Cara Hisab Muhammadiyah di Dunia Astronomi Tak Dipakai
Posted by KabarNet pada 20/07/2012
JAKARTA – Pengamat astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Indonesia (Lapan), Thomas Jamaludin menyatakan, metode yang digunakan oleh Muhammadiyah untuk menetukan tanggal 1 ramadan, memang agak berbeda dengan organisasi Islam di Indonesia yang lain. Hal tersebut lantaran Muhammadiyah menggunakan metode wujudulhilal.
“Metode wujudulhilal itu yang digunakan oleh Muhammadiyah dalam dunia astronomi sudah tidak dipakai lagi. Kalau tetap dipakai, akan terjadi perbedaan dengan saudara-saudara kita yang menggunakan pendekatan rukyat,” kata Thomas di ruang Sidang Isbat Kementrian Agama, Thamrin, Jakarta, Kamis (19/7/2012).
Sehingga, metode tersebut perlu dirubah dengan ciri-ciri astronomis berdasarkan kriteria Visibilitas Hilal atau Infanu Rukyat. “Supaya itu bisa satukan antara hisab dan rukyat,” singkatnya.
Direktur Sains Lapan ini juga menerangkan sebenarnya Muhammadiyah menggunakan hisab modern, melakukan perhitungan dan menggunakan alat komputerisasi sehingga hasilnya akurat, tapi kriterianya itulah yang berbeda dengan yang dirumuskan ormas islam lainnya.
“Itu yang selalu buat perbedaan. Sekarang sedang diupayakan dalam seminar Juni lalu, Ketua PP Muhammadiyah sudah buka diri untuk mengajak dialog dengan kriteria yang mereka punya dan dengan kritera saat ini tepat, sehingga ini jadi moment terbaik untuk sama-sama merumuskan kriteria baru yang bisa diterima semua pihak baik kalangan rukyat maupun hisab. Sebab secara astronomi hal tersebut bisa dilakukan,” simpulnya.
Lapan, lanjut Thomas akan memberikan tawaran berdasarkan data-data astronomi internasional dan menghitung kemungkinan penerapannya di Indonesia sesuai dengan kemampuan hisab Indonesia. “Maka, Lapan menawarkan Rukyat Indonesia dengan pendekatan beda tinggi itu empat derajat dan jarak antara bulan dan matahari 6,4 derajat,” terangnya.
Namun Muhammadiyah, diakuinya belum menyepakati hal tersebut, dan baru menerima tawaran untuk berdiskusi. “Muhammadiyah baru menyatakan terbuka untuk bicarakan hal itu, tapi belum. Makanya tadi saya usulkan supaya ada kesepakatan supaya pendekatan itu bisa segera didiskusikan,” tutupnya. Okezone
Berikut ini tulisan lengkap Thomas Djamaluddin yang diunggah di blognya berjudul:
Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal,
Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab
Perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha sering terjadi di Indonesia. Penyebab utama BUKAN perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi pada perbedaan kriterianya. Kalau mau lebih spesifik merujuk akar masalah, sumber masalah utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal. Bila posisi bulan sudah positif di atas ufuk, tetapi ketinggiannya masih sekitar batas kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat, batas kemungkinan untuk diamati) atau lebih rendah lagi, dapat dipastikan terjadi perbedaan. Perbedaan terakhir kita alami pada Idul Fitri 1327 H/2006 M dan 1428 H/2007 H serta Idul Adha 1431/2010. Idul Fitri 1432/2011 tahun ini juga hampir dipastikan terjadi perbedaan. Kalau kriteria Muhammadiyah tidak diubah, dapat dipastikan awal Ramadhan 1433/2012, 1434/2013, dan 1435/2014 juga akan beda. Masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, “mari kita saling menghormati”. Adakah solusi permanennya? Ada, Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harus bersepakati untuk mengubah kriterianya.
Mengapa perbedaan itu pasti terjadi ketika bulan pada posisi yang sangat rendah, tetapi sudah positif di atas ufuk? Kita ambil kasus penentuan Idul Fitri 1432/2011. Pada saat maghrib 29 Ramadhan 1432/29 Agustus 2011 tinggi bulan di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat atau kurang, tetapi sudah positif. Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya. Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan (“hilal”) sudah wujud di atas ufuk saat maghrib 29 Agustus 2011. Tetapi Ormas lain yang mengamalkan hisab juga, yaitu Persis (Persatuan Islam), mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 karena mendasarkan pada kriteria imkan rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saat maghrib 29 Agustus 2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati. NU yang mendasarkan pada rukyat masih menunggu hasil rukyat. Tetapi, dalam beberapa kejadian sebelumnya seperti 1427/2006 dan 1428/2007, laporan kesaksian hilal pada saat bulan sangat rendah sering kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat dan seringkali pengamat ternyata keliru menunjukkan arah hilal.
Jadi, selama Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria wujudul hilalnya, kita selalu dihantui adanya perbedaan hari raya dan awal Ramadhan. Seperti apa sesungguhnya hisab wujudul hilal itu? Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkan dengan metode rukyat. Tentu saja mereka anggota fanatik Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak faham ilmu hisab, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal.
Oktober 2003 lalu saya diundang Muhammadiyah sebagai narasumber pada Munas Tarjih ke-26 di Padang. Saya diminta memaparkan “Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Saya katakan wujudul hilal hanya ada dalam teori, tidak mungkin bisa teramati. Pada kesempatan lain saya sering mangatakan teori/kriteria wujudul hilal tidak punya landasan kuat dari segi syar’i dan astronomisnya. Dari segi syar’i, tafsir yang merujuk pada QS Yasin 39-40 terkesan dipaksakan (rincinya silakan baca blog saya: tdjamaluddin.wordpress.com. Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.
Kita ketahui, metode penentuan kalender yang paling kuno adalah hisab urfi (hanya berdasarkan periodik, 30 dan 29 hari berubalang-ulang, yang kini digunakan oleh beberapa kelompok kecil di Sumatera Barat dan Jawa Timur, yang hasilnya berbeda dengan metode hisab atau rukyat modern). Lalu berkembang hisab imkan rukyat (visibilitas hilal, menghitung kemungkinan hilal teramati), tetapi masih menggunakan hisab taqribi (pendekatan) yang akurasinya masih rendah. Muhammadiyah pun sempat menggunakannya pada awal sejarahnya. Kemudian untuk menghindari kerumitan imkan rukyat, digunakan hisab ijtimak qablal ghurub (konjungsi sebelum matahari terbenam) dan hisab wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk yang ditandai bulan terbenam lebih lambat daripada matahari). Kini kriteria ijtimak qablal ghurub dan wujudul hilal mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapa kelompok atau negara yang masih kurang keterlibatan ahli hisabnya, seperti oleh Arab Saudi untuk kalender Ummul Quro-nya. Kini para pembuat kalender cenderung menggunakan kriteria imkan rukyat karena bisa dibandingkan dengan hasil rukyat. Perhitungan imkan rukyat kini sangat mudah dilakukan, terbantu dengan perkembangan perangkat lunak astronomi. Informasi imkanrur rukyat atau visibilitas hilal juga sangat mudah diakses secara online di internet.
Muhammdiyah yang tampaknya terlalu ketat menjauhi rukyat terjebak pada kejumudan (kebekuan pemikiran) dalam ilmu falak atau astronomi terkait penentuan sistem kelendernya. Mereka cukup puas dengan wujudul hilal, kriteria lama yang secara astronomi dapat dianggap usang. Mereka mematikan tajdid (pembaharuan) yang sebenarnya menjadi nama lembaga think tank mereka, Majelis Tarjih dan Tajdid. Sayang sekali. Sementara ormas Islam lain terus berubah. NU yang pada awalnya cenderung melarang rukyat dengan alat, termasuk kacamata, kini sudah melengkapi diri dengan perangkat lunak astronomi dan teleskop canggih. Mungkin jumlah ahli hisab di NU jauh lebih banyak daripada di Muhammadiyah, walau mereka pengamal rukyat. Sementara Persis (Persatuan Islam), ormas “kecil” yang sangat aktif dengan Dewan Hisab Rukyat-nya berani beberapa kali mengubah kriteria hisabnya. Padahal, Persis kadang mengidentikan sebagai “saudara kembar” Muhammadiyah karena memang mengandalkan hisab, tanpa menunggu hasil rukyat. Persis beberapa kali mengubah kriterianya, dari ijtimak qablal ghrub, imkan rukyat 2 derajat, wujudul hilal di seluruh wilayah Indonesia, sampai imkan rukyat astronomis yang diterapkan.
Demi penyatuan ummat melalui kalender hijriyah, memang saya sering mengkritisi praktek hisab rukyat di NU, Muhammadiyah, dan Persis. NU dan Persis sangat terbuka terhadap perubahan. Muhammadiyah cenderung resisten dan defensif dalam hal metode hisabnya. Pendapatnya tampak merata di kalangan anggota Muhammadiyah, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal. Itu sudah menjadi keyakinan mereka yang katanya sulit diubah. Gerakan tajdid (pembaharuan) dalam ilmu hisab dimatikannya sendiri. Ketika diajak membahas kriteria imkan rukyat, tampak apriori seolah itu bagian dari rukyat yang terkesan dihindari.
Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Tetapi juga sama pentingnya adalah demi kemajuan Muhammadiyah sendiri, jangan sampai muncul kesan di komunitas astronomi “Organisasi Islam modern, tetapi kriteria kelendernya usang”. Semoga Muhammadiyah mau berubah!* (mrdk)
Entri ini dituliskan pada 20/07/2012 pada 09:42 dan disimpan dalam IPTEK, Kabar Umat. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.







































Anonymous berkata
Kalau ga dipake lagi berarti sekarang pake yang baru donk min..
AwankRicardo berkata
Reblogged this on iwakbiroe.
Anonymous berkata
Ketua PP MUhammadiyah Dien Syamsuddin Arogan dlm menyikapi seputar pertanyaan2 yang diajukan Pembawa Acara Metro TV perihal ketidakhadirannya pada sidang itsbat 1 Ramadhan 2012 Kementerian Agama (Jumat 19 Juli),dia katakan bahwa selamanya Muhammadiyah tidak akan tunduk dengan Ketetapan Pemerintah dalam penentuan 1 Ramadhan dan Syawal dan Pemerintah tidak boleh ikut campur dalam wilayah keyakinan beragama seseorang…..Indonesia bukan negara Islam,jadi Badan Hisab dan Rukyat khususnya Kemenag bukanlah badan mufti Nasional seperti Arab Saudi,,Perbedaan penentuan 1 Ramdhan adalah sama seperti perbedaan bilangan rokaat dalam tarawih yg 11 atau 23,ujarnya…Pemerintah juga harus meningkatkan mutu fasilitas teknologi alat teropong Hilal krn yg ada sdh ketinggalan zaman.
Anonymous berkata
jangan sembarangan ngomongin Ketua PP muhammadiyah arogan,kalo kalian suka ikut, kalo ga suka diam aja jgn bacod monyet.
Islam bersatulah berkata
Untuk Kabarnet
tidak perlu mengulas, seputar penetapan 1 shawal yang berbeda, yang benar hanya Allah SWT berserta para nabinya, jika pemberitaan ini di besar2kan setiap hari,
secara tidak langsung mendukung Jil dan Ulil, yang niatnya memperlihatkan perbedaan Islam,
Musuh Islam Indonesia adalah Liberal, Ahmadiyah,jangan perlihatkan perbedaan yang membuat Musuh Islam tertawa
mudah2an kabarnet tetap menjadi Rujukan trutama kami kaum Muda Bekasi,
dan banyak provokator berkomentar, untuk menjelek – jelekan Islam agar terlihat bermusuhan dengan bahasa2 kotor, mereka mungkin anak buah Ulil / ahmad mogedeg / lia eden / ahmadyah yg sakit hati tidak bisa merusak Islam Indonesia
#Indonesia Tanpa Jil
# Save Muslim Indonesia from Jil and Ulilj
Anonymous berkata
kanapa artikel kayak kayak gini bisa dimuat, padahal hanya memuat satu sisi. Harusnya Blog ini bisa netral, memuat dua pandangan baik dari yg muhammadiyah maupun yang bukan pandangan dari muhammadiyah biar pembaca bisa memilih sendiri…
NB : Penulisan kata Muhammadiyah pada judul diatas saja keliru, apalagi isinya.
Sudah ditambahkan M
Admin
Anonymous berkata
Artikel yang provokatif dan mengadu domba umat.
togean2012 berkata
siapa yg puasa tidak mengikuti pemimpin kita, ulil amri, maka dia telah menyalahi banyak perintah dlm al Qur’an dan Hadist.
dlm al-Qur’an misalnya Allah telah berfirman:
“athiullaha wa athiurrosul WA ULIL AMRI MINKUM” (Q.S: an-Nisa: 59)
artinya: “Taatlah kamu kpd Allah (al-Qur’an), taatlah kamu kepada Nabi (as-Sunnah/hadis) dan kepada para pemimpin kalian.”
ga ada “taatlah kamu kepada ormas Islam, atau kepada Muhammadiyah, kepada NU, dst, dst. yg ada taat kepada Allah, kepada Rosul & kepada pemimpin kita”
Perhatikan kata taat kpd pemimpin tdk berdiri sendiri, namun digandeng dgn ketaatan kepada Allah dan RasulNya. jadi selama pemimpin itu sesuai Al Qur’an dan as-Sunnah, mk kita hrs taat.
Dari hadis perintah taat kepd pemimpin lebih banyak lagi. Misalnya:
حيح البخاري ٦٥٥: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبَانَ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي ذَرٍّ اسْمَعْ وَأَطِعْ وَلَوْ لِحَبَشِيٍّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ
Shahih Bukhari 655:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Aban telah menceritakan kepada kami Ghundar dari Syu’bah dari Abu At Tayyah bahwa dia mendengar Anas bin Malik berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada Abu Dzar:
“Dengar dan taatlah sekalipun terhadap seorang budak Habasyi yang berambut keriting seperti buah anggur kering.”
sudah budak, buruk rupa pula, non muslim pula (Habasyi negri org Nasrani). jadi nabi saw menyuruh kita taat walau kepada pemimpin non muslim sekalipun. Apalagi kepada pemimpin yg muslim.
lalu siapa pemimpin kita? di Indonesia pemimpin kita bukan Raja Arab Saudi, bukan Raja Malaysia, bukan ketua ormas2. tapi Presiden RI (dlm hal ini menyerahkan kpd Mentri Agama). Dialah pemimpin kita. ulil amri kita.
Kl kita ikut mereka, berarti kita ikut perintah Allah dan Nabi Muhammad saw. dpt pahala. Kl mereka salah? Tanggung jawab mereka, kita tak berdosa. kl kita ikut selain ulil amri, berarti kita sdh salah 1. dan menyelisihi al Qur’an dan as Sunnah bukan dosa kecil. kl ternyata yg diikuti salah, salah lagi, jd 2. betapa ruginya…
marilah kita berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah agar selamat hidup kita dunia dan akhirat. Umat Islam ingin maju, tapi herannya al Quran dan as Sunnah ditinggalkan. Mana bisa???? —
achmad hidir berkata
saya salut dgn blog ini….tetapi artikel ini mengundang ketidak nyamanan bagi yang lain….sy setuju dengn penulis sebelum sy…harusnya fair donk….kalau yg baca kaum muhamadiyah…pasti mereka marah nih….tulisan ini,,,,,
Anwar berkata
ULAMA AHLI FALAK NU PROTES HASIL ISBAT PEMERINTAH
http://m.merdeka.com/peristiwa/ulama-ahli-falak-nu-protes-hasil-isbat-pemerintah.html
Ulama Nahdlatul Ulama (NU) Syech Misbachul Munir Alfalakiy(70) yang akrab dipanggil Mbah Munir, pakar ilmu falak Internasional yang juga sempat menjadi Lajnah Falakiyyah Pusat PBNU mempertanyakan hasil sidang isbat pemerintah. Mbah Munir protes karena pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1433 Hijriah jatuh pada 21 Juli 2012.
Mbah Munir berpendapat, dalam hitungan ilmu falak jatuhnya awal Ramadan Jumat 20 Juli 2012. Perhitungan itu berdasarkan sembilan dari 10 kitab popular ilmu falak yaitu Kitab Nurul Anwar Badingatul Nisa, Kitab Minhajurroh Shoddin, Kitab Arrisalatul Falakhiyakiyah, Kitab Huluhul Wathor, Kitab Umdhatutholib, Kitab Rouful Manan, Kitab Risalatul Khomar dan Kitab Sulamun Naiyreni.
Sementara Muhammadiyah dalam hitunganya menggunakan teori dan pengetahuan hisab hakiki. Metode itu tidak memerlukan rukyat atau melihat hilal.
“Sebelumnya saya sudah tahu 1 Ramadan 1433 jatuh dua hari Jum’at Kliwon dan Sabtu Legi. Tidak perlu ambil kepusingan tanggal saya 1 Ramadan Jumat Kliwon dengan ketinggian ikwanul rukyat diikmalkan tidak bisa. Digenapkan 30 hari malah salah. Falak populer ada 10 dari 9 kitab, lima di antaranya menerangkan sudah bisa ditetapkan. Maka, 1 Ramadan tetap Jumat Kliwon 20 Juli. Kalau Muhamamdiyah tiga bulan sebelum datangnya puasa, salah seorang pengurus Majelis Tarjih PP Muhamamdiyah sudah menghubungi saya,” kata Mbah Munir kepada merdeka.com di Ponpes Marzakul Falakiyah Dusun Semali, Desa Salamkanci, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Mbah Munir menyesalkan mengapa dalam pengamatan rukyat hilal ada salah satu jemaah di Cakung yang sempat melihat hilal bahkan disumpah tidak dijadikan bahan dan dasar untuk menetapkan jatuhnya 1 Ramadan 1433 H.
“Selain dari sembilan kitab yang ada menyatakan sudah dua derajat lebih sudah ikmalkan untuk rukyat. Maka satu Ramadan 1433 Hijriah tetap jatuh pada Jum’at Kliwon 20 Juli 2012. Dalam proses melihat hilal, pada prosesnya ada salah satu tepatnya, di Cakung, Jakarta melihat hilal. Kenapa proses melihat hilal ini tidak diakui bahkan dikesampingkan begitu saja? Ini politik dan gengsinya pemerintah dalam siding isbat kemarin,” ujar dia.
Mbah Munir menceritakan, sejarah Nabi Muhammad SAW, dalam penetapan 1 Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, seorang kaum kafir pun yang memberi informasi melihat hilal, nabi langsung menetapkan jatuhnya puasa dan lebaran berdasarkan pengakuan kaum kafir itu.
“Politik dan gengsi. Mengapa sudah melihat bulan saat rukyat hilal ditolak yang di Cakung? Apakah itu sudah betul? Nabi tidak begitu caranya. Nabi ada orang kafir tahu tanggal, nabi saya tahu tanggal dan melihat hilal. Nabi langsung ngomong; Wes sesuk bodho(Ya sudah besok lebaran). Saya orang NU sama dengan Muhammadiyah wes biar. Sehingga tanggalan saya dan santri saya 1 Ramadan jatuh 20 Juli dan hari ini saya sudah puasa,” jelasnya.
Mbah Munir berharap, sidang isbat yang dilakukan pemerintah harus berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengamatan. Dua metode untuk menetapkan jatuhnya hari pertama dimulainya puasa itu tidak dapat ditinggalkan. Seharusnya, awal penetapan Ramadan tidak didasarkan pada kemenangan dan dukungan banyaknya suara dalam forum yang mendukung suara puasa dijatuhkan pada 21 Juli 2012 tetapi berdasarkan dua metode yaitu perhitungan ilmu falak dan pengamatan hilal.
(mdk/par)
Ibnu Marwah Wong-Ngarengan berkata
Siapa kemaren (sabtu bakdal maghrib) lihat rembulan ?. Sebagai orang teramat awam saya semakin yakin dengan penjelasan mBah Munir, dan ma’af semakin meragukan kenetralan seorang yang mengaku sebagai ilmuwan macam Thomas Djamaludin…….
Anonymous berkata
Blog ini perlu direvisi, klo perlu dibubarkan saja… anda liht sendiri pada komentar-komentar diatas, bukan mempersatukan umat tapi memecah umat… gak malu apa ni yang punya blog. Masya Allah… banyak tokoh, ulama, kyai selalu berusaha mempersatukan umat dengan berbagai cara tapi ini blog malah memecah persatuan umat, menjadikan sebuah PERBEDAAN sebagai bahan perpecahan dan penghinaan…
Ahmad Dahlan berkata
@Anonymous No.12
Kenapa hrs direvisi ato dibubarkan?
Kabarnet ini situs berita online. Yg namanya situs berita ya hrs mengemban fungsi jurnalistik, yaitu menyampaikan berita apa adanya, tdk ditambah dan dikurangi.
Tahu maksudnya menyampaikan berita apa adanya dgn tdk ditambah dan dikurangi?
Yaitu:
–> Malaikat bicara diberitakan.
–> Iblis bicara diberitakan.
–> Nabi bicara diberitakan.
–> Penjahat bicara diberitakan.
–> Imam Masjidil Haram bicara diberitakan.
–> Paus Benedictus bicara diberitakan.
–> Dien Syamsuddin bicara diberitakan.
–> Thomas Jamaluddin bicara diberitakan.
–> dst.
Yg penting berita itu disampaikan apa adanya tanpa ditambah dan dikurangi. Itulah prinsip jurnalisme yang bebas dan bertanggung jawab..
Justru kalo ga diberitakan (ditutup tutupi) itulah yg perlu dipertanyakan… ada apa kok ditutup-tutupi.
Apakah umat harus dipersatukan dgn cara menutup-nutupi borok?
Zanni berkata
Kok jadi ragu dg keilmuan seorang thomas jamaludin, sepertinya dia dr dulu mojokin Muhammadiyah…. Dan dr Cakung kenapa dinihilkan pendapatnya pdhal sdh disumpah, politik banyak berperan krn isu awal dan akhir adalah makanan empuk utk sebuah pamor…
Sang Kata berkata
Media massa hidup dari bebagai bencana. Menciptakan sensasi berita yang lebih biadab daripada fitnah. Hidup jurnalis!!!
ariani berkata
astaghfirullah. pak thomas jangan menjual keilmuan anda untuk memecah belah umat dengan mendeskriditkan muhammadiyah. bertaubatlah. mumpung waktu anda masih ada. Untuk warga muhammadiyah dimanapun anda berada, jangan terpancing dengan berita ini. mungkin pak thomas dalam posisi ditekan penguasa. Semoga Allah membuka hati anda pak thomas, dan mengampuni anda…
amin qodarsyah berkata
Blog ini hnya mmbwt umat islam trpcah belah,, klo niat ny ingin mendiskusikan antara NU dan muhammadiyah serta ormas islam yg lain, tdk usah d publikasikan, lgsg saja datangi pimpinan kedua ormas islam dan ormas2 islam yg lain utk di ajak berdikusi. Perbedaan di kalangan umat adalah rahmat.
khatiby kamaludin berkata
ahli falaq thomas djamaludin itu org islam betul atau org lain yg sengaja mengacaukan islam kok ada penafsiran ilmu Falaq lama dan baru,klo selagi lama tapi sesuai dgn edaran bln sabit dipakai,tp tdk yaa jgn dooong,alat itu buatan org islam barat atau org lain,,sdgnkan Nabi SAW blg Puasa itu,liat bln,klo diarab saudi derajat bln yg diliat Nol lgngsung puasa kok indonesia mesti tiga derajat.berarti thomas djamaludin ahli falaq belajar ilmu falaq dari mana?
khatiby kamaludin berkata
thomas djamaludin tdk profesional dlm ilmu falaq dia hanya dengar ilmu org barat bkn agama,jd Muhammadiyah tetap eksis dlm keummatan
Anonymous berkata
Saya setuju dgn togean2012
Anonymous berkata
Taat kepada Pemerintah memang diwajibkan dalam Al”Quran tetapi pemerintah yang bagaimana dulu yang harus ditaati, masalah pemerintah saat ini banyak korup termasuk juga Kementerian Agama…apakah itu harus juga diteladani…Sudahlah ! tidak usah kita berdebat kembalikan kekeyakinan masing2, toh kebenaran itu hanya milik Allah !
Anonymous berkata
21. Anonymous berkata
18/08/2012 pada 14:07
……toh kebenaran itu hanya milik Allah !
*
*
*
Tanggapan:
Hati2 mengatakan kalimat:
“kebenaran itu hanya milik Allah”
Memang betul kebenaran itu hanya milik Allah. Tapi Allah ‘SUDAH MENUNJUKKAN MANA YG BENAR MANA YG SALAH’ didalam Alqur’an dan hadits.
Jadi dengan merujuk kpd Alqur’an dan hadits… maka Poniman, Ponirin, Sutinah, Sutiyem, dan SAYA,… bisa mengatakan Si “A” Benar dan si “B” Salah.
fredy oksana berkata
salam, saudaraku sekalian… Di dalam Islam ilmu menjadi amat penting dalam kita melaksakaan kewajiban sebagai muslim … tanpa ilmu seorang ahli ibadah menjadi tiada guna amalnya, begitu sebaliknya tanpa diamalkan ilmu bukan menjadi cahaya hanya prasasti tanpa makna … semua cukup dengan rendah hati karena menjadi bersama saling nasihat menasihati dalam kesabaran dan kebenaran demikian juga Muhammadiyah yang istiqomah… terimakasih