Dokter dan Bisnis Kesehatan
Posted by KabarNet pada 08/07/2012
SUDAH bukan rahasia jika dewasa ini Fakultas Kedokteran di bagian Indonesia manapun menjadi primadona para lulusan SMA. Pada 2010 lalu saja, misalnya, tercatat 12.461 siswa yang mendaftar untuk menjadi mahasiswa FKUI program Sarjana. Sedangkan kuota yang dibutuhkan hanya sekitar 250-an mahasiswa. UGM, Unpad dan Airlangga juga mengalami hal yang sama, satu kursi kuliah di kedokteran diperebutkan 60-70 calon mahasiswa setiap tahunnya.
Menjadi dokter sudah menjadi epidemi di kalangan anak muda yang ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Entah dari mana virus “dokter” ini menjalar, tetapi satu hal yang pasti, profesi dokter sampai saat ini masih terus dipandang profesi paling prestise. Profesi yang paling mampu mengangkat derajat sosial di antara puluhan pilihan profesi lain yang tidak kalah menjanjikan.
Di sisi lain, bisnis di bidang kesehatan merupakan ladang yang sangat basah, apalagi bagi negeri yang sedang berkembang seperti Indonesia, di mana penyakit apapun dapat dengan cepat berkembang dan menjangkiti rakyatnya. Kehadiran dokter ibarat malaikat yang mencegah kehilangan nyawa. Tak peduli berapa pun besarnya, pasien akan mengusahakan biayanya.
Realita menunjukkan bahwa menjadi seorang calon dokter bukan hanya perkara ambisi seorang anak muda yang ingin menggapai cita-cita. Ambisi terpendam dan belum tersalurkan dari para orang tua pun kemudian kerap menjadi semacam “wangsit” yang harus dilaksanakan oleh anak-anaknya. Ambisi terpendam orang tua menjadi liar ketika ditularkan pada anak-anak muda yang masih polos ini. Tawar menawar pun terjadi, untuk mengikuti ambisi tersebut sejumlah besar harta harus diinvestasikan.
Logika bisnis
Perkara menjadi seorang dokter memang bukan hal yang mudah. Bermain dengan nyawa dan keselamatan pasien bukanlah hal yang sepele. Selain itu, jangan dilupakan pula investasi yang besar untuk mendapatkan ilmunya. Dalam logika bisnis, permintaan yang tinggi tentu akan mengakibatkan kelangkaan, yang kemudian mendorong kenaikan harga. Persis seperti kondisi kita saat ini, di mana peminat di bidang kedokteran terus meningkat, sehingga membuat paket “sekolah kedokteran VIP” pun akan terus diburu orang.
Ironis tentunya, ketika melalui seleksi normal banyak yang tidak mampu lolos, kemudian melalui paket “sekolah kedokteran VIP” ini siapa saja dapat lolos. Dengan catatan, harga “tiket”-nya tidak murah bung! Harga yang tinggi bukan berarti tidak ada yang membeli. Hampir selalu sold out. Sebuah modus anomali di negeri yang sedang berkembang ini, ketika barang-barang mahal akan selalu diburu pembeli.
Dokter paket hemat dan dokter paket VIP memang sudah membanjiri pasaran dunia kesehatan saat ini. Investasi yang dikeluarkan mereka sangat besar. Sebuah investasi tentunya tidak akan dilakukan tanpa harapan akan kembalinya modal. Budaya “kejar setoran” pun merajalela. Dokter-dokter ini menjadi susah ditemui di Rumah Sakit Umum tempatnya bernaung. Ketika menjadi spesialis lebih luar biasa lagi, mereka seolah menjadi takut matahari dan hanya ingin dijumpai pada sore-malam hari di praktek-praktek yang dibukanya.
Menjamurnya sekolah-sekolah kesehatan baik negeri maupun swasta yang juga diikuti dengan membludaknya peminat, ternyata tidak mampu membawa negeri ini membaik di bidang kesehatan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) tahun 2011 menempati peringkat 124 dari 187 negara. Sementara, angka kematian bayi dan ibu melahirkan juga masih tinggi, yakni masing-masing 30/1000 kelahiran hidup dan 240/100.000 kelahiran hidup.
Keuangan Yang Maha Kuasa (mengutip sila Pancasila pertama) pun merajalela. Para anak muda yang luar biasa ini menjadi lupa dengan tanggung jawab di genggamannya. Di balik kekuatan yang besar terdapat tanggung jawab yang besar, menjadi hal yang semakin langka. Mereka yang berilmu ini menjadi lupa akan tugas utamanya sebagai peningkat kualitas hidup orang di sekitarnya dan berubah untuk ‘semakin’ meningkatkan kualitas hidup pribadi.
Ia cepat terkesima dengan gemerlapnya harta. Ia menjadi narsis, terjangkiti image syndrome. Daerah-daerah tertinggal yang masih kekurangan dokter tidak menarik minatnya karena tidak ada gemerincing rupiah di sana. Alhasil, di kota-kota menjamurlah klinik-klinik kesehatan, karena mungkin hanya orang kota yang berhak sehat.
Empati yang diajarkan kampus-kampus tidak lagi menjadi dasar utama yang diterapkan pada pasien. Pasien tidak berhak tahu banyak tentang penyakitnya. Yang penting ialah ambil resep dan kembali lagi ketika penyakitnyatidakkunjungsembuh. Sebuah hal yang bertolak belakang dengan apa yang mereka pelajari di dunia kuliah. Di mana pengobatan pada pasien harusnya dimulai dengan pengobatan di bagian inner (mental) baru kemudian fisik pasien melalui obat. Tapi kini kejar setoran lebih utama.
Integritas dan empati
Image sebagai profesi yang penuh kemewahan harus mampu terpancarkan. Ia menjadi arogan, sombong memuakkan. Melayani pasien seolah hanya pasien yang butuh dirinya. Bukan sebuah simbiosis mutualisme antara dokter-pasien, yang saling membutuhkan. Menjadi seorang dokter membutuhkan lebih dari sekadar impian. Integritas dan empati harus menjadi modal utama. Sulit memang membicarakan hal ini di zaman serba edan sekarang ini.
Kedua hal ini menjadi lebih sulit dibentuk lagi ketika mereka masuk bukan karena keinginannya, akan tetapi lebih karena pemaksaan dari orang tua. Meskipun terkadang anak-anak tersebut tidak cinta berada di dunia tersebut, tetap saja para orang tuanya percaya: “Cinta bisa terbentuk setelah sering bertemu”. Sehingga seiring waktu sang orang tua percaya bahwa anak mereka akan menjadikan dunia kedokteran ini passion-nya, kemudian menjadi dokter ternama seantero negeri.
Passion memang bukan hal yang bisa dipaksakan, minat dan bakat apalagi. Kecerdasan masih mungkin diasah. Tapi ketika seorang anak punya passion dan minat di bidang seni namun mereka dipaksakan menuju ke alam kedokteran. Itu ibarat anda jatuh cinta dengan manusia namun dipaksa kawin dengan mesin. Bukan saya yang mengatakan hal ini. Tapi Ranchodas Chancad melalui film 3 Idiots. Jadi salahkan dia saja jika anda tidak setuju.
Sesungguhnya, masih sangat luas lahan yang bisa digarap, sementara manusia berkualitas semakin terbatas. Mereka yang muda sudah bermental rupiah sehingga tidak ingin bersusah-susah. Generasi muda harus dibuka pikirannya mengenai pentingnya mencari apa yang benar-benar menjadi kelebihannya. Bukan menjadi golongan pragmatis yang serba ingin praktis. [aceh.tribunnews]
Penulis: Ryan Hasri (Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia (UI) Jakarta).







































Anonymous berkata
Para Dokter Buka Hati Nurani Kalian, Ingat. Sumpah Profesi. Ingat Berbagi. Bagi Para Calon Dokter belajarlah Yg Tekun, Bantu Saudara2 yg kesulitan. Dan Bagi Para Pasien, manfaatkan Puskesmas yg sudah di Subsidi Oleh Pemerintah, Jangan sampai Subsidi tsb MubAzir. Sehat Itu Milik Allah, ( Jikalau Datang Sakitmu Mintalah Kesembuhan Hanya padaKu ) Para Dokter Hanya Perantara. Jadi Bapak/Ibu Dokter Ingatlah Akan Diminta Perrtanggung Jawabannya Kelak di Akhirat karena Bapak/Ibu Dokter Sudah dipercayakan Sebagai perpanjangan Tangan Allah untuk Menyembuhkan Pasien. Sebelumnya Saya Berterima Kasih ke Semua Dokter di Indonesia, Baik yg Menjalankan Tugasnya DengAn Pamrih Maupun Tidak. Allah Maha Tahu, Kita Hanya Bisa Berusaha dan Berdo’a
ujang tasik berkata
dunia kesehatan akan bersaing secara ketat dengan dunia herbal…kalau dunia herbal sudah menang, maka dunia kesehatan konvensional akan kiamat…nanti akan banyak dokter yang memelas ke pasien dan mengobral tarifnya…zaman sekarang sudah maju, walaupun dokter kikir akan ilmunya, tapi sudah ada mbah Google yang siap membantu…bertanyalah dan diskusikan dengan orang-orang yang bergelut dengan dunia kesehatan, walaupun dia bukan dokter…saya sarankan kepada masyarakat untuk pintar…seperti sunat, sebetulnya mudah…kalau di dokter mahal, carilah di tempat lain, ada juga kyai yang bisa nyunat…karena nyunat bukan monopoli dokter…belajar di Google dan lihat prakteknya…