Proyek Sukhoi di ‘Mark Up’ Ratusan Juta US Dollar
Posted by KabarNet pada 04/03/2012
“Vietnam membeli dengan harga US 53 juta per unit lengkap dengan senjata dan Indonesia membayar US 78,3 juta belum dengan senjata”

Jakarta – KabarNet: Pembelian enam pesawat tempur Sukhoi SU-30MK2 yang kontraknya ditandatangani akhir Desember lalu dipertanyakan. Diduga kuat ada penggelembungan harga yang berujung pada kerugian negara hingga ratusan juta us dollar.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Tubagus Hasanuddin menduga ada penggelembungan harga atau mark up dalam pengadaan enam pesawat tempur jenis Sukhoi SU-30 MK2 oleh pemerintah. Tubagus menjelaskan, akhir 2010 DPR menyetujui pembelian enam pesawat Sukhoi itu seharga 470 juta dollar AS melalui kerja sama dengan pemerintah Rusia. Pemerintah Rusia, kata dia, menyediakan state credit sebesar 1 miliar dollar AS.
Tubagus mengaku menerima informasi bahwa Kementerian Pertahanan Indonesia melakukan kontrak tidak melalui Rosoboron Export yang merupakan perwakilan Pemerintah Rusia di Jakarta. ”Kenapa harus ada rekanan, sementara Rosoboronexport yang menjadi agen Pemerintah Rusia punya perwakilan di Jakarta?” kata Wakil Ketua Komisi I DPR Tb Hasanuddin. Seperti dikutip kompas.com
Hal senada diungkap oleh Direktur Eksekutif Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane yang mengawasi pembelian senjata polisi dan TNI, ia mengatakan adanya dugaan penggelembungan (mark up) karena harganya lebih mahal dibanding pembelian jenis yang sama oleh pemerintah Vietnam. Neta menjelaskan, Vietnam membeli dengan harga US$ 53 juta per unit dan Indonesia membayar US$ 78,3 juta per unit. “Vietnam membeli sudah lengkap dengan senjata. Kita membeli lebih mahal dan tanpa senjata. KPK segera mengaudit pembelian senjata ini,” tegas Neta, Minggu (4/3/2012).
Dia menerangkan, kejanggalan lain dalam pembelian itu dilakukan antara pemerintah RI dan Rusia (G to G). Tetapi faktanya ada pihak yang menjadi supplier. Neta menandaskan, keanehan-keanehan dalam pembelian enam unit jet Sukhoi tersebut berpotensi terjadi mark up sebesar US$ 100 Juta sampai US$ 140 Juta (Rp900 miliar sampai Rp 1,2 trilun).
Untuk itu IPW mendesak KPK segera menurunkan Tim Pencegahan dan Tim Investigasi dalam proyek Sukhoi agar potensi korupsi dapat dicegah. Perhatian KPK terhdap proyek Sukhoi sangat diperlukan agar ke depan proyek-proyek alutsista dapat diawasi dengan ketat. [KbrNet/Kompas]







































superhero berkata
BELI 1 AH BUAT JATUHIN DIPETAMBURAN N BASIS2 FPI
taUbat berkata
Hehehehe ……
Kita punya Intel dan Kedutaan Besar …………..
Tapi selisih harga kok tidak masuk akal ……….
fakhry berkata
Di Indonesia kalau ada tender (proyek apapun) biasanya pemenangnya itu sudah diketahui duluan sebelum tender itu selesai….korupsi memang sudah mengakar di negri ini.
Bahkan kalau terjadi kecelakaan lalu lintas pun bisa jadi duit loh…tragis ya??