KabarNet

INDONESIA Kaya Raya dan Makmur, Tapi RAKYATNYA Banyak yang LAPAR & MISKIN

Hari Buruh 1 Mei, Ratusan Ribu Buruh Serbu Istana

Posted by KabarNet pada 30/04/2012

Jakarta – KabarNet: Ratusan ribu buruh dari berbagai organisasi serikat pekerja dipastikan akan turun ke jalan pada peringatan Hari Buruh Sedunia 1 Mei 2012 besok. Biasanya pada peringatan hari buruh tahun-tahun yang lampau kegiatan ini dipusatkan di Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, dan di Lapangan Monumen Nasional (Monas). Namun untuk tahun ini, kaum buruh akan melakukan unjuk rasa besar-besaran langsung ke Istana presiden. Selain sekitar seratus ribu buruh yang tergabung dari tiga konfederasi dan federasi serikat pekerja lainnya yaitu Konfederasi SPSI, SPI, dan SBSI, juga masih ada ribuan buruh lainnya dari Sekretariat Bersama (Sekber) Buruh Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) akan berunjuk rasa ke Istana Merdeka, Jakarta.

Rencana unjuk rasa tersebut diungkapkan antara lain oleh Humas Sekretariat Bersama (Sekber) Buruh Jabodetabek Budi Wardoyo, “Aksi demo kami akan mencapai 11.000 buruh dan pekerja. Kami akan beraksi di Istana Merdeka saja dan tidak akan ke Gelora Bung Karno, Senayan,” kata Budi, pada hari Minggu (29/4/2012).

Selanjutnya Budi Wardoyo menjelaskan bahwa Sekber Buruh Jabodetabek terdiri atas 21 federasi buruh, tujuh organ mahasiswa nasional, satu organ perempuan nasional, dua organ pemuda nasional, serta organ-organ politik rakyat dan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM). “Kami akan menuntut penolakan kenaikan harga BBM, upah layak, hapus outsourcing, tolak RUU Perusahaan Terbatas dan RUU Keamanan Nasional. Semuanya itu untuk melawan kapitalisme dan imperialisme, serta rezim Soesilo Bambang Yudhoyono dan Boediono, yang menjadi antek kapitalis dan imperialis,” tandas Budi.

Menurut Budi, Sekber Buruh Jabodetabek memang tak diundang oleh ketiga konfederasi buruh nasional. “Kami tak diundang, karena Sekber Buruh Jabodetabek tegas terhadap kapitalisme dan rezim SBY-Boediono plus parlemen sebagai penyebab kemiskinan dan kemelaratan rakyat,” jelas Budi lagi.

Budi menjelaskan, peringatan May Day kali ini berbeda dengan aksi konfederasi buruh lainnya yang berencana akan dilakukan di Gelora Bung Karno. “Kita berbeda, bukan berarti pecah, cuma tuntutan kami ya langsung ke SBY, jadi ke Istana, bukan GBK. Buruh bersatu langsung tuntut penguasa,” tegas Budi.

Dipihak lain itu, sekitar 14 ribu buruh yang tergabung dalam Sekber Buruh yang berada dibawah naungan tiga konfederasi serikat buruh nasional, siap turun ke jalan untuk menggelar aksi damai dalam rangka memperingati Hari Buruh Dunia (May Day) tersebut. “Hingga Orde Baru sampai sekarang, penguasa hanya dijadi alat dan boneka yang gampang dipermainkan asing, tidak beda dengan robot yang mudah dikendalikan,” tegas Ketua Presidium Sekber Buruh, Sultoni kepada wartawan dalam pernyataan sikap menyambut May Day di depan kantor YLBHI, Jakarta, Minggu (29/4/2012).

Disamping organisasi buruh tersebut di atas, sekitar 5.000 buruh Tangerang juga akan ke Jakarta untuk memperingati Hari Buruh sedunia atau “May Day” 1 Mei. Mereka akan menggelar orasi di sejumlah lokasi di Jakarta. “Kedatangan kami ke Jakarta akan bergabung dengan puluhan ribu buruh se-Jabotabek untuk memperingati hari buruh sedunia atau May Day,” kata Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kab/Kota Tangerang, Riden Hatam Azis, di Tangerang, Minggu (29/4/2012).

Ia menyebutkan, 5.000 buruh tersebut berasal dari 80 unit kerja yang ada di Kota dan Kabupaten Tangerang. Mereka akan berkumpul di sekitar kawasan Tol Bitung untuk bersama-sama ke Jakarta. “Kami menjamin aksi turun ke jalan secara damai dan menjaga kondusivitas,” ujarnya.

Diantara sejumlah organisasi buruh yang akan berunjuk rasa ke Istana Negara pada hari buruh 1 Mei besok, yang jumlahnya paling besar adalah dari kelompok Konfederasi Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI).

Ketua Umum KASBI, Nining Elitos, memastikan bahwa dalam aksi peringatan hari buruh 1 Mei besok, KASBI akan menurunkan 178.285 buruh yang tersebar di seluruh Indonesia. Ia menegaskan para buruh tidak memiliki jalan lain selain melakukan mogok nasional dan berjuang turun ke jalan bersama-sama untuk menyuarakan tuntutannya. “Aksi akan kita lakukan di Jakarta, Tangerang, Banten, Jogja sampai Jawa Timur. Kami akan ke HI terus ke istana. Mari bersama-sama berjuang untuk kesejahteraan rakyat,” tegasnya.

Nining Elitos, mengungkapkan, hari buruh merupakan sebuah momen perjuangan yang bersejarah dalam perlawanan kekuasaan modal. Namun, hingga kini, nasib para buruh masih belum mendapatkan hak kesejahteraannya akibat sistem kontrak yang masih diterapkan perusahaan. “Kami mengajak seluruh kaum buruh untuk kembali menyatukan dan merapatkan barisan untuk bersama-sama menuntut penguasa agar menghapus sistem kerja kontrak serta menurunkan harga sembako bagi rakyat,” ujarnya dalam koferensi pers yang diadakan di sekertariatnya, Jl. Cipinang Kebembem, Pisangan, Jakarta Timur, Minggu (29/4/2012). [KbrNet/adl]

7 Tanggapan to “Hari Buruh 1 Mei, Ratusan Ribu Buruh Serbu Istana”

  1. CECEP berkata

    Bagus klo langsung nyerbu istana biar SBY bisa dengar langsung keluhan kaum buruh yg termaginalkan oleh kepentingan penguasa. .!

  2. Anonymous berkata

    May Day,,,adalah untuk memperingati Hari Buruh Internasional,sudah sepatutnya kita sebagai warga negara yg menjunjung tinggi nilai2 Demokrasi sesuai dgn UUD 45,mari kita rayakan May Day ini,dengan tertib,sopan,dan jangan sampai mengganggu sarana kepentingan umum,Bravo Buruh Indonesia !!!!

  3. temonsoejadi berkata

    NITIP artikel mas
    http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/05/01/kenapa-harus-berbakti-kepada-orang-tua/

    terima kasih

  4. Anonymous berkata

    Sudah berapa tahun buruh berdemo tiap Hari Buruh tgl 1 Mei? Apa hasilnya?
    Tidak ada. Hasilnya nol besar
    Suara demo para buruh masuk ke telinga kiri pemerintah rezim bobrok… trus keluar lagi dari telinga kanan.
    Percuma ga bakal didengerin.

  5. taUbat berkata

    PEREMPUAN YANG MENGGENTARKAN REZIM, MARSINAH PAHLAWAN KAUM BURUH

    TERSEBUTLAH seorang perempuan yang bernama Marsinah, berasal dari desa Nglundo, Sukomoro, lahir pada tanggal 10 April 1969, ia berasal dari kalangan buruh tani yang kemudian dipaksa mencari pekerjaan di kota akibat lahan pertanian yang semakin sempit dan kemiskinan masyrakat pedesaan. Ia kemudian memperoleh pekerjaan sebagai buruh di sebuah pabrik arloji, PT Catur Putra Surya, Porong, Sidoarjo, Surabaya. Sosoknya yang selalu dikenang oleh kaum buruh dan aktivis karena kematiannya yang tragis disaat menjalankan protes terhadap perusahaan tempatnya bekerja.

    Setelah menghilang selama 3 hari, tubuhnya ditemukan tak bernyawa di hutan di dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk, pada tanggal 8 Mei 1993 (yang kemudian dikenal sebagai Hari Marsinah). Hingga hari ini kasusnya masih belum menemukan kejelasan tentang siapa yang sebenarnya bertanggung jawab.

    Ia Dibunuh, Tulang Panggul dan Lehernya Hancur

    Dimulai dengan unjuk rasa yang dilancarkan oleh para buruh PT Catur Putra Surya pada tanggal 3 dan 4 Mei, karena kenaikan upah yang sudah ditetapkan oleh pemerintah setempat sebesar 20 persen gaji pokok tidak kunjung dipenuhi oleh perusahaan. Mereka menuntut kenaikan gaji dari Rp1.700 menjadi Rp2.250 dan tunjangan sebesar Rp550 perhari. Marsinah, adalah salah seorang buruh yang aktif dalam rapat-rapat dan aksi-aksi tersebut meski pun ia bukan lah anggota serikat buruh karena kesibukannya di kerja-kerja sampingan lainnya demi mengumpulkan duit dan memenuhi kebutuhan hidupnya.

    Pada tanggal 3 Mei, aksi mereka dihalang-halangi oleh Koramil setempat, tapi semangat para buruh tidak surut, malah pada tanggal 4 Mei mereka melancarkan aksi mogok total dengan 12 tuntutan mereka, termasuk tuntutan upah, tunjangan dan pembubaran Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Pada tanggal 5 Mei, Marsinah menjadi salah satu wakil buruh dalam perundingan dengan pihak perusahaan.

    Namun pada siang hari tanggal 5 Mei, sebanyak 13 orang buruh rekan Marsinah dibawa ke Kodim. Disana mereka diinterogasi dibawah tuduhan melakukan rapat gelap, penghasutan dan dipaksa untuk menandatangi penyataan mengundurkan diri dari perusahaan. Demi mengetahui hal yang dinilainya janggal ini, Marsinah mendatangi markas Kodim seorang diri untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya.

    Sepulangnya dari Kodim, keberadaan Marsinah tidak diketahui selama 3 hari hingga akhirnya ditemukan tidak bernyawa pada tanggal 8 Mei 1993, pada saat itu usianya 24 tahun. Kematiannya menyedot perhatian masyarakat luas, bahkan di tahun yang sama pula, ia memperoleh penghargaan Yap Thiam Hiem.

    Dibawah sorotan masyarakat, pada tanggal 30 September 1993, sebuah tim penyidik dibentuk oleh pemerintah Jawa Timur. Hasilnya, 10 orang tersangka, yang salah satunya adalah anggota TNI, ditangkap dan diadili hingga tingkat kasasi Mahkamah Agung dan kemudian divonis tidak bersalah dan dibebaskan. Pada proses peradilan ini pun menyimpan banyak kejanggalan, misalnya saja penangkapan 8 petinggi PT Catur Putra Surya yang misterius dan pengalihan alibi menjadi pembunuhan dan pemerkosaan.

    Di proses peradilan disebutkan bahwa Marsinah mengalami perkosaan, namun yang tidak pernah diungkap ke pengadilan saat itu adalah bahwa tidak ditemukan bukti-bukti kerusakan pada tubuh Marsinah yang mengarah kepada tindak pemerkosaan. Pada saat tubuhnya diotopsi ulang, hasil forensik menyatakan bahwa tulang panggul dan leher Marsinah hancur dan bukan disebabkan oleh pukulan benda tumpul. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai kalangan dan menganggap ada rekayasa dalam kasus pembunuhan Marsinah dan proses peradilannya.

    Kasus Marsinah sudah pernah berusaha diangkat kembali oleh berbagai kalangan, namun tidak juga menunjukkan titik terang, hal ini menunjukkan betapa terpinggirnya posisi buruh dan rakyat kecil di dalam proses peradilan Indonesia. Sementara itu, rekan-rekan Marsinah di PT. Catur Putra Surya melanjutkan perjuangan dan membentuk Serikat Buruh Kerakyatan yang berafiliasi kepada Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (Konfederasi KASBI).

    Mereka Takut Pada Marsinah, Mereka Takut Pada Kaum Buruh!

    Peristiwa tersebut paling tidak menunjukkan bagaimana negara, pengusaha dan militer berkongkalikong untuk merampas kesejahteraan rakyat kecil dan juga bagaimana rentannya posisi perempuan dalam perjuangan pembebasan rakyat dari penindasan. Kasus Marsinah yang mengandung indikasi campur tangan militer dalam usaha penghancuran gerakan buruh di era Soeharto berusaha dikaburkan lewat alibi bahwa pembunuhan itu adalah kasus pemerkosaan, meski bukti hanya menunjukkan bahwa ia mengalami penganiayaan berat dan bukan diperkosa.

    Hal ini juga adalah tendensi patriarkis rezim ORBA yang masih bertahan hingga hari ini, kematian Marsinah yang berlatar belakang politik pengekangan gerakan buruh berusaha dikaburkan menjadi sebuah kasus pemerkosaan. Di dalam kacamata patriarkis, pemerkosaan adalah sebuah kasus kriminal biasa yang tidak bernilai politis seperti isu penghancuran gerakan buruh atau penghalangan perjuangan buruh, sehingga menjadikan kasus Marsinah sebagai kasus pemerkosaan akan meredam efek politis dari kematianya.

    Rezim berhasil menghilangkan jasad dan nyawa Marsinah dari muka bumi, tapi mereka tidak akan pernah berhasil menghapuskan sosok dan semangat Marsinah dari para buruh dan kaum gerakan Indonesia. Marsinah yang kondisinya sama dengan buruh-buruh berupah rendah lainnya menjadi prasasti pengingat bahwa untuk mendapatkan kesejahteraan yang memang haknya, kaum buruh akan berhadapan langsung dengan rezim; pemilik modal, pemerintah dan militer. Di masyarakat luas pun sosok Marsinah dikenang sebagai sebuah satire negara demokrasi.

    Bertahun setelah kematiannya, Marsinah menjadi sosok yang subversif bagi rezim. Beberapa karya seni yang mengangkat kisah Marsinah dihalang-halangi oleh pemerintah, seperti film Marsinah karya Slamet Rahardjo yang oleh Menakertrans Jacob Nuwa Wea sempat diminta untuk ditunda rilisnya dan pementasan drama monolog Marsinah menggugat oleh Ratna Sarumpaet dilarang oleh kepolisian Malang meski pun sebelumnya sudah sukses diadakan di tujuh kota lainnya.

    Pementasan drama tidak termasuk dalam hal yang membutuhkan ijin dari pihak kepolisian, cukup hanya memberikan surat pemberitahuan pelaksanaan. Namun bila pementasan yang bertajuk “Marsinah Menggugat” sampai dilarang oleh pihak keamanan, maka bisa disimpulkan ada hal terlarang dari pementasan tersebut. Apa hal terlarang tersebut? Marsinah, ya, Marsinah adalah kata subversif dalam kemapanan rejim selama ini.

    Kondisi Buruh Hari Ini

    18 tahun sudah berlalu sejak Marsinah dibunuh dan tanpa peradilan yang berpihak padanya, kondisi buruh masih juga belum membaik. Bila membaca pernyataan yang dikeluarkan oleh Konfederasi KASBI pada Hari Buruh Sedunia tahun 2011 ini tergambarkanlah situasi dunia dan kondisi kaum buruh hari ini.

    Labor Market Flexibility (Sistem Pasar Kerja yang Lentur) yang diterapkan oleh rezim Neolib menurunkan sistem kerja kontrak dan outsourcing yang semakin melemahkan posisi buruh di dalam pekerjaannya, belum lagi perekonomian yang masih berorientasi pada penanaman modal asing mengakibatkan upah rendah masih menjadi sebuah opsi utama.

    Kepentingan untuk menarik para penanam modal dan pelancaran sistem yang kapitalistik meminggirkan tugas negara yang sudah diamanatkan dalam naskah-naskah kemerdekaan dan perundangan dasar, yaitu mensejahterakan rakyat, seluruh rakyat tanpa pembedaan, sejahtera yang sesejahtera-sejahteranya!

    Meski pun ada hukum yang dianggap mampu melindungi hak-hak buruh, namun dengan lemahnya posisi buruh dalam peradilan negara, maka hukum ini pun gagal menjalankan fungsinya. Lebih tepatnya, hukum di Indonesia memang tidak disusun untuk benar-benar berpihak kepada kaum buruh dan rakyat kecil. Sudah umum diketahui, kasus-kasus perburuhan yang sampai di meja peradilan hampir seluruhnya dimenangkan oleh pihak pengusaha.

    Masih banyak sekali perusahaan yang menolak untuk merundingkan dan menandatangai Perjanjian Kerja Bersama antara pengusaha dan buruhnya, karena hal itu akan memberikan kesadaran akan posisi yang lebih tinggi pada buruh. Begitu juga sistem jaminan sosial menjadi semacam lagu nina bobo rakyat kecil pada umumnya dan kaum buruh pada khususnya, memberikan ilusi kesejahteraan dan perlindungan negara.

    Kapitalisme, dalam bentuk Neoliberalisme tidak mempertimbangkan buruh dalam posisi yang setara dengan para pemilik modal, buruh hanya dijadikan bagian dari mesin-mesin produksi dan direbut harga kemanusiaannya dan negara telah membantu para pemiliki modal untuk melemahkan kesadaran juang kaum buruh lewat iming-iming permainan kata di lembar-lembar perundangan dan ilusi jaminan sosial.

    Jelaslah bahwa selama sistem yang dipakai adalah sistem Neoliberalisme, selama itu pula lah kesejahteraan hanya akan menjadi milik segelintir orang, sementara rakyat kecil tidak akan pernah sejahtera.

    Menanti Kebangkitan Massa Marsinah, Menanti Buruh Bertindak!

    Melihat keterpurukan posisi buruh dalam alam yang kapitalistik, maka sangat mudah dipahami ketakutan rejim akan munculnya pemberontakan massa buruh. Pada saat beban kehidupan menghimpitm kesadaran para buruh akan situasinya akan meningkat, borok-borok kelakuan rejim terhadap kaum buruh akan semakin jelas terlihat dan dirasakan.

    Saat buruh-buruh yang sadar dan penuh api kemarahan ini bangkit dan bersatu, maka dapat kita bayangkan betapa menyeramkannya situasi itu bagi rejim, ini sebabnya mereka berusaha membius kaum buruh lewat hegemoni paradigma perburuhan yang sejatinya hanya penghalusan makna dari perbudakan dan ilusi-ilusi jaminan kesejahteraan.

    Di Indonesia, ada ribuan Marsinah yang belum berhasil mereka bunuh. Coba kita ambil kata kunci; “Marsinah”, “Buruh”, “Perempuan”, “Unjuk Rasa Untuk Kenaikan Upah”, “Diculik”, “Dibunuh”, “Keterlibatan Militer”, “Tidak Ditemukan Pihak Yang Bertanggung Jawab”. Lalu mari kita ambil pula beberapa kata kunci kondisi paska kematian Marsinah hingga hari ini; “Buruh”, “Neoliberalisme”, “Upah Rendah”, “Diskriminasi Seksual”, “Hidup Tak Layak”, “Kemiskinan”, “PHK”, “Sistem kontrak dan outsourcing”, “Pengangguran”, “Gerakan Buruh Yang Masih Mengakar”.

    Saat mencoba menghubungkan kata-kata kunci dari kedua masa itu, kita ingat juga bahwa dalam sejarah manusia, sudah lazim bahwa satu sosok teraniaya bisa membangkitkan dan menularkan rasa senasib sepenanggungan, begitu pula Marsinah. Kaum buruh yang memiliki kesamaan latar belakang dengan Marsinah tentunya memiliki sentimen kuat atas apa yang dialaminya, karena mencerminkan kehidupan kaum buruh secara umum. Bila sentimen dan kesadaran buruh akan kondisi mereka meluas dan menguat, maka sangat pasti pemberontakan akan terjadi.

    Bisa dilihat betapa rezim gentar akan nyala api yang telah dihidupkan Marsinah di dalam jiwa kaum buruh, nyala api yang bila bersatu akan membakar habis kemapanan penindasan mereka, menjatuhkan mereka ke bawah kekuasaan yang sejati, kekuasaan kelas pekerja. Karena hal ini, selamanya Marsinah akan tetap hidup, selamanya Marsinah akan menjadi bagian dari api perlawanan kaum buruh, selamanya Marsinah akan jadi pahlawan kaum buruh, pahlawan kaum tertindas.

    Ditangan kaum buruhlah keputusan berada, apakah akan merebut kehidupan yang dipasung oleh rezim atau kah berdiam diri dan tunduk menjadi budak para pemilik modal. Namun karena manusia itu sejatinya adalah sederajat dan memiliki hak yang sama untuk hidup selayaknya manusia, layak yang paling layak tidak hanya cukup makan cukup minum, maka kaum buruh dan rakyat tertindas lainnya harus bangkit melanjutkan perjuangan pemerdekaan kaum tertindas.

    Mari kita buat mereka gentar, mari letakkan kemenangan ditangan kelas buruh. Selamat Hari Marsinah, Pahlawan Kaum Buruh! Kobar nyalakan api perlawanannya di bumi persada!

    (Sumber: Rakyat Merdeka, 7 Mei 2011, penulis: Jovanka Edwina, Anggota Kolektif Perempuan Pekerja Yogyakarta)

  6. Padang Hotel berkata

    Semoga Pemimpin- pemimpin di Indonesia dan peraturan di negeri ini akan segera berubah kearah yang lebih baik,,

  7. Green City Riau berkata

    Mudah”an kita menjadi lebih baik lagi amiiinn

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: