Bencana Akibat Dosa Manusia
Posted by KabarNet pada 02/11/2010
Bencana alam seolah masih saja terus berlanjut dan mengancam setiap jiwa yang hidup di negeri ini serta di banyak belahan negara yang lain. Bentuk dari bencana tersebut bisa kita lihat dari banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung, gunung meletus, gempa bumi dan masih banyak jenis bencana alam yang lain. Terbaru adalah gempa yang terjadi tadi malam di kawasan Mentawai, Sumatera Barat dan meletusnya Gunung Merapi yang masih berlangsung.
Bencana alam tersebut terjadi sebagai PERINGATAN. bencana seperti ini ditujukan untuk orang-orang yang dalam hidupnya sering lupa dan melanggar aturan-aturan serta ketentuan hukum Allah Ta’ala. Ketika peringatan demi peringatan datang kepada mereka, tapi mereka tetap terus melakukan kesalahan-kesalahan yang sama bahkan semakin parah melakukan kesalahan yang lebih besar lagi. Maka Adzab atau hukuman dari Allah Ta’ala tak terhindarkan.
Maksud Firman Allah Ta’ala : …”dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. [Asy Syuura : 30]
Rasulullah SAW bersabda, maksud hadits “Takutilah dosa, karena dosa itu akan menghancurkan kebaikan. Ada dosa yang menyebabkan rezeki tertahan, walaupun sudah dipersiapkan kepadanya“. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, maksud hadits: “Manusia tidak akan binasa sebelum mereka banyak melakukan dosa“.
Maksud Firman Allah: “Maka setiap (orang, golongan, kaum atau bangsa) Kami siksa karena dosanya. Ada di antaranya yang Kami tumpahkan hujan lebat (sampai banjir besar atau berjangkitnya penyakit), ada yang dihukum dengan suara guntur dan kilat sabung-menyabung; ada lagi yang Kami benamkan ke dalam perut bumi; dan ada pula yang Kami tenggelamkan di tengah lautan. Semuanya itu bukanlah karena Tuhan menganiaya mereka, melainkan mereka menganianya diri sendiri“ [Al 'Ankabuut : 40]
Akhir-akhir ini beruntun terjadinya bencana yang menimpa manusia. Baik di tanah air kita maupun di berbagai benua di seluruh dunia, baik berupa bencana alam maupun berbagai peristiwa sedih lainnya.
“Tidaklah sekali-kali bangsa mengalami kehancuran, nurani manusia menjadi rusak, rumah tangga berantakan, berbagai pendapat saling berseberangan dan pemikiran menjadi kacau balau, kecuali karena berbagai macam dosa dan kedurhakaan telah membudaya di kalangan umat manusia,” demikian antara lain tulis Dr. ’Aidh bin Abdullah Al Qarni dalam buku ‘Hidupkan Hatimu’.
Maksiat akan menghalangi seseorang mendapatkan kebahagiaan sejati. Hal itu karena pelaku maksiat di akhirat akan mendapatkan hukuman dari Allah. Sedangkan di dunia orang yang bermaksiat tidak akan mendapatkan ketenangan dalam hidupnya. Hal ini bukan hanya diakui oleh orang yang beragama Islam saja, namun diakui oleh manusia pada umumnya. Yaitu mereka yang memiliki hati nurani. “Hati nurani bagaikan black box ‘kotak hitam‘ yang merekam segala ‘ceritera’ hidup ini.
Kejadian demi kejadian dari waktu ke waktu direkam dengan apik oleh hati nurani. Saat inipun kita bisa kembali membuka rekaman yang terjadi sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Apakah kita melakukan dosa besar? Semua bisa kita ingat. Karena itulah, Allah menjadikan hati nurani bersaksi di hadapan Allah pada hari kiamat.
Jangan pernah bangga berhasil mendustai orang lain. Bersedihlah karena sebelumnya, kita mendustai diri kita sendiri. Jangan pernah merasa selamat dari dosa yang kita sembunyikan selama ini karena semua akan tampak di hari ‘persaksian’, demikian antara lain kilah M.Arifin Ilham dalam artikelnya ‘Hati Nurani‘.
Salah satu contoh, demonstrasi rakyat Amerika terhadap invasi Amerika ke Irak adalah bukti konkrit bahwa pada dasarnya maksiat, kezaliman, penganiayaan itu tidak membuahkan kebahagiaan. Bahkan menurut Sokrates, orang yang berbuat kriminal lebih menderita daripada korbannya meskipun ia tidak dihukum karena kejahatannya, namun ia adalah orang yang paling menderita. Kadang ada kasus kejahatan yang pelakunya sulit dilacak. Berbagai usaha telah dilakukan namun gagal. Ternyata, orang tersebut malah menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib. Hal itu dilakukannya karena ia merasa selalu dijerat dosa.
Dalam buku ‘Puasa Lahir Puasa Batin‘ oleh Malaki Tabrizi antara lain disebutkan banyak yang hadits yang mengemukakan bahwa apabila sekelompok orang yang sedang duduk-duduk di suatu tempat, kemudian mereka beranjak menunaikan suatu perbuatan baik, maka setiap butir tanah yang dipijaknya akan berdoa dan meminta ampunan Allah Ta’ala (beristighfar) bagi mereka. Namun sebaliknya, apabila mereka terjerat kesibukan melakukan dosa, maka setiap keping tanah akan melaknat mereka.
Jadi ada hubungan langsung antara eksistensi manusia dan lingkungan alam (dunia) ini. Apabila ia berdosa, semua makhluq mengutuknya. Karena seorang pendosa melangkah kearah yang bertentangan dengan tujuan suci penciptaan manusia. Dengan kata lain, tiap perbuatan dosa menimbulkan satu kekacauan dalam tujuan penciptaan manusia yang sesungguhnya tengah berproses menuju Allah. Maksiat menyebabkan berbagai kerusakan di bumi, baik pada air, udara, tanaman, buah, maupun tempat tinggal seperti ditegaskan Allah dalam surah Rum. Maksud Firman Allah:
”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia. Allah ingin agar mereka merasakan sebagian dari apa yang mereka kerjakan supaya mereka kembali“ (Al-Rum : 41).
Allah Ta’ala tidak mungkin mendzalimi hamba-Nya sedikitpun. Maka segala kesengsaraan, musibah dan bencana adalah hasil dari perlawanan manusia kepada pencipta alam dan manusia.
Ketika terjadi gempa di zaman para tabi’in (generasi sesudah masa sahabat Rasulullah SAW), Anas bin Malik bertanya kepada istri nabi, Aisyah. “Wahai umul mukminin, mengapa sampai ada gempa.” Aisyah menjawab, “Jika pelacuran sudah dianggap legal, minuman keras sudah merajalela dan sudah gila musik, maka gempa itu sebagai nasehat dan rahmat untuk orang-orang yang beriman, tetapi juga sebagai adzab dan murka atas orang-orang kafir.”
Jadi, bencana yang terjadi dosalah penyebabnya. Dan di sinilah syaitan sangat berperan besar. Karena dialah penyebab utama terjerumusnya manusia ke dalam dosa. Seperti yang sebut dalam Al-Qur’an; Maksud Firman Allah: “Sesungguhnya syitan menginginkan untuk menjadikan diantara kalian permusuhan dan saling benci pada minuman keras dan perjudian, serta ingin memalingkan dari dzikir kepada Allah dan dari shalat. Maka, tidakkah kalian mau berhenti?” [Al-Maidah: 31].
Maksiat menyebabkan longsor dan gempa bumi serta hilangnya keberkahan. Suatu kali Rasulullah SAW melewati wilayah bekas perkampungan kaum Tsamud. Beliau melarang para sahabat untuk memasukinya kecuali dalam kondisi menangis serta melarang mereka meminum airnya atau mengambil air dari sumurnya. Karena dampak sial dari maksiat terdapat dalam air. Demikian pula dampak sial maksiat pada kerusakan buah-buahan.
Kisah kaum Tsamud. Dengan kelebihan yang Allah berikan, mereka menjadi lupa diri. Mereka mempunyai kekuatan fisik yang luar biasa. Gunung mereka pahat untuk dijadikan rumah dan mereka bangun istana di lembahnya. Peninggalan mereka hingga hari ini masih bisa kita lihat di sebuah tempat di Saudi Arabia. Sebuah karya anak manusia yang spektakuler.
Tetapi tempat ini adalah tempat yang terlaknat. Nabi melarang kita untuk berlama-lama di sana. Karena mereka dulu hancur karena dosa. Tidak cukup dengan mendustai Nabi Sholeh, mereka juga berusaha mempengaruhi dan mengancam manusia agar tidak beriman kepada risalah Nabi Sholeh. Merasa bahwa kekuatan mereka tidak ada yang bisa menandingi. Mereka lupa bahwa di balik alam ini ada Dzat yang Maha Perkasa dan Kuat. Sampai mereka tersandung oleh Permasalahan yang kelihatannya kecil. Yaitu menyembelih unta yang sudah dipesankan agar tidak disembelih. Akhirnya adzab Allah pun menghancurkan mereka. Rumah dan istana yang megah dan kokoh itu seketika berubah menjadi kuburan massal dengan gempa yang sangat dahsyat.
Dampak lain dari maksiat adalah kesialan dosa yang juga menimpa orang lain dan kendaraannya. Pelaku maksiat dan orang lain terkena sial dan gelapnya dosa. Abu Hurairah ra berujar, “Ayam mati di kandangnya karena tindakan orang yang zalim“. Sedangkan Mujahid bertutur, “Binatang melaknat orang-orang yang melakukan maksiat saat kekeringan datang dan hujan tidak turun. Mereka berkata, inilah kesialan dari maksiat yang dilakukan manusia.”
Juga Ikramah berkata, “Binatang melata di bumi, termasuk serangga mengeluh, ‘Hujan tidak turun akibat dosa manusia.’ Hukuman atas dosa tidak cukup, sampai makhluk yang tidak berdosa juga melaknatnya”.
Dari sini hubungan korelatif secara sebab akibat bisa dipahami dengan mudah. Bahwa dosa merupakan sumber bencana. Sebab, dari dosa lahir murka Allah. Dan, bila Allah murka, sangat mudah bagi-Nya untuk menurunkan adzab-Nya, dalam bentuk apapun. Wallahu ‘Alam. [Slm/KN]







































P4ngeran Mud4 berkata
Azap allah akan langsung turun kepermukaan bumi jika pemimpin g’ bijaksana, hakim yg g’ adil, wanita yg g’ py malu/hilang rasa malux semuanya kena imbas
http://nekobudi77.wordpress.com/2010/10/04/133/
riyuzaki berkata
JELAS DIKATAKAN DI AL QUR’AN BAHWA KERUSAKAN DI ATAS BUMI AllAH SWT INI DISEBABKAN KARNA MANUSIANYA……..
nangsng neng wit berkata
Terjadinya gempa dan bencana yang pertama adalah dari kebidahan yang kedua dari dosa.
Diriwayatkan oleh Shafiyah binti Ubaid bahwa sesudah gempa Umar berpidato ”Kalian suka melakukan bid’ah yg tidak ada dalam Alquran sunah Rasul dan ijma para sahabat Nabi sehingga kemurkaan dan siksa Allah turun lbh cepat.”
Wallahu alam
Urul berkata
Semoga kita semua menjadi sadar bahwasannya semua yg terjadi di dunia ini atas kehendak Allah. innalillahi wa inna ilaihi rojiun, hanya kepada Allah lah kita kembali
Jual Lukisan berkata
bencana di buat oleh manusia sendiri…