Survei Politik, Bisnis Dengan Hasil Triliunan Rupiah
Posted by KabarNet pada 18/07/2012
Jakarta – KabarNet: Saat ekonomi Indonesia sedang dilanda kelesuan akibat resesi ekonomi dunia yang berdampak sistemik, bisnis survei politik justru tak pernah sepi order. Terutama lantaran semakin banyaknya orang yang berminat mencari nafkah menjadi politikus. Survei politik bahkan telah berkembang pesat menjadi bisnis yang memiliki prospek sangat cerah. Uang bernilai ratusan milyar hingga triliunan rupiah siap dipertaruhkan oleh parpol dan para kandidat politisi untuk mendapat gambaran opini publik dengan cara survei dalam pemilu, pemilihan umum kepala daerah, dan pilpres. Mereka yang ingin mengetahui tingkat elektabilitas parpol atau dirinya, maka lembaga survei menjadi alamat yang dituju.
“Hitungan kasar dengan menggunakan indikator angka terendah saja, survei pemilukada memiliki nilai bisnis mencapai Rp 715,5 miliar,” papar Agus Herta Sumarto, peneliti PRIDE Indonesia dalam sebuah Diskusi bertopik “Survei Pemilukada DKI, Survei Ilmiah atau Dagang”, bertempat di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (17/7/2012).
Agus menguraikan, angka tersebut diperoleh berdasarkan beberapa indikator sederhana. Berdasarkan jumlah kabupaten/kota dan provinsi maka terdapat 530 kali pemilukada di Indonesia.
Dalam setiap ajang pemilihan biasanya terdapat antara 3 sampai 5 pasangan kandidat. Masing-masing pasangan calon biasanya membayar lembaga survei untuk menggambarkan keunggulan mereka.
Survei tersebut biasanya dilakukan minimal tiga kali dalam setahun dengan biaya per survei antara Rp 150 juta – Rp 250 juta per pasangan calon untuk level kabupaten/kota. “Potensi ekonomi survei pemilukada kira-kira Rp 150 juta x 3 pasang kandidat x 3 kali survei x 530 kabupten/kota+provinsi = Rp 715,5 milyar,” papar Agus.
Angka-angka tersebut adalah angka minimum yang jelas masih bisa bertambah. Pasangan calon yang kaya, misalnya, bisa menggunakan lebih dari satu lembaga survei.
Untuk wilayah “gemuk” dengan pasangan calon yang lebih mapan, lembaga survei biasanya memasang harga yang lebih tinggi untuk setiap kali survei.
Dengan nilai ekonomi dan potensi keuntungan yang menggiurkan itu, tak heran bila lembaga-lembaga survei tumbun semakin banyak dan berkompetisi dalam merebut pesanan survei para kandidat.
Bahkan, para peneliti pemula yang bermodal pun ikut berburu bagian survei dengan mendirikan lembaga survei baru. “Untuk menarik simpati, keilmiahan survei bisa diperdagangkan, dibisniskan,” ungkap Agus.
Caranya bisa melalui manipulasi data dan merekayasa metode. Tujuannya untuk mempengaruhi opini publik dengan gambaran keunggulan calon yang memesan.
Menurut Agus, sebenarnya tidak ada larangan bagi tim pemenangan pasangan calon untuk melakukan menjalin kerjasama dengan lembaga survei. Permasalahannya terjadi manakala hasil survei terdistorsi oleh kepentingan pemenangan pasangan tertentu. “Tidak masalah survei bekerja sama dengan tim pemenangan. Tapi jangan direkayasa. Pahit bilang pahit, manis bilang manis,” tandas Agus.
Namun, dengan iming-iming keuntungan yang besar, apakah lembaga survei dan tim pemenangan berani menyajikan hasil survei yang dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya?
Agus menyatakan sudah saatnya pemerintah dan lembaga legislatif menelurkan aturan dan kode etik yang bisa membatasi permainan bebas kongkalikong lembaga survei dan tim pemenangan yang bisa menipu publik. [KbrNet/Kompas/adl]









































taUbat berkata
HASIL REAL COUNT KPU, RIEKE-TETEN UNGGUL 47 PERSEN
15 jam yang lalu
TEMPO.CO, Bandung – Pasangan nomor 5 Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki memuncaki perolehan suara berdasarkan hasil penghitungan riil (Real count) Komisi Pemilihan Umum Jawa Barat. Hasil ini sudah dipampang di kantor komisi. Hasil ini merupakan penghitungan riil dari 54 Tempat Pemungutan Suara dari Bandung Barat, Kuningan, Subang, serta Ciamis dengan total suara 10.436.
Perolehan di ranking pertama Rieke-Teten 3.172 (47 persen). Disusul Aher-Deddy Mizwar 3.069 (45,5 persen), Dede-Laksamana 2.094 (31 persen), Yance-Tatang 1.890 (28 persen), dan Dikdik-Toyib 211(3,1 persen).
Ketua Pokja Penghitungan dan Pemungutan Suara, Komisioner KPU Jawa Barat Ahmad Heri mengatakan, sistem ini dirancang untuk menjawab pertanyaan publik atas hasil penghitungan suara yang kadang harus menunggu lama. “Rasa penasaran publik terhadap hasil Pilgun bisa dipenuhi dalam waktu quick, walaupun tidak cepat sekalgi, tapi real,” kata dia di KPU Jawa Barat, Bandung, Minggu, 24 Februari 2013.
KPU mematok target hasil hitung cepat yang riil ini rampung besok. “Ini akan kita jadikan database kita, hasil perolehan suara termasuk catatan pelaksanaan pemungutan suara,” kata Ahmad.
KPU mengerahkan petugas PPK di lebih dari 6 ribu kecamatan untuk mengirim data hitungan hasil suara yang dikumpulkan dari tiap TPS langsung ke KPU Jawa Barat. Hasilnya langsung di pampang di aula KPU Jawa Barat.
AHMAD FIKRI
=========
1. Rieke-Teten 3.172 (47 persen).
2. Aher-Deddy Mizwar 3.069 (45,5 persen),
3. Dede-Laksamana 2.094 (31 persen),
4. Yance-Tatang 1.890 (28 persen), dan
5. Dikdik-Toyib 211(3,1 persen).
JUMLAH PERSENTASE => 47 + 45.5 + 31 + 28 + 3.1 = 154.6 %