Istana Kedodoran
Posted by KabarNet pada 25/02/2010
SELAIN petinggi Partai Demokrat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga mengerahkan para staf ahlinya untuk melakukan lobi-lobi politik. Namun sayang pihak Istana kedodoran dalam persoalan komunikasi politik sebab bukan dukungan masif yang didapat tapi justru persoalan baru bermunculan.
Sejumlah upaya lobi politik dari sejumlah staf khusus presiden berbuah kontraproduktif bagi Presiden SBY dan institusi Istana Kepresidenan. Manuver dua staf khusus Presiden SBY, Andi Arief (Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana) serta Felix Wanggai (Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi Daerah) yang menemui bekas Ketua Umum PP Muhammadiyah A. Syafii Ma’arif, Selasa (23/2) malam, misalnya, tak memiliki dampak politik apa pun. Alih-alih mendapat dukungan dari tokoh Muhammadiyah itu, pertemuan itu justru kontraproduktif bagi SBY.
Menurut Buya Ma’arif, demikian dia sering disapa, dua staf khusus presiden itu mengajak dirinya bertemu di Hotel Dharmawangsa Jakarta. Hanya saja, Buya merasa heran dengan pernyataan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief yang menyebutkan dirinya terkejut soal kasus Misbakhun yang memiliki L/C di Bank Century.
“Itu tafsiran dia saja. Pertemuan itu biasa saja kok. Saya ndak ngerti dengan pernyataan Andi Arief,” kata Buya saat dihubungi di Jakarta, Rabu (24/2) kemarin. Sebelumnya, Andi Arief menginformasikan ke media, bahwa Syafii Ma’arif terkejut ketika dia memberitahukan adanya L/C Misbakhun di Bank Century yang diduga bodong. Pernyataan ini dinilai jelas-jelas sebagai lobi politik atau tawar-menawar politik terkait kasus Bank Century.
Buya Ma’arif juga mengaku dirinya diajak bertemu dengan Presiden SBY terkait kasus Bank Century yang sekarang sedang memanas di parlemen. Namun Buya mengaku menolak ajakan bertemu dengan Presiden SBY. “Sebagai warga negara saya mau ketemu, tetapi terkait kasus Bank Century saya tidak mau,” tegasnya.
Buya menambahkan dia sempat bertanya apa tujuan Istana mengundangnya terkait Pansus Century. Untuk itu Andi pun mengatakan SBY ingin meminta nasihat dari Buya. “Apa yang dinasihati? Dia (SBY) itu kan lebih tahu dari saya. Pansus itu harus dituntaskan,” katanya.
Dia mengatakan sikapnya sudah kukuh terkait dengan Century. Kasus ini harus diungkap habis. Bila bersedia bertemu SBY, sikap Syafii Ma’arif bisa ditafsirkan sebagai inkonsistensi. “Century harus kita bongkar penuh. Kalau DPR masih punya hati nurani, hasil paripurna nanti akan sesuai dengan harapan rakyat,” pungkasnya.
Tidak level
Sementara itu, terkait dengan ragam manuver yang dilakukan inner circle Presiden SBY soal kasus Bank Century, Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti juga mengaku heran. “Saya tak habis pikir, mengapa Presiden mengutus Andi Arief dan Felix untuk menemui Buya Syafii. Itu tidak level-lah,” katanya di sela-sela pembacaan sikap akhir fraksi di gedung DPR, Jakarta, Selasa (23/2) malam.
Menurut dia, bila pun berkeinginan membangun komunikasi politik dengan sejumlah tokoh, bukan dengan mengutus Andi Arief untuk menemui tokoh masyarakat tersebut. Ray justru melihat pengutusan terhadap Andi Arief kontraproduktif. “Kita tahu siapa Andi Arief. Seandainya kita pun dilobi untuk bertemu dengan Andi Arief, kita saja masih pikir-pikir,” katanya tanpa merinci pernyataannya.
Menurut dia, seharusnya jika Presiden SBY berkeinginan menemui Buya Maarif untuk melakukan komunikasi politik, setidaknya memilih figur yang tepat untuk melakukan komunikasi politik tersebut. “Seharusnya yang menemui Buya Maarif minimal ya sekelas Anas Urbaningrum. Bukan Andi Arief,” ujarnya.
Jika merunut ke belakang, sejumlah manuver politik dari inner circle Presiden SBY yang berasal dari para staf khusus tak membuahkan hasil politik apa pun. Seperti pertemuan Andi Arief dengan Sekjen DPP PDIP Pramono Anung beberapa waktu lalu, nyatanya juga tak membuat perubahan sikap PDIP dalam kesimpulan akhir di Pansus Bank Century. PDIP malah gencar menyebut nama pejabat yang terlibat, termasuk Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani.
Antara lawan & kawan
Sementara itu, partai pendukung pemerintah di Pansus Century ternyata menegaskan adanya pelanggaran dalam proses bailout Century. Bahkan ada beberapa di antaranya yang terang-terangan menyebut nama yang dinilai bertanggung jawab. Untuk itu Sekjen Partai Demokrat Amir Syamsuddin menilai kondisi ini justru memperlihatkan siapa yang menjadi lawan atau kawan mereka.
“Saya kira sudah jelas apa yang mereka lakukan, posisi juga sudah diperjelas,” kata Amir saat dihubungi Rabu kemarin. Apa ini bisa disebut siapa lawan dan siapa kawan? “Yah saya kira seperti itu,” jawabnya.
Amir menjelaskan, Demokrat kini akan mulai tegas dan tegar dalam menyikapi kondisi politik terakhir. Situasi ini, imbuh Amir, akan menjadi pelajaran partainya. Namun Amir enggan menjelaskan lebih detail soal sikap yang akan mereka ambil. Dia menyayangkan sikap yang diambil oleh partai pendukung pemerintah. Ia menilai penyelidikan yang sedang dilakukan Pansus, terutama partai pendukung, tidak tuntas.
“Partai koalisi tidak pernah menjelaskan secara jujur apa akibatnya jika bailout ini tidak diambil. Akhirnya masyarakat melihat bahwa kesalahan hanya ada pada bailout,” jelas Amir.
Jika saat itu penyelamatan Bank Century tidak dilakukan, Amir mempertanyakan apa ada yang bisa menjamin krisis perbankan tidak akan terjadi. “Jangan-jangan jika sampai terjadi krisis, saat ini akan ada pansus yang mempertanyakan kenapa bailout tidak dilakukan saat itu,” jawab Amir. (Duta Masyarakat)
________________________
Buya Syafii: Staf SBY Tak Bermoral
Jakarta, Rakyat Merdeka - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif kesal terhadap Staf Khusus Presiden Andi Arief. Pasalnya, Andi Arief menyatakan bahwa Syafii terkejut setelah mengetahui kasus letter of credit politisi PKS Muhammad Misbakhun di Bank Century yang mengalami gagal bayar. Hal itu dikatakanny tadi malam, usai bertemu Syafii Maarif, di sebuah hotel di Jakarta Selatan.
Sepertinya, Syafii merasa dijadikan tumbal oleh Andi Arief untuk menekan PKS.
“Ini tidak sehat, anak ini menyalahgunakan. Saya nggak ngerti soal itu,” kata Syafii kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Rabu, 24/2) Tidak hanya itu, Buya Syafii, panggilan akrabnya, juga mengatakan Andi Arief tidak bermoral.
“Ini tidak sehat, anak ini tidak bermoral,” kesalnya. Syafii sendiri mengaku baru mengetahui soal statement Andi Arief tersebut.






































