Kekalahan Foke-Nara Bukti Keruntuhan Parpol
Posted by KabarNet pada 22/09/2012
Jakarta – KabarNet: Kekalahan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Fauzi-Nara) pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta menunjukkan hilangnya kepercayaan masyarakat kepada partai politik (parpol). Disamping karena partai koalisi pendukung Foke-Nara yang tidak mampu bekerja menggerakkan mesin parpol dengan maksimal, kekalahan Foke-Nara menjadi bukti yang jelas bahwa kepercayaan rakyat terhadap parpol semakin runtuh. Artinya, kegagalan Foke-Nara adalah kegagalan parpol (dalam hal ini partai koalisi) meyakinkan masyarakat.
Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit menegaskan, kekalahan Fauzi-Nara akibat dukungan partai politik (parpol) yang tidak memberikan kontribusi.

“Partai itu tidak bisa mengangkat suara, partai pendukung gagal memenangkan Foke,” tandas Arbi Sanit seperti dikutip inilah.com, di Jakarta, Jumat (21/9/2012).
Dia menjelaskan, parpol koalisi pendukung Fauzi-Nara gagal dalam menjalankan mesin politik di Pilkada DKI Jakarta. “Betapa bodohnya enam partai itu dimainkan oleh Jokowi,” tandasnya.
Hal senada dikemukakan Direktur Lingkar Madani, Ray Rangkuti. Menurut dia, Pilkada DKI Jakarta menjadi bukti nyata bahwa kepercayaan rakyat terhadap parpol semakin runtuh. Hal itu terlihat sejak Pemilukada DKI Putaran Pertama ketika salah satu calon dari koalisi parpol (Alex-Nono) dapat dikalahkan oleh calon independen (Faisal-Biem).
Sebagaimana diketahui, calon independen adalah pasangan Faisal Basri-Biem Benyamin. Saat diputaran pertama perolehan suara mereka (5 persen) mengungguli pasangan partai koalisi Partai Golkar dan PPP Alex Nurdin-Nono Sampono yang hanya memperoleh 4,6 persen. Padahal Alex-Nono didukung dana besar dari parpol, sementara Faisal-Biem adalah calon independen yang tak didukung dana dari parpol manapun.

Direktur Lingkar Madani, Ray Rangkuti menilai, indikasi bahwa parpol makin tidak diminati sebenarnya sudah terbaca sejak pilkada putaran pertama tersebut.
“Putaran kedua ini makin memperkuat fenomena tersebut. Parpol makin tak berwibawa, makin tak bisa menjelaskan pemilihnya,” kata Ray.
Bahkan untuk sikap independen tersebut, kata Ray, pemilih bahkan tidak terpengaruh dengan politik uang. “Mereka juga mulai makin kebal dari rayuan politik uang. Mereka berkreasi dengan berbagai cara, dan dengan mempergunakan banyak media, tanpa dukungan dana dari para kandidat,” jelas Ray. [KbrNet/adl]







































Norman Kamaru berkata
BUBARKAN AJA SEMUA PARTAI.
utiah berkata
bubarkan partai… Tandanya rakyat butuh pemimpin yang merakyat…
utiah berkata
bubarkan partai..
santes59 berkata
Lihat saja tampang-tampang anggota dewan yang sering nampang di TV, bukan tampang negarawan apalagi wakil rakyat, tetapi tepatnya tampang preman, penjahat, keparat, bajingan tengik. Yang baik memang ada, tapi yang perilakunya kriminal buuuaaaanyakkkk. Marilah rakyat bersatu, jangan pilih wakil rakyat yang berperilaku kriminal.
Bang Uddin berkata
SEMUA orang membahas Jokowi. Semuanya dalam suasana euphoria atas kemenangan pria kurus itu. Aku memikirkan hal lain. Aku sedang memikirkan nasib Islam politik yang kian terpuruk. Ternyata, anjuran banyak partai Islam, para ulama, termasuk raja dangdut, tak juga sanggup menggiring suara publik untuk si kumis itu. Lantas, masih layakkah klaim mereka yang merasa didukung umat? Masih lakukah jika ayat-ayat diobral demi kemenangan seseorang?
Sejak negeri ini memasuki gerbang kemerdekaan, banyak pihak yang mengaku Islam dan menyebut-nyebut nama Islam demi memenangkan kelompoknya. Senjata mereka adalah ayat serta sejumlah teks kitab suci yang menjadi magis bagi umat. Lewat ayat itu, mereka memasang kekang pada leher umat dengan harapan bisa menjadi massa yang mengikuti apa kata pemimpin.
Sejatinya tak masalah jika Islam dibawa ke ranah politik, sepanjang tokoh-tokoh Islam itu bisa membawa keteladanan. Masalahnya juga adalah tak banyak terdengar tokoh Islam tanah air yang sekaliber Gandhi dalam hal menolak materi atau sesuatu yang bisa memenjarakan keimanan. Kisah Gandhi yang menggetarkan adalah ketika ia hanya memakai sehelai kain, ke mana-mana berjalan kaki, lalu tidur di rumah sederhana. Ia menunjukkan integritas sekaligus pesan kelangitan bahwa dirinya memang terlahir untuk membela nasib umat yang terpinggirkan.
Nah, bagaimana dengan ulama zaman kini yang tengah memenuhi panggung politik? Mereka tak menawarkan keteladanan. Tak menawarkan daya tahan sebagaimana Rasulullah ketika dilempari di Thaif. Tak menunjukkan kehebatan Rasul ketika menegakkan sendi ajaran Islam yang menjadi berita gembira bagi masyarakat lapis bawah Mekkah. Para ulama itu duduk nyaman di mobil jenis Alphard. Ada petinggi sebuah partai islam yang merangkap sebagai calo anggaran. Bagaimana mau membuat umat percaya ketika mereka sibuk membangun tembok tinggi di rumahnya?
Nah, wajar saja jika kemudian umat lebih percaya Jokowi yang selama menjabat sebagai walikota justru tak pernah mengambil gaji. Inilah integritas. Inilah daya tahan menghadapi godaan gaji dan proyek. Inilai nilai-nilai Islam. Bukannya urusan jenggot dan bekas hitam di jidat, namun ke mana-mana memamerkan kemewahan!
Kekalahan calon ulama itu membuat diriku miris. Aku percaya bahwa agama tak pernah salah. Namun aku amat yakin kalau cara pandang manusia membuat agama kian menjauh dari capaian substansial yang mestinya bisa digapai. Idealnya, agama itu bisa jadi spirit kuat untuk anti-korupsi, menegakkan hukum, menguatkan nilai, mempererat solidaritas sosial, serta melesatkan jati diri bangsa untuk menggapai kemajuan.
Namun, nilai-nilai Islam yang indah itu telah dibengkok-bengkokkan menjadi dukungan pada si kumis. Seolah si Jokowi itu tak sedang membawa nilai Islam, dalam segala kejernihannya untuk menggandeng seseorang yang beda iman, di tengah kesederhanaan Jokowi untuk menjalani kehidupan, serta optimismenya untuk bekerja keras.
Sungguh, aku sedih memikirkan mereka yang melegitimasi ayat demi memenangkan satu kuasa. Mending, agama tak perlu dibawa-bawa jika hanya dipakai untuk meneguhkan satu rezim. Mending agama tak perlu dibawa-bawa jika nilai-nilai yang indah itu direduksi menjadi simbol-simbol. Anda dianggap Islam hanya ketika sering dilihat salat, atau ketika Anda menyapa dengan panggilan khas Arab.
Sementara kandungan maknanya jadi lenyap, entah ke mana. Nilai-nilai yang amat indah seperti kedamaian, ketegasan, serta kebaikan itu tergantikan oleh seruan untuk memenangkan si kumis. Jika Islam yang jadi patokan, maka seluruh kebaikan seharusnya dianggap sebagai nilai Islam.
Celakanya, para ulama itu mudah terjebak dengan simbol. Dan orang-orang jahat tahu persis itu. Salah satu tayangan paling menggelikan bagiku adalah ketika banyak koruptor yang saat disidang datang membawa tasbih, memakai baju koko, atau peci haji. Lucunya, publik mudah tersentuh, mudah digiring para ulama-ulama yang bersembunyi di ketiak penguasa.
Kemenangan pria kurus itu menunjukkan kalau asumsi ini mulai tak relevan. Ada secercah harapan kalau umat makin rasional. Mereka tak selalu sudi diklaim dengan cara demikian. Mereka bisa menghukum para ulamanya. Ketika mereka memilih sosok lain dari yang digariskan ulama, itu bermakna bahwa mereka lebih suka dengan nilai-nilai yang tampak mata, ketimbang diarahkan mereka yang mengaku ulama, namun nihil keteladanan.
Lantas, masih relevankah bicara tentang Islam politik? Ataukah kita menggemakan kembali kata-kata Nurcholish Madjid yang mengatakan “Islam Yes, Partai Islam No?”
Anonymous berkata
Partai hanya beberapa saja. Rakyat sudah ga mau dibohongi lagi.
Anonymous berkata
Buat Saya pribadi, kekalahan Foke-Nara yang didukung oleh banyak partai besar menjadi bukti nyata bahwa selama ini partai-partai (dan juga Pemerintah …) hanya menyuarakan kepentingan kelompok elit tertentu.
Panwaslu Buka Posko Laporan Warga Kehilangan Hak Pilih | AIRSOFTGUN berkata
[...] Hasil Quick Count Pilkada DKI Jakarta 2012KAMMI Ajak Warga Jakarta Kawal Janji JokowiMemimpin dan Mengawal Perubahan – Untuk Idonesia Lebih BaikPIDATO KETUA UMUM PDI PERJUANGAN PADA PEMBUKAAN RAKERNAS II SURABAYABelajar dari Pilkada JakartaPolitisasi Guru dalam Pilkada DKIMenuju Jakarta BaruJokowi Ucapkan Terima Kasih Kepada Warga JakartaKAMMI Cinta KPK : Hentikan Pengebirian KPKKekalahan Foke-Nara Bukti Keruntuhan Parpol [...]