Rizal Ramli: Boediono Tak Punya Malu…
Posted by KabarNet pada 30/04/2010
Jakarta – Mantan Menteri Koordinator Perekonomian Rizal Ramli menilai, pemeriksaan Wakil Presiden Boediono di Wisma Negara oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melebihi zaman Orde Baru.
“Ini melebihi Suharto. Suharto aja datang ke Kejaksaan Agung untuk dimintai keterangan,” kata Rizal Ramli di Gedung DPD, Jakarta, Jumat (30/4). Menurut Rizal, pemeriksaan Boediono tersebut membuktikan kalau Boediono hanya bisa berlindung di belakang Presiden SBY. Di samping itu, pemeriksaan tersebut juga menunjukan adanya ketakutan karena telah melakukan kesalahan.
“Saya tidak tahu pasti, apakah disengaja atau tidak pemeriksaan dilakukan di Wisma Negara. Tapi semakin kelihatan bahwa Boediono semakin bersembunyi di belakang SBY,” kata Rizal.
Seharusnya, lanjut mantan calon presiden ini, Boediono harus bersyukur karena lolos dari kasus BLBI. Sementara yang lain seperti Hendro Budiono, Paul Sutopo dinyatakan bersalah.
“Lolos dari BLBI saja, Boediono saja sudah harus bersyukur. Kebijakan yang tidak bersih dampaknya sering lebih merugikan,” ujarnya.
Yang lebih penting lagi, di negara-negara seperti Korea, Jepang, para pejabat memiliki rasa malu yang sangat tinggi. Misalnya, di Korea Selatan, seorang menteri Pertanian yang sedang bermaion golf, begitu diberitakan oleh media massa bahwa di Korea Selatan berjangkit penyakit sapi gila, sang menteri langsung mundur. Begitu juga di Jepang, para pejabat negara mengundurkan diri karena malu yang mana tugas yang diemban tidak berhasil.
“Di Indonesia sebaliknya. Sejak Orde Baru selesai, tidak ada lagi rasa malu itu dan kalau diberikan kekhususan, maka mereka justru semakin tidak memiliki rasa malu dan semakin bebal,” pungkas Rizal.(Primair)







































Martha Dina Stya Rini berkata
SIAPA BILANG HUKUM SEBAGAI PANGLIMA
Memang melihat perjalanan bangsa dan negara ini tidak jauh sebuah bahtera yang teronbang ambing ditengah samodra.
kadang-kadang penilaian umum melihat perampokan ataupun tindakan kriminal, kita sebagai manusia yang punya nurani sangat miris bila dimedia TV tidak pernah habis tentang fenomina berita kriminal,
tetapi lebih ironis lagi bila suatu kejahatan dilakukan oleh perampok-perampok dengan menggunakan kekuasaan diantara bailout Century maupun dengan kasus pajak terhadap bos Ramayana Paulus tumeu,Kalau mental-mental KPK tidak memiliki keberanian seperti Antasari Ashar, maka yang terjadi ada dua kemungkinan Rakyat ini jadi apatis atau sebaliknya yaitu menyusun gerakan “Revolusi Rakyat” karena sudah tidak ada lagi Penegak keadilan yang bisa diharapkan!!!
Kita sebagai rakyat biasa sudah bisa mengukur kapasitasnya Lembaga KPK tentang kapasitasnya untuk menyelesaikan kasus Century yang melibatkan pejabat tinggi negara dengan cara memeriksa Budiono dan Sri mulyani yang tigak mau datang di KPK,
terus maunya negara ini dibawa kemana??????
suara timur berkata
KPK JANGAN DIPAKSA UNTUK MENYELESAIKAN SKANDAL BAILOUT CENTURY KALAU MEMANG TIDAK ADA KEBERANIAN JUSTRU NANTINYA AKAN MENGECEWAKAN PUBLIK ,, KPK HARUS MEMILIKI KEBERANIAN DALAM MENGUNGKAP KEJAHATAN BERKEDOK KEBIJAKAN,BUKAN MALAH MENJADI PENGABDI BUDIONO DAN MULYANI
KPK VERSI BIBIT CHANDRA TIDAK AKAN MAMPU MENGHADAPI BUDIONO DAN MULYANI YANG BARU TAHAP PEMERIKSAAN SAJA SUDAH ADA INDIKASI TIDAK BAIK, YANG MENGIMPLEMENTASIKAN DUA ORANG TERSEBUT SEHARUSNYA DATANG DI KPK JUSTRU DIANGGAP SEBAGAI DEWA,,,
KOMISI III SEGERA MEMBENTUK KETUA KPK SEBELUM BAHTERA RI MEMBENTUR SEBUAH TEBING,,,,
taUbat berkata
Budaya malu, gotong royong, sopan santun sebagai citra bangsa indonesia itu kini telah hilang.
Pemimpinnya mencontohkan budayanya yach akhirnya masyarakatpun meniru …
@ Suara Timur
KPK itu menyadari atau tidak kalau dukungan masyarakat ada dipihaknya jadi apapun statement atau pengambil keputusan untuk kepentingan masyarakat itu akan terdukung.
Untuk saat ini memang KPK adalah wakil rakyat dalam pemberantasan korupsi ..
Untuk KPK jangan diulang lagi, jangan sampai beralih pada masyarakat yang maju untuk menyelesaikannya …..
Salam