KabarNet

INDONESIA Kaya Raya dan Makmur, Tapi RAKYATNYA Banyak yang LAPAR & MISKIN

Pengungsi Stres, Penanganan Amburadul

Posted by KabarNet pada 05/11/2010

JAKARTA – Setelah sembilan hari berada di barak pengungsian, kondisi pengungsi letusan Gunung Merapi mulai mengkhawatirkan. Ditambah manajemen penanganan bencana yang amburadul, banyak pengungsi dilanda stres. Bahkan sekitar sepuluh anak mengalami gangguan kejiwaan akut.

Padahal aktivitas Merapi dalam menyemburkan awan panas masih tinggi, sementara hujan deras yang acap mengiringi letusan membuat tenda-tenda pengungsian porak-poranda.

Peningkatan aktivitas letusan Merapi selama dua hari belakangan benar-benar membuat pengungsi tertekan. Banyak pengungsi dirujuk ke rumah sakit karena memperlihatkan gejala stres. Seperti di barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, 22 pengungsi dirujuk ke rumah sakit.

Empat pengungsi dirujuk ke rumah sakit kesehatan jiwa RS Grhasia, Pakem, Sleman. Koordinator Posko Kesehatan Barak Pengungsian Glagaharjo Retno Kusumastuti menyebutkan, keempatnya menunjukkan gejala psikosis dan gangguan jiwa berat.

Sedangkan sepuluh pengungsi lain dirujuk ke RS Panti Nugroho di Pakem, Sleman. Di barak Wukirsari, satu pengungsi perempuan juga dilarikan ke RS Grhasia karena berteriak-teriak tidak terkontrol.

Retno mengemukakan, sebagian besar pengungsi yang dirujuk ke RS itu menunjukkan gejala stres, seperti histeris, pingsan, dan sesak napas. “Mereka kebanyakan perempuan dengan usia produktif sekitar 16 hingga 30 tahun. “Yang tua-tua malah lebih tabah,” ujarnya.

Sementara, sepuluh anak yang tinggal di pengungsian Tanjung, Muntilan, terindikasi menderita stres akut. Itu terungkap setelah empat sukarelawan dari RSJ dr Amino Gondohutomo, Semarang, bertandang ke TPA Tanjung di Muntilan, Rabu. Sukarelawan yang dipimpin psikiater dr Hesti Anggriani itu melakukan penelitian tentang kondisi mental dan kejiwaan ratusan anak yang tinggal di posko melalui media menggambar.

“Sepuluh anak kita indikasikan mengalami stres akut,” kata Hesti. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan, mayoritas pengungsi anak di TPA Tanjung mengalami stres akut. Tanda-tandanya, sulit tidur, selalu gelisah, dan merasa tidak nyaman.

“Ini juga tampak dari hasil menggambar 50 anak usia 5-6 tahun. Ternyata mayoritas memilih menggambar gunung,” kata Hesti pula. Berdasarkan itu, dia menyimpulkan, anak-anak korban letusan Merapi harus mendapatkan terapi secara menyeluruh. Anak-anak itu harus diajak bermain dan bernyanyi agar stres mereka tidak berlanjut ke tahap depresi.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Penanggulangan Bencana Eko Triyono menyebutkan, jumlah pengungsi anak-anak terbanyak di Kecamatan Srumbung, yakni 1.215 anak. Sisanya, di Kecamatan Muntilan 238 anak, Sawangan 252 anak, Salam 580 anak, Mungkid 172 anak, serta Dukun 619 anak.

Dalam kondisi seperti itu, banyak kalangan berpendapat bahwa kerja Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) lamban. Seperti kata pengamat sosial Hermawan Sulistyo, penanganan bencana ini amburadul.

Menurut Hermawan, yang sering terjadi dalam penanganan bencana adalah problem eksistensi. Jadi, mereka yang menangani bencana membawa bendera masing-masing. “Padahal dalam praktik, yang merasa hebat menangani bencana di lapangan hanya planga-plongo nggak ngerti apa yang harus diperbuat,” katanya.

Hermawan menambahkan, dalam menangani bencana diperlukan seseorang dengan kepemimpinan kuat sehingga mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat di lapangan, tidak menunggu birokrasi — bahkan kalau perlu, menerobos birokrasi.

Kisah menyedihkan dialami pengungsi di Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah. Mereka tidak memiliki dapur umum dan tenaga masak.

“Sebenarnya kalau bahan pokok di sini cukup tersedia. Kami merasa kesulitan untuk dapur umum dan tenaga memasak. Hal ini yang menyebabkan warga kami sampai terlambat makan,” tutur Camat Kemalang, Suradi, sambil meneteskan air matanya, di Klaten, Kamis.

Dia terharu dengan kondisi warganya di barak-barak penampungan. Apalagi melihat para pengungsi itu terlambat memperoleh bantuan makanan. Hingga sekitar pukul 14.00 WIB cukup banyak warga setempat di lokasi pengungsian belum mendapatkan makanan.

Sejak pertama kali Merapi meletus, Posko Bencana Merapi Kecamatan Kemalang terus-menerus kedatangan pengungsi. Terutama, di tiga tempat yakni Keputran, Dompol, dan Bawukan, dengan jumlah pengungsi 5.710 jiwa.

Letusan lanjutan sejak Rabu (13/11) sore membuat jumlah pengungsi bertambah mencapai ribuan orang, sedangkan lokasi pengungsian bertambah menjadi 12 tempat. Total jumlah pengungsi di daerah itu 12.178 orang, yang tersebar di 12 titik pengungsian, yaitu Dompol 2.245 orang, Bawukan 1.745 orang, dan Keputran 3.653 jiwa.

Mereka adalah pengungsi gelombang pertama. Mereka yang di pengungsian darurat yaitu di Jiwan 495 orang, Gemampir 33 jiwa, Somokaton 324 jiwa, Kadilojo 182 jiwa, Kepurun 1.300 jiwa, Kebonalas 2200 jiwa, Ngemplak Seneng 368 jiwa, Tangkil 124 jiwa, dan MTs Ma’arif Kemalang 200 jiwa.

Kondisi cuaca yang terus- menerus didera debu vulkanik dan awan panas, membuat daya tahan tubuh para pengungsi sebagian besar merosot. Apalagi, selama di penampungan tidak bisa beristirahat dengan cukup. Alhasil, banyak pengungsi jatuh sakit. Di Posko Utama Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, tercatat 60 orang harus dirawat intensif oleh tim medis, dan 20 orang rawat jalan.

Mereka rata-rata menderita sakit batuk, flu, demam, iritasi mata, dan ISPA. Melonjaknya jumlah pasien seiring dengan membeludaknya jumlah pengungsi. Sebelumnya, posko itu hanya dihuni 5.712 jiwa. Namun, sejak letusan Merapi pad Rabu (3/11), jumlah pengungsi bertambah menjadi 8.000-an jiwa.

Penderitaan lainnya yang juga dialami pengungsi adalah makin menipisnya persediaan masker. Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Klaten, Ronny Rukminto, di Posko Pengungsian Merapi Desa Dompol, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, menyebutkan, dibutuhkan sekitar 10 ribu masker kalau melihat belum adanya tanda-tanda erupsi Merapi akan berhenti.

Dia mengatakan, walau terlihat tidak berharga, namun saat terjadi hujan abu sangat diperlukan. Dikatakannya, masyarakat bisa mendapatkan masker itu secara cuma-cuma. “Bisa untuk menutup masuknya abu vulkanik ke hidung. Ini sangat penting bagi kesehatan,” katanya.

Di Magelang, tepatnya di Kecamatan Dukun, hujan debu yang terus-menerus mengakibatkan puluhan tenda pengungsian roboh. Tebalnya debu yang melekat di bagian atas tenda menjadi lebih berat saat turun hujan. Akibatnya, tenda tidak mampu menahan beban dan banyak yang roboh.

“Iya, tenda pada roboh karena hujan sangat deras,” kata Dody Anggoro, Kepala Desa Dukun, Kamis (4/11). [Source]

Okezone.Com:
Puluhan Orang Terjebak Awan Panas Teriak Minta Tolong

Hingga pagi ini, para relawan masih berusaha menembus desa-desa di Sleman dan Klaten untuk menyelamatkan puluhan korban yang masih terjebak. Relawan dari Aksi Capat Tanggap (ACT) masih berupaya menyisir Desa Bronggang, Argomulyo, untuk mencari warga yang masih terjebak di rumah-rumah dan sekolah.

“Entah berapa orang yang meninggal di Desa Bronggang. Pertama kami masuk, banyak yang teriak minta tolong,” tulis Direktur Program ACT Bayu Gawtama dalam akun Twitter-nya. Saat ini tim dari ACT masih berupaya menjangkau lokasi lain yang masih panas bekas terjangan awan panas. Belum diketahui pasti nasib mereka. Sementara itu beberapa relawan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) juga menyisir daerah Kepurun, Kecamatan Manisrenggo, Klaten. Puluhan orang dikabarkan juga terjebak di beberapa rumah.

“Jalannya tidak bisa ditembus. Banyak pohon tumbang menutupi jalan. Dari informasi warga lain kabarnya masih banyak yang terjebak di dalam rumah. Kami juga belum tahu kondisinya,” ujar relawan PKPU Subur saat dihubungi okezone. Dia menambahkan ada empat rumah yang terbakar di Kepurun, namun saat ini belum diketahui bagaimana nasib penghuninya.

“Kami usahakan, tadi ada satu motor yang bisa nyelip-nyelip. Kami lagi tunggu infonya untuk bisa masuk masuk ke sana,” kata Subur.

Satu Tanggapan to “Pengungsi Stres, Penanganan Amburadul”

  1. Araceli Dolfay berkata

    I would like to say “wow” what a inspiring post. This is really great. Keep doing what you’re doing!!

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: