Terorisme, Negara Juga Ikut Memupuknya
Posted by KabarNet pada 29/07/2009
Mega Kuningan Jakarta meledak, peristiwa yang terjadinya berulang-ulang ini melahirkan opini public bahwa pelakunya adalah kelompok agama tertentu, opini ini dibangun secara sistimatis sehingga muncul kesan, hanya orang-orang fanatik yang rela menjadi martir bom bunuh diri. Pelaku dianggap lebih memburu surgawi ketimbang duniawi. Janji Surgalah yang menggerakkan pelaku untuk menerima tantangan mematikan itu.
Kalau diperhatikan secara lebih jernih akar terror itu ,akan tampak bahwa bukan melulu janji surga yang menggerakkan para teroris, bukan pula hanya soal ideology. Tetap saja ada pengukur materi. Filsafah teror melihat terorisme disini mengandung ekpressi kaum marginal terhadap kemapanan, entah itu kemapanan yang dinikmati oleh para elite politis maupun birokrat. Yang paling mencolok adalah ekspresi ketidak setaraan antar belahan dunia yang ditunjukkan oleh ketimpangan ekonomi. Dan dalam skala luas, dalam tatanan Dunia, entah itu di Bali atau di Mega Kuningan, (kedua peristiwa ini punya jilid, ada Bom Bali jilid satu, ada Bom Bali jilid dua, Ada Bom Mega Kuningan jilid satu, ada bom Mega Kuningan jilid dua) dan mungkin akan ada jilij-jilid berikutnya(?). sasaran terror adalah symbol-simbol Barat. Kapitalis Barat sangat nyata mengalir kenegri ini, celakanya bukan memberi kemakmuran dan keadilan pada rakyat seperti digembar-gemborkan oleh pihak penguasa atau pemerintah, justeru kapitalisme itu memperlebar “ketimpangan” hidup dan kehidupan rakyat…!
Karenanya Barat menjadi metaphor keserakahan yang harus dihentikan. Inilah yang sering disebut terorisme Global. Terorisme Global ini menebar ketakutan pada dunia, atas ketimpangan globalisasi. Secara eksplisit para teroris itu ingin menunjukkan penolakkan terhadap jenis modernitas dan sekularisasi. Simbol meodernitas dan sekularisasi adalah Barat..!
Kalau kita monitor secara seksama dinegara kita, kebanyakan teroris itu menyerang akses barat sebagai wujud perlawanan terhadap kecongkakan globalisasi. Sudah beberapa tahun silam diingatkan oleh para pakar, oleh para pemikir social bahwa globalisasi telah membagi masyarakat dunia kedalam kelompok-kelompok pemenang, penerima keuntungan dan pecundang. Terorisme global adalah perlawanan para pecundang terhadap pemenang. Para pecundang punya dalih bahwa globalisasi merupakan “pencabutan cara-cara hidup tradisional dengan jalan kekerasan”. Sipencabut itu justeru Barat, lewat modernisasi yang sangat kejam..!
Kondisi itulah yang dibawa oleh pasar global dan celakanya lagi didominasi oleh sejumlah kecil korporasi internasional. Seorang filosuf bernama Jurgen Habermas mengatakan bahwa terorisme merupakan efek traumatic modernisasi yang telah menyebar keseluruh seantero dunia dengan kecepatan patologis, dan seorang lagi pakar social Jacques Derrida melihatnya bahwa terorisme sebagai suatu gejala elemen traumatis yang intrinsic terhadap pengalaman modern. Fokusnya selalu pada hari depan yang acapkali difahami sebagai janji , harapan dan penegasan diri. Karena itu momok terorisme global menghantui akan cita rasa kita akan masa depan karena ia “membunuh harapan” itu sendiri.
Bicara masalah harapan, kita akan berhadapan dengan fakta, bahwa BANYAK ANGGOTA MASYARAKAT HIDUP TANPA HARAPAN. Ketika berharap untuk menumbuhkan keluarga sehat, mereka berhadapan dengan adagium kapitalisme, yaitu kesehatan itu mahal, malah ada plesetan yang sangat tidak mungkin, yaitu “orang miskin jangan sakit”..! Begitupun manakala berkeinginan menyekolahkan anaknya, mereka terbentur dengan sebuah fakta semu dari “sekolah gratis”, kenyataannya yang gratis itu hanyalah gombal belaka, sekolah tetap saja membutuhkan biaya yang kadangkala tidak terbayar oleh masyarakat. Dari pada berharapan tanpa bias diwujudkan, masyarakatpun hidup tanpa harapan. Rakyat hidup tanpa harapan yang sesungguhnya, ketiadaan akses dan kalau mereka yang punya akses, lebih mudah mewujudkan segala harapan tersebut. Inilah kondisi nyata masyarakat yang betul-betul sangat mengkhawatirkan, yakni ketika ada orang tanpa harapan, dan ketika banyak orang berpengharapan dan kondisi inilah yang disebut dengan ketimpangan, ketidak adilan.
Dimanapun kita duduk, apakah itu birokrasi, atau kancah politik, tetap harus dijaga dengan sangat, agar tidak terjerumus kepada ketidaksetaraan, memang sebuah konsekwensi ada yang tersisih dalam proses mewujudkan itu semua. Namun kalau membiarkan kian banyak yang “tersisih”, sama artinya dengan menyimpan bom waktu, dan suatu saat akan meledak dengan sangat dahsyat..!
Agar bom waktu itu tidak meledak, Negara harus punya peran senyata-nyatanya. Hakikat kesenjangan dan ketidaksetaraan itu bisa diminimalisir atau malah bias dihilangkan, jika Negara (baca :penguasa) secara maksimal betul-betul mewujudkan kesejahteraan rakyat, mulai dari sekarang..! Caranya, agar globalisasi itu tidak dimanipulasi oleh para pelaku yang hanya memikirkan keuntungan belaka, Negara harus mem-filter kapitalis barat itu.
Namun sangat disayangkan Negara justeru lebih berfungsi bagi segelintir orang ketimbang rakyat kebanyakan..! Akibatnya ekspresi kesenjangan, ketidak setaraanmaupun ketimpangan global itu terus terjadi. Bentuk ekspresi yang paling nyata adalah terorisme.
So, teror tidak sekedar berkedok agama, dan sangat mungkin terror disebabkan oleh percaturan ekonomi dan juga budaya. Para pemikir agama selalu mengingatkan, jangan terburu-buru menuduh setiap terror itu berkedok agama demi memberangus terorisme. Pada dasarnya agama hanyalah penguatan sekaligus percepatan, cukup memakai dalil agama seorang penggerak akan sangat mudah merekrut operator dilapangan, janji-janji surga lebih memudahkan untuk membuat jaringan ketimbang janji-janji materi. Namun sesungguhnya upaya untuk menekan aktifitas terorisme adalah bagaimana Negara bias menjalankan fungsinya bagi masyarakat. Kalau Negara dengan jujur sejujurnya mau menciptakan kesejahteraan bagi rakyat secara merata, secara pelan namun pasti terorisme ini bisa diberangus.
Pemerintahan SBY, diharapkan dapat menjalankan itu semua, tak ada alasan untuk tidak menjalankannya, jangan ada lagi pernyataan-pernyataan yang justeru membuat rakyat bingung, jangan ada lagi pernyataan-pernyataan yang memancing gejolak rakyat, yang penting, kalau sudah terpilih dan dilantik, penuhi janji-janji pada rakyat.
Wassalam
Esbaldi







































Muhammad Firman berkata
Dasar orang Islam sukanya cari kambing hitam. Sekali-kali cari kambing putih opo..oooo. Osama bin Laden itu tidak kekurangan makan. Tapi kenapa kok jadi teroris???? kekayaannya tujuh turunan tidak habis dimakan. Tapi kalau otaknya sudah diracuni oleh al qur’an dan ajaran Nabi Muhammad, maka dia memilih lebih baik tinggal dihutan sebagai teroris. Banyak orang miskin… tapi tidak jadi teroris. Semua orang kena dampak globalisasi tapi tidak jadi teroris. Tapi karena al qur’an menjanjikan surga gang dolly dan 70 bidadari…. makanya teroris subur. selagi ada agama Islam di dunia ini… maka dunia tidak mungkin aman dan damai. Lihat hari ini di koran Jawa Pos …. 250 orang Islam yang teroris dibantai di Negeria. Pokoknya dimana ada agama Islam…. disitu ada kekacauan…. keributan dan teroris.