Balita Tewas, Ketiban Bedug Masjid
Posted by KabarNet pada 26/07/2012
Sidoarjo – KabarNet: Inilah insiden mengenaskan yang harus menjadi perhatian khusus bagi setiap takmir masjid. Nasib malang menimpa Elok Maulidah (4,5 tahun), balita asal RT-1 / RW-3 Desa Watutulis Utara, Prambon. Sidoarjo, Jawa Timur. Saat bermain-main di bawah bedug Masjid At-Taqwa, di Jalan Raya Watutulis dengan teman-teman seusianya ketika berlangsung salat tarawih Rabu (26/7/2012) malam, Elok ketiban (kejatuhan) bedug besar yang ikatannya terlepas hingga akhirnya merenggut nyawanya.
Akibat musibah itu, kepala, hidung dan mulut putri pasangan Sugiharto (47) dan Ulifah (42) yang tinggal di RT-1 / RW-3 Desa Watutulis Utara, Prambon itu mengucurkan darah segar. Dagu korban memar karena saat kejatuhan bedug, posisi tubuh korban dalam kondisi tengkurap.
Korban yang juga siswi TK A RA Baiturrohim Watutulis itu langsung dilarikan ke RS Dr Sukandar Mojosari Mojokerto, namun menghembuskan nafas terakhir ditengah perjalanan.
Menurut Danang (22), sepupu korban yang juga ikut menolong saat kejadian, bedug terlepas dari ikatannya dan jatuh karena pengikatnya sudah rapuh. Bedug itu jatuh miring dan mengenai keponakannya.
“Saya dengar suara “brak” pas doa akan salat witir. Saya kira itu suara kecelakaan kendaraan di jalan raya. Setelah banyak anak-anak histeris, saya meloncat dan korban sudah tertindih bedug dan kondisi masih sadar. Korban langsung saya larikan ke rumah sakit, namun kedahuluan meninggal,” tuturnya, Kamis (26/7/2012).
Sugiharto, ayah korban, menuturkan atas musibah ini, mungkin masjid-masjid yang ada harus mulai melakukan pengecekan kondisi tali dan penyangga bedug. “Jangan sampai hal yang sama terulang lagi di tempat lain. Soalnya juga anak-anak, tidak mengerti kondisi tempat mainan itu membahayakan atau tidak. Kita yang dewasa yang harus teliti,” ujarnya mengingatkan.
Korban adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya Danu Prasetya (22) dan Ulfi (18). Korban juga sudah dimakamkan sekitar pukul 07.30, Kamis (26/7/2012) pagi tadi.
Insiden mengenaskan ini sudah selayaknya menjadi perhatian khusus bagi para takmir masjid yang mempergunakan bedug di masjidnya. Sedangkan para orang tua yang terpaksa harus membawa serta anak-anak balita mereka ke masjid, seyogyanya mengajak anak-anak itu untuk ikut solat berjamaah. Hal ini menjadi penting karena disamping bertujuan melatih anak-anak mendirikan solat, juga agar anak-anak tidak menjadikan areal masjid sebagai tempat bermain yang akan menganggu kekhusyukan jama’ah yang sedang beribadah. Selain itu, kalau anak-anak ikut solat berjamaah disamping orangtuanya, tentunya kemungkinan terjadinya insiden berbahaya seperti peristiwa “korban bedug” ini bisa diminimalisir. Semoga kejadian ini tak akan pernah terulang lagi. [KbrNet/beritajatim/adl]







































Anonymous berkata
makanya klo ke mesjid bawa bocah diawasin jgn dibiarin liaaar….berisik sangat mengganggu ibadah org lain…..semoga org tua alm bersabar atas musibah ini.
ENCEP berkata
inna lillahi wa inna ilaihi ruji’un
smoga tragedi ini jadi perhatian bagi takmir dimasjid2 & para orang tua untk berhati-hati
tukang info berkata
jarak kita dengan kematian hanya setipis kertas, sedekat urat leher kita sendiri.
DanKematian lah yang paling dekat dengan kita dimanapun kita berada..
ujang tasik berkata
MAKANYA…BEDUG KAN WARISAN AGAMA NON ISLAM…WARISAN DARI HINDU DAN BUDHA…SEGERALAH SADAR WAHAI UMAT ISLAM..PANGGILAN UNTUK SHOLAT ITU CUMA ADZAN…JANGAN BUAT TAMBAHAN-TAMBAHAN…TKS.