Lokasi Bencana Menjadi Ajang Kampanye Partai Politik
Posted by KabarNet pada 02/11/2010
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hemengku Buwono X meminta para donatur tidak memanfaatkan kondisi masyarakat yang tertimpa bencana sebagai ajang promosi bahkan mencari simpati.
“Saya minta, umbul-umbul produk diganti dengan bendera Merah-Putih. Kalau bantuan itu dilandasi dengan kejujuran dan keikhlasan, semua ini menjadi indah kan. Masa memberi bantuan kok, minta dipotret oleh wartawan dan harus masuk ke surat kabar. Kuno itu,” ucap Sultan yang berada di Posko Utama Pantauan Merapi Pakem Sleman, paska terjadinya letusan Merapi pukul 10.02 WIB Senin (1/11).
Komentar itu dikeluarkan setelah mengalirnya bantuan kepada masyarakat korban Merapi, umbul-umbul produk dan ikon-ikon partai politik marak. Bahkan sebagain besar mencoba meraih simpati dengan berbagai bantuan sambil mengumumkannya kepada wartawan. Dengan pemasangan atribut, masyarakat akan melihatnya sebagai bentuk kampanye yang terlalu dini. Hal ini justru akan menimbulkan sikap antipati di masyarakat.
Menurut Sultan, Pemerintah tetap bertanggung-jawab terhadap warganya yang sedang berada dalam kesulitan seperti saat ini. “Semua pembiayaan penuh dari pemerintah. Saat ini sedang dalam kondisi darurat, sehingga, pendanaan bisa dianggarkan dari APBD di pos manapun. Saya sudah meminta kepada Bupati agar mengeluarkan SK dalam kondisi yang bahaya. Sehingga dinyatakan darurat. Dengan begitu, APBD yang tidak penting bisa dicoret dan dialihkan ke darurat. Entah itu Rp 1 miliar atau berapa ratus juta, itu tidak masalah. Tidak usah takut,” ucap Sultan panjang lebar.
Oleh karena itu, Sultan meminta seluruh masyarakat yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) harus tetap tinggal di pengungsi dan tidak kembali ke rumah, sekalipun sekadar untuk membersihkan rumah atau memberi makan ternak.
“Tapi inikan memang sulit. Mereka naik (pulang) karena punya aset, entah itu ternak atau apa. Warga sendiri harus bisa memahami kondisi ini. Pokoknya, selama masih dalam status Awas, semua dibiayai dan warga jangan naik sampai kondisi dinyatakan aman,” tutur Sultan.
Sultan juga menegur mobil-mobil ambulans yang hilir mudik untuk tidak menyalakan sirene jika tidak membawa korban. “Ini malah menambah panik warga. Banyak itu, yang cuma karena macet terus membunyikan sirine,” ujar Sultan.







































P4ngeran Mud4 berkata
repot nyumbang ada udang balik batu ujung2nya . . . . . . dan akhirnya . . . . . . . .bangsa dan rakyat jug jadi korban.
Pemimpin g’ bijaksana, hakim g’ adil, wanita hilang rasa malunya ini yg membawa hisab Allah langsung turun kepermukaan bumi. sadar sadarlah
BIMA harus berkata
Saya dukung pendapat Sri Sultan, kalau para donatur menjadikan lokasi bencana dijadikan ajang kampanye merupakan tindakan manusia manusia yang jauh dari peradaban, pantasnya pada zaman batu.
saya berharap belajar dari caranya PKI untuk mencari simpatik bukan cara-cara seperti caranya orang-orang munafik,
Coba anda bayangkan orang yang lagi dirundung kesusahan karena mendapat musibah disisi lain orang-orang-gila tertawa sambil menawarkan bantuanya dan menunjukan atribut partainya supaya jangan lupa siapa yang memberikan bantuan.
Saya tidak bisa membayangkan andaikata manusia-manusia tersebut berada dipemerintahan apa jadinya terhadap negara dan bangsa.
Rakyat berharap bersihkan semua sinyalemen tidak sehat dikawasan bencana, upaya tidak lebih rumit lagi nasib yang menimpa para korban.
riyuzaki berkata
MEMBANTU TAPI ADA MAUNYA…..MEMBANTU PINGIN DILIHAT ITULAH SIFAT PEMIMPIN&ORANG POLITIK YANG RIYA JELAS RIYA TUH HUKUMNYA HARAM…….BUAT SULTAN BERJUANGLAH TERUS JGN SAMPE JOGJA MENJADI AJANG PARPOL YANG MENJIJIKAN INI……..