Media Islam Bukan Provokator, Tapi sebagai Penyeimbang
Posted by KabarNet pada 28/09/2011
Jakarta – Ketua Komisi bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom) Majelis Ulama Indonesia (MUI) S.Sinansari Encip menyesalkan, adanya ketidakseimbangan informasi oleh media massa dalam memberitakan sesuatu yang menyangkut kepentingan umat Islam. Sebagai contoh, tewasnya tukang ojek di Ambon, tidak pernah diungkap oleh media, apakah murni kecelakaan atau dibunuh. Padahal ini harus diungkap secara jelas. Inilah yang menyebabkan umat Islam diperlakukan tidak adil untuk mendapatkan informasi secara utuh dan benar.
Pemberitaan di Ambon kurang mendapat perhatian. Jika dikatakan kondusif, tentu harus sesuai dengan faktanya. Jangan malah membiarkan api dalam sekam. “Yang saya dengar, umat Islam di Ambon kurang puas dengan follow up perjanjian Malino,” kata Sinansari kepada voa-islam usai menerima laporan Forum Umat Islam (FUI) terkait kerusuhan di Ambon.
Dalam jurnalistik, wartawan senior itu melihat ada dualisme, antara fakta yang harus diberitakan dengan yang fakta yang tak perlu diberitakan. “Memang tidak semua fakta layak diberitakan, pertimbangannya apakah situasinya bisa memanas atau tidak. Keberpihakan sebuah media itu juga harus sesuai kenyataan. Tapi sebaiknya, jangan memberitakan sepihak saja, seharusnya berimbang.”
Ketika ditanya, apakah media massa itu bisa dikatakan berbohong, jika ada fakta yang sesungguhnya terjadi, namun justru tidak diberitakan? Dikatakan Sinansari Encip yang juga mantan Pemimpin Redaksi Majalah Panjimas, bahwa tidak mengatakan semua apa yang terjadi, tidak bisa dikatakan sebagai kebohongan, selama ada alasan dan pertimbangan yang masuk akal. Kecuali ada peristiwa A lalu dikatakan B, itu baru bohong.
“Disaat genting, keputusan dimuat atau tidaknya berita, ada di tingkat pimpinan, dalam hal ini pemimpi redaksi. Pemred tentu punya tanggung jawab sosial, sehingga ada pertimbangan tertentu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, “ tandasnya.
Yang jelas, seorang reporter wajib menulis dan menyampaikan semua fakta yang terjadi di lapangan. Lalu keputusan dimuat atau tidaknya berita, merupakan wewenang redaktur ataupun Pemred. Biasanya hal itu kembali pada kepentingan media yang bersangkutan.
Kenapa berita tidak berimbang? “Itu disebabkan, sang reporternya tidak tahu, atau memang ada kepentingan tertentu. Untuk kasus Ambon, polemik apakah tukang ojek yang tewas itu dikarenakan kecelakaan murni atau dibunuh, maka media atau jurnalis harus mengungkap apa yang sesungguhnya terjadi. Masyarakat berhak mendapatkan informasi secara benar, tak perlu ditutup-tutupi, sehingga tidak meruncingkan masalah. Kasus ini harus diperjelas. Itu termasuk fakta yang perlu perlu dipublikasikan kepada khalayak.”
Ketika media umum tidak memberitakan secara seimbang, terutama yang menyangkut kepentingan umat Islam, maka media Islam seyogianya tampil sebagai penyeimbang. “Media Islam tentu punya misinya sendiri untuk membela kepentingan umat Islam. Karena itu, media Islam harus berpihak pada sesuatu kebenaran yang bermutu, tidak ngawur, tidak kasar, dan tidak mencampurkan opini dalam pemberitaan.”
Media nasional seperti Tempo atau Kompas misalnya, mereka mengklaim sebagai media yang independen, tapi kenyataannya, pada peristiwa-peristiwa tertentu justru tidak berimbang. Kalau pun dimuat, sekedar menempatkan halaman yang tidak strategis. Tidak dijadikan headline, juga tidak dijadikan Tajuk Rencana sebagai bentuk pembelaan resmi dari media yang bersangkutan. Bahkan Harian Republika yang katanya corong umat Islam, belum sepenuhnya maksimal. Voa-Islam.COM
Entri ini dituliskan pada 28/09/2011 pada 12:15 dan disimpan dalam Kabar Umat, Nasional, Peristiwa. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.







































noname berkata
Kabarnet jangan suka berbohong, jangan suka membesar-besarkan permasalahan dan jangan jadi corong agama tertentu. Udah banyak yang melapor ke saya. Oke
Jared berkata
@ Noname: emang anda SIAPA???? nama saja tidak punya, apa mau ngaku2 aparat, anggota bin, anggota densus, anggota kpi, dewan pers, atau anggota orkes melayu keliling…?! meningan loe dandutan aja deh….
Abu hilmy berkata
Lanjutkan Admin! No name diatas ibarat anjing yang menggonggong. Gak tau apa-apa dia. Cumanya bisa menggonggong
STER berkata
Udah jangan pade ribut, ikut mengomentari suatu berita sepanjang positif dalam arti bersifat kritis membangun, maka merupakan bagian dari pelaksanaan hak azazi setiap Warga Negara di negara yang menjunjung tinggi demokrasi. Jadi bukan demokrasi yang kebablasan artinya. Demokrasi yang pakek aturan. Aturan siapa ? Ya tentunya aturan yang berlaku formal di NKRI, yang diamanahkan oleh seluruh rakyat Indonesia dalam UUD 1945 beserta seluruh aturan turunannya. Bukan aturan yang punya uang, gengster, mafia, apalagi asing.
Marilah sambil berkomentar positif, kita tetap kedepankan persatuan dan kesatuan sebagai bangsa yang berprinsip, beradab, berakal, beriman, kritis dan berbudaya malu, apapun keyakinan, asal-usul dan kepentingannya. Ingatlah selalu betapa kaya dan strategisnya negara kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sejak ratusan tahun yang lalu banyak pihak lain yang mengincar potensi-2 yang ada di Indonesia. Namun akhirnya karena berkat ramhat dan karunia Allah SWT serta tekad dan semangat perjuangan gigih para pahlawan kita, akhirnya kembali juga ke tangan kita, ke pangkuan ibu pertiwi.
Sekaranglah saatnya kita pertahankan mati-matian dari segala bentuk rongrongan baik dalam maupun luar, baik terang-terangan maupun diam-diam. Indonesia harus tetap jadi milik kita bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan Indonesia harus tetap merdeka dan berdaulat 1000% (bukan 100%), yang artinya jangan pernah ada unsur asing apapun yang mengendalikan negara kita dengan segala tetek bengeknya. Runtutan berbagai kejadian (kasus nasional) setelah berakhirnya jaman Orde Baru tampaknya seperti memperlihatkan gejala adanya tangan-2 yang tidak berpihak kepada kepentingan nasional yang mulai bermain-2 di negara kita. Disinilah perlunya kewaspadaan nasional sambil tetap berpacu membangun bangsa agar menjadi bangsa yang maju, beradab, beretika, beriman, berakhlak, berprinsip dan bergaul positif di dunia.
Bangsa Indonesia harus bangga menjadi menjadi bangsa yang mewarisi peradaban kerajaan Atlantis, Majapahit, Sriwijaya dan kini bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai bangsa besar yang baru mulai melek kembali di dunia, kita harus selalu waspada dari adanya bahaya-2 adudomba, hasutan, fitnahan, penurunan moral, penyesatan, pengembosan dan mismanajemen, karena semua cuma bertujuan satu, yakni ingin melemahkan sebagai bangsa, sehingga sulit untuk maju dan mudah dikendalikan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab dan tidak berpihak kepada kepentingan nasional. Indonesia harus mulai berfikir, berprinsip mdan berusaha secara mandiri di segala bidang dengan memaksimalkan penggunaan segala potensi yang ada. Tidak boleh ada lagi deal-2 yang merugikan bangsa Indonesia yang ujung-2nya cuma untuk menyuburkan praktek KKN di negero tercinta ini.
Akhirnya setelah segala daya dan upaya positif dilakukan, bangsa Indonesia dari sabang sampai Merauke tetap bersatu padu dalam kebhinekatunggalikaan, bersatupadu dalam langkah dan cita-cita bersama sebagaimana yang telah tertuang dalam pembukaan UUD 1945, sambil tetap memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Amin.
Hidup Indonesia !
Jayalah selalu di dunia !