Pesan Imam Besar FPI Terkait Tragedi Sampang
Posted by KabarNet pada 28/08/2012
Jakarata – KabarNet: Peristiwa berdarah Sunnah-Syiah di Dusun Nangkernang, Sampang Madura, pada Ahad pagi, 26 Agustus 2012 lalu, mengundang keprihatinan dari berbagai kalangan umat Islam termasuk Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Muhammad Rizieq Syihab. Beliau menyampaikan pernyataan sikap tegas atas peristiwa tersebut, yang diutarakan kepada redaktur fpi.or.id, hari ini, Selasa, 28 Agustus 2012.
Berikut ini adalah pesan Imam Besar FPI, Habib Muhammad Rizieq Syihab untuk seluruh Keluarga Besar Front Pembela Islam (FPI) :
“KONFLIK BERDARAH Sunni – Syiah tidak boleh terjadi. Sunni harus bisa menahan diri dan Syiah harus tahu diri. Artinya, Sunni tidak boleh tunjuk hidung dengan mengkafirkan Syiah, apalagi menggeneralisir bahwa semua Syiah kafir, tapi Sunni tetap wajib mengkafirkan aneka pemikiran yang nyata-nyata kafir dari siapa pun datangnya, seperti pemikiran bahwa Al-Qur’an ada kekurangan akibat tahrif, Jibril AS salah membawa risalah kepada Muhammad SAW mestinya untuk yang lain, ada umat Islam yang lebih afdhol dari Rasulullah SAW, ada Nabi Baru setelah Nabi Muhammad SAW, pengkafiran Muhajirin dan Anshor serta Shahabat lainnya yg mengikuti Muhajirin dan Anshor dengan Ihsan, apalagi mempertuhankan manusia, dan sebagainya.
Ada pun Syiah, wajib insyaf dan sadar untuk tidak menyebar luaskan ajarannya di negeri-negeri Sunni, termasuk Indonesia, baik aqidah mau pun syariah, apalagi sikap MENISTAKAN hal-hal yang dimuliakan Sunni, agar tidak memancing konflik. Jika Sunni menahan diri dan Syiah tahu diri, maka dialog dengan ilmu dan adab dalam berbagai perbedaan Sunni dan Syiah bisa dibangun, sehingga konflik berdarah pun bisa dihindarkan.
Waspadalah, Zionis dan Salibis Internasional sedang melakukan program ADU DOMBA Sunni dan Syiah di seluruh dunia secara besar-besaran, bahkan ADU DOMBA Sunni dengan Sunni, dan Syiah dengan Syiah.
Seluruh Aktivis FPI wajib menjadi benteng Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, pecinta sejati Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya serta semua Shahabatnya, tapi tidak boleh sembarangan mengkafirkan madzhab-madzhab Islam yang ada dan diakui sejak lama oleh Ulama Salaf mau pun Khalaf dengan aneka ragam perbedaannya, apalagi melakukan penyerangan secara fisik.
Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari RA telah menetapkan Kaidah Aqidah Aswaja yaitu : Tidak mengkafirkan seorang pun dari Ahli Qiblat hanya karena perbedaan Furu’uddin atau Ushul Madzhab, baik dalam Aqidah mau pun Syariah, kecuali dalam Ushuluddin (Ushul Islam) baik dalam Aqidah mau pun Syariah. Dan Imam Al-Isfarayani RA meletakkan Kaidah Aqidah Aswaja lainnya, yaitu : Memvonis Islam terhadap seribu orang kafir dengan satu syubhat LEBIH BAIK daripada memvonis Kafir terhadap seorang muslim dengan seribu syubhat.
Ayo, jaga UKHUWWAH ISLAMIYYAH dalam perbedaan Madzhab! Bangun Dialog dengan Ilmu dan Adab sesama Madzhab Islam! Jangan saling mengkafirkan, apalagi saling menyerang dan membunuh! Stop segala bentuk penistaan terhadap Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya serta para Shahabatnya! Rapatkan barisan dan satukan potensi untuk melawan Zionis dan Salibis Internasional! Allahu Akbar !!! “
Jakarta, 10 Syawwal 1433 H – 28 Agustus 2012 M.
Imam Besar Front Pembela Islam
(Habib Muhammad Rizieq Syihab)
Source: fpi.or.id
Entri ini dituliskan pada 28/08/2012 pada 14:43 dan disimpan dalam Kabar Umat, Peristiwa, Tokoh, TRAGEDI. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.







































Muhammad Aris Alwi berkata
Allahuakbar.. Allahuakbar.. Allahuakbar..
nahnumuslim berkata
ALLAHUAKBAR!!! jangan biarkan kaum kuffar dan Musyirikin tertawa ditengah pecah belah yang dilakukannya. Malahahn Mari kita kembali ke Alquran yang terpelihara dan sunnah Sahih Rasulullah.
bram sonata berkata
Menurut pandangan/penilaian saya, pertikaian umat Islam yg dimulai sejak wafatnya Rasulullah SAW hingga pada saat ini, paling tidak sudah menginjak hari ini, masih merupakan babak babak awal, belum menginjak pertengahannya, dimana disini akan lebih dahsyat lagi keadaannya, tolong anda analogikan dengan peristiwa masa klasik, dimana leher cucu Rasulullah SAW dipenggal Yasid? ini sudah merupakan peristiwa besar karena ada hubungan langsung dengan keluaarga Rasulullah SAW.
Umat Islam pada masa babak awal yg sudah saya sebutkan diatas, banjir darahnya masih kecil, dan akan mengerikan dibabak pertengahan, dan lebih mengerikan lagi dibabak akir, saat-saat inilah umat Islam mulai menyadari mengapa peristiwa ini bisa terjadi ??????? saat sudah babak belur,compang camping keadaan umat Islam, jawabannya sederhana, semua itu disebabkan oleh RUSAK AKIDAH ISLAMNYA yg notabene durhaka kepada Allah dan Rasul-NYA.
Sehingga pemuka-pemuka agama Islam dengan embel-embel atributnya dalam menyerukan HARUS INI-HARUS ITU kepada umat Islam, akan menemui kesia-siaan, sebelum menemukan akar masalahnya mengapa umat Islam mengalami nasib yg amat nestapa??
Tidak ada kata terlambat bagi umat manusia, khususnya Umat Islam untuk kembali ke jalan yg lurus dan bebar sebagai sudah digariskan/diperintah Rasulullah SAW, sebelum matahari terbit dari barat.
Sagaf berkata
Apa yang disuarakan oleh habibana riziq ini merupakan sesuatu yang memang sudah seharusnya difahami oleh seluruh pihak.
Syiah sudah selayaknya memahami bahwa mereka saat ini berada ditempat yang mayoritas sunni. Bahkan berdasarkan pertemuan di Doha semua ulama kibar sudah menyepakati apa yang disuarakan ini. Bahwa syiah jika berada didaerah suni tidak seharusnya menyebarkan syariah maupun akidah nya, karena hasilnya ya ini… Fitnah.. Kekacauan dalam masyarakat ? Apakah memang ini yang diajarkan oleh Syiah ? Begitu pula sebaliknya… Suni jika berada didaerah syiah pun berlaku sama… tidak sepatutnya menyebarkan akidah maupun syariah sunni nya.
Marilah sekarang kita berkaca diri… Tetap nafsi-nafsi dalam madzhab, tapi tidak perlu saling mempengaruhi apalagi sampai berpanas-panasan, bertengkar, perang mulut bahkan sampai bunuh membunuh…. Apakah ini yang dituju dari dakwah ???
Saya sepaham dengan apa yang disuaraka habib riziq bahwa sudah saatnya kita saling menghargai satu sama lain, dengan tetap memegang teguh pemahaman akan ajaran masing-masing.
Saatnya hentikan hujat menghujat… Kita tidak diajarkan untuk menghujat, tapi menyebarkan islam dengan cara yang santun, Satu hal yang saya syukuri… Wali songo adalah penyebar islam yang tidak menggunakan cara-cara seperti yang menyebabkan kejadian sampang ini terjadi. Siapapun itu, baik dari sunni ataupun syiah).
Hidup walisongo….
wiropendekarmuslim berkata
Salibis dan Zionis pancen ahli Neraka!
Pengecutnya terlihat dg suka mengadu Domba!
http://www.youtube.com/watch?v=IX9Tk2TMA6Q
mbah awam berkata
tapi kalo gak ada zionis dan salibis dunia gak seru, kata bung karno dunia itu merusak dan membangun, mudah mudahan kita bukan dari bagian yg merusak, tapi membangun.
anak_ayam berkata
Apakah anda2 ini lebih pintar dari pada ulama2 terdahulu? Apa kata imam syafi’I tentang syiah, apa imam malik tentang syiah, apa kata imam abu hanifah tentang syi’ah dan apa kata imam ahmad tentang syiah? Apakah dari salah satu mereka ada yang mengatakan bahwa syi’ah itu adalah bagian dari Agama Allah azza wa jalla? apakah kalian tahu Bagai mana kisah sahabat Ali radiallahuanhuajma’in membakar para orang2 syi’ah karena perbuatan mereka? (Bukan maksud saya membenarkan aksi pembakaran dan pembunuhan di sampang, madura. Karena itu adalah sebuah kesalahan yang amat besar) dan saya berpesan kepada anda berilmu lah sebelum berkata dan ber amal. Jangan hanya melihat pristiwa itu hanya dari pemikiran anda semata. Dan jangan pula menyebarkan syubhat yang dapat menyesat kan ummat ini dalam konteks ini agama Islam yang di ajarkan rasul sallaulahualayhi wassallam dan diturunkan oleh para sahabat berikut tabiin wa tabiut tabiin dan syiah bukan lah islam yang nabi kita ajarkan ia hanyalah ajaran sempalan yang di buat oleh seorang munafik yahudi yang masuk islam untuk memecah belah para sahabat.waullahua’lam
Saya berkata
Ya Anak_ayam… Saya sepakat dengan akhina @Sagaf. Pada prinsipnya tidak lah kami membenarkan tentang syiah itu. Namun demi tujuan tidak menyebabkan kejadian-kejadian anarkis ditengah masyarakat yang awam, maka hal itu bukanlah yang kami kedepankan. Maafkan kami, kalau terkesan demikian, namun kami tegaskan bahwa kami tidak lebih pintar bahkan jauh tingkat keilmuannya dari para pendahulu kami. Dan kami tidak hendak menyelisihi mereka.
Adapun apa yang kami coba suarakan adalah membangun agama ini dengan basis santun. Karena menurut kami kurang optimal apabila kita hanya “menghilangkan” (mohon maaf kalau terkesan kasar) pemahaman syiah tanpa memberi bekal pemahaman sunni. Adapun apa yang coba kami suarakan tersebut adalah memberikan dan mencontohkan pemahaman sunni yang baik dengan cara yang santun sebagaimana yang dicontohkan oleh salafuna sholeh (sebagaimana yang dicontohkan oleh walisongo ataupun Al faqihil muqaddam). Yang dengan akhlak tersebut, runtuhlah mereka yang memerangi dengan berkeras hati dan mengangkat senjata, menjadi manusia-manusia yang mengedepankan akhlak dan berlomba-lomba menjadi orang yang mencerminkan akhlaq salaf-nya.
Wallahu’alam.
pembela sunnah berkata
benar ape kate ust habieb rizieq…syiah jangan coba-coba nyebarin ajaran sesatnya ke kalangan sunni, apalagi pake iming-iming duit segale…cuih…gaya lama bak nasrani….ust yusuf al-qaradhawi juga pernah bilang, syiah jangan nyebarin agamanya ke sunni, juga sebaliknya, sunni jangan nyebarin ajarannya ke syiah…tapi di lapangan, syiah yang ngeyel…mereka didanai oleh Iran sih…duitnya banyak….syiah itu bukan islam, coba deh bertanya ke pakar syiah ust farid Ahmad Okbah atau baca artikel di http://www.arrisalah-institute.blogspot.com
ujang tasik berkata
he..he…ingin tahu siapa syiah? tanya ust farid a okbah atau jelajahi internet…syiah itu jahat, sejak zaman dulu sampai sekarang…mongol masuk ke bagdad dan membantai 2 juta umat muslim adalah atas undangan syiah…ust habib benar…ane setuju banget.
Moeslem berkata
Apakah Kitab Al-Kafi?
Kitab al-Kafi adalah merupakan rujukan utama penganut Syi’ah di mana mereka mengambil ajaran-ajaran dari kitab ini sebagai pegangan agama mereka. Kitab ini adalah setaraf dengan kitab Sahih Bukhari di sisi Ahl as-Sunnah wal-Jamaah.
Pandangan Imam Syafii Terhadap Syiah
Pandangan Imam Syafii Terhadap Syiah dan bukan pandangan Aqidah Al-Asy’ariah. Adalah menjadi kesalahan fatal bila mengaitkan Imam Syafii dengan Aqidah Al-Asy’ariah. Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata: Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok terjelek! (terhodoh)”. (al-Manaqib, karya al-Baihaqiy, 1/468. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)
“Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi/bersumpah palsu (berdusta) dari Syi’ah Rafidhah.” (Adabus Syafi’i, m/s. 187, al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1/468 dan Sunan al-Kubra, 10/208. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)
Imam asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang: “Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, kerana Allah menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami”. (Surah al-Hasyr, 59: 10) maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bahagian fa’i).” (at-Thabaqat, 2/117. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/487)
Syi’ah: Harus Menyetubuhi Isteri Pada Dubur
Daripada al-Barqiyy, beliau memarfu’kannya [Menyambungkan sanad sampai kepada imam maksum Syiah] daripada Abi Abdillah a.s. katanya: “Bila seseorang menyetubuhi isterinya pada duburnya lalu dia tidak sempat keluar air mani maka kedua-duanya tidak wajib mandi. Jikalau dia keluar air mani maka wajib mandi ke atasnya dan isterinya tidak wajib mandi”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini al-Furu’ min al-Kafi jil. 3 hal. 47)
Syi’ah: Ahlus Sunnah Adalah Kafir Dan Najis
Adapun Nasibi [ialah gelaran kepada Ahlus Sunnah yang digunakan oleh Syi’ah], keadaannya dan hukum tentangnya maka telah diterangkan tentangnya iaitu dua perkara. Pertama, dalam menerangkan makna Nasibi yang disebutkan di dalam riwayat-riwayat bahwa mereka adalah najis dan lebih buruk daripada Yahudi, Nasrani dan Majusi. Mereka juga adalah kafir serta najis dengan kesepakatan ulama Imamiyyah (keredhaan Allah untuk mereka). Pendapat yang dipegang oleh kebanyakan ashab (ulama Syi’ah) ialah mereka adalah orang yang menyatakan permusuhan terhadap Ahlul Bait Muhammad shallallahu alaihi wasallam. [Memusuhi dan membenci Ahlul Bait di sisi Syi’ah bermaksud tidak menerima dan beriman terhadap mereka sebagaimana yang akidah yang dianuti oleh penganut Syi’ah] dan sentiasa melahirkan kebencian terhadap mereka (Ahlul Bait) sebagaimana yang terdapat di kalangan Khawarij dan sebahagian mereka yang tinggal di Waraa an-Nahr [di sebalik sungai Jaihun di Khurasan iaitu kawasan yang didiami oleh ramai dari kalangan ulama Ahlus Sunnah]. Dan mereka (ulama Syiah) menyusun hukum-hukum dalam bab bersuci, najis, kufur, iman, harus berkahwin dan tidak harus ke atas Nasibi berdasarkan makna di atas. (Rujukan: Sayyid Ni’mat Allah al-Musawi al-Jazairi al-Anwar an-Nu’maniyyah jil. 2 hal. 306)
Syi’ah: Ahlus Sunnah Lebih Hina Daripada Anjing
Daripada Ibnu Abi Ya’fur daripada Abu Abdillah a.s. katanya: “Jangan mandi daripada telaga yang berhimpun padanya sisa air mandi dari bilik mandi kerana padanya terdapat air mandi anak zina dan ia tidak akan bersih sehingga tujuh keturunan dan padanya juga terdapat air mandian nasibi dan ia adalah yang paling buruk di antara keduanya. Sesungguhnya Allah tidak menciptakan makhluk yang lebih buruk dari anjing dan sesungguhnya nasibi adalah lebih hina di sisi Allah dari anjing”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini al-Furu’ min al-Kafi jil. 3 hal. 14)
Agama Syi’ah: Sahabat-Sahabat Merupakan Penyeleweng Al-Quran.
Mereka golongan yang gemar takwil ayat-ayat Allah. Sesungguhnya Allah taala telah menerangkan kisah orang-orang yang mengubah (kitab Allah) dengan firman-Nya:
الَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً
Orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu.[Al-Baqarah ayat 79]
Syiah mentakwil ayat ini iaitu mereka (sahabat-sahabat Nabi) memasukkan ke dalam kitab sesuatu yang tidak dikatakan oleh Allah untuk mengelirukan manusia lalu Allah membutakan hati-hati mereka sehingga mereka meninggalkan di dalamnya (al-Quran) sesuatu yang menunjukkan perbuatan yang telah mereka lakukan kepadanya dan menerangkan tipu daya mereka, menimbulkan kekeliruan dan menyembunyikan apa yang mereka lakukan terhadapnya (al-Quran).
Syi’ah: Al-Quran Sekarang Tidak Asli Kerana Ianya Bukanlah Yang Dihimpunkan Oleh Imam-Imam Maksum Di Sisi Syi’ah.
Thiqah al-Islam (al-Kulaini) daripada Muhammad bin Yahya daripada Ahmad bin Muhammad daripada Ibnu Mahbub daripada ‘Amar bin Abi al-Miqdam daripada Jabir katanya, aku mendengar Abu Ja’far a.s. berkata: “Tidaklah seseorang itu mendakwa bahawa ia telah mengumpulkan al-Quran kesemuanya sebagaimana diturunkan melainkan ia adalah seorang pendusta, al-Quran tidak dihimpunkan dan dihafal sebagaimana diturunkan oleh Allah Taala kecuali Ali bin Abi Talib a.s. dan imam-imam selepasnya a.s.”
As-Saffar di dalam al-Bashaair daripada Muhammad bin al-Husain bin Syu’aib daripada Abdul Ghaffar katanya, ada seorang bertanya Abu Ja’far a.s. maka dia a.s. menjawab: “Tidak ada seorangpun yang mampu untuk mengatakan bahawa dia menghimpunkan keseluruhan al-Quran kecuali para washi (imam-imam)”.
Daripada Abdillah bin ‘Amir daripada Abi Abdillah al-Barqi daripada al-Husain bin Uthman daripada Muhammad bin al-Fadhl daripada Abi Hamzah ath-Thumali daripada Abi Ja’far a.s. katanya: “Saya tidak mendapati dari kalangan umat ini orang yang boleh menghimpunkan al-Quran kecuali para washi”.
Syi’ah: Imam-Imam Mempunyai Kedudukannya Sama Dengan Para Nabi Dan Tidak Sempurna Segala Amalan Tanpa Beriman Kepada Imam-Imam.
Sesungguhnya imamah berada pada kedudukan para nabi, warisan para washi, kepimpinan daripada Allah dan kepimpinan daripada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam., seperti kedudukan Amir al-Mukminin a.s., pusaka Hasan dan Husain a.s. sesungguhnya imamah adalah teraju agama, peraturan kepada orang-orang Islam, kebaikan di dunia dan kemuliaan kepada orang-orang beriman. Sesungguhnya imamah adalah asas Islam yang subur, dan cabangnya yang tinggi. Kesempurnaan sembahyang, zakat, puasa, haji dan jihad adalah dengan (kepercayaan kepada) imam. Dan juga (kesempurnaan dengan imam) menyempurnakan fai dan sedekah, melaksanakan hudud dan hukum-hukum dan menghalang (mempertahankan) tempat sasaran musuh dan penjuru-penjuru (Negara).
Syi’ah: Imam-Imam Mempunyai Ciri-Ciri Khusus Termasuk Maksum
Imam itu suci daripada dosa dan selamat daripada sebarang keaiban, dikhususkan dengan ilmu (diberikan ilmu yang khusus), diberikan sifat penyantun, peraturan agama, kemuliaan orang-orang Islam, kebencian orang-orang munafik dan kebinasaan kepada orang-orang kafir. Imam-imam adalah orang yang maksum daripada sebarang dosa dan kekurangan. Imam-imam mempunyai ilmu khusus yang tidak diberikan kepada sesiapapun termasuk para nabi. Dengan imam-imam sahaja orang-orang Islam akan memperoleh kemuliaan serta mengalahkan orang-orang kafir.
Syi’ah: Imam-Imam Syiah Mempunyai Sifat-Sifat Ketuhanan
Ali bin Muhammad dan Muhammad bin al-Hasan daripada Sahl bin Ziyad daripada Muhammad bin al-Walid katanya: Sa’id al-A’raj telah meriwayatkan kepada kami, katanya: Saya dan Sulaiman bin Khalid masuk menemui Abu Abdillah a.s. lalu dia memulakan (bicara) kepada kami dengan berkata: “Wahai Sulaiman! Apa-apa yang datang daripada Amir al-Mukminin (‘Ali) a.s. hendaklah diambil (amalkan) dan apa-apa yang dilarang olehnya hendaklah ditinggalkan. Beliau diberikan kelebihan sebagaimana yang diberikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.a. dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.a. diberikan kelebihan mengatasi sekalian makhluk Allah. Menghubungkan kekurangan atau keaiban kepada mana-mana hukum yang dibuat Amir al-Mukminin a.s. adalah seperti menghubungkan kekurangan kepada Allah ‘azza wa jalla dan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam.a.. Mengingkarinya (Amir al-Mukminin) sama ada dalam masalah kecil atau besar sama seperti melakukan syirik kepada Allah. Amir al-Mukminin a.s. adalah pintu Allah yang tidak sampai kepada Allah kecuali melaluinya dan jalannya yang mana orang yang melalui jalan yang lain akan binasa. Dengan cara inilah berganti imam-imam a.s. seorang demi seorang. Allah menjadikan mereka sebagai paksi-paksi bumi sehingga bumi tetap (tidak bergoncang) dengan sebab mereka dan menjadikan mereka sebagai hujah yang nyata ke atas makhluk yang berada di atas bumi dan di perutnya.
Dia (perawi) berkata lagi: Amir al-Mukminin a.s. berkata: “Aku adalah pembahagi (bagi pihak) Allah antara syurga dan neraka. Akulah pembeza yang agung, akulah tuan punya tongkat (Musa) dan bukti-bukti (mukjizat). Semua malaikat dan ruh telah menyatakan pengakuan terhadapku (menerimaku) sebagaimana mereka telah mengakui terhadap Muhammad shallallahu alaihi wasallam.a.. Aku telah menanggung beban seperti yang ditanggung oleh Muhammad shallallahu alaihi wasallam.a. iaitu bebanan daripada Tuhan. Sesungguhnya Muhammad shallallahu alaihi wasallam.a. akan diseru lalu diberikan persalinan dan diminta supaya bercakap (di hari akhirat) dan aku juga akan diseru lalu diberikan persalinan dan diminta supaya bercakap maka aku bercakap sebagaimana ia bercakap. Aku telah diberikan beberapa ciri yang tidak diberikan kepada siapapun sebelumku. Aku mengetahui ilmu tentang kematian-kematian dan ujian-ujian, keturunan dan pemberi kata putus. Tidak terlepas dariku apa yang telah berlaku sebelumku dan tidak tersembunyi dariku sesuatu yang di belakangku. Aku memberikan berita gembira dengan izin Allah dan aku menunaikan segala perkara daripada Allah ‘azza wa jalla. Semua itu diberikan kekuatan oleh Allah kepadaku dengan izinnya. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini al-Usul min al-Kafi jil. 1 hal. 197)
Syi’ah: Tiada Perbedaan Sembahyang Ahlus Sunnah Dengan Perzinaannya
Daripada Hannan daripada Abi Abdillah a.s. katanya: “Tidak memberi apa-apa erti (sama sahaja) seorang Nasibiitu sama ada ia bersembahyang atau berzina. Ia adalah balasan yang sesuai dengan amalannya kerana kecuaiannya terhadap sebesar-besar syarat (penerimaan amalan seseorang-penterjemah berdasarkan riwayat rukun Islam di sisi Syi’ah) iaitu al-Walayah. Maka amalannya itu sama seperti orang yang sembahyang tetapi tidak berwuduk’. Ayat ini turun berkenaan mereka:
عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (*) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً
Mereka menjalankan kerja yang berat lagi berpenat lelah, (*) Mereka tetap menderita bakaran Neraka yang amat panas (membakar)[Surah al-Ghasyiah ayat 3 dan 4].
Ali Akbar al-Ghifari mengatakan dalam nota kaki: “Zohirnya Imam Ja’far as-Sadiq maksudkan dengan an-Nasibah dalam ayat ini ialah orang yang menyatakan permusuhan Ahl al-Bait a.s.. Boleh jadi juga Imam a.s. maksudkan dengan makna keletihan iaitu mereka keletihan melakukan amalan-amalan yang rumit dalam keadaan ia tidak memberikan sebarang manfaat kepadanya”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini ar-Raudhah min al-Kafi jil. 8 hal. 160,161)
Agama Syi’ah: Kedudukan Imam-Imam Adalah Seperti Nabi-Nabi Bahkan Mengatasi Mereka.
Sesungguhnya nabi-nabi dan imam-imam a.s. diberikan taufik oleh Allah serta dikurniakan daripada perbendaharaan ilmu dan hikmah-hikmahNya (Allah) kepada mereka apa yang tidak diberikan kepada orang lain lalu ilmu mereka mengatasi ilmu orang yang sezaman dengan mereka sesuai dengan firman Allah ta’ala: “Maka adakah yang dapat memberi hidayat petunjuk kepada kebenaran itu, lebih berhak diturut ataupun yang tidak dapat memberi sebarang petunjuk melainkan sesudah dia diberi hidayat petunjuk? Maka apakah alasan sikap kamu itu? Bagaimana kamu sanggup mengambil keputusan (dengan perkara yang salah, yang tidak dapat diterima oleh akal)?” (Surah Yunus 35) serta firman-Nya: “Dan barang siapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Surah al-Baqarah 269) dan firman-Nya berkenaan Thalut: “(Nabi mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Surah al-Baqarah 247). Dan Ia berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam.: “Allah telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Quran) serta Hikmah (pengetahuan yang mendalam) dan telah mengajarkanmu apa yang engkau tidak mengetahuinya dan adalah kurnia Allah yang dilimpahkanNya kepada mu amatlah besar.” (Surah an-Nisa’ 113) dan Allah berfirman berkenaan imam-imam dari kalangan ahl bait nabi-Nya dan keturunannya a.s.: “Atau patutkah mereka dengki kepada manusia (Nabi Muhammad dan umatnya) disebabkan nikmat (pangkat Nabi dan agama Islam) yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka dari limpah kurniaNya? Kerana sesungguhnya Kami telahpun memberi kepada keluarga Ibrahim: Kitab (agama) dan hikmat (pangkat Nabi) dan kami telah memberi kepada mereka kerajaan yang besar. Maka di antara mereka (kaum Yahudi yang dengki itu) ada yang beriman kepada (apa yang telah di kurniakan oleh Allah kepada keluarga Nabi Ibrahim) itu dan ada pula di antara mereka yang berpaling daripadanya (tidak beriman) dan cukuplah dengan Neraka Jahannam yang sentiasa menyala-nyala itu (menjadi tempat seksa mereka).” (Surah an-Nisa’ 54,55).
Sesungguhnya bila Allah ‘azza wa jalla memilih seorang hamba untuk melaksanakan urusan hamba-hamba-Nya, dia akan menyinari hatinya, meletakkan di dalam hatinya sumber-sumber hikmah, sentiasa mengilhamkannya dengan ilmu, tidak lemah selepas itu di dalam memberikan jawapan, tidak melencong dari ketepatan. Ia adalah maksum serta dibantu, diberi taufik serta diluruskan segala tindakannya. Ia selamat dari sebarang kesilapan, kegelinciran dan keburukan. Allah mengkhususkannya dengan sifat-sifat sedemikian supaya ia menjadi hujah kepada hamba-hambaNya, pembantunya terhadap segala makhluk-Nya. Yang demikian adalah kurniaan Allah yang Ia berikan kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai kurniaan yang sangat luas. (Usul al-Kafi jil. 1 hal. 202,203)
Khomeini: Kedudukan Sayyidina Ali Setaraf Dengan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Syeikh dan ustaz kita al-‘Arif al-Kamil Syeikh al-Abadi di dalam al-Ma’arif al-Ilahiyyah di hadapan murid-muridnya: “Kalaulah Ali a.s. muncul sebelum Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. pasti dia akan menyatakan syari’at sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. dan pasti dia akan menjadi nabi serta rasul. Yang demikian adalah kerana kedua-duanya sama dari segi kerohanian dan kedudukan-kedudukan maknawi (batin) dan zahir”. (Rujukan: Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah al-Imam al-Khomeini hal. 153)
Syi’ah: Ahl as-Sunnah Adalah Anak Zina
Daripada Abi Hamzah daripada Abi Ja’far a.s. katanya (Abu Hamzah): aku berkata kepadanya (Abu Ja’far): “Sesungguhnya pengikut-pengikut kita menghina dan menuduh orang yang menyalahi mereka”. Imam Abu Ja’far berkata kepadaku: “Menahan diri daripada mereka adalah lebih baik”[bertaqiyyah]. Kemudian dia berkata lagi kepadaku: “Demi Allah, wahai Abu Hamzah! Sesungguhnya semua manusia adalah anak zina kecuali Syi’ah kita”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini ar-Raudhah min al-Kafi jil. 8 hal. 285)
Syi’ah: Imam Mahdi Bila Dibangkitkan Akan Memenggal Ahlu As-Sunnah
Daripada Salam bin al-Mustanir katanya, saya mendengar Abu Ja’far (Muhammad al-Baqir) a.s. meriwayatkan apabila al-Qaim (al-Mahdi) bangkit, dia akan mengemukakan keimanan [Mengikut fahaman Syi’ah] kepada setiap Nasibi. Jikalau dia (Nasibi) benar-benar menerimanya (maka ia akan selamat) dan jika tidak al-Qaim akan memenggal lehernya atau dia memberikan jizyah (penerimaan jizyah ini berlaku pada permulaan kebangkitan al-Mahdi kerana berdasarkan riwayat-riwayat yang lain menunjukkan tidak diterima daripada Nasibi atau Ahl as-Sunnah kecuali diberi pilihan sama ada beriman sebagaimana Syi’ah atau dibunuh) sebagaimana ahli zimmi memberikan jizyah (kepada kerajaan Islam) pada hari ini. Dia (al-Mahdi) akan mengikat di tengahnya (pinggang) tali pinggang (Sebagai tanda ahli zimmah dan bukan seorang Syi’ah) dan akan mengeluarkan mereka dari bandar-bandar ke perkampungan-perkampungan. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini ar-Raudhah min al-Kafi jil. 8 hal. 227)
Syi’ah: Ahlus Sunnah Lebih Hina Dari Yahudi, Nasrani Dan Musyrik
Dengan sanad ini daripada Muhammad bin Ya’kub daripada Ahmad bin Idris daripada Muhammad bin Ahmad bin Yahya daripada Ayyub bin Nuh daripada al-Wasya daripada orang yang menyebutkannya daripada Abi ‘Abdillah (Ja’far as-Sadiq) a.s. bahawa beliau tidak suka sisa jilatan anak zina, Yahudi, Nasrani, Musyrik dan setiap orang yang menyalahi Islam. Lebih dibenci ialah sisa jilatan Nasibi.
(Rujukan: Syeikh at-Thaaifah Abi Ja’far at-Thusi Tahzib al-Ahkam jil. 1 hal. 223)
Syi’ah: Nabi Adam Mempunyai Usul Kufur
Daripada Abi Basyir katanya, Abu Abdillah a.s. berkata: “Usul kekufuran ada tiga iaitu terlalu tamak, sombong dan hasad. Adapun terlalu tamak, ia terdapat pada Adam a.s. ketika dia ditegah daripada pokok (larangan) maka terlalu tamak telah mendorongnya supaya makan daripadanya. Adapun sombong, ia terdapat pada iblis ketika dia diperintahkan supaya sujud kepada Adam lalu dia enggan. Adapun hasad, ia terdapat pada dua orang anak Adam ketika salah seorang membunuh pasangannya”.
(Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini al-Usul min al-Kafi jil. 2 hal. 289)
Al-Kulaini: Kitab Al-Kafi Hanya Mengandungi Riwayat Sahih Saja
Saya berkata: Sesungguhnya anda ingin mempunyai sebuah kitab yang lengkap yang terhimpun di dalamnya semua bidang ilmu agama (Islam) yang memadai bagi seseorang pelajar, yang menjadi rujukan bagi pencari hidayah dan orang yang ingin kepada ilmu agama serta mahu beramal dengannya boleh mengambil daripadanya melalui riwayat-riwayat yang sahih dari orang-orang yang benar a.s. (imam-imam Ahl al-Bait) dan (mengandungi) sunnah yang diyakini yang boleh diamalkan serta (dengan atsar-atsar ini) boleh dilaksanakan segala kefarduan yang ditetapkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan sunnah nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam. dan keluarganya. Dan aku katakan: “Jika demikian, aku harapkan ia (kitab) ini menjadi sebab untuk Allah memberikan pertolongan dan taufiq-Nya kepada saudara-saudara kita dan penganut ajaran kita serta memberikan petunjuk kepada mereka”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini Mukaddimah al-Usul min al-Kafi Jil. 1 hal. 8)
Agama Syi’ah: Ilmu Imam-Imam Menyamai Ilmu Para Nabi
Bab Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla Tidak Mengajarkan Kepada Nabinya Satu Ilmu Kecuali Dia Akan Memerintahkan Supaya Mengajarkannya Kepada Amir Al-Mukminin Dan Dia Berkongsi Dengannya (Nabi) Dalam Ilmu.
Ali bin Ibrahim daripada ayahnya daripada Ibnu Abi ‘Umair daripada Ibnu Azinah daripada Abdillah bin Sulaiman daripada Humran bin A’yun daripada Abi Abdillah a.s. katanya: “Sesungguhnya Jibril a.s. telah datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. membawa dua biji delima. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. makan salah satu dan membelah dua yang satu lagi lalu memakan separuh dan memberi makan kepada Ali separuh lagi. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. berkata kepadanya: “Wahai saudaraku! Apakah engkau mengetahui dua biji delima itu? Jawabnya: “Tidak”. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. menjawab: “Yang pertama adalah kenabian. Engkau tidak mempunyai bahagian padanya dan yang satu lagi adalah ilmu. Engkau setanding denganku padanya”. Aku (perawi) pun berkata: “Semoga Allah sentiasa memeliharamu. Bagaimana ia menjadi kongsi Nabi shallallahu alaihi wasallam. padanya? Dia menjawab: “Tidaklah Allah mengajarkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam. satu ilmu kecuali Dia akan memerintahkannya supaya mengajarkannya kepada Ali a.s.”.
Ali bin Ibrahim daripada ayahnya daripada Ibnu Abi ‘Umair daripada Ibnu Azinah daripada Zurarah daripada Abi Ja’far a.s. katanya: “Jibrail a.s. turun kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. membawa dua biji delima dari syurga lalu memberikan kedua-duanya kepadanya. Maka dia makan sebiji dan membelah dua yang satu lagi. Ia memberikan kepada Ali a.s. separuh daripadanya lalu ia memakannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. berkata: “Adapun delima pertama yang dimakan olehku, maka dia adalah kenabian. Engkau tidak mempunyai bahagian daripadanya sedikitpun. Adapun yang satu lagi ia adalah ilmu. Engkau adalah kongsiku padanya”.
Muhammad bin Yahya daripada Muhammad bin al-Hasan daripada Muhammad bin Abdul Hamid daripada Mansur bin Yunus daripada Ibnu Azinah daripada Muhammad bin Muslim katanya: saya mendengar Abu Ja’far a.s. berkata: “Jibril turun kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam. membawa dua biji delima daripada syurga lalu Ali a.s. bertemu dengannya. Maka Ali pun bertanya: “Apakah dua delima yang ada di tanganmu? Dia pun menjawab: “Adapun ini ia adalah nubuwwah, engkau tidak mempunyai bahagian padanya. Adapun ini, dia adalah ilmu. maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. membelahnya menjadi dua lalu dia memberikannya separuh dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. mengambil separuh. Kemudian baginda bersabda: “Engkau berkongsi denganku padanya dan aku berkongsi denganmu padanya”. Baginda berkata lagi: “Demi Allah! Tidaklah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. mengetahui satu huruf pun daripada ilmu yang diajarkan oleh Allah kepadanya kecuali dia akan mengajarkannya kepada Ali. Kemudian ilmu itu berakhir kepada kami. Kemudian dia meletakkan tangannya ke atas dadanya”.
Syi’ah: Orang Yang Mulia Ialah Orang Yang Menyembunyikan Pegangannya
Daripada Sulaiman bin Khalid katanya, Abu Abdillah a.s. berkata: “Wahai Sulaiman! Sesungguhnya kamu berada di atas satu agama yang sesiapa yang menyembunyikannya akan dimuliakan oleh Allah dan sesiapa yang menyatakannya akan dihinakan oleh Allah”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini al-Usul min al-Kafi jil. 2 hal. 222)
Syi’ah: Kitab-Kitab Suci Yang Lain Selain Al-Quran
Daripada Abi Bashir katanya, aku masuk menemui Abi Abdillah (Jaa’far as-Sadiq) a.s. lalu aku berkata kepadanya: “Aku jadikan diriku sebagai tebusan kepadamu! Sesungguhnya aku ingin bertanya kepadamu satu masalah, adakah di sini ada seseorang yang mendengar kata-kataku? Dia (Abu Bashir) berkata lagi: “Lalu Abu Abdillah a.s. mengangkat di antaranya dengan rumah yang lain lalu dia memerhati ke arahnya”. Kemudian dia berkata: “Wahai Aba Muhammad, tanyalah apa yang terlintas padamu”. Aku pun berkata: “Aku jadikan diriku sebagai tebusan kepadamu! Sesungguhnya Syi’ahmu membicarakan bahawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. mengajarkan kepada Ali a.s. satu bab (ilmu) yang terbuka untuknya daripada bab itu seribu bab? Maka dia (Abu Abdullah) a.s. berkata: “Wahai Aba Muhammad! Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. mengajarkan Ali a.s. seribu bab yang terbuka daripada setiap bab seribu bab”. Perawi (Abu Bashir) berkata, aku berkata: “Ini demi Allah adalah sebenar-benar ilmu”. Perawi (Abu Bashir) berkata: “Lalu dia (Abu Abdullah) a.s. menggores-gores seketika tanah kemudian berkata: “Sesungguhnya inilah sebenar-benar ilmu dan tiada yang sepertinya”.
Perawi (Abu Bashir) berkata, kemudian dia (Abu Abdullah) a.s. berkata: “Wahai Aba Muhammad (Abu Basir)! Sesungguhnya kami mempunyai al-Jamiah, adakah mereka mengetahui apakah itu al-Jami’ah? Abu Basir berkata, “Aku jadikan diriku sebagai tebusan kepadamu! Apakah itu al-Jamiah? Abu Abdillah a.s. menjawab: “Ia adalah satu sahifah yang panjangnya tujuh puluh hasta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.. Ia menyampaikannya dari mulutnya dan Ali a.s. menulisnya. Di dalamnya terdapat setiap perkara halal dan haram dan setiap perkara yg diperlukan oleh manusia sehinggalah diyat luka kerana mengoyakkan kulit dan ia memukul tangannya kepadaku sambil berkata: “Adakah engkau memberi izin kepadaku wahai Aba Muhammad? Perawi (Abu Bashir) berkata, aku berkata: “Aku jadikan diriku sebagai tebusan kepadamu, sesungguhnya aku adalah untukmu maka buatlah apa yang engkau kehendaki. Perawi (Abu Bashir) berkata, “Lalu dia meramas aku dengan tanggannya dan berkata: “Sehingga diyat sebegini (dia melakukan seolah-olah marah) Perawi (Abu Bashir) berkata, aku berkata: “Sesungguhnya inilah sebenar-benar ilmu dan tiada yang sepertinya”.
Kemudian ia (Abu Abdillah) diam seketika lalu berkata: “Sesungguhnya di sisi kami ada al-Jufr, apakah mereka tahu apa itu al-Jufr? Abu Basir berkata, aku berkata: “Apakah itu al-Jufr? Abu Abdillah a.s. menjawab: “Satu bekas dari kulit di dalamnya ilmu nabi-nabi dan para wasi, ilmu ulama yang lalu dari kalangan Bani Israil. Perawi (Abu Bashir) berkata, aku berkata: “Sesungguhnya inilah sebenar-benar ilmu dan tiada yang sepertinya”.
Kemudian ia (Abu Abdillah) diam seketika lalu berkata: “Sesungguhnya di sisi kami ada Mushaf Fatimah, apakah mereka tahu apa itu Mushaf Fatimah? Abu Basir berkata, aku berkata: “Apakah itu Mushaf Fatimah? Abu Abdillah a.s. menjawab: “Satu mushaf yang di dalamnya tiga kali ganda quran kamu ini. Demi Allah tidak terdapat di dalamnya daripada quran kamu walaupun satu huruf”. Perawi (Abu Bashir) berkata, aku berkata: “Sesungguhnya inilah sebenar-benar ilmu dan tiada yang sepertinya”.
Imam Ali Ar-Ridha: Golongan Syi’ah Berbohong Mendakwa Cintakan Ali r.a.
Musa bin Bakr al-Wasithi katanya, Abu al-Hasan (Imam Ali ar-Ridha) a.s. berkata: “Kalau aku mengklasifikasikan Syi’ahku, pasti aku tidak akan dapati mereka kecuali orang-orang yang mendakwa sahaja (yang mereka cintakan Ahl al-Bait). Kalau aku hendak menguji mereka pasti aku tidak akan temui kecuali orang-orang yang murtad. Kalau aku mahu membersihkan mereka (daripada dakwaan mereka) tentu tidak akan tinggal walaupun seorang daripada seribu. Kalau aku mahu menyelidiki keadaan mereka (yang sebenar) pasti tidak akan tinggal dari kalangan mereka kecuali aku dapati mereka sambil berbaring di atas sofa-sofa (dengan sombong) mengatakan bahawa kami adalah Syi’ah Ali sedangkan Syi’ah Ali yang sebenar ialah orang yang perbuatannya membenarkan kata-katanya”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini ar-Raudhah min al-Kafi jil. 8 hal. 228)
Syi’ah: Al-Quran Sebenar Tiga Kali Ganda Daripada Al-Quran Yang Ada Sekarang Ini
Daripada Hisyam bin Salim daripada Abu ‘Abdullah a.s. katanya: “Sesungguhnya al-Quran yang dibawa oleh Jibril a.s. kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam. adalah sebanyak tujuh belas ribu ayat”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini al-Usul min al-Kafi jil. 2 hal. 634.
ASTAGHFIRULLAHAL ADHIIM
Moeslem berkata
Masalah Sampang dan Hukum Mencela Sahabat Nabi
Underground Tauhid – KETIKA melakukan investigasi saat terjadi konflik pertama (bulan Februari 2012), antara masyarakat Sunni dengan Syiah di desa Nanggernang, Omben, Sampang Madura, seorang warga Sunni yang mantan jamaah Syiah bercerita bahwa salah satu penyebab kemarahan warga Sunni yaitu karena Tajul Muluk, pemimpin Syiah desa tersebut dianggap terang-terangan telah mencela para sahabat Nabi, khususnya Abu Bakar, Umar, Usman dan istri Nabi yaitu Aisyah dan Khafso.
Tentu saja perbuatan itu membuat marah warga Sunni yang di mata mereka, para sahabat merupakan generasi terbaik yang dimiliki umat Ini. Jasa mereka kepada Islam dan kaum muslimin amatlah besar. Allah telah memilih mereka sebagai kaum yang diberi amanah untuk memperjuangkan, dan menyebarkan Islam. Karena itulah para ulama sepakat bahwa mencela sahabat, apalagi sampai menganggapnya munafik, merupakan perbuatan makar. lebih dari 50 ulama Madura telah menemukan fakta yang telah disampaikan dalam sebuah pernyataan sikap hari Senin 21 Muharram 1427 H/ 20 Februari 2006 tentang ajaran yang dinilai meresahkan warga ini.
Hukum dalam Mencela Sahabat Nabi
Mengkafirkan Para Sahabat Nabi yang telah dijamin surga oleh Allah Subhanahu Wata’ala merupakan perkara yang berbahaya bagi aqidah seorang Muslim.
Karena Para Sahabat sebenarnya layak mendapat penghormatan dan pujian, karena banyak ayat maupun hadits Nabi yang memuji dan menjelaskan keutamaan mereka. Dalam surah Al-Hasr, Allah berfirman,”(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS: Al-Hasr: 8-10)
Demikian juga dalam kitab-kitab hadits yang diterima sepanjang zaman oleh umat Islam dan dipegang oleh para ulama untuk memahami agama ini, disebutkan bab-bab mengenai keutamaan para sahabat. Bahkan dengan tegas disebutkan bahwa menghormati dan memuliakan para sahabat merupakan salah satu bentuk ketaaatan kepada Rasulullah.
Al-Imam al-Bukhari dalam sahihnya meriwayatkan hadits dari Jabir bin Abdullah ra katanya: “Bersabda Rasulullah kepada kami pada hari Hudaibiyah (ketika Baiah al-Ridwan) “Kamu semua adalah sebaik-baik penghuni bumi – ketika itu kami berjumlah seribu empat ratus orang.” (HR.Bukhari)
Kecintaan terhadap para sahabat juga dicontohkan oleh para Imam Syiah. Diantaranya ditunjukkan oleh Zainal Abidin Ali bin Husein. Diriwayatkan dari Ali al-Arbali di dalam kitabnya “Kasyful Ghummah” dari Imam Ali bin Husein. “Datang menghadap Imam beberapa orang dari Iraq, mereka mencaci maki Abu Bakar, Umar, dan Utsman (radhliyallahu ‘anhum). Ketika mereka sudah selesai berbicara, Imam berkata kepada mereka: “Apakah kalian mau menjawab pertanyaanku? Apakah kalian adalah kaum Muhajirin? (sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Orang-orang yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.”? (QS: Al Hasyr 8)). Mereka menjawab: “Bukan.” Beliau kembali bertanya: “Apakah kalian termasuk orang-orang yang dinyatakan dalam firman Allah Ta’ala: ‘Orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan Muhajirin, mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin; dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin, atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka sendiri membutuhkan (apa-apa yang mereka berikan itu).”? (QS: Al Hasyr 9). Mereka menjawab: “Bukan.” Beliau berkata lagi: “Kalian telah mengakui, bahwa kalian bukan termasuk salah satu dari dua golongan tersebut. Maka saya bersaksi, bahwa kalian juga bukan dari golongan orang-orang sebagaimana difirmankan Allah: “Mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (QS: Al Hasyr 10). Menyingkirlah kalian dariku, semoga Allah menghukum kalian!” (Kasyful Ghummah Fi Ma’rifatil Aimmah, juz II, hal 291)
Bahkan kecintaan Ahlul Bait terhadap para sahabat tidak diragukan lagi, termasuk kepada sahabat yang bersebarangan dengan mereka seperti Muawiyah. Hal ini dijelaskan oleh ulama Syaih sendiri at-Thabarsi, dalam kitabnya al-Ihtijaj.
Dalam kitab tersebut diejlaskan bahwa Ahlul bait masih lebih percaya kepada Muawiyah daripada kepada kaum Syiah sendiri. Hal ini bisa dilihat dari apa yang dikatakan oleh Imam Hasan bin Ali. Dari Zaid bin Wahb al-Juhani katanya: Ketika al-Hasan bin ‘Ali a.s. ditikam di al-Madain aku datang menemuinya dalam keadaan dia kesakitan. Maka aku pun berkata kepadanya: “Apa pandanganmu wahai anak Rasulullah karena sesungguhnya orang banyak dalam keadaan kebingungan (dengan apa yang terjadi)? Dia pun menjawab: “Demi Allah! Aku pikir Mu’awiyah lebih baik untukku daripada mereka-mereka ini. Mereka mengaku sebagai Syi’ahku tetapi mencari peluang untuk membunuhku, merampas barang berhargaku dan mengambil hartaku. Demi Allah! Jikalau aku mengadakan perjanjian dengan Mu’awiyah, dia akan melindungi darahku dan aku merasa aman dengan (perlindungannya) terhadap keluargaku. Itu adalah lebih baik daripada mereka (Syi’ah) membunuhku lalu akan tercampakkan kaum keluargaku dan isteriku. Demi Allah! jikalau aku memerangi Mu’awiyah mereka akan menangkapku sehingga mereka akan menyerahkanku kepadanya (Mu’awiyah) sebagai tawanan. Demi Allah! jika aku mengadakan perdamaian dengannya dan aku dalam keadaan mulia adalah lebih baik daripada dia membunuhku sebagai tawanan atau dia akan membantuku lalu ia menjadi pengikut Bani Hasyim di akhir zaman.” (Ahmad bin Ali bin Abi Talib at-Thabarsi, al-Ihtijaj, juz II, hal. 290)
Berdasar keterangan tersebut para jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa orang yang menghina sahabat Rasulullah adalah orang fasik dan munafik, bahkan ada sebagian ulama yang mengkafirkannya. Sebaliknya, cinta kepada para sahabat Nabi, baik itu Ahlul Bait maupun bukan merupakan tanda keimanan seseorang.
Imam As-Suyuthi ketika mengomentari hadits Rasulullah riwayat Al-Imam Muslim yang berbunyi; “Mencintai orang Anshar adalah tanda keimanan, dan membenci mereka adalah tanda kemunafikan” menulis sebuah penafsiran yang menarik: “Tanda-tanda orang beriman adalah mencintai orang-orang Anshar karena siapa saja yang mengerti martabat mereka dan apa yang mereka persembahkan berupa pertolongan terhadap agama Islam, jerih-payah mereka memenangkannya, menampung para sahabat (muhajirin,pen), cinta mereka kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, pengorbanan jiwa dan harta mereka di depan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, permusuhan mereka terhadap semua orang (kafir) karena mengutamakan Islam dan mencintainya, maka semua itu merupakan tanda kebenaran imannya, dan jujurnya dia dalam berislam. Barangsiapa yang membenci mereka dibalik semua pengorbanan itu, maka itu merupakan tanda rusak dan busuknya niat orang ini”. (Ad-Dibaj Ala Shahih Muslim, juz I, hal. 92)
Abu Zur’ah ar Razi yang dinukil perkataannya oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam kitabnya Al Kifayah juga menilai bahwa orang yang menghina sahabat termasuk munafik. Ia berkata, ‘Apabila kamu melihat seseorang menghina salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwasanya dia adalah seorang zindiq (munafik) karena dalam pandangan kami Rasululullah adalah benar, al- Qur’an benar, dan yang menyampaikan al-Qur’an dan hadits kepada kita hanyalah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebenarnya orang-orang itu hendak mencela para saksi kita untuk membatalkan al-Qur’an dan hadits. Justru celaan lebih layak bagi orang-orang itu, merekalah kaum zindik.” (Al Kifayah fi Ilmu Riwayah, juz 1, hal. 49)
Imam al-Hafizh Abd Qadir al-Baghdadi bahkan mengkafirkan orang yang mengkafirkan para sahabat dan melarang umat Islam shalat di belakang mereka. Ia berkata: “Adapun kelompok yang senantiasa mengikuti hawa nafsu, seperti Jarudiyyah, Hisyamiyyah, Jahmiyyah dan Syi’ah Imamiyyah yang telah mengkafirkan sahabat-sahabat, maka kami mengkafirkan mereka dan tidak boleh mendoakan mereka serta tidak boleh pula shalat di belakang mereka.” (Al-Farq Bain al-Firaq wa Bayani al-Firqotu Najiyah, hal. 357)
Berdasar pemahaman tersebut Imam Nawawi berpendapat bahwa orang yang mencela sahabat harus dihukum. Ia berkata “Ketahuilah bahwa mencela para sahabat radhiallahu ‘anhum adalah haram, ia termasuk perkara keji yang diharamkan baik kepada mereka yang terlibat di dalam peristiwa fitnah atau selainnya. Ini karena mereka adalah para mujtahid di dalam peperangan tersebut. al-Qadhi (‘Iyadh) menambah: Mencela salah seorang daripada sahabat merupakan kesalahan yang besar. Pandangan kami serta pandangan jumhur ulama adalah mereka itu dihukum tetapi tidak dihukum mati. Namun menurut sebagian ulama Maliki mereka itu dihukum mati. (Syarh Shahih Muslim bi al-Nawawi, juz XVI, hal.. 93)
Bedasar keterangan tersebut ulama Sunni sepakat bahwa haram hukumnya mencela sahabat Nabi. Para ulama hanya berbeda dalam hal hukuman yang diberikan kepada mereka yang mencela sahabat Nabi.
Dengan dasar inilah, konflik akan mungkin terus terjadi, jika tindakan mencela terhadap para Sahabat Nabi masih terus dilakukan.* (undergroundtauhid/amoeba)
Oleh : Bahrul Ulum dari Hidayatullah.com – Penulis adalah peneliti InPAS (Institut Pemikiran dan Peradaban Islam) Surabaya
kang haji berkata
“KONFLIK BERDARAH Sunni – Syiah tidak boleh terjadi. Sunni harus bisa menahan diri dan Syiah harus tahu diri. Artinya, Sunni tidak boleh tunjuk hidung dengan mengkafirkan Syiah, apalagi menggeneralisir bahwa semua Syiah kafir, tapi Sunni tetap wajib mengkafirkan aneka pemikiran yang nyata-nyata kafir dari siapa pun datangnya, seperti pemikiran bahwa Al-Qur’an ada kekurangan akibat tahrif, Jibril AS salah membawa risalah kepada Muhammad SAW mestinya untuk yang lain, ada umat Islam yang lebih afdhol dari Rasulullah SAW, ada Nabi Baru setelah Nabi Muhammad SAW, pengkafiran Muhajirin dan Anshor serta Shahabat lainnya yg mengikuti Muhajirin dan Anshor dengan Ihsan, apalagi mempertuhankan manusia, dan sebagainya.
————————————————————————————————————
Dialinea tsb diatas dari tulisan Habib Muhammad Rizieq Syihab ada yg menggangu pikiran saya yg kalimatnya berbunyi ….. ada umat Islam yang lebih afdhol dari Rasulullah SAW ….., kalau saya amati kalimat itu benar adanya, tapi kalau membaca tulisan Habib Riziek pada alinea diatas, kalimat itu menjadi sesuatu yg salah yg harus dikafirkan oleh Sunni juga, gimana maksudnya Habib, apa gak salah tulis ?
Hamba Allah berkata
@Kang Haji
Assalamulaikum WR.WB.
Maksud dari tulisan Habib Rizieq di atas yg saya pahami adalah:
Tulisan selengkapnya pada alinea tsb:
“KONFLIK BERDARAH Sunni – Syiah tidak boleh terjadi. Sunni harus bisa menahan diri dan Syiah harus tahu diri. Artinya, Sunni tidak boleh tunjuk hidung dengan mengkafirkan Syiah, apalagi menggeneralisir bahwa semua Syiah kafir, tapi Sunni tetap wajib mengkafirkan aneka pemikiran yang nyata-nyata kafir dari siapa pun datangnya, seperti pemikiran bahwa Al-Qur’an ada kekurangan akibat tahrif, Jibril AS salah membawa risalah kepada Muhammad SAW mestinya untuk yang lain, ada umat Islam yang lebih afdhol dari Rasulullah SAW, ada Nabi Baru setelah Nabi Muhammad SAW, pengkafiran Muhajirin dan Anshor serta Shahabat lainnya yg mengikuti Muhajirin dan Anshor dengan Ihsan, apalagi mempertuhankan manusia, dan sebagainya.
MAKSUDNYA:
1] KONFLIK BERDARAH Sunni – Syiah tidak boleh terjadi.
2] Sunni harus bisa menahan diri (harus bersabar).
3] Dan Syiah harus tahu diri.
4] Artinya, Sunni tidak boleh tunjuk hidung (secara gampang menuding) dengan mengkafirkan Syiah, apalagi menggeneralisir bahwa semua Syiah kafir.
5] Tapi Sunni tetap wajib mengkafirkan (diulang lagi: WAJIB MENGKAFIRKAN) aneka pemikiran yang nyata-nyata kafir dari siapa pun datangnya (termasuk dari orang Syiah),
Siapakah yang menurut Habib Rizieq sudah nyata-nyata kafir dan oleh karenanya WAJIB DIKAFIRKAN itu?
Yang WAJIB DIKAFIRKAN (karena sudah nyata-nyata kafir) itu adalah:
[a] Siapapun (termasuk kelompok Syiah) yg punya pemikiran bahwa Al-Qur’an ada kekurangan akibat tahrif.
[b] Siapapun (termasuk kelompok Syiah) yg punya pemikiran bahwa Malaikat Jibril AS salah membawa risalah (keliru menyampaikan wahyu) kepada Nabi Muhammad SAW, (Maksudnya, kelompok yg punya pemkiran bahwa wahyu yang dibawa Malaikat Jibril tsb mestinya untuk orang lain / bukan untuk Nabi Muhammad SAW). Sebab ada sekte Syi’ah ‘tertentu’ yang beranggapan bahwa wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril a.s. itu seharusnya untuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib kwh/ra, namun Malaikat Jibril a.s. “SALAH ALAMAT” disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.
[c] Siapapun (termasuk kelompok Syiah) yg punya pemikiran bahwa ada umat Islam yang lebih afdhol dari Rasulullah SAW (sebab memang ada sekte Syi’ah ‘tertentu’ yang menganggap Sayyidina Ali bin Abi Thalib kwh/ra lebih afdhol dari Rasulullah SAW).
[d] Siapapun (termasuk kelompok Syiah) yg punya pemikiran bahwa ada Nabi Baru setelah Nabi Muhammad SAW.
[e] Siapapun (termasuk kelompok Syiah) yg punya pemikiran MENGKAFIRKAN Muhajirin dan Anshor serta Shahabat Rasulullah lainnya yg mengikuti Muhajirin dan Anshor dengan Ihsan. (sebab memang ada sekte Syiah ‘tertentu’ yang MENGKAFIRKAN para Sahabat Muhajirin dan Anshor serta Shahabat Rasulullah lainnya yg mengikuti Muhajirin dan Anshor dengan Ihsan).
[f] Siapapun (termasuk kelompok Syiah) yg punya pemikiran mempertuhankan manusia, dan sebagainya. (sebab ada sekte Syiah ‘tertentu’ yang bahkan oleh kalangan Syiah sendiri dianggap kafir karena saking cintanya sampai mempertuhankan Sayyidina Ali bin Abi Thalib kwh/ra).
Menurut Habib Rizieq Syihab, siapapun (termasuk kelompok Syi’ah) yang punya pemikiran seperti yang tertulis pada poin [a] sampai dengan [f] tersebut di atas sudah nyata-nyata kafir, dan oleh karenanya WAJIB DIKAFIRKAN.
Dengan kata lain, kalau ada orang bermadzhab Syi’ah (mengambil hadits2 HANYA dari jalur para Imam Ahlil Bait r.a.) namun tidak sampai punya pemikiran seperti yang tertulis pada poin [a] s/d [f] di atas, maka mereka itu oleh Habib Rizieq dinilai masih dalam koridor Islam. Yakni mereka ‘berbeda’ dengan Sunni, tapi tidak sampai masuk kategori ‘menyimpang’ dan kafir.
Itulah maksud ucapan Habib Rizieq Syihab menurut pemahaman saya. Wallahu A’lam bissowab.
Demikian, semoga bermanfaat.
Wassalam.
kang haji berkata
Waalaikumsalam Wr Wb, terimas kasih utk Hamba Allah atas penjelasannya. Wassalam.
Maria Sitompoel berkata
Telah terang dan jelas argumen diatas, tentang ISLAM YANG KAFFAH.
Anonymous berkata
Betul bgt,Allahu Akbar…
FATIMAH berkata
MAKANYA JANGAN MIKIRIN AGAMA MULU .KERJA!!!! KAYAK KAFIR, TEKNOLOGI !! BIAR SEJAHTERA !!! TUH LIAT KORSEL, USA, CANADA, EUROPE JEPANG, AUSTRALI, TAIWAN NEW SAELAND DLL. JANGAN NIRU AFGANISTAN,PAKISTAN,SUDAN UGANDA,SOMALIA,LIBYA SURIAH PALESTINA IRAN IRAK,KAPAN MAJUNYA?????NYADAR DIKIT SEMUA PERANGKAT TEKNOLOGI YG KITA PAKEK BUATAN KAFIR. SEMENTARA KITA CUMA TAHU JIHAD,GOROK LEHER, SESAT KAFIR MUSRIK AZAB,NERAKA JAHANAM
NAJIS,SARIAH AKIDAH PAYAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH,