Menanti Runtuhnya Kedigdayaan AS
Posted by KabarNet pada 29/07/2009

Amerika Serikat secara faktual masih menjadi penguasa dunia, walaupun kini menderita krisis yang cukup parah. Negara Paman Sam ini masih memiliki sisa-sisa kekuatan berupa kekuatan militer dan perusahaan-perusahaan mulitinasional raksasa yang tersebar di sejumlah negara. Samapi kapan ia bertahan?
Walau menderita kerugian besar di perang Irak, AS masih menyimpan kekuatan militer dan teknologi persenjataan canggih berupa nuklir, pesawat tempur, kapal induk, tank, panzer, dan sejenisnya, yang hingga kini masih menjadi kekuatan militer terbesar di dunia.
Atas nama perang melawan terorisme, AS berhasil membunuh satu juta penduduk Irak yang sebagian besarnya adalah anak-anak, wanita, dan lanjut usia. Para penguasa boneka di negara dunia ketiga – yang notabene berpenduduk muslim itu – masih setia kepada majikannya.
Pengaruh AS masih terasa di negeri-negeri kaum muslim, terutama di negara-negara Timur Tengah. Para penguasa boneka itu melakukan apa pun untuk memuaskan majikannya, bahkan tega menangkap, menyiksa, membunuh, dan memusnahkan rakyatnya sendiri.
Di negeri-negeri lain, para penguasa boneka membohongi rakyatnya sendiri dengan HAM, demokrasi, dan liberalisasi ekonomi, misalnya privatisasi dan pasar bebas. Para penguasa oportunis itu hakikatnya menyerahkan negeri dan kekayaan alamnya kepada perusahaan raksasa milik AS dan negara kapitalis lainnya.
Perusahaan-perusahaan multinasional raksasa masih bisa dijadikan sapi perah bagi AS untuk membiayai perang, menyuap penguasa boneka, dan mempertahankan hegemoninya di seluruh dunia, termasuk dunia Islam.
Ahli sejarah kebudayaan AS, Morris Berman, berani berkata bahwa AS tengah menderita, karena kultur yang rusak, yaitu kematian nilai spiritual, eksploitasi kekerasan dan perang. Berman memprediksikan bahwa imperium AS segera runtuh seperti keruntuhan kekaisaran Romawi di zaman pertengahan.
Pakar ekonomi dunia juga memperkirakan kehancuran sistem ekonomi kapitalisme AS yang kini tengah berjalan. Lonceng kematian AS semakin terdengar ketika krisis ekonomi berulang kali terjadi, padahal AS sudah mati-matian membayar mahal untuk menyelamatkan ekonominya.
Bila ini benar, berarti AS tidaklah sekuat yang dibayangkan orang selama ini. Perekonomiannya ibarat orang yang berjalan sempoyongan. Kekuatan ideologis yang baru berpotensi menggantikan kedudukan AS, dan mengubah kezaliman AS menjadi keadilan dan kedamaian.
Bangkitnya kekuatan baru tersebut telah diprediksi lembaga intelijen AS sendiri. CIA dan NIC memberikan prediksi ilmiah bahwa kekuatan baru akan muncul paling lambat 2020, setelah pengaruh AS di dunia semakin memudar.
AS dan penguasa boneka peliharaannya tinggal menghitung hari keruntuhannya, detik demi detik. Kini, bangkitnya wujud kekuatan baru itu hanya masalah waktu.






































