Rakyat Makin Miskin
Posted by KabarNet pada 13/04/2012
JAKARTA – Selama tujuh tahun SBY jadi presiden, tiga kali anggaran belanja negara naik. Tapi pertanyaanya, mengapa kemiskinan semakin bertambah dan hidup rakyat semakin susah saja?
“Zaman Soeharto hanya 30 persen yang dikorupsi. Sekarang korupsi dilakukan bukan hanya pada level pelaksanaan, tapi juga pada level pembahasan termasuk di DPR. Inilah yang mengakibatkan anggaran naik tiga kali tapi nyaris tidak sampai ke rakyat. Tidak sampai ke rakyatnya nyaris sempurna,” ujar ekonom yang juga tokoh perubahan, Rizal Ramli, di Jakarta, tadi malam.
Hal mendasar lain yang membuat rakyat miskin makin banyak sekalipun ada banyak program yang dibuat oleh pemerintah untuk mengatasi hal itu, lanjut dia, adalah karena kesalahan pikir dari pemerintah dalam merancang bangun postur anggaran pada khususnya, dan perekonomian nasional kita pada umumnya.
Konstruksi yang dijalankan rezim SBY-Boediono sangat neolib, alias memuja pasar bebas. Harga-harga dipaksakan naik sesuai dengan harga internasional. Biaya kesehatan, biaya energi dan yang lainnya dipatok dengan biaya internasional, sementara pada saat yang sama pemerintah sama sekali tidak peduli dengan besaran pendapatan rakyat. “Harga-harga dipaksa dinaikkan sementara pendapatan rakyat pendapatan Melayu, pendapatan sangat rendah yang hanya cukup untuk makan saja. Ini sama artinya mendorong puluhan juta rakyat masuk ke jurang kemiskinan. Walaupun anggaran ditambah tapi sistem sendiri memaksa rakyat menjadi miskin. Ini rezim neolib yang sangat bertentangan dengan UUD 45,” kata mantan Menteri Koordinator Perekonomian itu.
Jelas, sambung Rizal, pola pikir rezim SBY-Boediono sangat sesat. Bagaimana bisa, seorang sopir taksi misalnya, harus membayar 2 juta rupiah untuk menyekolahkan anaknya ke SD, dan untuk SLTP 3-4 juta rupiah, sementara disebut-sebut anggaran untuk pendidikan sebesar 20 persen dalam anggaran belanja negara. “Faktanya kan begitu. Ini benar-benar tidak betul,” tegasnya.
Mantan menteri ini tak habis pikir kenapa pemerintah dan elit kekuasaan mengotak atik permasalahan subsidi BBM yang kalau dicabut hanya menambah APBN sekitar 14 triliun saja, sementara sama sekali tidak mempersasalahkan subsidi bunga obligasi sebesar 60 triliun rupiah yang dinikmati para bankir. Bukankah subsidi yang diterima para bankir ini yang seharusnya dipermasalahkan? ”Ini (subsidi BBM) ecek-ecek, kenapa tidak subsidi bunga obligasi yang dipermasalahkan. Kenapa ini tidak pernah ada yang meributkan,” tanyanya.
Dari konteks itu, kata mantan Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) ini mengingatkan, subsidi tak lain hanya sebagai lahan KKN di pemerintahan. Rakyat dicekoki seolah-olah subsidi buat rakyat padahal sebenarnya tidak. Rakyat hanya menanggung pil pahit saja. “Kenapa tidak disikat mafia Migas yang mendapatkan manfaat dari setiap impor. Kenapa tidak ini dulu yang disikat,” tantang mantan aktivis mahasiswa yang pernah dipenjara di Bandung tahun 1978/79 karena menentang rezim otoriter Orde Baru itu. WASPADA








































Sang Kata berkata
Ada 14 kriteria yang dipergunakan untuk menentukan keluarga/rumah tangga dikategorikan miskin (BPS, 2005) adalah:
1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang.
2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/ bambu / kayu murahan.
3. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu / rumbia / kayu berkualitas rendah / tembok tanpa diplester.
4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar / bersama-sama dengan rumah tangga lain.
5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
6. Sumber air minum berasal dari sumur / mata air tidak terlindung / sungai /air hujan.
7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar / arang / minyak tanah.
8. Hanya mengkonsumsi daging / susu / ayam satu kali dalam seminggu.
9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.
10. Hanya sanggup makan sebanyak satu / dua kali dalam sehari.
11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas / poliklinik.
12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah : petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan.
13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga : tidak sekolah / tidak tamat SD/ hanya SD.
14. Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit / non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.
jojo berkata
maju truss pak rizal
dalban berkata
tragis memang, ga bisa dibayangkan negara ini maujadi apa
Myoma berkata
yaahh,,sprti itulah cermin indonesia,,yang kya smakin mnjadi yg miskin,smkin terpuruk,
Obat Herbal Thalasemia dengan Jelly Gamat Luxor berkata
indonesia kpan sadarnya,,,jika koruptor mkin meraja lela dimana-mana,,,semakin menyengsarakan rkyat-rakyatnya,,,,sedih banget,,
Hendrik Sulistiyo berkata
Sekali lagi…..
Sistem politik yang didalamnya termasuk ekonomi, budaya, sosial…..atau mungkin hankam…sudah menjadi politik pencitraan saja
Indonesia terkungkung pada karakter “memodifikasi” atau lebih tepatnya “meng-akali” sesuatu….
Sehingga sesuatu yg salah bisa dianggap benar……yg keliru dianggap betul….mengotak-atik peraturan/perundang-undangan yg baku menjadi fleksibel…..
Itu semua berporos pada kepentingan pribadi atau golongan saja…..
Memang susah mengatur orang bodoh berlagak pintar……mendingan mengatur orang bodoh yg cerdik dengan mempunyai rasa nasionalisme yg tinggi…
Somad Bimbang Yuliana berkata
SBY Budiono Kampret!!
Rezim Neolib harus dihukum mati!!
Bantan Wacono berkata
Ultra Neolib yg sangat tunduk pd penguasa modal besar tnp pedulikan rakyat.
Modal besar finansial, modal besar kursi parlemen sll mmbuat beye tunduk-takluk.