KabarNet

INDONESIA Kaya Raya dan Makmur, Tapi RAKYATNYA Banyak yang LAPAR & MISKIN

DPP IMM Desak SBY Copot Jenderal Timur Pradopo!

Posted by KabarNet pada 24/12/2011

Bima – Kebrutalan aparat kepolisian hari ini (Sabtu, 24/12) dalam menangani unjuk rasa masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat, yang mendesak pencabutan izin operasi PT Indo Mineral Persada dan PT Sumber Mineral Nusantara di Sambu dan Sape, terus mendapat kutukan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Saleh Partaonan Daulay menegaskan, aksi brutal kepolisian itu sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi, HAM, dan nilai-nilai kemanusiaan. Kejadian ini adalah potret buruk dari aparat kepolisian yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayom masyarakat.

“Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah mengutuk keras tindakan represif aparat kepolisian yang mengakibatkan tewasnya beberapa orang aktivis mahasiswa di Bima, Nusa Tenggara Barat,” tegas Saleh, (Sabtu, 24/12).

Karena itu, Pemuda Muhammadiyah meminta Presiden SBY segera turun tangan untuk menangani masalah ini. Sebagai kepala pemerintahan, sudah merupakan kewajiban Presiden SBY melindungi segenap tumpah darah rakyat Indonesia. Bukan malah sebaliknya membiarkan aparat kepolisian menembaki dan membunuh rakyat yang sedang menyuarakan aspirasinya.

“Di alam demokrasi, demonstrasi dan aksi-aksi unjuk rasa adalah hal yang wajar. Hak tersebut secara tegas dilindungi oleh UUD 1945. Karena itu, tindakan represif tersebut jelas-jelas mengkhianati amanat konstitusi yang merupakan perjanjian luhur bangsa Indonesia,” tegas dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

“Aksi-aksi (aparat) ini menjadi semakin tak berperikemanusiaan, karena aksi yang dilakukan diduga untuk menjaga kepentingan pemilik modal. Ini sekaligus mencerminkan bahwa aparat kepolisian digaji oleh rakyat bukan untuk melindungi rakyat, tetapi melindungi kepentingan segelintir orang yang memiliki uang,” demikian Saleh menambahkan.

Dalam konteks ini, sambung Saleh, sudah sepatutnya Presiden SBY mengevaluasi hasil kerja Kapolri Jenderal Timur Pradopo. Kalau perlu, segera diberhentikan karena terbukti tidak berhasil memimpin lembaga ini dengan baik. Persoalan ini, tegas Saleh mengingatkan, jangan sempat diabaikan karena dapat menimbulkan kemarahan rakyat yang luar biasa.

Beberapa peristiwa akhir-akhir ini, seperti kasus Mesuji dan kasus Bima, sudah banyak menelan korban jiwa dan mempertontonkan kebrutalan aparat keamanan kepada khalayak ramai. “Peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang terungkap ke publik dari sekian banyak peristiwa,” kata Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Twedy Noviady Ginting, (Sabtu, 24/12). Seperti dikutip Rakyat Merdeka online.

Menurut Tweddy, seharusnya polisi mengayomi masyarakat. Tapi kini, polisi telah menjadi penindas rakyat. Demi kepentingan pemilik modal, polisi sudah menjadi predator bagi rakyat yang seharusnya diayomi.

Selain itu, kata Tweddy, peristiwa ini juga telah mengingkari prinsip-prinsip berbangsa dan bernegara. Polisi, yang seharusnya menegakkan hukum demi kepentingan rakyat, malah menindas rakyat demi kepentingan pemilik modal. “Menyikapi peristiwa tersebut, kepolisian RI, khususnya Kapolri Jenderal Timur Pradopo harus bertanggung jawab untuk menuntaskan kasus-kasus tersebut. Bila tidak, Kapolri sebaiknya mundur,” demikian Tweddy.

Sementara itu Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) mengecam tindakan brutal aparat polisi yang menembaki massa di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang mengakibatkan salah seorang aktivis IMM tewas. “Kita menyerukan kepada seluruh kader IMM yang ada seluruh kabupaten di Indonesia untuk menggelar aksi solidaritas dan mengutuk tindakan polisi,” kata Ketua DPP IMM, Muhammad Sukron, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 24/12).

Sukron juga mendesak SBY untuk segera mencopot Kapolri Jenderal Timur Pradopo. Bila SBY tidak juga mencopot Timur Pradopo, berarti peristiwa ini tidak bisa mencerminkan kasus per kasus. “Tapi sudah menjadi karakter rezim SBY yang doyan membunuhi rakyatnya sendiri dan lebih mengutamakan kepentingan asing,” tegas Sukron.

Atas kejadian ini, empat orang dikabarkan tewas. Berikut nama-nama korban yang berhasil dihimpun. Pertama, Arif Rahman (18) tewas dengan luka tembak di lengan kanan, tembus ke ketiak. Kedua, Saiful (17) tewas dengan luka tembak dibagian dada. Ketiga adalah aktivis mahasiswa Muhamadiyah bernama Ansari (20) yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan satu lagi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam bernama Alamsyah juga dikabarkan tewas, namun kabar tersebut dibantah oleh pihak HMI. Semuanya tewas saat bentrokan warga dengan aparat keamanan di Pelabukan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). [KbrNet/RakyatMerdeka]

Satu Tanggapan to “DPP IMM Desak SBY Copot Jenderal Timur Pradopo!”

  1. salman al paris zega spd berkata

    ayolah bersatu menuju kebahagian dunia dan akhirat

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: