Partai “Kutu Loncat” Terkena Hukum Karma
Posted by KabarNet pada 24/07/2012
Jakarta – KabarNet: Hukum Karma, dipercaya atau tidak faktanya sering terjadi dalam kehidupan manusia. Siapa yang berbuat kebajikan, akan menerima balasan baik dimasa hidupnya. Sebaliknya, siapa yang berbuat keburukan, juga akan menerima balasan buruk dimasa hidupnya. Itulah karma yang kini sedang menimpa Partai Demokrat. Partai yang anggota elitnya banyak terdiri dari ‘politisi kutu loncat’ berasal dari parpol lain, kini diisukan akan beramai-ramai ditinggalkan karena sejumlah anggotanya yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan menjadi kutu loncat menyeberang ke partai lain lantaran citra Demokrat yang makin terpuruk.
Partai Demokrat terancam kehilangan kader potensialnya. Sedikitnya 37 anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat diisukan akan hengkang untuk mencari makan ke Partai NasDem. Apakah Karma politik kini menimpa partai berlambang mercy ini?
Ketua Umum Partai NasDem Patrice Rio Capela mengatakan sebanyak 37 kader Partai Demokrat sudah menjalin komunikasi intensif dengan partai yang ia pimpin. “Pada saatnya mereka akan menyeberang,” kata Patrice.
Rencana penyeberangan anggota Partai Demokrat ke Partai NasDem disebutkan karena elektabilitas partai penguasa itu terus jeblok, dan oleh karenanya dinilai sudah tidak menarik lagi sebagai tempat dan sarana untuk mencari makan. Seperti riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang terbaru pada awal Juni lalu yang melaporkan elektabilitas Partai Demokrat terjun bebas ke posisi memalukan, 11,3 persen! Angka ini di bawah perolehan Partai Golkar yang mencapai 20,9 persen dan PDI Perjuangan sebesar 14 persen.
Elektabilitas Partai Demokrat memang belakangan drop hingga di urutan ketiga setelah Partai Golkar dan PDI Perjuangan. Penurunan ini dalam berbagai analisa riset politik dikarenakan kasus korupsi yang melibatkan sejumlah anggotanya seperti Nazaruddin, Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum.
Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Saan Mustopa menilai sampai saat ini pihaknya belum mencium gelagat migrasi anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat ke Partai NasDem. “Kita belum pernah mencium gelagat anggota DPR dari Partai Demokrat pindah ke Partai NasDem,” kata Saan di gedung DPR, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (23/7/2012).
Jika merujuk sejarah Partai Demokrat, sejatinya sejumlah anggota Partai Demokrat bukanlah ‘kader’, melainkan politikus “kutu loncat” yang berasal dari partai politik lain. Sebut saja Ruhut Sitompul dari Partai Golkar, Andi Mallarangeng berasal dari Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK), Hayono Isman dari Partai Golongan Karya (Golkar), dan Benny K.Harman dari PKPI.
Juga Gubernur Bengkulu Agusrin Najamuddin sebelumnya sebagai kader PKS, Gubernur NTB Abdul Majid sebelumnya kader Partai Bulan Bintang (PBB), Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf sebelumnya di Partai Amanat Nasional (PAN), dan masih banyak anggota Partai Demokrat lainnya merupakan politikus yang sebelumnya dikader oleh partai politik lain.
Jika melihat situasi saat ini di internal Partai Demokrat, dengan isu rencana hengkang sejumlah anggotanya ke Partai NasDem pada hakikatnya tak lebih sebagai hukum karma, yakni karma politik yang menimpa Partai Demokrat. Partai ini justru disesaki oleh anggota (bukan kader) yang memiliki jejak rekam sebagai politikus kutu loncat yang sebelumnya dikader oleh partai lain. [KbrNet/adl]







































Maria Sitompoel berkata
Serbagai NIAT Baik, untuk kemajuan Bangsa, ga apa2, HIJRAH dari yang buruk ke yang baik ga masalah bukan.?. Semoga niat baik dari mereka2 yang mau pindah HIJRAH besar2an disokong oleh orang yang baik.
Metro TV dan Trans 7, TVnya Orang Liberal berkata
Yang namanaya Penjahat Elite, yang pasti bersembunyi di tempat yang baik, kalo tempat persembunyianya dah kecium, yah pindah cari tempat baru..
jajaka edan berkata
Sedikitnya 37 anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat diisukan akan hengkang untuk mencari makan ke Partai NasDem…, kata mencari makan sepertinya kurang tepat, yang tepat adalah mencari kekayaan dari hasil RAMPOK uang rakyat !!
jajaka edan berkata
wahai para dedengkot partai nasDEM hati2 dengan kader partai demokrat,…saya sarankan jangan diterima politisi2 tengik partai demokrat “BAHAYA”…apalagi si ruhut…haduuuuh pengen muntah deh.
Anissa Azzahra berkata
Dimanapun mrk pindah. Sama saja. Pemilu 2014 rakyat akan drpaksa u/ memilih koruptor2 baru.
Sang Kata berkata
GENERASI MUDA BEBAS ALKOHOL vs NKRI BEBAS PARPOL
Penjajah masa kini tidak perlu secara fisik, apalagi dengan kekuatan militer. Melalui jalur budaya dan peradaban, dengan dukungan kemajuan komunikasi bisa merambah ke sudut desa paling terpencil. Ironisnya, banyak bangsa dewe yang rela jadi penjajah, sekaligus budak manca negara. Mulai dari pemurtadan secara sistematis, teror produk negeri tetangga, makelar kasus, mafia hukum, Israel kehidupan. Mafia lokal pun ada good father-nya. Kalau Israel versi NKRI sangat rapi, bahkan pelaku eksekusi tidak merasa, tahu-tahu ada korban dan sisanya yang dikorbankan sia-sia. Antara dalang dan wayang tak ada bedanya. Kata Amien Rais, pagi kedele, sore tempe. Begitulah Israel versi NKRI mendominasi kehidupan partai politik (parpol). Sebagai bukti dalam pemilu dan pilpres 2009. Platform semua parpol tang ada bedanya dalam mengejar kekuasaan, kekayaan dan kekuatan. Lima tahun ke depan (2009-2014) nasib bangsa ini sudah digadaikan. Bahkan sampai tingkat provinsi dan kabupaten/kota sudah dikapling untuk pesohor parpol.
Pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun. Demikian bunyi Pasal 1, UU RI No.40 tahun 2009 tentang Kepemudaan. Bahwa untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional, diperlukan pemuda yang berakhlak mulia,
sehat, tangguh, cerdas, mandiri, dan profesional. Dengan kata lain atau lain kata, pemuda maupun generasi muda harus bebas alkohol. Tidak hanya dari pemilih pemula, bahkan batita pun bisa dicekoki tayangan hiburan anak sarat dengan kandungan porno ragam, porno aksi, sihir, mistis, misteri, ajaib, ghaib.
Lima tahun ke depan, kita bantu pemerintah seoptimal mungkin, jangan jadi pecundang. Masih banyak anak bangsa yang beritikad baik.
Sang Kata berkata
Korupsi merusak satu generasi.
Partai politik menggadaikan masa depan bangsa.