI di pojok kanan atas bungkus bakso,” ungkapnya.
Sementara itu menurut Kepala Bidang Informasi Halal LPPOM MUI, Farid Mahmud, SH, pihaknya mengakui jika pernah mengeluarkan sertifikasi halal untuk produk bakso Planetaria 56. “Memang betul, yang mengeluarkan sertifikasi adalah LPPOM MUI Banten. Namun 1 Desember lalu, sudah expired masa berlakunya,” ujar Farid, Jumat (14/12/2012), seperti dikutip detik.com.
Menurut Farid, setelah masa berlaku sertifikasi habis, pihak produsen akan mengajukan perpanjangan sertifikat halal, dan auditor LPPOM MUI akan melakukan pemeriksaan terhadap seluruh bahan yang ada, termasuk asal-usul daging yang digunakan. “Dalam kasus Planetaria 56 yang diproduksi oleh PT Usaha Food, pemeriksaan belum selesai,” jelas Farid.
Sementara itu, PD Usaha Food selaku produsen bakso kemasan Planetaria 56 membantah telah menggunakan daging babi sebagai bahan untuk membuat bakso. Lantas, bagaimana dengan pihak Sudin Peternakan & Perikanan Jakarta Barat yang menemukan bukti daging babi pada bakso merek planetaria 56?
PD Usaha bakso kemasan yang beralamat di Serpong, Tanggerang Selatan, tersebut menyangka ada persaingan bisnis antar sesama produsen untuk menjatuhkan usaha bakso miliknya. “Kalau menurut saya, ini sih ada persaingan bisnis. Saya sendiri sebagai produsen bisa menjamin bakso buatan pabrik saya menggunakan daging sapi,” kata pemilik PD Usaha Food Hendrik Wijaya kepada wartawan, Jumat (14/12/2012).
Hendrik mengatakan, selain persaingan bisnis, kemungkinan lain dengan terbuktinya bakso merek Planetaria 56 menggunakan daging babi berasal dari permainan para penyuplai daging untuk pabriknya.
Untuk membuat bakso pabrikan tersebut, ia mendatangkan daging dari tiga pemasok dari Tangerang. “Mungkin supplier-nya yang nakal menggunakan daging babi untuk dikirim ke kita,” katanya.
Hendrik mengatakan kurang sepaham dengan tindakan suku dinas di Jakarta yang hanya mengecek bakso di pasaran tanpa memeriksa langsung di pabriknya. Ia berani untuk diperiksa dan dilihat langsung pembuatan bakso di pabrik miliknya oleh Sudin Peternakan dan Perikanan.
Persoalan mendasar dari masalah ini adalah daging sapi dicampur dengan daging babi, lalu dibentuk sebagai bakso dan diklaim hanya menggunakan bahan baku daging sapi. Lain halnya, jika dalam kemasan tertulis bahan utamanya dari daging babi, jadi publik tahu kalau kondisinya itu mengandung babi. Jelas, hal ini adalah penipuan konsumen dan melanggar UU Perlindungan konsumen. Oleh karena itu, petugas Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat diharapkan untuk terus menggelar razia, hal ini dilakukan agar memutus tuntas mata rantai perdagangan daging bakso bercampur daging babi.
Seperti diberitakan sebelumnya, Suku Dinas (Sudin) Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat menemukan adanya produk bakso berbahan daging babi dengan merek Planetaria 56 yang diproduksi oleh PT Usaha Food, Tangerang, Banten. Pada kemasannya, terdapat logo halal MUI. Pemeriksaan tersebut dilakukan oleh UPT Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner (Labkesmavet) dan Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat pada Jumat (14/12/2012) pagi. [KbrNet/Slm]
Source: salam-online.com
Entri ini dituliskan pada 15/12/2012 pada 08:03 dan disimpan dalam Info, Kabar Umat, Kriminal, Moralitas. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.







































Haidar (@Hafizalfian) berkata
Sabar pa Jokowi, ternyata dengan gebrakan bapak anak buaah bapk sekarang semangat dalam bekerja. kenapa sudah 3 tahun baru ketahuan sekarang? emangnya jamannya POKE anak buah pada makan gaji buta. pada gak kerja. Bongkar terus pak Gub. jangan mau disalahkan ini semua tinggalnya si POKE.
Fakultas Hukum UII berkata
Nice post
Teruskan dalam memberi artikel yang bermanfaat
Maju terus
Pantang mundur
taUbat berkata
10 ALASAN ILMIAH DAGING BABI HARAM DALAM ISLAM
BeritaUnikBlogspot.com – Makan daging babi dalam ajaran agama islam itu diharamkan kenapa diharamkan karena didalam daging babi banyak mengandung zat berbahaya dan penyakit sehinga jika sampai dimakan oleh umat muslim penyakit yang terkandung didalamnya akan ikut masuk dalam tubuh manusia. Berikut ini ada beberapa fakta ilmiah yang ditemukan dari dalam daging babi sehinga Islam mengharamkan memakan daging babi ingin tahu apa aja itu simak 10 Alasan Ilmiah Kenapa Daging Babi Diharamkan Dalam Islam berikut ini.
1. Babi adalah container (tempat penampung) penyakit.
Beberapa bibit penyakit yang dibawa babi seperti Cacing pita (Taenia solium), Cacing spiral (Trichinella spiralis), Cacing tambang (Ancylostoma duodenale), Cacing paru (Paragonimus pulmonaris), Cacing usus (Fasciolopsis buski), Cacing Schistosoma (japonicum), Bakteri Tuberculosis (TBC), Bakteri kolera (Salmonella choleraesuis), Bakteri Brucellosis suis, Virus cacar (Small pox), Virus kudis (Scabies), Parasit protozoa Balantidium coli, Parasit protozoa Toxoplasma gondii
2. Daging babi empuk.
Meskipun empuk dan terkesan lezat, namun karena banyak mengandung lemak, daging babi sulit dicerna. Akibatnya, nutrien (zat gizi) tidak dapat dimanfaatkan tubuh.
3. Menurut Prof. A.V. Nalbandov (Penulis buku : Adap-tif Physiology on Mammals and Birds) menyebutkan bahwa kantung urine (vesica urinaria) babi sering bocor, sehingga urine babi merembes ke dalam daging. Akibatnya, daging babi tercemar kotoran yang mestinya dibuang bersama urine.
4. Lemak punggung (back fat) tebal dan mudah rusak oleh proses ransiditas oksidatif (tengik), tidak layak dikonsumsi manusia.
5. Babi merupakan carrier virus/penyakit Flu Burung (Avian influenza) dan Flu Babi (Swine Influenza).
Di dalam tubuh babi, virus AI (H1N1 dan H2N1) yang semula tidak ganas bermutasi menjadi H1N1/H5N1 yang ganas/mematikan dan menular ke manusia.
6. Menurut Prof Abdul Basith Muh. Sayid berbagai penyakit yang ditularkan babi seperti, pengerasan urat nadi, naiknya tekanan darah, nyeri dada yang mencekam (Angina pectoris), radang (nyeri) pada sendi-sendi tubuh.
7. Dr. Murad Hoffman (Doktor ahli & penulis dari Jerman) menulis bahwa Memakan babi yang terjangkiti cacing babi tidak hanya berbahaya, tapi juga menyebabkan peningkatan kolesterol tubuh dan memperlambat proses penguraian protein dalam tubuh.
Ditambah cacing babi Mengakibatkan penyakit kanker usus, iritasi kulit, eksim, dan rheumatic serta virus-virus influenza yang berbahaya hidup dan berkembang di musim panas karena medium (dibawa oleh) babi.
8. Penelitian ilmiah di Cina dan Swedia menyebutkan bahwa daging babi merupakan penyebab utama kanker anus dan usus besar.
9. Dr Muhammad Abdul Khair (penulis buku : Ijtihaadaat fi at Tafsir Al Quran al Kariim) menuliskan bahwa daging babi mengandung benih-benih cacing pita dan Trachenea lolipia. Cacing tersebut berpindah kepada manusia yang mengkonsumsi daging babi.
10. DNA babi mirip dengan manusia, sehingga sifat buruk babi dapat menular ke manusia. Beberapa sifat buruk babi seperti, Binatang paling rakus, kotor, dan jorok di kelasnya, Kemudian kerakusannya tidak tertandingi hewan lain, serta suka memakan bangkai dan kotorannya sendiri dan Kotoran manusia pun dimakannya. Sangat suka berada di tempat yang basah dan kotor. Untuk memuaskan sifat rakusnya, bila tidak ada lagi yang dimakan, ia muntahkan isi perutnya, lalu dimakan kembali. Lebih lanjut Kadang ia mengencingi pakannya terlebih dahulu sebelum dimakan
taUbat berkata
MENGENAL BEDA DAGING SAPI & DAGING BABI
Thursday, 26 August 2010 04:22
SeafastCenter.IPB – Ada beberapa perbedaan mendasar antara daging babi dan sapi. Menurut Dr. Ir. Joko Hermanianto (ahli daging di Dep. Ilmu dan Teknologi Pangan, Fateta, IPB), secara kasat mata ada lima aspek yang terlihat berbeda antara daging babi dan sapi yaitu warna, serat daging, tipe lemak, aroma dan tekstur.
Warna
Daging babi memiliki warna yang lebih pucat dari daging sapi, warna daging babi mendekati warna daging ayam. Namun perbedaan ini tak dapat dijadikan pegangan, karena warna pada daging babi oplosan biasanya dikamuflase dengan pelumuran darah sapi, walau kamuflase in dapat dihilangkan dengan perendaman dengan air. Selain itu, ada bagian tertentu dari daging babi yang warnanya mirip sekali dengan daging sapi sehingga sangat sulit membedakannya.
Serat daging
Terlihat perbedaan serat daging yang jelas antara kedua daging. Serat-serat daging sapi tampak padat dan garis-garis serat terlihat jelas. Sedangkan pada daging babi, serat-seratnya terlihat samar dan sangat renggang. Perbedaan ini semakin jelas ketika kedua daging direnggangkan bersama
Penampakkan lemak
Perbedaan terdapat pada tingkat keelastisannya. Daging babi memiliki tekstur lemak yang lebih elastis sementara lemak sapi lebih kaku dan berbentuk. Selain itu lemak pada babi sangat basah dan sulit dilepas dari dagingnya sementara lemak daging agak kering dan tampak berserat. Namun kita harus hati-hati pula bahwa pada bagian tertentu seperti ginjal, penampakkan lemak babi hampir mirip dengan lemak sapi.
Tekstur
Daging sapi memiliki tekstur yang lebih kaku dan padat dibanding dengan daging babi yang lembek dan mudah diregangkan. Melalui perbedaan ini sebenarnya ketika kita memegangnya pun sudah terasa perbedaan yang nyata antar keduanya karena terasa sekali daging babi sangat kenyal dan mudah di “biye” kan. Sementara daging sapi terasa solid dan keras sehingga cukup sulit untuk diregangkan.
Aroma
Terdapat sedikit perbedaan antara keduanya. Daging babi memiliki aroma khas tersendiri, sementara aroma daging sapi adalah anyir seperti yang telah kita ketahui. Segi bau inilah yang -menurut pak Joko- sebenarnya senjata paling ampuh untuk membedakan antar kedua daging ini. Karena walaupun warna telah dikamuflase dan dicampur antar keduanya, namun aroma kedua daging ini tetap dapat dibedakan. Sayangnya kemampuan membedakan melalui aromanya ini membutuhkan latihan yang berulang-ulang karena memang perbedaannya tidak terlalu signifikan.
Karakteristik secara Umum.
Secara umum karakteristk daging babi ternak dan babi hutan (celeng) mirip satu sama lain, sementara daging babi memiliki perbedaan yang cukup banyak dengan daging sapi. Namun ketika kedua jenis daging tersebut telah dicampurkan, apalagi setelah dikamuflase dengan darah sapi, keduanya (daging babi dan sapi) menjadi sangat sulit untuk dibedakan. Penjualan daging babi oplosan merupakan kegiatan yang ilegal, sehingga biasanya daging ini tidak didisplay di meja penjualan. Daging ini biasanya dikeluarkan ketika ada pembeli yang menanyakan, “apakah ada daging murah pak?” sehingga kita pantas menaruh curiga bila ada penjual yang menjual daging dengan harga “miring”. Sifat yang lain juga adalah lokasi penjualan yang biasanya ditempat yang gelap dan cukup terpisah dari yang lainnya supaya daging tidak menjadi pusat perhatian orang banyak. (terselubung) Semoga bermanfaat.(infopilihan)
seafast.ipb.ac.id