Elpiji Meledak Saat Sosialisasi Regulator
Posted by KabarNet pada 28/07/2010
Bondowoso – Surya- Ironis. Saat kegiatan sosialisasi pemasangan regulator tabung gas elpiji ukuran tiga kg di Dusun Panggang, Kembang, Tlogosari, Kabupaten Bondowoso, Senin (26/7) petang, ternyata terjadi kebocoran gas sehingga muncul ledakan. Dua warga pun luka bakar, dan sampai Selasa (27/7), masih dirawat di Puskesmas Tlogosari.
Dua korban tersebut adalah Supriyanto, 30, dan Rian, 21, warga Dusun Panggang. Supriyanto mengalami luka bakar cukup serius di bagian punggung, sedangkan Rian pada bagian lengan dan betis kiri.
Insiden itu mengundang campur tangan pihak kepolisian. Salah seorang pria yang ikut dalam sosialisasi pemasangan regultor tersebut, Agus Suharyono, 20, karyawan PT Multi Top, sempat diamankan di Polsek Tlogosari untuk dimintai keterangan, dan akhirnya dijadikan tersangka.
PT Multi Top adalah perusahaan di Jember di bawah naungan Koperasi Purna Karya Pertamina (Kopana) Jakarta Timur, yang bergerak dalam pemasaran regulator tabung gas. Perusahaan ini sering melakukan kegiatan promosi berupa sosialisasi pemakaian regulator secara baik dan benar.
Saat beberapa karyawan PT Multi Top melaksanakan sosialisasi di rumah Nari, 32, warga Dusun Panggang, Senin (26/7) sekitar pukul 17.00 WIB, terjadi kecelakan. Saat itu tabung gas milik Nari, yang akan dipakai sebagai alat peraga, ternyata tidak mengeluarkan gas.
Karyawan PT Multi Top, Agus Suharyono mencongkel pen tabung menggunakan obeng sehingga rusak dan menyebabkan gas bocor. Karena khawatir membahayakan warga, maka Agus berusaha mengamankan tabung gas yang bocor tersebut dengan membawanya ke kamar mandi.
Tabung gas bocor itu direndam ke dalam air, agar gasnya tidak menyebar. Namun, ketika diangkat lagi ternyata gas menyambar api yang dihidupkan oleh Marsina, 80, sehingga melukai Suprianto dan Rian.
“Saya kaget, karena dari arah belakang tiba-tiba muncul kobaran api besar,” keluh Rian, saat ditemui di Puskesmas Tlogosari, Selasa, (27/7).
Dia menjelaskan, saat akan lakukan uji coba, tabung gas bantuan pemerintah itu sebenarnya masih dalam kondisi baik. Tetapi, entah mengapa, saat akan dijadikan alat percobaan, ternyata tabungnya tidak dapat mengeluarkan gas.
“Setelah dicongkel, pen tabungnya tidak kembali dan gasnya terus ngowos,” kata Rian sembari merintih kesakitan akibat luka bakar di bagian betis.
Secara terpisah,Agus Suharyono selaku petugas marketing PT Multi Top Jember mengatakan, ia terpaksa mencongkel pen tabung gas karena kesulitan tatkala akan memasang regulator. “Saat regulator dilepas, kebocoran tabung gasnya kecil,” ujar Agus Suharyono, yang ditemui di Polsek Tlogosari.
Agus mengaku, kala itu sudah berusaha untuk membawa tabung gas yang bocor tersebut ke luar rumah. Karena lokasi sosialisasi merupakan kawasan padat penduduk, maka dia bawa tabung gas tersebut ke kamar mandi untuk direndam.
“Ada sekitar 10 menit tabung itu kami rendam,” kata tenaga pemasaran regulator dan selang tabung gas yang tidak ditahan meski berstatus tersangka.
Kapolres Bondowoso, AKBP Dadan Wisnu Wardana yang diminta konfirmasi melalui Kapolsek Tlogosari, AKP Sudjatmiarto SH menyatakan, kecelakaan yang terjadi bukan ledakan tabung gas melainkan kebocoran gas. Meski demikian, polisi tetap menjerat Agus dengan Pasal 360 ayat 2 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), tentang kelalaian yang menyebabkan orang lain terluka, dengan ancaman hukuman maksimal sembilan bulan penjara.
Berbahan Plastik
Kabar lain, tak banyak orang tahu bahwa selang elpiji yang sekarang beredar di pasar bukan berbahan karet namun plastik. Diperkirakan produk ini marak beredar sejak tahun 2008. Tentunya hal ini cukup membahayakan, mengingat saat digunakan memasak, kompor menghasilkan panas dan akan melunakkan ujung selang plastik yang terkoneksi dengan kompor.
Dus, selang itu mengalami deformasi sekaligus terkena propana yang menyebabkan gas bocor pada titik tersebut. Ini pula yang ditengarai memicu ledakan elpiji kemasan tiga kg.
Ketua Asosiasi Produsen Selang Karet Kompor Elpiji (APSEGI), Johanes Harmawan, Selasa (27/7), mengakui temuan itu mengejutkan dan membuat was-was. Karena hampir 70 persen selang elpiji di pasar –berstandar nasional Indonesia (SNI)–, ternyata berbahan plastik.
“Pembuatan selang berbahan plastik menggunakan teknologi thermoplastik yang tidak tahan panas. Selang plastik juga lebih murah ketimbang karet dominan. Namun, selang plastik tidak tahan panas dan tidak memenuhi standar keamanan lingkungan,” katanya.
Diwawanca terpisah, VP Communication PT Pertamina, Basuki Trikora Putra, menegaskan, selang berbahan plastik yang ditengarai beredar di pasar tersebut tak ada kaitannya dengan produk Pertamina dan program konversi minyak tanah ke elpiji.“Kami menjamin selang plastik itu bukan paket perdana elpiji tiga kg maupun program penjualan aksesoris elpiji yang saat ini kami gelar,” katanya.







































Ratu berkata
DIMANA PEMERENTAH TIAP HARI BLAAR BLAAR BLAAR,HE NYAWA ORANG JANGAN TIDAK DI HARGAI
tuxlin berkata
Itu salah satu langkah pemerintah mengurangi kemiskinan, dengan mengirimkan bom berwujud tabung elpiji ke kalangan menengah bawah, kan mleduk n mati deh…kejam…
@admin
anggota dewan lagi musim bolos tuh,bikin ulasanya yah