Bom ‘ELPIJI-3 KG’ Meledak, Kulit Wajah Melepuh
Posted by KabarNet pada 04/09/2010
TEMPO Interaktif, Tasikmalaya – Ledakan tabung gas tiga kilogram kembali terjadi. Kali ini korbannya menimpa Ai Siti, 35 tahun, warga Kampung Babakan, Kelurahan Bungursari, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Akibat ledakan yang terjadi pada siang tadi itu kulit wajah serta kedua tangannya melepuh. Hingga kini korban masih dirawat di Rumah Sakit Daerah Tasikmalaya.
Dede, 45 tahun, salah seorang saksi mata di sekitar kejadian, Sabtu (4/9), mengatakan ledakan tabung gas kali ini diduga karena adanya kebocoran yang terjadi pada regulator gas.
Korban yang saat itu diminta mengganti tabung gas di rumah Solehah, 33 tahun, kaget ketika dengan cepat tabung meledak saat pertama kali dihidupkan. “Apinya dari regulatior yang bocor,” ujar Solehah yang menyaksikan langsung.
Akibat ledakan yang cepat tersebut, Ai sempat terlempar hingga 3 meter ke luar rumah. Bahkan akibat penuhnya muatnya gas dalam tabung, api sempat berkobar hingga 30 menit lamanya. “Saya kaget pertama kali melihat Ai terlempar dari dalam rumah bu Solehah,” ujar Dede. “Api dengan cepat menyebar diseluruh dapur.”
Tabung gas sempat disembur dengan air beberapa kali oleh warga sekitar, namun api tetap menjalar ke seluruh dapur. Melihat api yang semakin besar, warga sekitar pun akhirnya ramai-ramai untuk mematikan api di sekitar dengan peralatan seadanya. “Saya sempat cabut selangnya ke luar namun api tetap menyala,” ujar Amir, 37 tahun, saksi lainnya.
Amir pun mengakui hingga kini belum ada petugas dari pihak Pertamina yang mensosialisasikan penggunaan tabung gas secara benar termasuk sosialisasi penggantian regulator gas yang gencar disuarakan pemerintah. “Belum ada sosialisasi yang datang ke sini dari pertamina,”ujarnya.
Hingga petang tadi, dengan luka cukup serius di bagian muka dan kedua tangannya, Ai masih terbaring mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah Tasikmalaya. Belum ada tanggapan dari Pertamina mengenai ledakan tersebut termasuk dari bagian pemerintah kota Tasikmalaya.







































taUbat berkata
Jadi sharing saja, pengalaman pribadi dulu pertama kali pemerintah membagi-bagikan satu set kompor gas sambutan masyarakat berbeda-beda ada yang senang, takut, marah, beruntung, dan lain2.
Saat dibagikan kepada masyarakat tidak ada sama sekali yang memberikan penyuluhan kepada masyarakat dan dianggap sudah tau dan mudah, yang kebetulan saat itu juga ada masalah di pembagian yang masih kacau serta minyak tanahpun sangat langka dan masyarakat yang menerima pembagian satu set kompor tersebut lalu dijual berkisar harga Rp 60 ribu sampai 70 ribu pada penampung.
Tidak tau alasan apa saya diminta disuatu wilayah untuk memberikan penyuluhan kompor Gas dalam rangka Baksos, dan saya langsung meng iyakan berbekal pengalaman menggunakan Gas dan sedikit mengerti tentang sifat Gas. (PD aja karena masyarkat belum banyak tau caranya menyalakan gas …)
Alhamudulillah masyarakat didaerah/wilayah yang telah diberikan Baksos, tidak menjual kompor gasnya dan sampai sekarang tidak pernah bermasalah.
Tetap dari awal yang ditekankan masalah Gas, yang tidak berbau menjadi beraroma menyengat dan sifatnya merayap kebawah karena Berat jenisnya lebih berat dari udara serta masalah regulator, selang, kompor, karet dan katup hanya tambahan.
Ibu2 dan Nenek2 antusias mencoba peragaan dalam menyalakan kompor, Alhamdulillah.
Yang menjadi pertanyaan kenapa pemerintah tidak memberikan penyuluhan terlebih dahulu sebelum dibagikan ……. dan sebenarnya ada nggak pemberian penyuluhan kepada masyarakat …..