Stafsus SBY Beberkan Bukti Keterlibatan Kader PKS
Posted by KabarNet pada 28/02/2010
JAKARTA – Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Andi Arief membeberkan sejumlah bukti yang menyatakan bahwa politisi PKS Muhammad Misbakhun ikut menikmati aliran dana Bank Century.
Dana tersebut diakses oleh Misbakhun dari pembuatan Letter of Credit (L/C) fiktif berkedok ekspor gandum. “Padahal tidak pernah ada ekspor gandum itu,” ujar Andi dalam jumpa pers di Gedung Wantimpres, Sabtu (27/2/2010).
Andi menegaskan, alat bukti tersebut sudah diverifikasi keasliannya ke Kementrian Hukum dan HAM serta ke Kantor Kepabeanan. Di antaranya adalah berkas keterangan Misbakhun sebagai komisaris Prima Internusa 2007 yang mengajukan ekspor gandum.
Selain itu ada keganjilan dalam penerbitan L/C Bank Century milik Misbahun, yakni tanpa adanya surat gadai.
Muhammad Misbahkun merupakan salah satu inisiator Hak Angket Bank Century. Dalam setiap kesempatan, politisi PKS itu selalu bersikap kritis dalam mengungkap skandal bailout sebesar Rp6,7 triliun tersebut.
Sebelum menggelar jumpa pers, Andi sempat beberapa kali berkomunikasi dengan sejumlah tokoh nasional. Di antaranya Amien Rais dan Akbar Tanjung. Kuat dugaan, permasalahn ini menjadi salah satu materi pembicaraan.
Kesimpulan akhir Pansus Hak Angket Century sendiri akan diambil pada 3 Maret mendatang. Hingga kini mayoritas fraksi di DPR menyatakan ada pelanggaran sistemik dalam pengucuran dana talangan ke Bank Century. (okezone)
________________________
Anggota Pansus Century: Andi Arief Sudah Liar
Andi Arief, Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku punya bukti kepemilikan Letter of Credit (LC) bermasalah milik anggota Pansus Century dari Fraksi PKS, Misbakhun. Andi Arief dinilai sudah berlebihan.
“Jelas, dia (Andi Arief) sudah liar,” kata anggota Panitia Khusus (Pansus) Bank Century dari Fraksi Golkar Agun Gunanjar Sudarsa di sela Rapat Kerja Nasional Golkar, di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Sabtu 27 Februari 2010.
Agun mempertanyakan atas dasar apa Andi berbicara seperti itu, apa pula kedudukan hukumnya. Agun juga mempertegas, staf khusus Presiden itu bukanlah polisi atau penyidik.
Bahkan kalau atas nama Demokrat, kata Agun, kenapa bukan Ketua Fraksi Anas Urbaningrum atau Sekjen Demokrat Amir Syamsudin turun langsung.
“Bukan lalu Andi, bertemu dengan orang-orang parpol untuk melobi kesana kesini, sebagai orang presidenkah atau Demokrat? Jelas dia (Andi) liar,” kritik anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Barat X ini.
Ironisnya, lanjut Agun, Andi Arief hanyalah staf khusus Presiden bidang bencana. “Kalau hadir dan berbicara seperti itu jelas tidak patut atau tidak sopan. Praktik-praktik seperti itu jelas membuat konstruksi hukum tata negara menjadi bobrok,” tegasnya lagi.
Sebelumnya, Andi Arief mengaku memiliki bukti dugaan konflik kepentingan Misbakhun dalam kasus Bank Century.
“Kami memiliki bukti kepemilikan dia dalam (LC) letter of credit yang diterbitkan oleh Bank Century,” ujar Andi Arief, dalam jumpa pers di Jakarta, 27 Februari 2010.
Tak tanggung-tanggung, nilai LC bermasalah yang ditemukan Andi mencapai US$ 22,5 juta. Alat bukti itu berupa Akta Komisaris milik Misbakhun dengan kepemilikan sebanyak 99 persen pada PT Selalang Prima Internusa.
Menurut Andi, PT Selalang memiliki LC yang diterbitkan oleh Bank Century pada 19 November 2007. Ia mengatakan bukti ini telah diklarifikasi pada Kementerian Hukum dan HAM. “Ini Asli,” kata mantan Komisaris PT Pos itu. (vivaNews)







































RAKYAT LAPAR berkata
Ck…ck…ck… luar biasa usahanya. Seluruh daya dan upaya dikerahkan untuk menangani bau busuk skandal b.century supaya tidak merebak kemana-mana.
Bayangkan… sampai-sampai seorang STAF KHUSUS PRESIDEN SBY BIDANG SOSIAL DAN BENCANA ikut-ikutan menangani skandal ini (tentunya diperintahkan oleh bosnya) untuk melakukan serangan balik demi meredam bau busuk bangkai gajah yg sudah merebak ke seluruh dunia.
RAKYAT LAPAR berkata
Ada 2 pilihan pilihan bagi Andi Arief (STAF KHUSUS PRESIDEN SBY BIDANG SOSIAL DAN BENCANA) dlm menyikapi kasus dugaan keterlibatan kader PKS dalam aliran dana b.century:
1- serahkan ke KPK untuk diproses secara hukum. Kalau terbukti maka copot dia dari jabatannya. Jebloskan ke dalam tahanan. Adili dia seadil-adilnya. Beri hukuman yang setimpal dgn perbuatannya.
atau…
2- jadikan amunisi untuk membungkam mulut PKS dan melakukan tawar menawar politik di DPR. ( “Ini kader elu kagak gue ungkit2 dan kasusnya gue peti-eskan, tapi elu duduk manis aja di dalam ketiak bos gue.” )
taUbat berkata
Cari muka, cari sensasi, numpang sohor……..
Pembuatan opini disaat akan digelar paripurna, agar dapat melemahkan kubu PKS yang lobi2 gencarnya dapat ditampik semua.
Jadi semakin tranparan, ternyata kemampuan stafsus itu tidak berkapabilitas. menambah keruh suasana…..
Stafsus seharusnya bekerja bukan membuat wacana/opini pada masyarakat…..
taUbat berkata
OOOO….. INI TOCH KERJANYA STAFSUS, YANG BERALIH MENJADI SELEBRITI MENGUMBAR STATEMENT DEMI INFOTAINMENT…
MENCARI PAMOR DAN MEMBUAT SUASANA KERUH, MENGADU DOMBA PARTAI……
TUGASMU BUKAN DISITU BOSS……
YACH PANTAS SAJA, KALAU SITUASI JADI BEGINI…
Mr. Jhony Walker berkata
KALAUPUN ADA BENAR ADA KORUPSI DI BANK CENTURY, BERARTI MALING TERIAK MALING. ITLAH MUKE-MUKE ISLAM. SOK SUCI …. PADAHAL DIRINYA SENDIRI MALING. SAMA-SAMA BUSUK. PECAT SEMUA MENTERI PKS DAN GOLKAR. SELESAI!!!!!
Psikiater berkata
@Jhony Walker
Apakah Anda sudah berobat sesuai saran saya yg pernah tertulis pada link dibawah ini???
http://kabarnet.wordpress.com/2010/02/18/tokoh-jil-kesalahan-lia-eden-sama-dengan-kesalahan-nabi-muhammad-saw/comment-page-1/#comment-13599
Dark Art Wallpapers berkata
During the Napoleonic Wars , trade between Europe and Britain evaporated, resulting in the gradual decline of the wallpaper industry in Britain. However, the end of the war saw a massive demand in Europe for British goods which had been inaccessible during the wars, including cheap, colourful wallpaper. The development of steam-powered printing presses in Britain in 1813 allowed manufacturers to mass-produce wallpaper, reducing its price and so making it affordable to working-class people. Wallpaper enjoyed a huge boom in popularity in the nineteenth century, seen as a cheap and very effective way of brightening up cramped and dark rooms in working-class areas. By the early twentieth century, wallpaper had established itself as one of the most popular household items across the Western world. During the late 1980s though, wallpaper began to fall out of fashion in lieu of Faux Painting which can be more easily removed by simply re-painting.