Tifatul Lecehkan Wartawan
Posted by KabarNet pada 24/02/2010
TUDINGAN Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring bahwa wartawan mencari makan dengan memelintir berita dan memuat tulisan yang menghujat orang lain dinilai telah melecehkan profesi wartawan. Bahkan, pernyataan tersebut merupakan cerminan dari institusi yang sedang sakit. Berbagai kalangan menyesalkan pernyataan Tifatul.
Ketua Dewan Pers Bagir Manan mengatakan sikap mantan Presiden PKS itu tidak bijaksana.
“Kalau benar itu ucapannya, kurang bijaksana. Mungkin ada wartawan yang belum bagus betul, tapi harus dipahami juga, tidak ada yang sempurna,” tutur Bagir saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.
Kepada wartawan Media Indonesia yang meminta tanggapan soal ultimatum anggota DPR Hayono Isman agar Kemenkominfo mencabut Rancangan Peraturan Menteri (RPM) tentang Konten Multimedia paling lambat Senin (22/2), Tifatul enggan berkomentar. Rancangan tersebut diprotes publik dan mendapatkan pemberitaan meluas karena bakal mengekang kebebasan pers.
Tifatul malah menyebut wartawan sudah lihai menulis tanpa perlu meminta konfirmasi. “Lo, tanpa konfirmasi pun Anda sudah lihai menulisnya. Lihat aja pelintiran berita hari ini. Anda bebas kok menulis apa saja. Anda cari makan dari cara-cara seperti itu,” kata Tifatul melalui pesan singkat kepada Media Indonesia, Senin lalu.
“Saya sering merasa kasihan dengan orang yang mencari rezeki dengan cara menulis sesuatu yang menghujat orang lain, mengadu domba, menuduh tanpa konfirmasi yang seimbang. Dan, dengan tenang (orang itu) menikmatinya tanpa peduli,” lanjut Tifatul.
Bagir menyayangkan pernyataan tersebut karena saat ini Indonesia sedang berusaha membangun kehidupan berdemokrasi yang baik. “Perlu diingat bahwa pers adalah salah satu pilar demokrasi. Saat semua sedang berjuang begitu, janganlah mengatakan hal-hal tidak bijak yang merugikan diri sendiri.”
Institusi sakit
Kecaman juga disampaikan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Nezar Patria. “Mengatakan wartawan mencari makan dengan memelintir berita itu melecehkan profesi wartawan. Tidak semua wartawan seperti itu,” tegasnya.
Menurut Nezar, Tifatul Sembiring harus mengklarifikasi karena pernyataannya telah menyinggung banyak wartawan. “Kalau pernyataan dia menggeneralisasi, itu menyinggung banyak wartawan yang berkeringat dan susah payah untuk karya jurnalistik yang berkualitas serta bekerja sesuai kode etik.”
Di sisi lain, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengemukakan kini banyak lembaga yang sedang sakit, salah satunya lembaga eksekutif.
Lembaga yang sakit tersebut memerlukan pengawasan dari lembaga yang sehat, terutama pers.
Menurut Mahfud, lembaga eksekutif yang sedang sakit sulit membuat penilaian yang objektif. “Justru karena sebagai lembaga eksekutif yang sedang tidak sehat, pernyataan yang keluar seperti itu (menyebut wartawan mencari makan dengan memelintir berita dan menghujat orang lain),” paparnya, kemarin.
Mahfud justru merasa bangga pers dapat terus mengawal ketimpangan ataupun produk-produk yang dihasilkan lembaga demokrasi. “Saya senang teman-teman media mengawal Kemenkominfo dalam pembuatan RPP dan RPM. Kalau memang tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat, hantam saja. Itu bisa mengurangi pekerjaan kami juga, kalau nanti ujung-ujungnya diujikan di Mahkamah Konstitusi.” (Media Indonesia)







































TERHERAN HERAN berkata
tdk ada asap kl tdk ada api.
pernyataan tifatul sembiring itu adalah cermin dunia pers indonesia yg sebenarnya.
memang masih banyak wartawan yg baik.
tp dlm kenyataannya wartawan busuk dan media busukpun jumlahnya hampir sama dgn yg baik.
di era reformasi ini pers indonesia berkembang menjadi ultra liberal yg menjadikan dirinya seolah tuhan yg tdk pernah salah dan tdk mau disalahkan alias mau benar sendiri.
Zaki Ahmad berkata
Tahu kenapa Tifatul begitu?
karena di partainya sama sekali tidak pernah ada dan tidak boleh ada pertanyaan, apa lagi kritik untuk setiap statement atau kebijakan dan keputusan yang diambil, betapun statement atau keputusan yang diambil terang-terangan melanggar Al Qur’an dan As Sunnah yang seharusnya menjadi landasan dalam setiap langkah yang diambil. Untuk pelanggaran yang berulang-ulang dilakukan para qoid (jajaran pimpinan) mereka punya dalil pembenar yang bernama fiqhud da’wah. Yang kemarin haram, demi pemilu misalnya, atas nama fiqhud da’wah, menjadi mubah.
Prinsip yang dicekokkan ke anggota partainya (junud-junudnya) adalah adalah mutarobbi (binaan) harus tho’ah (obey) saja tanpa reserve kepada muraobbi (pembina, pendidik).
Prinsip tha’ah (obey) ini dimanfaatkan sedemikian rupa untuk membungkam saran, kritik atau masukan dari bawah.
Bahkan jajaran qiyadah sudah mendepak para pengasas/mu’asis partai (the founders) yang mencoba mengingatkan mereka agar berjalan di jalan yang lurus/jalan yang Allah ridhoi demi mencapai tujuan yang Allah ridhoi itu.
Maka, begitu ada pertanyaan,apa lagi kritik, Tifatul, yang seharusnya sadar, bahwa wartawan itu bukan anggota majlis hizbu al’adalah, lupa. Sehingga murkalah dia.
Ikan haring bukannya ketam,
Banyak buaya dulu di Batam.
Tifatul Sembiring, rupanya naik pitam.
Wartawan bertanya, kenapa kau hantam?