Kekeringan Meluas Akibat Dosa Manusia
Posted by KabarNet pada 27/09/2011
Kekeringan Meluas, DPR Warning Presiden
SURABAYA – Maraknya kekeringan yang melanda sejumlah daerah membuat wakil rakyat harus memberikan peringatan kepada Pemerintah. Sebab, kekeringan ini adalah masalah yang sangat urgent. Artinya jika tidak segera diatasi, Indonesia akan bernasib sama seperti Ethiopia.
“Saya mem-warning kepada Presiden untuk segera mengatasi persoalan kekeringan ini. Pada akhir bulan ini harus ada langkah-langkah ekstra jika tidak ingin Indonesia seperti Ethiopia, ” kata Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso ketika melakukan kunjungan di Jombang, Jawa Timur, Senin (26/9/2011).
Berdasarkan data yang masuk ke DPR, kata politisi dari Fraksi Golkar ini, hampir 50 persen infrastruktur irigasi di Indonesia ini lumpuh total. Dan tahun ini ada potensi kekeringan yang panjang. Presiden dengan memerintah Menteri Perekonomian harus melakukan langkah ekstra terkait bahaya kekeringan itu. “Saya tidak bisa membayangkan, jika hal ini dibiarkan akan terjadi seperti di Etiophia,” tandas Priyo.
Langkah-langkah tersebut adalah, lanjutnya, melakukan perbaikan infrastruktur irigasi. Terutama beberapa waduk yang seharusnya menjadi tandon air malah telihat kerontang. Meski hal itu, dinilai terlambat namun minimal ada upaya konkrit dari pemerintah. Priyo juga menyebut, anggaran untuk mengatasi bahaya kekeringan senilai Rp3 Trilliun itu dinilainya masih kurang. “Perlu ada penambahan anggaran itu. Jika sudah demikian DPR pasti akan setuju. Perimbangganya APBN kita khan mencapai Rp1.500 triliun. Saya kira tidak ada maslah jika ada penambahan untuk mengatasi bahaya kekeringan,” tandasnya.
Info Kekeringan di Berbagai Wilayah [okezone.com]
DEMAK, 16/09/2011 – Warga sudah kebingungan mendapat air untuk kebutuhan sehari-hari. Merasa sudah tidak bisa berbuat banyak lagi, warga pun pasrah menggunakan air yang bau dan kotor untuk mandi dan masak. Hal in dialami warga di Desa Kedung Karang, Kecamatan Wedung, Demak, Jawa Tengah. Air di embung (tempat penampungan air) seluas 5.000 meter persegi di desa itu sudah beberapa hari ini menyusut drastis. Hujan yang sempat turun dua hari lalu tidak cukup banyak untuk menaikkan debit air.
Sri Bonah, warga Desa Kedung Karang, Jumat (16/9/2011), mengatakan warga terpaksa menggunakan air di kubangan embung untuk memasak dan mandi. Dia mengaku tidak memiliki pilihan lain selain memanfaatkan sisa air di embung, meski sudah bercampur dengan air laut yang merembes di sela-sela tanah. Embung menjadi sumber air baku yang diolah untuk dialirkan ke rumah-rumah warga. Namun sejak embung mengering, rumah yang dihuni sekira 3.000 warga tidak lagi dialiri air. Mereka terpaksa mengambil sendiri air untuk dibawa ke rumah. Bahkan sejak air menyusut, warga terpaksa mencari air sampai ke daerah Jepara. Sementara itu upaya pemerintah mengirimkan air untuk warga melalui truk tangki dianggap tidak efektif. Selain pembagian tidak merata, pengiriman juga hanya dilakukan tiga kali dalam sebulan.
SUMBA TIMUR 15/09/2011 – Kekeringan dan rawan pangan yang menyerang Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dikhawatirkan meluas. Hingga hari ini, instansi terkait masih memutakhirkan data. “Data sementara memang 74 desa yang dilanda kekeringan dan rawan pangan, namun bukan mustahil data itu bisa bertambah, mengingat banyak desa yang hingga kini masih terus dilakukan pendataan oleh tim kabupaten. Beras bantuan cadangan dari Bulog telah kami salurkan, namun hanya bisa bertahan tak lebih dari sebulan,” urai Bupati Sumba Timur Gidion Mbilidjora, Kamis (15/9/2011).
Menurut data terakhir dari Badan Bimas dan Ketahanan Pangan, sebanyak 74 dari 140-an desa yang tersebar pada 22 kecamatan di Sumba Timur kondisi rawan pangan Rawan pangan menimbulkan beban berat bagi masyarakat. Warga di selatan Kabupaten Sumba Timur misalnya harus mengonsumsi ubi hutan yang beracun atau biasa disebut Iwi. Mereka harus benar-benar memilih bagian yang tidak beracun dan membersihkannya agar aman dikonsumsi. Proses pengolahan membutuhkan waktu hingga berhari-hari. Lain lagi dengan warga di Wairinding, Desa Pambotanjara, Kecamatan Kota Waingapu. Mereka masuk ke rawa yang mengering untuk mencari sisa-sia ikan yang terperangkap akibat kehabisan air.
TANGERANG 14/09/2011 – Ratusan warga kecamatan Jayanti dan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang, Banten, terpaksa menggunakan sungai untuk keperluan air minum. Sungai tersebut berjarak 4 kilometer dari pemukiman penduduk. Bahkan, untuk keperluan sehari-hari seperti mandi dan mencuci, warga sudah tak ragu lagi mengambil air keruh dan penuh lumpur. Hal itu dilakukan warga yang tidak kuat berjalan jauh, karena sumber air bersih warga mulai mengering. Mulai hilangnya pasokan air bersih warga, di Kabupaten Tangerang, terjadi karena kemarau panjang yang melanda kawasan itu. Hingga kini, belum ada bantuan air bersih dari Pemerintah Daerah (Pemda).
Berdasarkan pengamatan di lapangan, tampak ratusan warga yang terdiri dari anak-anak, dewasa, orangtua, baik ibu dan bapak, jalan beriringan mengambil air dengan galon dan jerigen di sungai untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Ditambahkan Arif, untuk mengambil air di sungai, dirinya sudah tidak kuat berjalan jauh sambil membawa beban yang cukup berat. Sedang untuk beli air pun, dia juga tidak memiliki uang. “Sawah kering, panen gagal. Untuk beli air bersih, saya tidak mampu. Tidak punya uang,” terangnya.
Hal senada diungkapkan Rodiah, warga lainnya. Dia mengaku, rela berjalan sejauh 4 kilometer sambil menenteng drigen ukuran 5 kilogram ke sungai untuk minum dan kebutuhan sehari-hari di rumah. “Jika ada rezeki, saya beli air. Tapi jika tidak, mau tidak mau saya harus jalan ke sungai bersama warga lainnya untuk minum,” ungkapnya.
Akibat minum air sungai tersebut, banyak warga yang mulai terserang diare. Untuk itu, mereka berharap, Pemda dapat segera turun tangan dan memberikan bantuan air bersih kepada warga untuk kebutuhan sehari-hari.
Kekeringan dan krisis air bersih masih mengancam hampir seluruh wilayah Indonesia, dalam tiga bulan ke depan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) pun mengingatkan, agar kondisi ini tidak sampai berdampak pada krisis pangan.
Manager Desk Bencana Eksekutif Walhi Nasional, Irhash Ahmady, dalam keterangan pers. Irhash menjelaskan, daerah yang rawan kekeringan dan krisis air kini merambah ke luar Pulau Jawa, seperti Sumatera, Kalimantan , Sulawesi, dan pulau-pulau kecil di Indonesia. “Di Sulawesi Selatan lebih dari 1.200 KK di kecamatan Bontoa, kabupaten Baros terpaksa mencari air bersih ke Kecamatan di sebelahnya,” ujarnya. Walhi melihat degradasi lingkungan, khususnya di kawasan tersebut sudah sangat memprihatinkan.
MAKASSAR 13/09/2011 - Para petani padi di Sulawesi Selatan bakal gigit jari. Diprediksi, 2000 hektar lahan sawah akan gagal panen karena kemarau panjang. “Kemarau panjang dan petani yang tidak disiplin dalam penentuan musim tanam padi adalah penyebab utamanya, “tutur Kepala Dinas Pertanian Tanaman Paangan dan Holtikultura Sulsel Luthfi Halide.
Luthfi mengatakan, petani di beberapa daerah tak melaksanakan kesepakatan penentuan awal musim tanam padi. Akibatnya, mereka terancam gagal panen nantinya. “Musim tanam padi harusnya dimulai bulan April 2011 lalu, sehingga memasuki September mereka bisa panen. Harusnya, musim tanam padi dilaksanakan sekitar bulan April 2011 sehingga di bulan September mereka memasuki masa panen. Yang belum menanam hingga Juni harusnya menanam tanaman yang butuh sedikit serapan air, “jelasnya.
“Laporan yang Saya terima menyebutkan, 250 hektar padi yang tersebar di Pinrang, Sidrap, Wajo, dan Bone telah mengalami puso (kekeringan padi, gagal panen). Kalu tak salah, 60 hektar sawah di Pangkep dan 16 hektar sawah di Sidrap telah mengalami puso, “imbuhnya.
Dosa Penyebab Kemarau
Dosa menyebabkan diangkatnya nikmat, di antaranya hujan. Karena itu, kita harus sadar bahwa kemarau, kekeringan, gagal panen, kesulitan air bersih – semua ini- akibat dari dosa-dosa kita, penduduk Indonesia. Di antara dosa-dosa tersebut, ditunjukkan oleh hadits yang dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berdiri di hadapan kami lalu bersabda:
“Wahai sekalian Muhajirin, lima perkara apabila menimpa kalian, dan aku berlindung kepada Allah dari kalian menjumpainya:
- Tidaklah merebak perbuatan keji (seperti zina, homo seksual, pembunuhan, perampokan, judi, mabok, konsumsi obat-obatan terlarang dan lainnya) di suatu kaum sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan merebak di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un (semacam kolera) dan kelaparan yang tidak pernah ada ada pada generasi sebelumnya.
- Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan disiksa dengan paceklik panjang, susahnya penghidupan, dan kezaliman penguasa atas mereka.
- Tidaklah mereka menahan membayar zakat kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka. Dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan.
- Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan janji Rasul-Nya, kecuali akan Allah jadikan musuh mereka (dari kalangan kuffar) menguasai mereka, lalu ia merampas sebagian kekayaan yang mereka miliki.
- Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) berhukum dengan selain Kitabullah dan menyeleksi apa-apa yang Allah turunkan (syariat Islam), kecuali Allah timpakan permusuhan di antara mereka.” (Ibnu Majah & Al-Hakim).
Negeri kita memang kaya alamnya, tapi juga kaya kemaksiatannya. Kalau kita jujur, kemaksiatan-kemaksiatan dalam hadits di atas, semuanya ada di sini. Misalnya zina dan homoseksual sudah dilakukan secara terang-terangan. Tidak jarang kita lihat pelaku homo seksual atau lesbian tidak malu-malu lagi menunjukkan aksi bejatnya, Bahkan, tidak sedikit yang mengkampanyekannya.
Mengurangi timbangan dan takaran yang menjadi sebab peceklik panjang juga begitu. Hampir di setiap pasar ditemukan. Alasan yang sering dilontarkan, “kalau tidak begini kita tak dapat untung.” Seolah ini menjadi pembenar perbuatan yang Allah haramkan.
Penyakit bakhil dengan menahan zakat dan tidak mengeluarkannya menjadi satu problem yang belum terselesaikan. Bahkan menurut Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), potensi zakat secara nasional yang diperkirakan mencapai Rp100 triliun per tahun. Namun zakat yang terkumpul oleh Baznas masih sangat kecil, kurang dari 2 persennya. Padahal zakat adalah rukun ketiga dari rukun Islam yang lima, sesudah syahdatain dan shalat. Merupakan kewajiban yang jelas perintahnya dalam Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’. Sedangkan siapa yang mengingkari hukum wajibnya ia menjadi kafir, keluar dari Islam.
Melanggar janji Allah berupa menegakkan tauhid juga diingkari. Padahal bagi setiap insan, itu sudah diikrarkan saat dia berada di alam ruh, ketika berada dalam rahim ibu yang mengandungnya. Pelanggaran janji juga terdapat dalam pembukaan UUD 45, di dalamnya disebutkan pengakuan bahwa kemerdekaan negeri ini atas anugerah dan rahmat dari Allah Ta’ala. Yang seharusnya pengakuan menumbuhkan ketundukkan kepada syariat-Nya. Tapi yg terjadi syariat Allah ditolak dan ditelantarkan.
Pemimpin negeri ini yang tidak menerapkan syariat Islam sudah kita ketahui bersama. Bahkan, terlihat anti dengannya. Buktinya, syariat diperangi dan dimusuhi. Penyeru tegaknya syariat Allah di bumi-Nya ini dianggap sebagai ancaman sehingga harus dihabisi, sehingga sebagiannya diintimidasi, dipenjara, dibunuh, dan dirusak nama baiknya. Akibatnya, keberkahan diangkat dari negeri yang subur ini, perpecahan dan permusuhan yang melahirkan konflik berdarah terus lahir.
Maksiat lainnya yang menjadi sumber bencana adalah tersebarnya riba. Hampir sulit orang terlepas dari riba, kalaulah tidak memakannya maka ia terkena debunya sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Padahal Allah sudah mengancam, jika tersebar riba di suatu masyarakat Allah akan memerangi mereka. Bentuknya, dengan bencana gempa, tsunami, gunung meletus, kemarau panjang, ditahannya hujan, dililit hutang, dijajah musuh dalam berbagai bidang seperti ekonomi, budaya, dan kebijakan politik. Allah Ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (QS. Al-Baqarah: 278-279)
Dan siapakah di antara kita yang kuat menghadapi perang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla pernah menghancurkan suatu umat dengan suara menggelegar dari Malaikat, pernah juga Allah mengirimkan angin topan sehingga memporak-porandakan satu negeri, kadang juga memerintahkan kepada air untuk membanjir sehingga menenggelamkan suatu daerah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah ada suatu kaum yang tersebar riba di dalamnya kecuali akan ditimpakan kepada mereka paceklik yang panjang.” (HR. Ahmad)
Jadi sangat jelas, kemarau yang panjang di negeri kita ini disebabkan dosa-dosa penduduknya. Sehingga ditahannya hujan menyebabkan banyak masyarakat menderita, kesulitan dapat air bersih, bahkan sebagiannya dengan terpaksa menggunakan air kotor untuk mencuci, mandi, masak, dan minum. Gagal panen juga menghantui di beberapa daerah, sehingga kemiskinan dan kelaparan mengancam. Bahkan di beberapa tempat dikabarkan sudah banyak yang terpaksa mengonsumsi nasi aking (bekas), dan itupun dengan susah payah didapatkan.
Solusi dari musibah dan bencana di atas adalah kembali kepada Allah dengan tunduk dan patuh pada hukum-hukum-Nya, melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi apa saja yang dilarang oleh-Nya. Menghalalkan yang telah Allah halalkan dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Menegakkan syariat-Nya di bumi yang telah diciptakan oleh-Nya dan diamanahkan kepada kita untuk mengelolanya. Lalu bertaubat dari berbagai dosa dan kesalahan, dan memperbanyak istighfar.
“Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS. Nuuh: 10-13)
Dengan memperbanyak istighfar Allah akan menurunkan hujan, menganugerahkan keturunan yang baik, anak shalih, rizki halal dan banyak. Sesungguhnya taubat dan istighfar itu menjadi cara terbaik untuk mendapatkan curahan nikmat dan hujan, serta menghindarkan dari bencana dan musibah.
Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kepada kita saat terjadi kemarau dan paceklik panjang yang hujan tak kunjung datang dengan Shalat Istisqa’. Yakni shalat yang dikerjakan untuk meminta hujan. Yang dalam pelaksanaannya menampakkan kehinaan diri, kesengsaraan, dan sangat butuh kepada Allah Ta’ala. Dan Alhamdulillah, shalat itu sudah dikerjakan oleh sebagian kaum muslimin. Dan bagi daerah yang belum juga kunjung turun hujan, sebaiknya segera ditegakkan shalat istisqa’ ini. Dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, memaafkan kesalahan kita, serta mengangkat musibah paceklik dari negeri kita.
Badrul Tamam
Entri ini dituliskan pada 27/09/2011 pada 07:02 dan disimpan dalam Ekonomi, Kabar Umat, Musibah, Peristiwa. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.







































Densus 69 berkata
Benar sekali itu. Didaerah saya juga kekeringan, sebagian warga mandi di sungai yang terkontaminasi air laut yang asin. Walau mandi pake sabun sampe banyak tetep saja terasa gak enak di badan (seperti merekat gitu). Sementara distribusi PDAM kurang begitu maksimal karena terkendala suplay dari bendungan. Menurut saya minta ampun saja kepada Allah tidak cukup, kalau tidak dibarengi perbaikan infrastruktur pengadaan air bersih yang modern (misal: hujan buatan, pembangunan proyek penyulingan air laut dsb). CB
wiro margo berkata
mau kemarau cepet abis ya bubarkan ahmadiyah
taUbat berkata
Masih ingatkah kejadian banjir besar di Jakarta, yang banyak di prediksi orang akan datang setiap 5 tahun sekali (tahun 2002 dan 2007)
Kejadian tersebut adalah diakibatkan oleh kelalaian/kecerobohan kita sendiri dengan tidak peduli akan menumpuknya sampah di pinggir kali begitu menumpuk dibiarkan tanpa dibersihkan.
Akan berbeda waktu musim penghujan, saat membuang sampah ke kali akan terhanyut langsung terbawa air dan biasanya akan merepotkan pegawai pintu air karena harus mengangkut sampah beberapa truk setiap harinya.
Dengan kemarau yang panjang dan menumpuknya sampah dipinggir kali sewaktu datangnya hujan, saluran disana sini tersumbat/tertahan dan terjadilah/mengakibatkan banjir.
Antisipasinya :
- Warga di sekitar kali untuk tidak membuang sampah dikali juga dapat menjaga kebersihan
- Kali bukan tempat buang sampah
- Diadakan kegiatan kerja bakti (tetangga bersosialisasi).
- Petugas dapat memantau/mengawasi kondisi DAS (Daerah Aliran Sungai)
- Sewaktu hujan pemula datang deras dari kemarau yang panjang, kesiapan Beko di jembatan dan di pintu air dapat ditingkatkan.
Semoga prediksi banjir di Jakarta untuk 5 tahun sekali tidak terjadi.
Densus 69 berkata
Kemarau terus menerus dan hujan terus menerus adalah peristiwa yang tidak diinginkan oleh semua manusia. Sebaiknya manusia bersyukur sebab kemarau tahun ini tidak terlalu panjang juga. Malah sebagian warga di daerah saya memanfaatkan kemarau ini dengan menanam semangka. Malah sebagian warga ada yang berhasil memanen semangka 30-40 ton sekali panen. Sedang lahan gambut yang potensial ditanami semangka dan sayur mencapai 10 ribu hektar. Bayangin aja tuh, sampai kembung perut makan semangka. hehe
M. Arief B. Ariefmas berkata
Tempat saya sudah beli air tengki kok . . . 5000 liter 120 ribu. Murah, daripada haus.
taUbat berkata
BERSIAP MENGHADAPI BANJIR JAKARTA
Friday, 09 November 2012
Jawaban.com – Deputi Bidang Meteorologi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (Tuwamin Mulyono) mengatakan, sampai saat ini kondisi cuaca di Jakarta masih dalam masa transisi. Sementara puncaknya akan terjadi pada Januari 2013. “Yang perlu diantisipasi adalah angin kencang,” kata Tuwamin di Balai Kota Jakarta, Selasa, 30 Oktober 2012.
Hingga November, curah hujan di Jakarta masih akan terus meningkat. Sedangkan saat puncak musim hujan mendatang, curah hujan mencapai 300-500 milimeter per bulan. “Untuk masa transisi, curah hujan masih dibawah angka itu,” ujarnya. Sedangkan pada Februari dan Maret 2013, Tuwamin menambahkan bahwa curah hujan akan kembali turun. Dengan perkiraan itu, dia meminta Pemerintah DKI Jakarta bersiap untuk menghadapi banjir yang akan melanda Jakarta. “Pemerintah daerah harus siap-siap juga,” katanya.
Saat ini di Jakarta terdapat 62 titik rawan banjir, khususnya di daerah bantaran kali. Pemerintah provinsi DKI Jakarta fokus terhadap lokasi-lokasi tersebut. Sejauh ini, untuk mengurangi banjir di Jakarta telah dilakukan berbagai upaya, seperti; pelayanan pembersihan di 144 saluran, pengurangan genangan di 110 lokasi, pembangunan 26 waduk retensi dan pembersihan jalan di 10 titik. Selain itu, diperlukan juga kesadaran masyarakat tentang bahaya banjir dari tingkat kelurahan hingga rukun tangga.
========================
PERAN SERTA DALAM BERPARTISIPASI SEKALIGUS MENUMBUHKAN KEMBALI WARISAN BUDAYA GOTONG ROYONG ATAU AKAN MERASAKAN DAMPAKNYA DIKEMUDIAN. (MENYESAL)
taUbat berkata
Ternyata hanya dengan beko sajam, tidak dapat menyelesaikan permasalahan sampah di pintu air, butuh alat lain yang dapat menarik sampah keluar dari sumbatan sampah yang tidak terjangkau oleh beko diperkirkan 25 meter masih bertumpuk.
Sadarlah ……… jangan membuang sampah sekalipun nanti ada normalisasi kali ………
Sistim yang baik hendaknya dapat ditunjang …..
taUbat berkata
Sejak tanggal komentar diatas, nampaknya belum juga diperhatikan sampah yang penuh di pintu air manggarai.
Tidak terihat menumpuk sampah jika melewati jalan baru dan dari pos pantau berbeda kalau dari jalan lama akan terasa berbau dan pengab sampahnya bertambah terus. (membusuk)
Menyumbat dan banjir.
taUbat berkata
Setelah mengalami banjir besar yang berulang pada tahun 1997, 2002 dan 2007 atas kejadian tersebut yang kebetulan dengan ada rentang waktu 5 tahun sekali yang sama maka warga memaknai sebagai siklusnya banjir besar untuk Jakarta.
Sebagai warga tidak melihat/merasakan adanya upaya yang signifikan dalam upaya mengantisipasi banjir yang sudah bertahun-tahun untuk melakukan pencegahannya.
Anehnya para direksi pada instutusi/instansi terkait hanya berkoar-koar dalam media seputar wacana tanpa solusi warga butuh pemimpinnya yang dapat bekerja.
Petugas, pengawas dan media sepertinya berkomitmen tidak memberitakan adanya sampah yang menumpuk dipintu air manggarai.
Wewenang sampah hanya sampai di pintu air tapi keluar tidak lagi ???????
Kejadian kemarin Jakarta kebanjiran hanya dari kiriman kartulampa di siaga 2 tanpa hujan lokal yang berarti, tetapi mengakibatkan bertambah luas dan bertambah dalam saja serta yang tidak pernah kena menjadi kena. Berarti ada yang salah …..
Orang tua dulu mengenal musim hujan datang setiap bulan dengan akhiran Ber, September, oktober, nopember dan desember tetapi sekarang berbeda beberapa tahun terakhir ini hujan jatuh di awal tahun Januari, Februari dan seterusnya. …
Artinya mudah2an di tahun 2012 ini beserta upayanya seluruh warga yang peduli, semoga tidak terjadi banjir besar lagi …
Amin
taUbat berkata
RELAWAN PKS SAMBANGI LANGSUNG KORBAN BANJIR
Sabtu, 19 Januari 2013 | 09:37 WIB
Metrotvnews.com, Jakarta: Masih banyaknya korban banjir yang bertahan di rumah masing-masing, membuat Partai Keadilan Sejahtera berinisiatif mendatangi mereka dan memberikan bantuan secara langsung.
Seperti yang dilakukan Adi, kader PKS yang tinggal di bilangan Jagakarsa. Adi bersama kader PKS lainnya mendatangi warga di Jl. Tohir RT 03 RW 05 Lenteng Agung, Kecamatan Pasar Minggu, Jumat (18/1). Ia membagikan sarapan pagi kepada para korban banjir berupa bubur dan teh manis.
Menurut Adi, untuk mempermudah dan mempercepat pelayanan pada korban banjir, PKS mendirikan dapur umum. “Alhamdulillah PKS sudah mendirikan dapur umum. Ibu-ibunya memasak dan menyiapkan makanan untuk warga, sedangkan bapak-bapaknya mengantarkan langsung pada warga,” terang Adi.
Selain memberi makanan, PKS juga mendatangi warga yang sedang sakit di rumah mereka. Seperti yang dilakukan kader PKS bernama Sumi yang berkeliling bersama seorang dokter di lokasi banjir Kebayoran Baru. Umumnya, warga menderita gatal-gatal, batuk dan flu.
Menurut Ketua Bidang Lembaga Sosial PKS Jakarta Selatan Ir. Rahadi, PKS memang mengambil inisiatif untuk mendatangi warga, karena tidak seluruh daerah terdampak banjir tinggi, sehingga warga masih beraktifitas di rumah masing-masing. “Meski banjir di daerah mereka tidak dalam, bagaimana pun, mereka juga korban banjir yang perlu ditolong, sehingga tidak ada kecemburuan sosial di antara para korban banjir karena tidak menerima bantuan,” jelasnya.(Andhini/wtr6)
taUbat berkata
@ JOKOWI
Mohon blusukan ke Pintu Air Manggarai, sampah yang menumpuk semakin banyak dan berbau.
Terima kasih.